My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 57


__ADS_3

Seperti biasanya Thella menyiapkan keperluan Fall. Hari itu


sangat spesial karena papa mertuanya akan datang langsung ke kantor Naufal.  Menurut intruksi dari Naufal, Thella hari itu


berpenampilan spesial untuk menyambut kedatangan papa mertuanya.


“Kenapa papa tidak  langsung datang kerumah saja? Malah lebih


memilih untuk  datang ke kantor?” Thella


sibuk memasangkan dasi Naufal.  Diam-diam


Thella mengagumi ketampanan suaminya pagi itu, tanpa sadar ia memandangi wajah


Fall tanpa berkedip. Tapi di pandangi belum sadar karena tengah menyisir


rambutnya di depan cermin.


“Papa memang selalu datang ke kantor karena dia paham aku


selalu sibuk. Dia orangnya tidak mau menunggu, kalau memang  sudah rindu, segera ingin bertemu. Di sini


juga tidak akan lama, hanya dua sampai tiga hari saja.”  Setelah habis mengatakan kalimat itu, mata


Naufal menangkap pandangan Thella yang fokus ke wajahnya.


Cup...


Naufal mendaratkan kecupan singkat ke bibir istrinya, sontak


perlakuan Fall membuat Thella terkejut dan menyadari tingkahnya yang terpana


pada ketampanan Naufal pagi itu.


“Kenapa menatap aku seperti itu? Memangnya aku aneh?” Naufal


memegang kedua pipi Thella dan menatap kedua bola mata wanita itu lekat-lekat.


“Abisnya kamu ganteng banget pagi ini, Fall. Rasanya aku


sampai terpesona,”


“Bukannya setiap hari aku memang tampan? Bisa-bisanya kamu


merasa aku hanya tampan di pagi ini?”


“Setiap hari suamiku memang selalu tampan,  sini peluk dulu. Kangen,”


“Lebih dari peluk juga boleh, ini kan masih pagi,”


“Mulai kan, nakal, mesum, gigit nih...”


“Mau gigit? Boleh. Gigit sebelah mana?’


“Naufaaaaaal....”


“Apa? Bilang, dalam waktu lima detik tidak ada penjelasan,


aku hukum,”


“kamu curang, main hukum tanpa...”


Naufal sudh mengerjakan hukumannya seperti biasa tanpa


memberikan  Thella waktu untuk melakukan


negoisasi, Fall menjatuhkan Thella ke tempat peraduan mereka. Naufal jug tidak


bisa menahan diri dari pesona istrinya pagi itu. Ia tampak sangat begitu


anggun.


“Fall, stop. Jangan di teruskan, kita bisa telat ke kantor,


aku belum masak untuk sarapan kita,” Thella mengingatkan Naufal tentang waktu. Pagi


itu, waktunya sangat sempit untuk melakukan hal yang rommantis.


“Tidak usah masak, kita bisa makan di kantin kntor kan. Hal simpel


seperti itu tidak usah di bikin susah. Lagipula itu kantorku, mau berangkat jam


berapa bebas kan?”


Benar saja, Thella lupa kalau pemilik perusahaan itu adalah


suaminya sendiri, tentu saja ia bebas menentukan, jam berapa dia berangkat,


meskipun Thella merasa itu bukan kebiasaan Fall.


“Naufal, tapi kan...”


“Plis, jangan tolak aku. Kamu kan yang menggodaku terlebih


dahulu, jadi kamu harus bertanggung jawab,” fall menarik resliting gaun yang


baru saja di pakai Thella beberapa menit yang lalu.


“Kok jadi aku, aku kan Cuma memandang kamu saja, bukan

__ADS_1


menggoda,”


“Kecantikan kamu yang menggodaku, sudahlah... lupakan


memasak, lupakan kantor, lupakan pekerjaan, kamu cukup melihat dan memikirkanku


saja sekarang,”


“Baiklah, aku tidak akan menolakmu, pesonamu terlalu


besar...”


“Gitu, dong. Baru itu istriku yang baik...”


“Auuuw.. baik sih baik, tapi tidak perlu menggigit


telingaku,”


“Maaf...maaf, aku tidak sengaja, beib... mari kita mulai,”


Skip adegan.  40 menit


kemudian,  mereka merapikan kembali  pakaian yang telah bertebaran. Sebelum itu,


mereka terpaksa mandi kilat, untuk menghilangkan bau keringat asmara di pagi


hari. Pagi ini adalah pagi tergila sepanjang pernikahan mereka.  Mereka berdua saling tersenyum mengingat


semuanya.


“Terima kasih, sayang. Maaf, aku tidak bisa menahan diri. Jadi


harus dandan dari awal, deh.”


“Tidak masalah, semuanya juga sudah kewajiban aku, kan? O ya,


nanti papa akan menginap di rumah kita, kan?”


“Tentu saja, Sayang. Ada apa?”


