My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 26


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam, Naufall dan Thella sampai di Jeju International Airport. Karena ini pertama kalinya Thella ke korea, istri dari Naufal itu merasa sangat takjub.


"Jangan jauh-jauh dariku," Naufal menggenggam erat tangan Thella agar wanita itu tidak jauh dari dirinya.


"Bilang saja kalau kamu maunya nempel terus sama aku," Ledek Thella, suaminya hanya tersenyum.sekilas dan kemudian kembali cuek.


"Fall,"


"Apa?"


"Terima kasih sudah mengajak aku ke Korea. Aku tahu, kamu melakukan ini karena kamu tahu aku suka semua hal yang berbau Korea, iya kan?" Thella menatap Fall dengan tatapan penuh kebahagiaan, di iringi dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Tentu saja. Untuk apa aku membawamu pergi bulan madu ke tempat yang tidak kamu sukai? Kamu tau Thella, setiap senyumanmu, itu juga senyum untukku," Fall terus menggandeng tangan Thella dengan satu tangan lagi menarik koper mereka.


"Kalimatmu terlalu manis, Fall. Aku takut terbang," Sindir Thella dengan senyum merekah di bibirnya.


"Aku akan terbang bersamamu,"


Kalimat yang di ucapkan Fall membuat Thella menghentikan langkahnya, mengetahui itu, Fall juga berhenti dan berbalik mendatangi Thella.


"Kenapa berhenti?"


"Sejak kapan suamiku suka gombal?"


"Sejak aku mulai jatuh cinta padamu, sejak saat itu, aku belajar banyak hal. Bagaimana caranya aku memperlakukanmu dengan baik. Percayalah, Thella. Meskipun aku menggombalimu setiap hari, aku tidak pernah melakukan ini untuk wanita lain,"


Mendengar pengakuan Naufal, Thella tertawa. Tentu saja itu membuat Fall merasa aneh. Ekpresi wajah Fall membuatnya makin tertawa.


"Aku bertanya bukan untuk memarahimu, Fall. Aku hanya ingin tahu saja. Segitu cintanya sama aku? Sampai kelihatan sekali kamu takut kehilangan aku," Thella menutup mulutnya dengan satu tangan agar ia tertawa tidak terlalu keras.


Dengan sekejap saja, Fall menarik Thella merapat dalam pelukannya. Ia mendekap Thella erat-erat. Perlakuan Naufal yang spontan ini membuat Thella terdiam secara tiba-tiba.


"Fall, kamu..."


"Biarkan tetap begini, sebentar saja..."


"Tapi ini..."


"Benar, apa yang kamu katakan, Thella. Aku telah benar-benar jatuh cinta padamu, sampai aku takut kehilanganmu," Fall semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak perduli menjadi bahan tontonan orang-orang yang berlalu-lalang sekalipun.


"Terima kasih, Fall. Aku juga. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Kamu yang terbaik, my hero," Thella membalas mengeratkan pelukannya pada Naufal.


Mengingat semuanya memang tidak mudah, di pertemukan dalam situasi yang aneh, menikah tanpa perasaan, hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta satu sama lain. Hal itu yang membuat mereka berdua semakin saling mencintai.


"Tetap jadilah yang terbaik di dalam hidupku, Thella. Jangan pernah berubah sedikitpun."


"Kamu juga..."


"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan. Kita harus segera ke Hotel,"


"Fall.. tapi kan.."


"Aku tahu, kamu pasti lelah. Kamu pasti butuh istirahat, kan?"


"Oh, istirahat, aku pikir..."

__ADS_1


"Kamu pikir apa? pasti kamu memikirkan sesuatu yang mesum," Ledek Fall membuat Thella tersenyum malu dengan pipi yang memerah.


Thella memilih jalan cepat dan mendahului Fall karena salah tingkah. Sementara itu Naufal memandang Thella dengan senyuman dan menggelengkan kepalanya. Sedetik kemudian ia mengejar Langkah kaki istrinya itu.


Naufal menyetop sebuah taksi, berbicara dengan bahasa asing kepada sopirnya lalu mengajak Thella untuk naik ke dalam mobil.


Mungkin karena terlalu lelah setelah melewati perjalanan panjang, Thella tertidur dan bersandar di bahu Naufal. Dengan sigap, Fall merengkuh istrinya itu dalam pelukannya, agar ia merasa lebih nyaman.


