
“Fall, rebus dulu buntutnya, agak
lama biar empuk,”
Naufal dan Thella sedang memasak
Sop Buntut kesukaan papa Naufal. Mereka berdua tampak sangat sibuk, sementara
si papa sedang asyik menonton berita di televisi.
Setelah lumayan lama akhirnya
hidangan pun siap. Ini merupakan pengalaman pertama dalam hidup mereka berdua
memasak sop buntut berbekal buku resep yang di beli Thella.
“Maaf, Pa, kalau rasanya mungkin
agak aneh, ini adalah karya perdana kami dalam memasak sop buntut, semoga papa suka,”
“Apapun rasanya papa sangat
menghargai usaha kalian untuk membuatkan masakan ini untuk papa,”
“Mari kita makan, Pa...”
Naufal dan Thella deg-degan
menanti komentar dari Sang Papa, semoga saja rasanya tidak buruk da memalukan. Mereka agak menyesal, tidak
membeli saja, daripada sok-sokan buat.
“Memang, ya... masakan yang di
buat dengan cinta rasanya berbeda. Ini enak sekali dan Papa suka,”
“Papa serius? Bukan hanya mau
menyenangkan hati kami kan, Pa?”
“Buat apa bohong, Papa tidak suka
basa-basi, coba kalian cicipi hasil masakan kalian sendiri,”
Naufal dan Thella mencicipi
masakan mereka dengan sedikit ragu-ragu. Namun saat sendok mereka sampai ke
mulut, mereka berubah ceria, ternyata
rasa masakan mereka hampir sama dengan rasa masakan dari resto terkenal.
“Untunglah rasanya tidak terlalu
buruk, makan yang banyak, Pa.”
“Bagi papa ini sangat enak,”
“Terima kasih, Pa. Besok papa ada acara untuk jalan-jalan?”
“Besok papa mau kunjungan ke
perusahaan Ommu. Inget kan, om Herman? Apa kalian tidak pernah saling bertemu?”
“Tidak pernah, aku juga lupa
wajahnya seperti apa,”
“Bocah sableng! Sama Ommu sendiri
saja kamu tidak kenal? Dia adik Papa, Loh.”
“Maaf, Pa. Tapi serius, Fall
nggak kenal sama Om Herman,”
“Kebanyakan bekerja sampai tidak
tahu kerabat sendiri. Payah sekali anak muda jaman sekarang,” Keluh papa
Naufal, anaknya hanya tersenyum geli.
“Yang ngajarin buat jadi
workaholik siapa? Papa, kan? Jadi jangan salahin aku dong,”
“Tapi jangan sampai tidak kenal
dengan kerabat sendiri, Papa tidak
pernah mengajarimu seperti
itu,”
__ADS_1
“Salah lagi, kan. Kalau bicra
sama papa aku selalu salah perasaan,”
“Jadi kamu tidak mau mengalah, bocah sableng?”
“Papa bisa nggak sih, kalau
ngasih julukan yang bagusan dikit, apaan
itu bocah sableng?”
”Memangnya kenapa dengan
julukamu? Thella, apa menurut kamu
julukan yang papa berikan buat Fall itu terlalu buruk?”
“Bagus kok, Pa..” Sahut Thella
sambil tersenyum.
“Kalian berdua kerjasama kan buat
bully aku? Baiklah, aku memang yang teraniaya,” Thella semakin geli
melihat ekspresi Fall yang tampak lucu.
“Lihat Thella, dia aslinya manja
seperti itu. Jangan percaya kalau dia sok keren, sebenarnya dia sama sekali
nggak keren, hanya bocah kolot,” Ejek papa Naufal, membuat Thella tertawa
kecil. Ternyata ayah dan anak itu tidak bisa akur.
“Baiklah, kalian lanjutkan saja berantem
di ruang tamu, aku mau membereskan semua bekas makanan kita. “ Thella mencoba
mengalihkan perhatian mereka berdua agar berhenti berdebat. Kemudian, ayah dan
anak itu pindah ke ruang tamu.
Thella hanya bisa tertawa melihat
kedua pria yang masih saja berdebat di ruang tamu. Mereka sangat lucu sekali. Thella
pura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan memilih duduk diam di kursi yang
“Papa ada oleh-oleh buat kamu, ini
spesial, biar makin banyak plester di lehermu,”
Mendengar sindiran papanya,
sponta Naufal memegangi lehernya sambil tersenyum malu.
