
"Selamat pagi, istriku tersayang. Bangun dong, kita harus ke kantor hari ini sayang. Kamu lupa ya?" Naufal membangunkan Thella. Pria itu sudah mandi. Thella dapat mencium bau harum sabun yang menempel tubuhnya.
Efek lelah setelah baru beberapa jam sampai rumah, sepulang dari bulan madu mereka ke korea masih sangat terasa di badan Thella. Badannya terasa seperti habis kerja berat dan seper
"Maaf, aku kesiangan lagi sepertinya. Jadi belum aku siapkan pakaianmu, Fall. Maaf ya," Thella segera bangkit dari tidurnya dan mengikat rambut. Tak lupa ia juga mengikat tali piyama tidurnya yang terlepas.
"Jangan panik begitu. Mulai sekarang aku akan mandiri dan tidak menyusahkan kamu lagi. Setidaknya aku bisa meringankan beban kamu. Kamu pasti sangat lelah, kan? melewati setiap hari dengan seluruh pekerjaan," Naufal mencari sendiri pakaian yang akan di pakainya.
Kamu kan sudah janji, kita tidak langsung ke kantor, kamu mau menemani aku spa, Fall." Thella mengingatkan kalau mereka belum ada jadwal ke kantor hari itu. Naufal benar-benar lupa.
"Aku lupa, sayang. Maafkan aku, kamu jangan marah," Naufal segera mengembalikan pakaian kerjanya ke dalam lemari gantung. Fall memijat kepalanya sendiri. Ia tidak habis pikir, kenapa ia bisa lupa. Naufal takut Thella akan marah padanya.
"Fall, jangan takut. Aku tidak pernah marah kok. Aku tahu, kamu terlalu antusias untuk berangkat ke kantor berdua denganku, kan?" Thella tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kamu benar, aku ingatnya hanya pergi ke kantor bersamamu. Jadi kemana kita hari ini?" Naufal beralih mencari pakaian santai.
"Hari ini kita spa bareng yuk. Aku lelah, Fall." Thella kembali merebahkan dirinya ke kasur. Rasanya lelah badan itu sangat terasa. Badannya seperti remuk redam, di tambah sikap mama mertuanya yang menolaknya. Itu membuatnya semakin lelah.
Ada banyak hal yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Penolakan bukan hal yang mudah untuk di terima oleh Thella. Terlebih lagi, penolakan yang dilakukan oleh mama Naufal di iringi dengan perbandingan dengan wanita lain.
Itu merupakan tantangan tersendiri untuk Thella. Meskipun ia belum menemukan cara untuk membuat mama mertuanya bisa mengerti bahwa dia juga mampu menjadi menantu yang baik, meskipun ia tidak mempunyai harta sebanyak Vania.
"Baiklah, kemanapun, hari ini. Aku akan menemanimu, tuan putri,"Naufal juga sadar, selain lelah badan istrinya juga lelah pikiran. Mungkin dia memang harus membuat istrinya lebih rileks sekarang.
"Terima kasih, Fall..."Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa perasaanmu masih kurang baik?"
"Sudah baik. Meskipun masih ada perasaan yang mengganjal, tapi aku sudah merasa cukup baik. Suatu hari, aku yakin mama kamu juga bisa menerima aku,"
"Aku harap juga begitu, Thella. Tapi mamaku itu, orangnya keras. Dia tidak mudah berubah orangnya. Aku mau kamu tetap bertahan, jangan tinggalkan aku. Kalau kamu tidak merasa nyaman tinggal satu rumah dengan mama, aku bisa membeli rumah baru untuk kita tinggal," Tentu saja Fall tidak akan membiarkan istrinya tidak nyaman tinggal bersama mamanya. Sebagai seorang anak, Naufal sangat paham bagaimana sikap mamanya.
"Saat ini tidak perlu, Fall. Lagipula membeli rumah baru itu pemborosan bukan? Rumah ini juga cukup besar kan?"
"Tidak masalah, jika di rumah ini sudah tidak ada kenyamanan, aku juga tidak akan nyaman tinggal. Semoga saja, mama tidak lama tinggal di sini," Naufal sudah siap. Ia menyemprotkan beberapa kali parfum ke bajunya. Tidak lupa ia memakai jam tangan kesayangannya.
