My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 40


__ADS_3

Naufal bangun dari tidurnya, ia mendapati  Thella tidak ada di sampingnya.  Naufal teringat drama semalam, beruntung hujan


tadi menyelamatkannya tidur dalam kesendirian dan kedinginan. Pria itu turun


dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Bibi yang sedang menyapu kaget


melihat Naufal  yang tiba-tiba muncul


dari balik pintu.


“Pagi, Den.  Pasti mencari


non Thella, ya?” Bibi menebak muka bingung Naufal yang menengok kanan kiri


seperti sedang mencari sesuatu.


“Iya, Bi. Kemana dia? Dia tidak pergi kemanapun kan,Bi?”


Bibi tersenyum karena sikap Naufal yang overprotektif.


“Non Thella ada di halaman  depan,  senam pagi. Tadi Non Thella berpesan, kalau mas merasa bosan boleh


menemuinya di depan sana,”


“Baiklah, terima kasih, Bi...” Naufal bergegas menuju


halaman depan. Ia melihat istrinya tengah serius melakukan senam. Bajunya yang


sedikit ketat dan keringat yang bercucuran membuat Thella tampak seksi  lebih dari biasanya. Naufal terpesona melihat


Thella yang seperti itu.


“Fall, kamu sudah bangun? Gimana, nyenyak tidurmu? Maaf


semalam aku ketiduran, sampai aku tidak mendengar lagi, kamu bicara apa.”  Thella menyusul Naufal yang sedang  duduk di sebuah kursi, dia sendiri memilih


duduk di kursi panjang sambil menyelonjorkan kakinya.


“Baru bangun, Aku.  Kan


tidurnya di dalam pelukan istriku tersayang. Aku malah seneng akhirnya kamu


bisa tidur setelah ada aku di sampingmu. Maaf , ya.  Kalau di  sana, kamu terlalu sibuk sampai tidak bisa olah raga. Sepulang dari


sini, kita cari asisten, ya. Biar kamu nanti bisa sedikit santai dan berolah


raga,” Naufal teringat kebiasaan Thella di rumahnya, selalu sibuk mengurus ini


dan itu. Ia merasa belum bisa membuat Thella bahagia.


“Tidak masalah, Fall. Aku  juga hanya iseng senam pagi, udah biasa sih dulu sama almarhum Mama, aku


dan beliau sering senam berdua. Mamaku dulu ketua senam aerobik di komplek


sini,”  Thella meneguk setengah botol air


mineral yang sudah ia siapkan sedari tadi.


“Tak apa, aku juga senang kalau kamu bisa senam setiap hari


seperti ini, badan kamu akan semakin sehat. Kamu juga akan semakin seksi,  Thella.” Ledek Naufal  sambil tersenyum tipis.


“Jadi tujuanmu itu poin satu atau dua? “


“Dua-duanya, dong. “


“Aku curiga, jangan-jangan aku kurang seksi, jadi kamu


menginginkan aku untuk selalu senam,”


“Serius, Sayang. Aku tidak hanya bermaksut untuk itu saja,


kok.”


“Kalau memang iya, kenapa tidak mengakuinya saja, Tuan


Singa?”


“Memangnya apa yang harus aku akui?”


 “Yang  harus kamu akui adalah kegenitanmu,”

__ADS_1


“Sejak kapan aku jadi genit? Aku hanya ingin istriku lebih


sehat, kok. Lalu di mana letak kesalahanku?”


“kalau nggak mau ngaku, malam ini tidur di luar,” Thella


pura-pura mengancam.


“Iya deh, udah ngancam aja. Aku memang ingin kamu lebih....”


“Nah, gitu kan enak,  tinggal ngaku aja apa susahnya, sih?”


“Iya, deh. Perempuan memang selalu benar dan lelaki memang


harus selalu mengalah.”


“Hukum wajib. Agak siangan kita jalan-jalan yuk, ke supermarket.


Aku pengen beli beberapa barang, lagipula selama ini kita kan belum pernah


melakukannya berdua,”  Thella berharap


kali ini Naufal mau mengabulkan permintaannya.


“Baiklah, kita pergi ke super market,” Naufal langsung


menyetujui permintaan Thella. Kapan lagi bisa belanja berdua di waktu yang


santai seperti sekarang.


“Terima kasih, Suamiku yang paling tampan. Kalau begini


ketampananmu naik sepuluh kali lipat,” Thella merayu Naufal Lelaki itu hanya tersenyum


sekilas, ia tahu Thella hanya menggodanya.


