
"Papa...!" Thella berlari memeluk ayahnya yang menyambut di serambi rumah mereka.
"Putri kesayangan ayah, Mengapa kamu tampaj kurus? Apa kamu kurang makan? Apa suamimu galak?" Papa Thella memberondong Thella dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Tidak Papa. Justru timbanganku naik bulan ini. Hanya perasaan Papa saja. Suamiku juga sangat baik Papa," Thella membela Naufal. Karena memang dia tidak pernah di sakiti oleh suaminya. Kecuali hanya salah paham.
Papa Thella melepas pelukan putrinya, lalu memandang Naufal dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia merasa menantunya sangat rapi, bahkan terlalu rapi. Seperti akan menghadiri rapat penting saja.
"Menantu, kenapa kamu tidak memelukku juga?" Papa Thella tersenyum ramah pada Naufal.
Perlahan pria itu mendekat kepada mertuanya. Lelaki paruh baya itu.memeluk erat, lalu menepuk-nepuk punggung Fall pelan. Ia sangat senang, akhirnya dapat bertemu dengan menantunya itu.
"Ternyata menantu papa tampan juga, pantas saja, putriku mau menikah cepat-cepat. pasti karena terlalu cinta dan takut kehilangan,"Papa Thella sok tahu. Ia saat itu kaget dengan keputusan Thella yang di nilainya buru-buru.
Perkataan papanya membuat Thella tertawa geli. kalau saja ayahnya tahu, kalau saat itu dia menikah karena terpaksa, pasti papanya tidak akan merestuinya. Meskipun papanya jauh,tapi beliau sangat mencintai putrinya. Syukurlah, papanya datang di saat mereka sudah saling mencintai.
"Ya, papa benar, aku sangat mencintai dia. Suami kesayangan aku. Aku takut nanti kalau lama-lama pacaran, dia di ambil orang, pa." Thella sudah berpindah di samping Naufal dan memeluk lengan lelaki itu erat sambil menempelkan kepalanya, memperlihatkan keromantisan di depan papanya.
"Sudah-sudah, ayo masuk. Nanti kita ngobrol di dalam,"
"Baik, Pa. Bibi, tolong ambil makanan yang ada di jok belakang ya.. bawa masuk semuanya,"
"Baik, Non."
Bibi melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Sila. Memasukkan satu per satu oleh-oleh bawaan mereka untuk papanya. Mereka bertiga langsung menuju ruang makan. Fall masih salah tingkah, ia tidak tahu harus berbuat apa atau bicara apa.
__ADS_1
"Fall, kamu dari tadi papa perhatikan diam saja, tidak berbicara apapum, apa kamu sedang sakit gigi?" Kali ini papa Thella menatap menantunya dalam-dalam. Ia menyadari ketakutan yang ada di dalam pikiran Naufal.
"Tidak, pa. Aku hanya masih belum terbiasa untuk bicara dengan papa. Aku gugup, pa.." Naufal jujur pada mertuanya tentang apa yang ia rasakan. Kegugupannya bahkan lebih dari bertemu dengan banyak investor asing.
"Biasa saja, rileks. Papa ini bukan orang lain. Papa juga papa kamu, anggap saya seperti orang tua mu sendiri."Ujar papa Thella dengan lembut kepada menantunya. Ia ingin menantunya bisa menerima dia sama seperti dia menerima menantunya.
"Ba-baik, Pa. Fall akan bersikap biasa terhadap papa. Terima kasih karena papa sudah menyambut aku dengan baik. Aku sangat senang, papa."Perlahan kekakuan di antara mereka mencair.
Mereka berbicara banyak hal, sebelum akhirnya makanan selesai di hidangkan dan mereka makan bersama tanpa ada yang berbicara.Thella yang biasanya hanya melayani makan suaminya, malam ini dia melayani dua orang pria yang penting di dalam hidupnya.
Acara makan selesai, mereka pindah ke ruang keluarga.Thella sengaja duduk di tengah, antara papanya dan juga suaminya. Ia tidak ingin salah satunya merasa terabaikan.
