
"Tante, kalau Thella meninggal,aku yang akan menggantikan dia dan menikah dengan Naufal. Anak Tante yang tanpan itu akan menjadi milikku," Vania tertawa jahat dan membayangkan Fall menjadi miliknya.
"Vania, tante tidak menyangka akan sejahat ini! Kamu melakukan kejahatan, kriminal. Fall bisa saja menjebloskan kamu ke dalam penjara karena ini." Mama Naufal tidak habis pikir kenapa Vania tega melakukan itu terhadap Thella.
"Fall tidak akan tahu tante, karena saat itu kan sudah aku bilang, Thella hanya berdua bersama temannya, tidak ada Naufal di sana."
"Bodoh! Biasanya di tempat-tempat seperti itu pasti ada CCTV. Kamu pikir Naufal bodoh, sampai tidak tahu hal yang seperti itu? Kamu pasti akan ketahuan, Vania."
"Hei, Tante. santai saja. Kalau dia tahu mrmangnya kenapa? Kalau Thella sudah mati, aku tidak akan pusing. Aku puas, karena dia sudah tidak ada di samping Naufal lagi,"
"Tante pikir, otakmu sudah geser. Tidak bisa berpikir positif." Mama Naufal kesal dengan tindakan Vanya yang ceroboh.
"Bukannya Tante, yang mengajariku untuk menjadi jahat? Kenapa sekarang tante memprotesku?" Vania duduk di kursi dengan kasar. Ia kesal karena mama Naufal berbalik menolaknya.
"Vania, sejahat-jahatnya tante, tante tidak pernah menyuruhmu untuk membunuh orang. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu tidak bisa untuk di benarkan," mama Naufal mencoba memberikan pencerahan kepada Vanya, meskipun itu tidak berpengaruh bagi wanita itu.
"Tante, aku harus memiliki anak tante, apapun yang aku mau, harus tercapai," Vanya berlagak sombong.
"Siapa juga yang mau di miliki wanita jahat seperti kamu?" Naufal masuk ke rumah itu begitu saja, karena pintunya yang memang terbuka.
"Mau merebut suami orang sampai menggunakan cara kotor, aku kasihan sekali padamu Vania. Apa kamu sudah tidak laku? Sampai harus berusaha keras untuk merebut suamiku?" Thella tersenyum kecut. Ingin rasanya ia menyerang perempuan itu habis-habisan, tapi ia masih berusaha untuk tahan emosi.
__ADS_1
"Fall? Thella? kamu masih..."
"Bagus sekali kalau kamu mengakui, kalau kamu yang sudah mencelakai aku, dan kamu membunuh anakku. Aku tinggal telpon polisi dan kamu.. akan mendekam di dalam sel dengan sangat lama," Thella tertawa jahat. Ia sangat senang melihat wajah Vanya yang ketakutan.
"Thella.. kamu hamil?"
"Ya. Aku hamil, sebelum kamu menyuruh wanita ular ini menyerangku! Kemarin, saya masih menganggap mama sebagai mertuaku, dan aku masih berharap mama suatu hari bisa menerimaku, tapi sekarang aku sudah tidak perduli lagi, dan jangan harap aku mau menganggap mama sebagai mertuaku," Thella benar-benar marah karena sikap mama mertuanya yang jahat.
"Mama mau menjelaskan kalau sebenarnya..."
"Memang tante yang sudah menyuruhku untuk mencelakai kamj, jadi tante juga menjadi pembunuh cucunya sendiri," Vania menuding mama Naufal ikut andil dalam rencana kejahatannya.
"Vania, kenapa kamu fitnah tante seperti itu? Bukankah itu idemu sendiri? Tante tidak ikut rencanamu."
"Cukup! Aku tidak perduli siapa yang paling bersalah diantara kalian. Sebentar lagi polisi akan datang dan menjemput.Terima kasih atas semua yang telah kalian hadiahkan pada pernikahanku. Bahkan anakku pun sampai tiada karena ulah kalian!"
Naufal marah dan kecewa karena mamanya dan Vania datang ke dalam kehidupan mereka dan menghancurkan semuanya. Kebahagiaan yang baru saja mereka bangun telah terusik dengan kehadiran dua wanita itu.
