My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 55


__ADS_3

Untuk mempersiapkan lamaran dan pertunangan, Ardian dan Vanya memutuskan untuk membeli cincin dan menyiapkan pakaian yang akan di pakai nanti. Meskipun waktunya masih beberapa minggu, tapi mereka ingin mempersiapkannya awal.


"Kamu mau cincin yang seperti apa?"


"Sederhana aja, nggak.perlu terlalu mahal, yang penting simbolisnya, kan?"


Vanya tidak ingin dibelikan sebuah cincin mahal dia lebih menyukai fungsi simbolisnya saja, dia tidak ingin menyusahkan Adian dengan meminta pengikat yang muluk-muluk.


Ardian sebenarnya sudah siap untuk itu semua. Sebagai pewaris tentu saja Ia memiliki kekayaan yang lumayan .Meskipun tidak sebanyak Naufal tapi ia juga memiliki perusahaan yang dikelola nya sendiri.


" Jangan takut hanya meskipun kekayaan ku tidak sebanyak kepunyaan Naufal tapi aku juga masih bisa membelikan cincin berlian, meskipun kamu meminta tidak akan menganggap kamu sebagai cewek matre karena aku sudah tahu siapa kamu"


Ardian tahu hanya pasti merasa tidak enak jika harus menentukan pilihan, padahal tujuannya menanyakan ini adalah supaya cincin yang ia pilih nantinya sama dengan apa yang diinginkan Vnya.


"Apapun pilihan kamu aku terima Ardian. Aku tidak akan banyak menuntut semua itu bukan karena aku tidak punya keinginan, tapi aku menghargai setiap apa yang kau berikan padaku. Aku harap kau memilihkan cincin itu untukku"


"Baiklah kalau itu maumu. Aku nanti akan memilihkan cincin untuk pertunangan sekalian lamaran Aku harap kamu akan menyukainya nanti."


Ardian cukup tentang hadapi semuanya, karena merasa sudah siap untuk menikah dengan Vanya. Ia tidak menyangka akan bisa memiliki wanita itu setelah sekian lama mereka berpisah dan ternyata mereka masih ditakdirkan untuk berjodoh.


Saat terakhir kali setelah menyatakan perasaannya dan ditolak, Ardian berpikir mungkin Vanya memang tidak ditakdirkan bersamanya. Ia juga sudah tidak berharap lagi. Tapi semuanya berubah saat ia bertemu dengan Thella di acara kunjungan kerjanya ke Korea.


" Baiklah Ardian aku setuju, aku minta maaf mungkin aku terlihat jutek hari ini karena mood ku sedang tidak terlalu bagus. Kamu tahu sendiri kan itu wajar terjadi pada wanita"


" Tentu saja aku paham, aku juga tidak akan mempermasalahkan tentang itu. Aku sangat mengerti bahwa mood wanita suka berubah-ubah"


Ardian selalu mencoba untuk mengerti wanita dengan berjuta keunikannya. Terkadang mereka memang bisa menjadi sulit di mengerti.


"Terima kasih, Ardian. Kamu sudah berusaha mengrrti aku. Aku semakin sayang padamu," Vanya melemparkan senyum.pada kekasihnya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, tunggu apalagi, ayo kita berangkat. Takutnya nanti udara semakin panas dan mrnjadi tidak nyaman," Cuaca yang sedikit ekstrem karena pagi terlalu sejuk dan siang terlalu panas inilah yang membuat kegiatan mrnjadi kurang nyaman menurut Ardian.


"Oke, yuk..."


Mereka berpamitan terlrbih dahulu pada kedua orang tua Vanya. Saat acara makan malam akhir pekan lalu, keluarga Vanya sangat merestui hubungan Vanya dan juga Ardian. Terlebih lagi, mereka sudah mengenal Ardian sejak masih sekolah.


Sikap Ardian yang sopan, menjadikan bahan pertimbangan kedua orang tua Vanya untuk menerima pemuda itu menjadi menantunya. Mereka seperti memiliki keyakinan, anaknya akan bahagia jika berumah tangga dengan Ardian.


Pernikahan ini mungkin terbilang cukup mendadak menurut mereka, tapi setelah menceritakan detail pernikahan Thella dan Fall, akhirnya mereka mau mengerti dan menerima keputusan menikah cepat ini.


