My Secret With Mr. Billionaire

My Secret With Mr. Billionaire
Chapter 71 : Te Amo


__ADS_3

Krystal menatap mata yang terpejam itu.


Ia cuma bisa membayangkan saat mata itu terbuka, iris hijau emeraldnya yang indah, yang selalu menatap dengan penuh cinta.


Cup!


Krystal mengecup kening Leonel.


"Bangun, katanya rindu aku? Kamu gak mau lihat aku, hm?" bisiknya tepat di telinga pria itu.


Sudah tujuh hari berlalu dan Leonel belum ada tanda-tanda membuka matanya.


"Kenapa lama sekali? Apa kamu mau jadi sleeping handsome, hah? Ck, aku pulang saja kalau kamu tidak bangun juga, kenapa tidur terus aku rindu padamu! Ayo bangun dan nikahi aku!" oceh Krystal yang belagak mengomeli kekasihnya itu.


Hiks!


"Kamu tega, buat kehidupan aku gelap lagi, eoh?! Kalau kamu tidak ada lagi, siapa yang memanjakan aku, menggendong aku, memasakkan aku dan siapa yang mau menerima aku seperti kamu menerima aku, Leonel? hiks, kamu jahat."


Mata itu masih setia terpejam, tidak ada tanda-tanda bahwa Leonel mau terbangun atau membuka matanya.


"Leonel, please. Kamu, k-kamu waktu itu minta aku untuk bilang apakah aku mencintaimu atau tidak kan?!"


Tiba-tiba ide itu datang, ia akan lakukan apapun agar cahaya hidupnya itu kembali bersinar.


"Oke, a-aku, aku... aku." Krystal menghembuskan napasnya sebentar, sulit mengatakan ini.


"Leonel, aku mencintaimu." lirih Krystal tepat di telinga kekasihnya, "I Love You, Leonel, ¡Te amo!"


tidak ada balasan, karena Leonel masih setia dengan tidur panjangnya.


Hari demi hari berlalu.


Selama di Spanyol kerjaannya cuma diam di rumah sakit menunggui Leonel, yang tak juga ada perubahan.


Drrtt


Krystal tersentak dari lamunannya, ponsel di tangannya bergetar, layarnya hidup menampilkan nama Disha.


Krystal menghela napas pelan, ia malas menjawab telepon tapi bagaimana kalau sesuatu terjadi disana?


Akhirnya ia menyentuh ikon warna hijau untuk menjawab panggilan, saking tidak bisa fokusnya ia, ternyata Disha melakukan panggilan video bukan panggilan suara.


Maklum, moodnya sangat berantakan semenjak kondisi Leonel buruk begini.


"Kenapa Disha, aku sibuk." ujarnya cuek, bahkan malas menatap layar ponselnya.


"Heh, kamu ya! Udah gak sopan sebut-sebut nama aku, buang muka lagi." omel Disha yang masih jadi galak itu.


Tapi, Krystal tidak terlalu peduli, ia malas.


Sampai...


"Tante ital!" seru sebuah suara yang ia kenal, otomatis ia langsung menatap lekat layar ponselnya.


"Jeno?!"


Oh, ternyata Disha bersama Jeno.


"Oh wow, tadi aku di cuekin, padahal mau kasih tau kamu soal Jeno, dasar." ketus Disha.


"Ya .. maaf-maaf." balas Krystal, ia jadi tak enak sudah ketus dengan kakaknya.


Matanya langsung fokus pada layar yang menunjukkan wajah lucu putranya.


Mereka mengobrol dan sedikit bercanda.


Ada untungnya juga, Disha masuk keluarga itu.


Krystal sibuk dengan kondisinya Leonel, disana Kaisar juga sibuk merawat Liora yang tidak mau merelakan kandungannya.

__ADS_1


Mereka sama-sama mengkhawatirkan orang yang mencintai mereka.


Krystal menjaga Leonel yang mencintainya dan Kaisar merawat Liora yang mencintainya.


Meski ada sedikit perbedaan, karena Krystal sudah mengklaim bahwa dirinya mencintai Leonel, Krystal butuh Leonel untuk hidup.


Nyatanya, Leonel yang merubah kehidupannya.


Nyatanya, Leonel punya tempat tersendiri di hati Krystal.


Dan kenyataannya lagi, Kaisar dan Krystal di takdirkan berpisah.


Kenangan singkat, cinta yang singkat, hubungan yang singkat.


Tapi, dalam hati keduanya cinta masih melekat untuk satu sama lain.


Kaisar cinta pertama Krystal begitu juga sebaliknya.


Dan Jeno adalah bukti cinta mereka yang tersembunyi.


Hari ke- 17


Leonel membuka matanya.


Dan itu jadi suatu kebahagiaan besar bagi Krystal.


Leonel, bahkan sudah di pindahkan ke ruang perawatan biasa, kondisinya semakin baik.


Harusnya...


Yah, seharusnya begitu.


"Siapa ini?" tanya Tuan Anderson, beberapa kali ia melihat Krystal terus ada disini tapi Tuan Anderson bukanlah pria yang ingin tahu hal yang tak penting baginya.


"Krystal, Pa. You know? Brand Ambassador kita, paling cantik dan terkenal di Milan." sahut Alexa, Krystal yang merasa di perkenalkan menyunggingkan senyumnya untuk menyapa semua orang, hanya itu karena ia tak melihat gerak-gerik yang lain ingin memberi salam padanya juga.


"Krystal sini. Kalian pasti saling merindukan." Alexa menarik Krystal menembus kerumunan keluarga inti Anderson.


Krystal merasa tak nyaman, tapi sentuhan tangan hangat Leonel di tangannya membuatnya merasa aman.


