My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 60


__ADS_3

“Fall, rebus dulu buntutnya, agak


lama biar empuk,”


Naufal dan Thella sedang memasak


Sop Buntut kesukaan papa Naufal. Mereka berdua tampak sangat sibuk, sementara


si papa sedang asyik menonton berita di televisi.


Setelah lumayan lama akhirnya


hidangan pun siap. Ini merupakan pengalaman pertama dalam hidup mereka berdua


memasak sop buntut berbekal buku resep yang di beli Thella.


“Maaf, Pa, kalau rasanya mungkin


agak aneh, ini adalah karya perdana kami dalam memasak sop buntut,  semoga papa suka,”


“Apapun rasanya papa sangat


menghargai usaha kalian untuk membuatkan masakan ini untuk papa,”


“Mari kita makan, Pa...”


Naufal dan Thella deg-degan


menanti komentar dari Sang Papa, semoga  saja rasanya tidak buruk da memalukan. Mereka agak menyesal, tidak


membeli saja, daripada sok-sokan buat.


“Memang, ya... masakan yang di


buat dengan cinta rasanya berbeda. Ini enak sekali dan Papa suka,”


“Papa serius? Bukan hanya mau


menyenangkan hati kami kan, Pa?”


“Buat apa bohong, Papa tidak suka


basa-basi, coba kalian cicipi hasil masakan kalian sendiri,”


Naufal dan Thella mencicipi


masakan mereka dengan sedikit ragu-ragu. Namun saat sendok mereka sampai ke


mulut, mereka berubah ceria,  ternyata


rasa masakan mereka hampir sama dengan rasa masakan dari resto terkenal.


“Untunglah rasanya tidak terlalu


buruk, makan yang banyak, Pa.”


“Bagi papa ini sangat enak,”


“Terima kasih, Pa. Besok  papa ada acara untuk jalan-jalan?”


“Besok papa mau kunjungan ke


perusahaan Ommu. Inget kan, om Herman? Apa kalian tidak pernah saling bertemu?”


“Tidak pernah, aku juga lupa


wajahnya seperti apa,”


“Bocah sableng! Sama Ommu sendiri


saja kamu tidak kenal? Dia adik Papa, Loh.”


“Maaf, Pa. Tapi serius, Fall


nggak kenal sama Om Herman,”


“Kebanyakan bekerja sampai tidak


tahu kerabat sendiri. Payah sekali anak muda jaman sekarang,” Keluh papa


Naufal, anaknya hanya tersenyum geli.


“Yang ngajarin buat jadi


workaholik siapa? Papa, kan? Jadi jangan salahin aku dong,”


“Tapi jangan sampai tidak kenal


dengan kerabat sendiri,  Papa tidak


pernah mengajarimu seperti


itu,”

__ADS_1


“Salah lagi, kan. Kalau bicra


sama papa aku selalu salah perasaan,”


“Jadi kamu tidak mau mengalah,  bocah sableng?”


“Papa bisa nggak sih, kalau


ngasih julukan yang bagusan dikit,  apaan


itu bocah sableng?”


”Memangnya kenapa dengan


julukamu?  Thella, apa menurut kamu


julukan yang papa berikan buat Fall itu terlalu buruk?”


“Bagus kok, Pa..” Sahut Thella


sambil tersenyum.


“Kalian berdua kerjasama kan buat


bully aku? Baiklah, aku memang yang teraniaya,” Thella semakin geli


melihat  ekspresi  Fall yang tampak lucu.


“Lihat Thella, dia aslinya manja


seperti itu. Jangan percaya kalau dia sok keren, sebenarnya dia sama sekali


nggak keren, hanya bocah kolot,” Ejek papa Naufal, membuat Thella tertawa


kecil. Ternyata ayah dan anak itu tidak bisa akur.


“Baiklah, kalian lanjutkan saja berantem


di ruang tamu, aku mau membereskan semua bekas makanan kita. “ Thella mencoba


mengalihkan perhatian mereka berdua agar berhenti berdebat. Kemudian, ayah dan


anak itu pindah ke ruang tamu.


Thella hanya bisa tertawa melihat


kedua pria yang masih saja berdebat di ruang tamu. Mereka sangat lucu sekali. Thella


pura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan memilih duduk diam di kursi yang


“Papa ada oleh-oleh buat kamu, ini


spesial, biar makin banyak plester di lehermu,”


Mendengar sindiran papanya,


sponta Naufal memegangi lehernya sambil tersenyum malu.