"Ardian, aku tidak menyangka kita bisa nyambung lagi, ya. Dulu, kita sering jalan bareng, belajar bareng, makan bareng, eh.. sekarang mau hidup bareng," Vanya tersenyum tipis, sambil memandang ke depan. Sulit di percaya, dua sahabat itu kini sedang melangkah menuju pernikahan.


"Kayaknya baru kemarin, kamu sering menyerobot esku tiap kita makan di kantin. Selalu saja maunya menu sama," Ardian mengenang masa-masa bersama Vanya di sekolah mereka. Banyak sekali kenangan di masa putih abu saat itu, yang mengiringi perjalanan kisah mereka.


Entah mengapa aku merasa bahagia, saat merebut pesanan kamu kalau duluan datangnya. Aku juga suka hobi, ngikutin pesenan makan kamu, rasanya lebih enak aja, makan berdampingan dengan menu yang sama,"


"Aku bersyukur banget kalau begitu. Tapi memang kita banyak kesamaan, kan? Sampai kita di bilang kembar sama teman-teman sekelas,"


Itu memang julukan khusus dari teman-teman sekelas.Mereka merasa Ardian dan juga Vania memiliki banyak kesamaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Kamu masih ingat saja pada julukan itu. Tapi kalau di ingat lagi, memang bener juga sih, kita sering punya keinginan yang sama.Wajar saja kalau teman sekelas kita memberikan julukan kembar kepada kita,


"


Ardian memang sudah lupa, bagaimana awalnya ia kenal dengan Vanya, tiba-tiba merwka dekat saja secara alami. Mungkin juga karena mereka sering di tunjuk dalam satu tim, interaksi di antara keduanya menjadikan mereka semakin dekat.


"Aku kan memang suka julid sama.kamu kalau di kelas. Apalagi kalau lagi ngadain diskusi, aku pasti ngasih kamu pertanyaan sampai titik akhir, kan?" Vanya tertawa mengenang masa itu. Saat ada debat di kelas, pasti mereka berdua akan berdebat dalam waktu yang panjang.


"Kamu, sih. Selalu bikin pusing orang. Sampai harus sibuk mencari jawaban untuk setiap pertanyaan yang kamu ajukan. Pokonya ribet kalau harus berdebat melawan kamu,"

__ADS_1


Tentu saja, saat berdebat, Vania bisa menyangkal semua pernyataan yang di berikan oleh lawan. Pernah saat debat, terlalu lama saling lempar jawaban, sampai habis waktu belajarnya.


"Makanya, klo mau debat, pelajari banyak materi yang detail sampai sekecil-kecilnya dong biar bisa jawab," Protes Vania.


"Tau sendiri, aku agak payah kalau pelajaran yang ada debatnya gitu,"


Ardian memang tidak menguasai pelajaran yang banyak penjabaran materi. Ia lebih suka belajar matematika di banding itu.


"Iya, deh. Paham sama yang hobi Matematika, aku mah apa atuh,"


"Dih, merendah. Padahal dianya juga nilainya bagus di mata pelajaran itu. Malahan pernah nilai Matematika kamu ada di atasku, kan?"


Salah satu alasan kenapa Ardian menyukai Vanya adalah kepintarannya.Ia cerdas dalam segala mata pelajaran, selalu masuk tiga besar juara umum.


"Itu hanya faktor keberuntungan, kebetulan aja jawabanku lebih banyak benernya di banding jawaban kamu,"Vania tertawa kecil.


"Kebetulan yang di sengaja, kan? Aku tahu itu,"


"Aku seneng, setiap bertanding level belajar sama.kamu, itu sebuah keseruan tersendiri,"


"Kamu sengaja, ya? Biar menarik perhatian aku?" Ardian menebak-nebak.


"Nggak juga sih, pada dasarnya nggak perlu di tarik juga, emang kamu udah merhatiin aku, kan?"Ujar Vanya dengan nada sedikit sombong.


"Eh, kamunya suka bener banget sih, tahu aja kalau aku memperhatikan kamu."


"Tahulah, eh bukannya toko perhiasan udah kelewat ya?" Vania sedikit terkejut saat mereka sudah terlalu jauh dari tempat tujuan.


"Waduh, iya. Terpaksa puter balik,"

__ADS_1


__ADS_2