“Aku tahu, kamu hanya sedang menggodaku. Bilang mau minta


apalagi, mumpung kita masih liburan,  kapan lagi bisa bersantai,”


“Itukan kamu, bukan aku. Kamu terlalu serius,  Naufalku sayang,”


“Jangan salahkan aku, tapi salahkan jiwaku yang terlalu


“Apa bedanya? Udah yuk masuk, mandi, sarapan, lalu kita


berangkat ke Supermarket,”


“Nggak pake baju dulu?”


“Mulai mesumnya, sejak kapan suamiku jadi mesum, ya?”


“Sepertinya sejak menikah denganmu,”


“Mana ada? Awal mwnikah denganku, kamu masih jadi Naufal


yang dingin,”


“Mungkin, sejak aku....”


“Aku nggak mau denger, minggir, aku mau mandi,” Thella


segera meninggalkan Naufal  yang


tersenyum geli karena berhasil menggoda  Thella.  Sejurus kemudian Naufal


segera menyusul  Thella masuk ke dalam


rumah.


Di Super Market...


Thella seperti anak-anak saat mereka tiba di supermarket. Ia


menyeret suaminya ke Toko Buku. Ia ingin membeli beberapa  novel untuk bahan bacaanya di rumah.


“Mau beli buku apaan, sih?


“Kamu tahu nggak sih, ada rekomendasi buku bagus untuk di


baca, judulnya  ‘Perfect Husband’ dan ‘My

__ADS_1


Workaholc Husband’ dan yang  MWH itu


sangat cocok tentag kamu, karena menceritakan seorang pria yang telalu banyak


menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengabaikan orang disekelilingnya.


“Sepertinya aku tidak sampai seperti  itu kan?” Naufal menolak jika dirinya di


samakan persis dengan novel  yang sedang


Thella bicarakan.


“Untungnya kamu tidak sama persis hanya saja sangat mirip,”


Mereka berdua memasuki area Toko Buku itu. Thella tidak


menyiakan kesempatan untuk segera memilih beberapa buku. Termasuk buku masakan


yang menurutnya perlu di pelajari.


“Thella, apa aku ini tipe suami yang membosankan?” Tanya


Naufal tiba-tiba di tengah-tengah kegiatan belanja mereka.


“Kenapa kamu mendadak menanyakan  itu Naufal? Aku tidak pernah merasa kalau


kamu adalah sosok pria yang membosankan, meskipun kamu kaku dan dingin tapi


kamu cukup menyenangkan menjadi seorang pria,”


“Baguslah, kalau aku bukan pria yang membosankan, berarti


aku tidak perlu membeli buku ini,” Naufal menunjukkan sebuah buku bersampul warna


kuning  pada Thella.


“Memangnya itu buku apa? ” Thella penasaran dengan buku apa


yang  tengah Naufal tunjukkan.


“Buku 1001 Cara Menjadi Pria yang Menyenangkan,”


Spontan Thella tertawa mendengar judul buku yang di


tunjukkan oleh Naufal.


“Kamu sih udah belajar otodidak, tidak perlu beli buku


segala. Bagiku, kamu lebih dari sekedar menyenangkan,”  Thella tulus memuji Naufal. Dia memang sosok


suami yang sudah pas di hati Thella.


“Tulus nggak nih, mujinya?”   Naufal kembali ikutan memilih buku.


“Tulus  dong. Karena aku


nggak bawa atm, bayarin semuanya , ya?”  Thella pasang muka memelas.


“Tuh, bener kan nggak tulus, tapi baiklah, karena aku baik


hati, semua bukunya aku yang bayar,” Jawaban Naufal membuat Thella  semakin semangat,  mumpung sedang ada yang bayarin, Thella


mencari lebih  banyak buku lagi. Mendengar


jawaban Naufal wanita itu hanya tersenyum jahil.


Setelah keluar dari Toko Buku, mereka ke kedai es krim dan


memesan dua cup besar. Kebetulan rasa favorit mereka sama. Seperti di drama


romantis, Naufal  mengoleskan es krim ke


pipi dan hidung Thella. Tidak mau kalah,  Thella pun melakukan hal yang sama dengan naufal.


“Thella, aku seneng peri ke tempat ini,”


“Kenapa?”


“Karena aku bisa tahu, bagaimana rasanya bahagia, kamu


satu-satunya orang yang mengajariku banyak hal,”

__ADS_1


“Ssssssttt, Cukup Fall.  Semuanya memang sudah menjadi kewajibanku,”


__ADS_2