"Fall, tapi mama tidak seperti yang kamu pikirkan, mama memang sempat tidak menyukai Thella tapi mama sadar, kalau dia adalah pilihanmu, yang terbaik untuk hidupmu, mama.."
"Mama tidak perlu menjelaskan apapun. Dari awal mama memang tidak pernah mendukungku. Aku tidak pernah kau anggap sebagai anakmu.Sampai kapanpun kamu akan tetap menganggapku seperti itu kan? cukup. Aku tidak akan lagi mengharapkanmu menjadi ibuku, kau patahkan hatiku yang berusaha terus mencintaimu tapi kau tidak pernah membalasnya"
__ADS_1
"Mama, tidak pernah kamu tahu bagaimana aku menginginkan pelukan hangat darimu, aku ingin kamu merawatku saat aku sakit, sekedar tanya aku sudah makan atau belum, tapi itu tidak pernah mama lakukan untukku. Seangkuh itu, sebagai seorang mama, mama tidak pantas mendapat gelar mama. Dan sekarang, bahkan mama membunuh calon bayiku dan mencelakai istriku? Apa salah mereka ma?"
"Fall, dengerin mama dulu. Mama malah ingin memperbaiki hubungan dengan kalian. Mama menyesal karena mama seperti itu sama kamu, nak."
Mama Naufal menangis. Dia sangat terluka karena semua ungkapan Naufal yang benar fakta. Selama ini dia memang tidak perduli pada Naufal. Padahal, ia hanya anak semata wayang, tapi mamanya selalu sibuk dan mengabaikannya. Sampai ia tumbuh besar dan dewasa.
"Penyesalan Mama sudah tidak ada gunanya. Aku sudah lelah, Ma. Kalau mama memang tidak suka pada Naufal, cukup aku yang Mama abaikan, Mama sakiti, jangan Thella dan anakku, Ma." Naufal tidak bisa lagi memandang sisi baik mamanya. Ia sudah lelah berharap mamanya menjadi orang yang lebih baik. Ia membiarkan waktu memperbaiki semuanya, terutama hubungannya dengan mama.
Ia sudah sangat sabar di masalalu. Dia menjalani sepanjang masa kecilnya hanya untuk menyendiri. Ia di kucilkan oleh teman-temannya dan di bilang tidak mempunyai ayah dan juga ibu.
Dulu, sering hadir rasa iri di hati Naufal, saat temannya pasti menggandeng dan memeluk orangtuanya, ia bingung akan memeluk siapa, ia hanya bisa memeluk pengasuhnya saat itu.
Ia pernah bertanya pada teman sebangkunya, Bagaimana rasa di peluk seorang mama.Sahabatnya bilang, dipeluk Mama itu sangat nyaman. Tidak ada pelukan yang lebih nyaman dari pelukan seorang mama. Tapi entah mengapa aku tidak bisa merasakan itu." Naufal trenyuh. Pertama kali di depan mamanya, Akhirnya, ia bisa juga melihat, seperti apa sosok mamanya.
Siapapun yang di besarkan dengan cara seperti itu, tentu tidak bisa dengan begitu saja dapat menerima perlakuan jahat mereka. Apalagi Naufal adalah anak tunggal dan kepada siapakah ia harus mengeluh? Saat itu, selain babysitternya, tidak ada yang lain.
Jadi, saat ini Naufal tidak melakukan kesalahan. Ia hanya mengekspresikan kekesalannya karena mamanya tega melakukan semua itu pada keluarga kecilnya.
Tidak berapa lama, Polisi datang menciduk mereka berdua dan membawanya ke kantor polisi.Mama Naufal tidak membayangkan kalau anaknya tidak mau memperdulikan dia lagi.
"Baiklah, Nak. Kalau kamu tidak perduli lagi pada mama, tidak apa-apa, Nak. Mama pantas diperlakukan seperti ini.
__ADS_1
"Semuanya mau mama. Aku tidak pernah memaksa diriku untuk membenci mama. Mama membalas perasaanku itu ajaib. Aku akan merasa sangat kehilangan. Ketika mama tidak ada, meskipun mama sudah menyakitiku, aku masih mengkhawatirkan mama." Naufal tidak mencegah polisi untuk membawa mamanya dan juga Vanya.
"Fall. Semoga setelah ini tidak ada lagi orang yang tifak jelas dan mengganggu hubungan kita..."