"Jadi kamu kerja di mana, Fall?" Papa mencoba menjalin keakraban dengan Fall. Setidaknya ia ingin tahu beberapa hal tentang pria yang sudah mendapatkan hati anak perempuannya.
"Aku bekerja di Roxy Group, Pa." Jawab Fall singkat, dan penuh hormat.
"Perusahaan besar itu, milik kamu, Fall?" Ternyata papa Thella sudah mengetahui sedikit banyaknya tentang Roxy Group.
"Papa berlebihan, Roxy baru berkembang, belum besar, Pa. Suatu hari aku mau Roxy lebih besar daripada hari ini," Naufal berkata dengan sangat yakin. Ia belum puas dengan perusahaannya yang sudah lumayan pesat itu.
"Wah, rupanya kamu anak yang jenius dan pekerja keras, ya. Papa suka sekali anak muda yang jenius dan tangkas sepertimu. Pantas saja Thella sangat mencintai kamu, kamu lelaki yang potensial rupanya.
"Aku baru belajar, Pa. Belum sehebat itu. Masih perlu banyak evaluasi lagi," Ungkap Naufal santai. Ia tidak akan mengakui kehebatannya di depan mertuanya.
"Benar-benar menantu idaman. Papa bangga padamu, Fall. Kamu rendah hati, pekerja keras, rajin, pokoknya kamu tipe pria idaman. Saya sangat bangga kamu menjadi suami anakku,"Papa Thella nemuji menantunya karena sangat cocok dengan.kriteria yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"Anak papa juga sudah jaadi istri idaman aku, Pa. Dia sangat baik, dan perduli. Dia juga mencintai aku, bukan sekedar harta dan materi, tapi benar-benar mencintai diriku. Aku sangat mencintai anak papa,"
Thella tidak menyangka Naufal akan mengatakan semua itu di hadapan papa mereka. Hati Thella sangat berbunga-bunga. Suaminya secara blak-blakan menyatakan cintanya di depan orang tuanya.
"Bagus, Naufal. Kamu harus sepenuhnya sayang dan cinta pada putriku. Aku tidak akan membiarkan semua orang yang membuat putriku menangis, kamu paham, kan, apa maksud papa?"
"Aku paham pa, aku akan menjaga Thella dengan sebaik-baiknya, aku akan mencintai dia dengan sepenuh hati, Pa."
"Bagus, Aku suka, pria sepertimu. Kamu luar biasa, Terima kasih, Nak. Kalau begitu, mari kita main catur," Papa Thella mulai bisa lebih dekat dengan menantunya.
"Kalau begitu aku jurinya," Usul Thella.
"Boleh, tapi kalau kamu membantu, kamu harus ada di pihak papa. Suamimu kan jenius, mari kita lihat, sejenius apa dia saat bermain catur, kamu.siap Fall?"
"Siap, Pa. Aku pasti bisa mengalahkan, Papa."
"Oh, ya? Sombong sekali kau anak muda, mari kita buktikan, siapa yang paling tangguh di antara kita berdua,"
"Baik, mari kita lakukan, pa.."
Mereka main catur bertiga dengan Thella sebagai juri menggunakan Catur Naufal yang tadi di bawanya dari rumah dan telah di ambilkan oleh Mang Diman.
Mereka bertiga bermain hingga larut malam. Keduanya sama-sama cerdas dan penuh perhitungan. Thella sangat mengantuk saat menjadi juri permainan mereka berdua. Sampai akhirnya pemenangnya adalah Naufal, hal itu membuat papa Thella semakin bangga pada menantunya itu.
"Papa senang main catur bersamamu, Nak. Sudah larut malam, kalian segera tidur, Papa juga ingin beristirahat, belum sempat istirahat karena terlalu semangat bertemu dengan kamu,"
__ADS_1
Memang sejak datamg, Papa Thella hanya memikirkan tentang persiapan kedatangan putrinya.Ia terlalu rindu pada putri kesayangannya itu.
"Kalau gitu, aku dan Fall, izin ke kamar duluan ya pa,"Thella berjalan gontai karena berjalan dengan menahan kantuk.