"Aku mandi dulu, Fall. Hari ini jalan-jalan pagi sambil cari sarapan, yuk. Lagi malas masak." Karena lelah, Thella sangat malas menyambangi dapurnya. Ia memilih merayu Fall untuk mencari sarapan ke luar.
"Boleh, yang penting kamu senang. Sudah, sana mandi, dandan yang cantik buat aku," Naufal duduk di pinggir ranjang sambil mengecek laporan-laporan yang masuk.
Naufal, kamu ada waktu? aku ingin bertemu denganmu sebentar di tempat biasa. Aku mohon, temui aku.
Di kontak tertulis nama Clara. Cinta pertama Naufal.Wanita itu bertunangan dengan seorang pria di hari yang sama saat Fall ingin melamarnya dua tahun yang lalu.
Sebagai cinta pertama, tentu saja Naufal tidak lupa sepenuhnya pada sosok Clara yang merupakan wanita satu-satunya yang paling ia cintai sebelum Thella.
Saat membaca pesannya pun, Naufal tidak bisa menolak untuk bertemu. Ia ingin menemui wanita itu untuk pertama kalinya sejak berpisah dua tahun lalu. Naufal berusaha memutar otak untuk bisa menemui Clara.
Baiklah. Jam berapa?
Naufal harus tahu dulu, jam berapa Clara ingin bertemu dengan dia. Barulah ia bisa mengatur bagaimana caranya agar ia dapat bertemu dengannya.
__ADS_1
Jam 2 siang. Terima kasih sudah bersedia untuk menemui aku.
Naufal lega. Masih ada waktu untuk dia memenuhi semua ajakan Thella. Bagaimanapun, ia tidak ingin Thella merasa terabaikan. Saat ini, istrinya adalah prioritas utamanya.
Baik, nanti aku chat.
Clara mungkin saat ini sedang membutuhkan Naufal. Ia sudah sangat paham dengan wanita itu. Saat saling berhubungan juga, mereka sering putus nyambung, sampai akhirnya hilang kontak semenjak dia tunangan hari itu.
"Fall, hari ini kamu gapapa kan, antar aku ke spa? Kalau kamu keberatan atau tidak nyaman, aku pergi sendiri saja." Ujar Thella sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Apa sih, kok bilang begitu. Aku mau nganterin kamu bukan karena terpaksa. Jam dua nanti aku ada acara, bertemu dengan seseorang. Kamu izinin aku, nggak?" Naufal mencoba untuk meminta izin pada Thella untuk pergi menemui Clara. Ia tentu saja tidak bisa menyebut nama Clara karena sudah pasti akan terjadi salah paham.
"Jam dua aku mau ke rumah Vanya. Jadi nanti antar aku ke sana dulu sebelum kamu pergi," Tentu saja hari itu Thella ingin menemui sahabatnya. Ia juga ingin mengantarkan oleh-oleh dari bulan madunya di korea.
"Baiklah. Siap nyonya Thella. Ayo, katanya mau jalan pagi," Naufal mengingatkan Thella tentang agenda jalan paginya.
"Ayo, berangkat,"
Naufal dan Thella keluar dari pintu kamarnya, mendapati mamanya dan Vania sedang menikmati secangkir teh sambil menonton tv.
"Mau menjqdi menantu yang baik, tapi bangun siang, belum ada sarapan, malah pergi ke luar,jangan-jangan, setiap hari, Naufal tidak pernah diurus," Oceh mama Naufal.
"Mah, masih pagi. Buat apa ribut-ribut begini. Mama kan juga bisa masak, Thella lelah, Ma. Kami juga mau beli sarapan untuk semua orang," Naufal menjawab pernyataan Mamanya sekilas, lalu segera menarik Thella berlalu. Ia tidak ingin ada perang mulut di pagi hari yang membuat moodnya memburuk.
"Naufal, masih saja kamu bela istrimu ini?! Mama tidak habis pikir, kenapa kamu terus membela wanita seperti dia," Mamanya masih saja ingin mencari masalah, tapi Fall mengabaikannya. Tetap mengajak Thella pergi keluar.
__ADS_1