
Seperti biasanya Thella menyiapkan keperluan Fall. Hari itu
sangat spesial karena papa mertuanya akan datang langsung ke kantor Naufal. Menurut intruksi dari Naufal, Thella hari itu
berpenampilan spesial untuk menyambut kedatangan papa mertuanya.
“Kenapa papa tidak langsung datang kerumah saja? Malah lebih
memilih untuk datang ke kantor?” Thella
sibuk memasangkan dasi Naufal. Diam-diam
Thella mengagumi ketampanan suaminya pagi itu, tanpa sadar ia memandangi wajah
Fall tanpa berkedip. Tapi di pandangi belum sadar karena tengah menyisir
rambutnya di depan cermin.
“Papa memang selalu datang ke kantor karena dia paham aku
selalu sibuk. Dia orangnya tidak mau menunggu, kalau memang sudah rindu, segera ingin bertemu. Di sini
juga tidak akan lama, hanya dua sampai tiga hari saja.” Setelah habis mengatakan kalimat itu, mata
Naufal menangkap pandangan Thella yang fokus ke wajahnya.
Cup...
Naufal mendaratkan kecupan singkat ke bibir istrinya, sontak
perlakuan Fall membuat Thella terkejut dan menyadari tingkahnya yang terpana
pada ketampanan Naufal pagi itu.
“Kenapa menatap aku seperti itu? Memangnya aku aneh?” Naufal
memegang kedua pipi Thella dan menatap kedua bola mata wanita itu lekat-lekat.
“Abisnya kamu ganteng banget pagi ini, Fall. Rasanya aku
sampai terpesona,”
“Bukannya setiap hari aku memang tampan? Bisa-bisanya kamu
merasa aku hanya tampan di pagi ini?”
“Setiap hari suamiku memang selalu tampan, sini peluk dulu. Kangen,”
“Lebih dari peluk juga boleh, ini kan masih pagi,”
“Mulai kan, nakal, mesum, gigit nih...”
“Mau gigit? Boleh. Gigit sebelah mana?’
“Naufaaaaaal....”
“Apa? Bilang, dalam waktu lima detik tidak ada penjelasan,
aku hukum,”
“kamu curang, main hukum tanpa...”
Naufal sudh mengerjakan hukumannya seperti biasa tanpa
memberikan Thella waktu untuk melakukan
negoisasi, Fall menjatuhkan Thella ke tempat peraduan mereka. Naufal jug tidak
bisa menahan diri dari pesona istrinya pagi itu. Ia tampak sangat begitu
anggun.
“Fall, stop. Jangan di teruskan, kita bisa telat ke kantor,
aku belum masak untuk sarapan kita,” Thella mengingatkan Naufal tentang waktu. Pagi
itu, waktunya sangat sempit untuk melakukan hal yang rommantis.
“Tidak usah masak, kita bisa makan di kantin kntor kan. Hal simpel
seperti itu tidak usah di bikin susah. Lagipula itu kantorku, mau berangkat jam
berapa bebas kan?”
Benar saja, Thella lupa kalau pemilik perusahaan itu adalah
suaminya sendiri, tentu saja ia bebas menentukan, jam berapa dia berangkat,
meskipun Thella merasa itu bukan kebiasaan Fall.
“Naufal, tapi kan...”
“Plis, jangan tolak aku. Kamu kan yang menggodaku terlebih
dahulu, jadi kamu harus bertanggung jawab,” fall menarik resliting gaun yang
baru saja di pakai Thella beberapa menit yang lalu.
“Kok jadi aku, aku kan Cuma memandang kamu saja, bukan
__ADS_1
menggoda,”
“Kecantikan kamu yang menggodaku, sudahlah... lupakan
memasak, lupakan kantor, lupakan pekerjaan, kamu cukup melihat dan memikirkanku
saja sekarang,”
“Baiklah, aku tidak akan menolakmu, pesonamu terlalu
besar...”
“Gitu, dong. Baru itu istriku yang baik...”
“Auuuw.. baik sih baik, tapi tidak perlu menggigit
telingaku,”
“Maaf...maaf, aku tidak sengaja, beib... mari kita mulai,”
Skip adegan. 40 menit
kemudian, mereka merapikan kembali pakaian yang telah bertebaran. Sebelum itu,
mereka terpaksa mandi kilat, untuk menghilangkan bau keringat asmara di pagi
hari. Pagi ini adalah pagi tergila sepanjang pernikahan mereka. Mereka berdua saling tersenyum mengingat
semuanya.
“Terima kasih, sayang. Maaf, aku tidak bisa menahan diri. Jadi
harus dandan dari awal, deh.”
“Tidak masalah, semuanya juga sudah kewajiban aku, kan? O ya,
nanti papa akan menginap di rumah kita, kan?”
“Tentu saja, Sayang. Ada apa?”