“Apaan sih, Pa. Seperti tidak


pernah jadi pasangan baru saja. Lagipula apa oleh-oleh papa?”


Papanya mengambil sesuatu dari


dalam ransel dan menyerahkannya pada Naufal, seketika pria muda itu tertawa


terbahak-bahak.


“Papa, ngapain coba bawain aku


beginian? Aku bukan yang lemah kali, pa.” Naufal tertawa, begitupula Thella


yang mendengarkan obrolan mereka dari dapur. Ada-ada saja obrolan lelaki


dewasa. Thella lebih memilih pura-pura tidak mendengar dan melipir menuju


kamar.


“Semuanya, aku ke kamar duluan,


ada yang ingin aku kerjakan,” Thella melangkah cepat. Rasanya badannya lelah


hari itu.  Ia ingin segera memejamkan


mata dan membiarkan dua pria itu terus berdebat.


Seandainya mama mertuanya sama


seperti papanya, yang mau menerima dia apa adanya, kemungkinan semuanya akan


semakin indah. Tapi  apa boleh di kata,


semuanya tidak bisa di atur oleh tangannya sendiri. Ia ingin bisa seakrab itu

__ADS_1


dengan mertuanya.


Semoga saja nantinya


hubungan  Thella dengan mamanya bisa menjadi


lebih baik saat mama mertuanya setelah beliau keluar dari penjara.  Ia berharap bisa begitu. Karena sejujurnya


Thella tidak bisa bermusuhan dengan siapapun. Bahkan, kalau bisa Thella ingin


menjadikan mama mertuanya sebagai pengganti mamanya yang sudah lama tiada.


Thella jadi memikirkan banyak


hal, pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan mamanya yang telah tiada,


mamanya dulu selalu bilang, kalau Thella sudah menikah, ia harus hormat kepada


kedua mertuanya. Harus menganggap mereka sama seperti orang tuanya sendiri. Tapi


kenyataan yang Thella hadapi justru berbeda, salah satu dari kedua mertuanya


tidak menerima kehadirannya.


“Kamu kenapa belum tidur?”


“Aku rindu almarhum mamaku,


Fall...”


“Ada sesuatu yang mengingatkanmu


tentang mama? Ayo cerita padaku, aku akan mendengarkan semua ceritamu...”


Naufal merebahkan diri di samping


Thella setelah meletakkan pemberian ayahnya di atas meja. Ia siap mendengarkan


keluh kesah istrinya.  Ini pertama


kalinya ia mau membahas mamanya yang sudah meninggal.


“Mama pernah berpesan kalau aku


harus baik pada kedua mertuaku, tapi kenyataannya aku tidak bisa menjadi


menantu yang baik. Buktinya mama kamu tidak bisa menerima aku kan?”


“Itu bukan kamu yang tidak baik,


tapi mamaku yang belum bisa melihat kebaikan yang ada di dalam diri kamu. Nanti,


kamu pasti akan bisa deket degan mamaku. Aku juga berusaha. Aku juga tidak bisa


dekat dengan mamaku sendiri. Karena kami berbeda pemikiran,”


Memang benar, Naufal juga tidak


bisa sedekat itu dengan mamanya. Ia hanya bisa merindukan mamanya dari


jauh.  Rasanya ingin mendekat, tapi tetap


saja ada jarak di antara mereka berdua. Seperti ada dinding pembatas di antara


mereka berdua.


“Semoga saja, Fall. Aku juga


berharap bisa seperti itu, aku ingin bisa dekat dengan mama. Aku pengen mama


bisa gantiin mamaku, Fall,”


“Iya, sudah, sekarang kamu bobo


aja. Sini deketan sama aku. Jangan sedih lagi ya, manisku,”  Naufal menarik Thella mendekat padanya. Meskipun


tidak sama, tapi Naufal sama dengan Thella , tidak dekat dengan mamanya.


“Aku merasa seperti kucing, kamu


merayuku pakai kata manis segala,”


“Terus maunya apa? Sayang?  Beib? Honey?”


“Ih, kamu mah suka ngeselin. Aku gigit


nih..”


“Jangan dong sayang, nanti


ketampananku berkurang. Maunya di sayag aja, nggak mau di gigit.”


“Iya deh, iya. Ayo kita tidur,

__ADS_1


aku ngantuk,”


“Yuk...”


__ADS_2