"Amor." sebutnya lirih yang di tujukan oleh Krystal, Krystal tersenyum haru menatap mata hijau yang telah terbuka itu.


"Aku rindu." bisik Krystal, Leonel mengangguk dan tersenyum, "Aku juga, sini peluk." ajak Leonel, tapi Krystal menolak.


"No! Kamu masih sakit."


"Tapi, aku rindu. Kamu, bagaimana kamu sampai disini, sendirian atau___"


"Sendirian, dia sendirian dan terus menunggu kamu sadar, dia sangat mencintaimu kamu beruntung bayiku...." sela Alexa.


"Alexa, jaga sikapmu kau sudah dewasa." sahut neneknya tegas, yang membuat suasana di ruangan itu jadi dingin.


"Claire, aku ingin bicara padamu!" tegasnya, Krystal menunduk dalam, ia bisa merasakan ketidaksukaan keluarga Leonel padanya.


"Bisa kalian keluar, aku ingin Krystal saja..." pinta Leonel.


"Leon, jangan begitu, aku saja yang__"


"Kami akan keluar." kata Tuan Anderson, lalu pergi di ikuti Alexander, juga Alexa.


"Kamu!" protes Krystal menepuk lengan Leonel.


"Aduh, sakit sayang!"


"Ya ampun maaf, maaf!" seru Krystal panik, "Astaga apa aku menyakitimu, kamu tidak akan koma lagi kan, astaga bodohnya aku." rutuknya sambil memeriksa tubuh Leonel yang sebenarnya tidak apa-apa.


"Aku senang bisa melihat wajah yang aku rindukan ini, lagi. Aku kira setelah pandanganku memburam waktu itu, aku sudah tidak ada kesempatan untuk melihatmu lagi."


"Kamu ini bicara apa sih?"

__ADS_1


"Aku rela mati untukmu, tapi tidak dengan mati tanpa melihatmu setelah berminggu-minggu." timpal Leonel lagi, yang langsung di bungkam oleh Krystal dengan bibirnya.


"Diam, aku bilang diam!" omel Krystal tepat di depan wajah Leonel yang menatapnya penuh cinta.


"Aku hampir gila, karena kamu tahu?! Kenapa tidur lama sekali!" lanjut Krystal lagi, kali ini di sertai rengekan dan tangisan, ia bersandar di dada Leonel.


Ia bisa mendengar detak jantung Leonel, yang berdetak pelan sekali. Ia jadi takut kalau...tidak jangan!


Krystal bangkit dari tempatnya bersandar dan kembali melihat wajah kekasihnya yang masih pucat itu.


"Kamu pernah minta untuk membiarkan jantungku berdetak untukmu, tapi...ck! Aku hampir gila, aku takut, aku takut kalau kamu tidak di sisi ku lagi, Leonel aku sayang kamu, aku butuh kamu di setiap langkahku, aku ___"


"Aku apa?" tanya Leonel, penasaran ia penasaran karena tiba-tiba Krystal berhenti bicara, padahal ia sangat menikmati ungkapan hati Krystal.


"Aku, a-aku...."


"Ya, kamu kenapa sayangku?" tanyanya lembut, tangannya mengusap lembut pipi Krystal yang mulai tirus.


"Aku cinta kamu." kata Krystal cepat, cepat sekali tapi Leonel mendengar kok.


"Apa? Tidak jelas, bisa di ulang tidak?" ledek Leonel, ia cuma mau dengar sekali lagi.


"TIDAK." tegas Krystal.


"También te amo." balas Leonel.


"Hah?"


Krystal cuma bisa planga-plongo, dia kan enggak ngerti apa yang Leonel bilang.


"Krystal, cukup? Jangan lama-lama ya, dokter bilang Leonel butuh istirahat, dia baru siuman kan..." ujar Claire yang masuk tiba-tiba, Leonel mencebik kesal.


"Mengganggu kesenanganku." gerutu Leonel, Krystal terkekeh kecil dan terpaksa beranjak dari sana demi menghormati keluarga Leonel dan aturan dokter.


"Leon, jangan begitu. Krystal pasti juga capek, dia terus menunggui kamu sejak berhari-hari." timpal Claire.


"Aku pergi dulu." pamit Krystal.


"Nanti kesini lagi." sahut Leonel.


"Iya..."


"Jangan lupa kesini setiap hari sampai aku sembuh." ucap Leonel lagi yang mana itu membuat langkah Krystal terhenti.


"Iya..."


Krystal terpaksa berbalik untuk menjawab permintaan sang kekasih, kemudian berjalan lagi ke arah pintu keluar.


"Pagi, siang, malam yaa..."


Lagi-lagi suara berat yang masih lemah dan serak itu terdengar lagi, terpaksa untuk kedua kalinya Krystal berbalik dan tersenyum ke arah Leonel.


"Iya, tuan muda Anderson." guraunya.


"Racle__"


"Leonel, kamu baru sadar jangan banyak tingkah istirahat agar sembuh dan bisa iseng sepuasnya pada pacarmu!" omel sang ibu, yang kemudian ikut keluar bersama Krystal.


Saat pintu ruangan tertutup, di hadapan Krystal ada nenek Leonel yang ....


"Seistimewa apa perempuan ini sampai cucuku begitu menyukainya."


Krystal dengar gerutuan perempuan tua itu, entah apa yang membuatnya begitu.


"Krystal, aku antar ke depan, ayo!" ajak Alexa.


Gimana?


Gak jelas y?

__ADS_1


iya emang, btw ini kisahnya masih panjang banget


Leonel juga tokoh penting sampe aku bingung gimana singkirkan Leonel biar Kaisar bisa bersatu sama Krystal


__ADS_2