“Kalau begitu, kita nanti harus membereskan kamar atas untuk
tempat tidur papa. Kamu dulu bilang di rumah ini ada satu kamar saja, ternyata
ada banyak kamar. Teganya, kamu membuat aku tidur di lantai,”
“Kalau kita pisah ruangan, aku akan sulit mengawasi kamu,
makanya aku bilang tidak ada kamar lain. Padahal aku berharap kau tetap tidur
di sampingku, kamu malah memilih tidur di lantai,”
ambil kesempatan saat aku tertidur di ruang tamu, dasar mesum,”
“Hei, Nona. Saat itu aku tidak menyentuhmu sama sekali, kenapa
kamu bilang aku mesum? Salahku di mana? Bukankah di hari lain kamu sengaja
tidur di luar rumah agar hipotermia kamu kambuh?”
“Memang aku sengaja, kenapa kamu memelukku segala, mesum.”
“ Kamu juga menikmatinya kan, bahkan membalas pelukanku? Jadi
apa hanya aku yang mesum di sini?”Naufal memprotes julukan yang Thella berikan
untuknya. Ia merasa cukup tidak adil jika hanya dia yang di anggap mesum di
sini.
“Iya deh iya, aku mengakui kalau aku juga mau, “
“Bilang gitu aja susah, harus berdebat dulu. Ayo, kita harus ke kantor sekarang. Benar-benar
telat, deh aku hari ini,”
“Kan telat di buat sendiri. Tadi juga udah di ingetin kan,
Fall. Kamu ngeyel,”
“Gapapa, aku bahagia, meskipun telat,”
“Dasar...”
“Ayo, lama... aku gendong aja biar cepet..” Naufal membopong
Thella tidak perduli wanita itu memberontak minta turun.
“Fall, turunin aku. Malu kalau ada orang lewat dan melihat
kita,”
“Biar saja, anggap tidak ada orang lewat,”
“Fall...”
“Stttt... berisik, justru kamu yang menarik perhatian orang,
sudah ku bilang..”
__ADS_1
“Kamu tidak menerima penolakan?”
“Masih inget juga kan? Tapi masih saja protes.”
Kalimat Naufal membuat Thella diam. Dia lebih memilih
melingkarkan tangannya pada leher suaminya yang tiba-tiba sok romantis itu. Sementara
Fall merasa senang, ia dapat mengembalikan keceriaan Thella seperti biasanya.
Sepanjang perjalanan ke kantor, mereka saling bercerita satu
sama lain. Sepertinya keduanya sudah melupakan kejadian yang menimpa mereka
satu sama lain. Sttt.. Author iri dengan keromantisan mereka, rasanya pengen
nyempil di jok belakang sambil bilang “Cieeee...ciee,” pasti sama Fall langsung
di usir “Thor, sana turun. Ganggu aja kamu,” Author langsung turun di pinggir
jalan, nunggu jemputan Mang Ojol.
“Fall, masak apa ya buat papa? Makanan kesukaan papa apa
sih? Kita harus belanja, nih...”
“Wah, aku senang sekali. Kamu perhatian pada papaku. Memang sih,
papa juga sama seperti mama, uek dan kurang perhatian, tapi aku lebih dekat
dengan papa daripada mama.”
“Kalau mamamu baik, aku juga akan memperlakukannnya sama
dengan papamu. Salah mamamu sendiri, kenapa harus menolak aku. Padahal aku kan
tidak berniat menyakitinya,”
“Maafkan mamaku, ya. Aku jadi merindukannya. Akhir minggu
kita tengok mama di penjara, yuk...”
“Baiklah, aku setuju. Kita bawakan makanan untuk mama. Sebaiknya
kita tidak usah terlalu lama memenjarakan mereka. Kasihan juga, mama sudah tua,”
“Terima kasih, kamu juga sudah memaafkan mama. Aku jadi
semakin sayang sama kamu. Love you..”
“Love you too...”
Mereka terus membicarakan banyak hal. Mereka berencana untuk
berbelanja khusus untuk hidangan menyambut kedatangan sang papa. Mereka berdua
sepakat untuk merahasiakan keberadaan mamanya dan juga kasus yang telah
menjeratnya.
Sesampainya di kantor, Naufal dan Thella telah di tunggu
oleh Tomi, teman Thella yang juga teman Naufal. Berkat dia secara tidak
langsung Thella dan Naufal bertemu.
“Pagi, Bro. Apa kabar? Semenjak menikah nggak pernah lagi
kumpul bareng kita-kita,”
“Sori, Bro. Sekarang lebih sering di rumah. Bahkan jarang
keluar semenjak menikah,”
“percaya deh, menang-mentang sudah punya istri. Wah kasih
plester dong bro itu leher,” Tomi menangkap pemandangan di area leher Naufal
yang pemiliknya tidak menyadarinya.
“Ngapain harus pakai plester? Leherku tidak sedang terluka..”
Naufal tidak sadar juga, sementara Thella hanya tersipu malu.
“Ada banyak noda merah di sana. Habis di makan lu ya?” Bisik
Tomi takut di degar oleh karyawan Fall yang seliweran. Secara otomatis Fall menaikkan kerah bajunya.
“Aku lupa, terima kasih udah ingetin. Ayo bicara di dalam
saja,”
Naufal berjalan dengan cepat di ikuti oleh Tomi dan juga
Thella. Beruntung semua karyawan tidak mengetahui dan menyadari hal yang tengah
di alami oleh Si Bos. Thella hanya tersenyum mengingat kenakalannya. “Dasar
Thella,” Umpat Author sedikit kesal.
__ADS_1