“Kalau begitu, kita nanti harus membereskan kamar atas untuk


tempat tidur papa. Kamu dulu bilang di rumah ini ada satu kamar saja, ternyata


ada banyak kamar. Teganya, kamu membuat aku tidur di lantai,”


“Kalau kita pisah ruangan, aku akan sulit mengawasi kamu,


makanya aku bilang tidak ada kamar lain. Padahal aku berharap kau tetap tidur


di sampingku, kamu malah memilih tidur di lantai,”


ambil kesempatan saat aku tertidur di ruang tamu, dasar mesum,”


“Hei, Nona. Saat itu aku tidak menyentuhmu sama sekali, kenapa


kamu bilang aku mesum? Salahku di mana? Bukankah di hari lain kamu sengaja


tidur di luar rumah agar hipotermia kamu kambuh?”


“Memang aku sengaja, kenapa kamu memelukku segala, mesum.”


“ Kamu juga menikmatinya kan, bahkan membalas pelukanku? Jadi


apa hanya aku yang mesum di sini?”Naufal memprotes julukan yang Thella berikan


untuknya. Ia merasa cukup tidak adil jika hanya dia yang di anggap mesum di


sini.


“Iya deh iya, aku mengakui kalau aku juga mau, “


“Bilang gitu aja susah, harus berdebat dulu.  Ayo, kita harus ke kantor sekarang. Benar-benar


telat, deh aku hari ini,”


“Kan telat di buat sendiri. Tadi juga udah di ingetin kan,


Fall. Kamu ngeyel,”


“Gapapa, aku bahagia, meskipun telat,”


“Dasar...”


“Ayo, lama... aku gendong aja biar cepet..” Naufal membopong


Thella tidak perduli wanita itu memberontak minta turun.


“Fall, turunin aku. Malu kalau ada orang lewat dan melihat


kita,”


“Biar saja, anggap tidak ada orang lewat,”


“Fall...”


“Stttt... berisik,  justru kamu yang menarik perhatian orang,


sudah ku bilang..”

__ADS_1


“Kamu tidak menerima penolakan?”


“Masih inget juga kan? Tapi masih saja protes.”


Kalimat Naufal membuat Thella diam. Dia lebih memilih


melingkarkan tangannya pada leher suaminya yang tiba-tiba sok romantis itu. Sementara


Fall merasa senang, ia dapat mengembalikan keceriaan Thella seperti biasanya.


Sepanjang perjalanan ke kantor, mereka saling bercerita satu


sama lain. Sepertinya keduanya sudah melupakan kejadian yang menimpa mereka


satu sama lain. Sttt.. Author iri dengan keromantisan mereka, rasanya pengen


nyempil di jok belakang sambil bilang “Cieeee...ciee,” pasti sama Fall langsung


di usir “Thor, sana turun. Ganggu aja kamu,” Author langsung turun di pinggir


jalan, nunggu jemputan Mang Ojol.


“Fall, masak apa ya buat papa? Makanan kesukaan papa apa


sih? Kita harus belanja, nih...”


“Wah, aku senang sekali. Kamu perhatian pada papaku. Memang sih,


papa juga sama seperti mama, uek dan kurang perhatian, tapi aku lebih dekat


dengan papa daripada mama.”


“Kalau mamamu baik, aku juga akan memperlakukannnya sama


dengan papamu. Salah mamamu sendiri, kenapa harus menolak aku. Padahal aku kan


tidak berniat menyakitinya,”


“Maafkan mamaku, ya. Aku jadi merindukannya. Akhir minggu


kita tengok mama di penjara, yuk...”


“Baiklah, aku setuju. Kita bawakan makanan untuk mama. Sebaiknya


kita tidak usah terlalu lama memenjarakan mereka. Kasihan juga, mama sudah tua,”


“Terima kasih, kamu juga sudah memaafkan mama. Aku jadi


semakin sayang sama kamu. Love you..”


“Love you too...”


Mereka terus membicarakan banyak hal. Mereka berencana untuk


berbelanja khusus untuk hidangan menyambut kedatangan sang papa. Mereka berdua


sepakat untuk merahasiakan keberadaan mamanya dan juga kasus yang telah


menjeratnya.


Sesampainya di kantor, Naufal dan Thella telah di tunggu


oleh Tomi, teman Thella yang juga teman Naufal. Berkat dia secara tidak


langsung Thella dan Naufal bertemu.


“Pagi, Bro. Apa kabar? Semenjak menikah nggak pernah lagi


kumpul bareng kita-kita,”


“Sori, Bro. Sekarang lebih sering di rumah. Bahkan jarang


keluar semenjak menikah,”


“percaya deh, menang-mentang sudah punya istri. Wah kasih


plester dong bro itu leher,” Tomi menangkap pemandangan di area leher Naufal


yang pemiliknya tidak menyadarinya.


“Ngapain harus pakai plester? Leherku tidak sedang terluka..”


Naufal tidak sadar juga, sementara Thella hanya tersipu malu.


“Ada banyak noda merah di sana. Habis di makan lu ya?” Bisik


Tomi takut di degar oleh karyawan Fall yang seliweran.  Secara otomatis Fall menaikkan kerah bajunya.


“Aku lupa, terima kasih udah ingetin. Ayo bicara di dalam


saja,”


Naufal berjalan dengan cepat di ikuti oleh Tomi dan juga


Thella. Beruntung semua karyawan tidak mengetahui dan menyadari hal yang tengah


di alami oleh Si Bos. Thella hanya tersenyum mengingat kenakalannya. “Dasar


Thella,” Umpat Author sedikit kesal.

__ADS_1


__ADS_2