Fall bahagia, dapat membawa Thella ke tempat impiannya. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk wanita itu. Bahkan ia sampai menghabiskan waktunya siang dan malam untuk bekerja demi mewujudkan impian bulan madu romantis ini.


Selama ini, di sepanjang hidupnya, Fall tidak pernah bertemu.dengan orang yang seperti Thella. Dia sangat baik, perhatian dan penuh kasih sayang. Itu yang membuat dia memutuskan untuk menjaga Thella. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu.


Ia mungkin tidak mengenal Thella dengan baik. Mengingat pertemuan mereka yang singkat dan mengharuskan mereka berdua tidak saling mendalami terlebih dahulu satu sama lain.


Taksi yang mereka tumpangi telah berhenti, tepat di depan Lotte Hotel. Penginapan yang lumayan mewah di Jeju Island. Naufal yakin, kalau saat itu Thella bangun, pasti ia akan terpesona melihat kemegahannya.


Naufal menggendong Thella masuk ke area hotel. Naufal berbicara dalam bahasa asing kepada petugas hotel untuk memesan kamar untuk mereka berdua.Mereka pun di antar ke kamar oleh petugas hotel.


"Ini kamar tuan (dalam bahasa korea)" Petugas hotel memberikan kunci kamar hotel yang akan mereka tempati.


"Terimakasih (dalam bahasa korea)," Fall menerima kunci itu dan Petugas Hotel meninggalkannya.


Naufal membuka pintu kamar yang akan mereka tempati dan segera menidurkan Thella di ranjang yang telah disediakan. Tak lupa, ia kembali keluar untuk mengambil kopernya.


Naufal duduk di pinggir ranjang dan memandang wajah istrinya yang tengah tertidur pulas. Dia membelai rambut Thella dengan lembut, ia sangat sayang pada wanita itu. Sampai saat ini, Ia tidak percaya bahwa akhirnya, Ia jatuh cinta kepada seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Bar saat itu.


Lebih parahnya lagi yang menikahi Gadis itu hanya karena sebuah game yang dimainkannya bersama teman-teman. Saat itu, kesan pertamanya bertemu dengan Thella adalah, ia merasa biasa saja. Naufal berpikir bahwa Thella akan sama seperti pacar pacarnya di masa lalu.


Kebanyakan dari mereka hanya mencintai kekayaan atau ketampanan wajahnya, tapi Thella berbeda, ia justru mencintai kekurangan yang Naufal miliki. Itulah kenapa Naufal dengan mudah jatuh hati padanya. Beda dengan wanita yang pernah hadir di masa lalunya, ia tidak pernah mencintai mereka, hanya sebagai teman Jalan belaka.


tiba-tiba saja ponsel Naufal berbunyi. Ia merogoh ponselnya yang terletak di saku celananya. Ia tertegun saat melihat nama siapa yang tertera di layar telepon genggam nya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ia memutuskan untuk menerima panggilan itu dengan berat hati.


" Mama tidak usah basa-basi, ada apa tiba-tiba menghubungiku? Pasti ada sesuatu yang Mama inginkan dariku kan?" Naufal berkata dengan sangat dingin. Setelah sekian lama namanya tidak pernah menelponnya, rasanya aneh saat mendengar suara wanita setengah baya itu di telinganya. Sebenarnya ada rindu, tapi rasa kecewa yang timbul di hati Naufal terlalu besar.


" Mama hanya ingin mendengar suaramu nak. Mama pengen tahu kabar mu. Kenapa kamu seperti itu? Berprasangka buruk terhadap mama?"


"Baru sekarang mama merasa punya anak aku? Selama ini Mama ke mana? Saat aku sakit, saat aku butuh pelukan Mama, saat aku kecewa, Mama ada di mana? Apa Mama pernah memikirkan aku?" Mata Naufal memerah. Ingin rasanya ia mengakui bahwa ia merindukan mamanya, tapi Ia sangat sakit. Hatinya perih menghadapi kenyataan bahwa mamanya selama ini tidak pernah memperdulikannya.