“Apaan sih, Pa. Seperti tidak
pernah jadi pasangan baru saja. Lagipula apa oleh-oleh papa?”
Papanya mengambil sesuatu dari
dalam ransel dan menyerahkannya pada Naufal, seketika pria muda itu tertawa
terbahak-bahak.
“Papa, ngapain coba bawain aku
beginian? Aku bukan yang lemah kali, pa.” Naufal tertawa, begitupula Thella
yang mendengarkan obrolan mereka dari dapur. Ada-ada saja obrolan lelaki
dewasa. Thella lebih memilih pura-pura tidak mendengar dan melipir menuju
kamar.
“Semuanya, aku ke kamar duluan,
ada yang ingin aku kerjakan,” Thella melangkah cepat. Rasanya badannya lelah
hari itu. Ia ingin segera memejamkan
mata dan membiarkan dua pria itu terus berdebat.
Seandainya mama mertuanya sama
seperti papanya, yang mau menerima dia apa adanya, kemungkinan semuanya akan
semakin indah. Tapi apa boleh di kata,
semuanya tidak bisa di atur oleh tangannya sendiri. Ia ingin bisa seakrab itu
__ADS_1
dengan mertuanya.
Semoga saja nantinya
hubungan Thella dengan mamanya bisa menjadi
lebih baik saat mama mertuanya setelah beliau keluar dari penjara. Ia berharap bisa begitu. Karena sejujurnya
Thella tidak bisa bermusuhan dengan siapapun. Bahkan, kalau bisa Thella ingin
menjadikan mama mertuanya sebagai pengganti mamanya yang sudah lama tiada.
Thella jadi memikirkan banyak
hal, pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan mamanya yang telah tiada,
mamanya dulu selalu bilang, kalau Thella sudah menikah, ia harus hormat kepada
kedua mertuanya. Harus menganggap mereka sama seperti orang tuanya sendiri. Tapi
kenyataan yang Thella hadapi justru berbeda, salah satu dari kedua mertuanya
tidak menerima kehadirannya.
“Kamu kenapa belum tidur?”
“Aku rindu almarhum mamaku,
Fall...”
“Ada sesuatu yang mengingatkanmu
tentang mama? Ayo cerita padaku, aku akan mendengarkan semua ceritamu...”
Naufal merebahkan diri di samping
Thella setelah meletakkan pemberian ayahnya di atas meja. Ia siap mendengarkan
keluh kesah istrinya. Ini pertama
kalinya ia mau membahas mamanya yang sudah meninggal.
“Mama pernah berpesan kalau aku
harus baik pada kedua mertuaku, tapi kenyataannya aku tidak bisa menjadi
menantu yang baik. Buktinya mama kamu tidak bisa menerima aku kan?”
“Itu bukan kamu yang tidak baik,
tapi mamaku yang belum bisa melihat kebaikan yang ada di dalam diri kamu. Nanti,
kamu pasti akan bisa deket degan mamaku. Aku juga berusaha. Aku juga tidak bisa
dekat dengan mamaku sendiri. Karena kami berbeda pemikiran,”
Memang benar, Naufal juga tidak
bisa sedekat itu dengan mamanya. Ia hanya bisa merindukan mamanya dari
jauh. Rasanya ingin mendekat, tapi tetap
saja ada jarak di antara mereka berdua. Seperti ada dinding pembatas di antara
mereka berdua.
“Semoga saja, Fall. Aku juga
berharap bisa seperti itu, aku ingin bisa dekat dengan mama. Aku pengen mama
bisa gantiin mamaku, Fall,”
“Iya, sudah, sekarang kamu bobo
aja. Sini deketan sama aku. Jangan sedih lagi ya, manisku,” Naufal menarik Thella mendekat padanya. Meskipun
tidak sama, tapi Naufal sama dengan Thella , tidak dekat dengan mamanya.
“Aku merasa seperti kucing, kamu
merayuku pakai kata manis segala,”
“Terus maunya apa? Sayang? Beib? Honey?”
“Ih, kamu mah suka ngeselin. Aku gigit
nih..”
“Jangan dong sayang, nanti
ketampananku berkurang. Maunya di sayag aja, nggak mau di gigit.”
“Iya deh, iya. Ayo kita tidur,
__ADS_1
aku ngantuk,”
“Yuk...”