" Maafkan Mama Naufal. Mama tidak bermaksud untuk mengabaikanmu. Hanya saja Mama sibuk, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mama juga melakukan semua ini untuk kamu kan untuk biaya sekolah kamu biaya kuliah kamu semuanya untuk kamu"


" Ma, yang Naufal butuhkan bukan hanya uang mama. Tapi Naufal juga butuh kasih sayang dari mama. Apa Mama pernah memikirkan itu? Mamanya pulang sekali waktu, beberapa jam kemudian Mama meninggalkan aku tanpa Mama sempat menengok ku dikamar, apalagi sampai menggendongku saat aku kecil. Mama tidak pernah lakukan itu, Mama tidak pantas dianggap sebagai mama" Entah mengapa air mata Naufal menetes ia merasa sangat sakit hati bila mengingat masa-masa itu. Masa dimana ia ditelantarkan oleh kedua orang tuanya.


" Maafkan Mama Naufal. Mama tahu, Mama salah. Berikan Mama kesempatan untuk bisa berbagi kasih sayang dengan kamu. Mama ingin tinggal denganmu"


" tidak aku tidak akan mengizinkan siapapun untuk tinggal di rumahku. Hanya istriku saja yang boleh. Mama tidak perlu menyesal, aku sudah memaafkanmu, aku sudah terbiasa melewati semua ini sendiri. Sekarang aku sudah punya istri yang bisa mengerti aku, jadi Mama tidak perlu repot-repot melakukan itu untuk ku terima kasih atas niat baik Mama," naufal menutup telepon dari mamanya tanpa basa-basi. Ia tidak bisa lebih lama lagi untuk berbicara dengan mamanya, meskipun ia merindukan mamanya, tapi ia merasa canggung saat harus berbicara dengan wanita itu. Lagipula, ia tidak ingin urusan rumah tangganya di ikut campur oleh siapapun. Karena tidak ingin kehilangan Thella, ia ingin terus bersama dengan perempuan itu hingga waktu yang lama, mungkin seumur hidupnya.


"Ada apa Fall?" Thella terbangun dari tidurnya dan mendapati Naufal dalam keadaan kesal. Ia melihat raut wajah suaminya sedikit kacau.


"..." Naufal tidak menjawab pertanyaan Thella. Bukan ia tidak mau menjawab, tapi dadanya masih terasa sesak karena kejadian barusan.


"Naufal, ayo cerita padaku," Thella mendekati suaminya itu dan melingkarkan kedua tangannya ke perut pria bertubuh ramping itu.


"Mama baru saja telepon," Ujarnya singkat


"Lalu?"


"Dia minta tinggal bersama kita,"

__ADS_1


"Bagus, dong,"


"Aku menolaknya,"


"Kenapa begitu?"


"Sifat mama hampir mirip dengan Fee, dia sudah pasti tidak akan menyukaimu. Semua ini pasti karena aduan dari Fee, makanya mama mau ikut campur. Fee itu sangat manja pada mama, dia pasti mengadu yang tidak-tidak tentangmu," Perasaan Fall di penuhi dengan dugaan yang kuat terhadap Fee yang jelas-jelas tidak menyukai keberadaan Thella.


"Fall, kita positif thinking aja lah. Bisa jadi kan itu murni keinginan mama karena beliau kangen sama kamu, pengen satu atap sama kamu," Thella terus mencoba membuat Fall berpikuran positif dan menduga-duga hal yang belum tentu terjadi.


"Sifat mama itu, sama dengan Fee. Mereka pro Thella. Aku yakin mama bakalan lakuin seauatu untuk memisahkan kita. Aku mengenal mereka lebih baik dari siapapun, harusnya kamu percaya aku Thella," Fall bangkit dan berjalan ke arah dinding kaca yang semi transparan, ia menatap ke luar ruangan, hatinya sedikit kesal karena Thella yang terlalu baik.


Istri Fall iti tidak mengetahui karakter sebenarnya mama Fall seperti apa. Dia seorang mama yang sangat kejam, bahkan dengan anak kandungnya pun ia tidak memiliki kasih sayang seperti ibu pada umumnya.


"Fall, jangan marah, tujuanku baik. Setelah sekian lama kamu dan mamamu berpisah, apa salahnya kamu menerimanya kembali. Siapa tahu mamamu berubah," Thella bersikeras agar Fall mau menerima kehadiran mamanya dalam rumah tangga mereka berdua.


"Kalau kamu tetap ingin tinggal bersama mama, berarti kamu juga berniat meninggalkan aku, Thella." Nada bicara Naufal dingin. Bahkan sangat dingin. Ia benar-benar kesal pada Thella. Dia kecewa karena istrinya itu tidak mendukungnya.


Thella menyadari suaminya saat ini sedang marah. Sebenarnya wanita itu juga paham kalau maksud Naufal adalah untuk kebaikannya. Fall memang cuek, tapi dia penuh perhatian dan selalu berusaha untuk melindunginya.


Thella bangkit dari tidurnya, melangkah mendekat ke arah di mana Fall berdiri saat ini.Pelan-pelan ia memeluk Naufal dari arah belakang. Mendekapnya erat, ia berusaha menenangkan Fall.


"Maafkan aku, Naufal. Tujuanku baik. Tapi kalau kamu memang tidak merasa nyaman hidup berdampingan dengan mama, aku tidak akan memaksa kamu untuk menerima mama lagi. Kamu jangan marah, inget kan tujuan kita datang ke Korea adalah untuk bulan madu. Baru sampai, kita malah berantem begini,"


Perkataan Thella meluluhkan hati Naufal. Pria itu berbalik dan menatap lekat kedua bola mata Thella. Beberapa menit kemudian Naufal menarik Thella dalam pelukannya.


"Maafkan aku juga, Thella. Seharusnya aku bisa memandang sisi positif dari perkataanmu, Terima kasih, aku bangga memiliki pasangan berhati malaikat sepertimu. Kamu yang mengajarkan aku banyak hal," Fall mengecup ubun-ubun Thella, menempelkan pipinya pada ujung kepala perempuan itu. Dia adalah perempuan terbaik dalam hidupnya selain mamanya. Meskipun ia kesal pada mamanya, tapi Naufal tidak pernah lupa pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Aku tidak apa-apa Fall. Aku menyadari kalau aku harus lebih menghargai apa yang menjadi keputusanmu. Bagaimanapun juga kamu adalah suamiku, sudah kewajibanku untuk mematuhi apa yang menjadi keputusanmu." Thella mendongak, memandangi wajah suaminya yang juga menatapnya penuh arti. Lelaki dingin itu membuatnya mengerti bagaimana rasanya di cintai dengan tulus.


"Terima kasih Thella. Aku rasa tidak ada lagi yang memahamiku sebaik dirimu. Kamu benar-benar seperti malaikat di dalam hidupku," Naufal memuji kebaikan Thella. Wanita itu sangat istimewa di matanya.


Thella tersenyum lebar. tentu saja ia akan melakukan dan mendukung yang terbaik menurut Naufal. Ia sangat menghargai besarnya usaha Naufal untuk dirinya, selama ini Naufal telah menjauhkan dirinya dari orang-orang jahat seperti David dan juga Fee. Suaminya juga telah menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja demi mewujudkan bulan madu impian mereka.


"Aku akan terus berusaha memahamimu, Fall. Aku tidak akan pernah lelah. Kamu adalah sebuah penyemangat bagiku. Pengisi kekosonganku, menghangatkan kebekuanku, kamu juga membuat hidupku menjadi penuh warna. Aku sangat mencintaimu, Fall." Thella melepaskan diri, berjalan menjauh dari suaminya, ia duduk di sebuah sofa yang sepertinya di desain sengaja untuk bersantai di dalam kamar. Naufal mengikuti langkah Thella dan ikut duduk di sana.


"Thella, aku boleh minta kamu lakuin sesuatu nggak?"


"Apa?"


"Tutup mata kamu,"


"..." Thella menutup kedua matanya segera tanpa berkata apapun.


Naufal mengeluarkan sesuatu daru kantongnya, lalu ia menggantungkan benda itu di udara tepat di depan mata Thella.


"Buka mata kamu," Naufal meminta Thella untuk.membuka matanya. Ia berharap wanita itu menyukai kejutan yang ia berikan.


"Cantik sekali, Fall. Aku suka," Thella terharu saat melihat kalung dengan permata indah menggantung di depan matanya.


"Beneran, kamu suka ini?"


"..." Thella tidak mwnjawab dengan kata-kata, tapi anggukannya yang penuh semangat dengan mata berbinar menggambarkan kebahagiaan wanita itu.


"Biar aku pakaikan," Naufal membuka pengait kalung itu dan memasangkannya ke leher Thella.


"Coba lihat sini," Tambahnya. Thella membalik badannya berhadapan dengan Naufal.

__ADS_1


"Cantik," Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Fall. ia sangat terpesona dengan kecantikan istrinya. Saat pertama kali.melihat kalung itu, Naufal sudah yakin kalau Thella sangat cocok memakainya.


__ADS_2