
Naufal bangun dari tidurnya, ia mendapati Thella tidak ada di sampingnya. Naufal teringat drama semalam, beruntung hujan
tadi menyelamatkannya tidur dalam kesendirian dan kedinginan. Pria itu turun
dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Bibi yang sedang menyapu kaget
melihat Naufal yang tiba-tiba muncul
dari balik pintu.
“Pagi, Den. Pasti mencari
non Thella, ya?” Bibi menebak muka bingung Naufal yang menengok kanan kiri
seperti sedang mencari sesuatu.
“Iya, Bi. Kemana dia? Dia tidak pergi kemanapun kan,Bi?”
Bibi tersenyum karena sikap Naufal yang overprotektif.
“Non Thella ada di halaman depan, senam pagi. Tadi Non Thella berpesan, kalau mas merasa bosan boleh
menemuinya di depan sana,”
“Baiklah, terima kasih, Bi...” Naufal bergegas menuju
halaman depan. Ia melihat istrinya tengah serius melakukan senam. Bajunya yang
sedikit ketat dan keringat yang bercucuran membuat Thella tampak seksi lebih dari biasanya. Naufal terpesona melihat
Thella yang seperti itu.
“Fall, kamu sudah bangun? Gimana, nyenyak tidurmu? Maaf
semalam aku ketiduran, sampai aku tidak mendengar lagi, kamu bicara apa.” Thella menyusul Naufal yang sedang duduk di sebuah kursi, dia sendiri memilih
duduk di kursi panjang sambil menyelonjorkan kakinya.
“Baru bangun, Aku. Kan
tidurnya di dalam pelukan istriku tersayang. Aku malah seneng akhirnya kamu
bisa tidur setelah ada aku di sampingmu. Maaf , ya. Kalau di sana, kamu terlalu sibuk sampai tidak bisa olah raga. Sepulang dari
sini, kita cari asisten, ya. Biar kamu nanti bisa sedikit santai dan berolah
raga,” Naufal teringat kebiasaan Thella di rumahnya, selalu sibuk mengurus ini
dan itu. Ia merasa belum bisa membuat Thella bahagia.
“Tidak masalah, Fall. Aku juga hanya iseng senam pagi, udah biasa sih dulu sama almarhum Mama, aku
dan beliau sering senam berdua. Mamaku dulu ketua senam aerobik di komplek
sini,” Thella meneguk setengah botol air
mineral yang sudah ia siapkan sedari tadi.
“Tak apa, aku juga senang kalau kamu bisa senam setiap hari
seperti ini, badan kamu akan semakin sehat. Kamu juga akan semakin seksi, Thella.” Ledek Naufal sambil tersenyum tipis.
“Jadi tujuanmu itu poin satu atau dua? “
“Dua-duanya, dong. “
“Aku curiga, jangan-jangan aku kurang seksi, jadi kamu
menginginkan aku untuk selalu senam,”
“Serius, Sayang. Aku tidak hanya bermaksut untuk itu saja,
kok.”
“Kalau memang iya, kenapa tidak mengakuinya saja, Tuan
Singa?”
“Memangnya apa yang harus aku akui?”
“Yang harus kamu akui adalah kegenitanmu,”
__ADS_1
“Sejak kapan aku jadi genit? Aku hanya ingin istriku lebih
sehat, kok. Lalu di mana letak kesalahanku?”
“kalau nggak mau ngaku, malam ini tidur di luar,” Thella
pura-pura mengancam.
“Iya deh, udah ngancam aja. Aku memang ingin kamu lebih....”
“Nah, gitu kan enak, tinggal ngaku aja apa susahnya, sih?”
“Iya, deh. Perempuan memang selalu benar dan lelaki memang
harus selalu mengalah.”
“Hukum wajib. Agak siangan kita jalan-jalan yuk, ke supermarket.
Aku pengen beli beberapa barang, lagipula selama ini kita kan belum pernah
melakukannya berdua,” Thella berharap
kali ini Naufal mau mengabulkan permintaannya.
“Baiklah, kita pergi ke super market,” Naufal langsung
menyetujui permintaan Thella. Kapan lagi bisa belanja berdua di waktu yang
santai seperti sekarang.
“Terima kasih, Suamiku yang paling tampan. Kalau begini
ketampananmu naik sepuluh kali lipat,” Thella merayu Naufal Lelaki itu hanya tersenyum
sekilas, ia tahu Thella hanya menggodanya.
“Aku tahu, kamu hanya sedang menggodaku. Bilang mau minta
apalagi, mumpung kita masih liburan, kapan lagi bisa bersantai,”
“Itukan kamu, bukan aku. Kamu terlalu serius, Naufalku sayang,”
“Jangan salahkan aku, tapi salahkan jiwaku yang terlalu
“Apa bedanya? Udah yuk masuk, mandi, sarapan, lalu kita
berangkat ke Supermarket,”
“Nggak pake baju dulu?”
“Mulai mesumnya, sejak kapan suamiku jadi mesum, ya?”
“Sepertinya sejak menikah denganmu,”
“Mana ada? Awal mwnikah denganku, kamu masih jadi Naufal
yang dingin,”
“Mungkin, sejak aku....”
“Aku nggak mau denger, minggir, aku mau mandi,” Thella
segera meninggalkan Naufal yang
tersenyum geli karena berhasil menggoda Thella. Sejurus kemudian Naufal
segera menyusul Thella masuk ke dalam
rumah.
Di Super Market...
Thella seperti anak-anak saat mereka tiba di supermarket. Ia
menyeret suaminya ke Toko Buku. Ia ingin membeli beberapa novel untuk bahan bacaanya di rumah.
“Mau beli buku apaan, sih?
“Kamu tahu nggak sih, ada rekomendasi buku bagus untuk di
baca, judulnya ‘Perfect Husband’ dan ‘My
__ADS_1
Workaholc Husband’ dan yang MWH itu
sangat cocok tentag kamu, karena menceritakan seorang pria yang telalu banyak
menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengabaikan orang disekelilingnya.
“Sepertinya aku tidak sampai seperti itu kan?” Naufal menolak jika dirinya di
samakan persis dengan novel yang sedang
Thella bicarakan.
“Untungnya kamu tidak sama persis hanya saja sangat mirip,”
Mereka berdua memasuki area Toko Buku itu. Thella tidak
menyiakan kesempatan untuk segera memilih beberapa buku. Termasuk buku masakan
yang menurutnya perlu di pelajari.
“Thella, apa aku ini tipe suami yang membosankan?” Tanya
Naufal tiba-tiba di tengah-tengah kegiatan belanja mereka.
“Kenapa kamu mendadak menanyakan itu Naufal? Aku tidak pernah merasa kalau
kamu adalah sosok pria yang membosankan, meskipun kamu kaku dan dingin tapi
kamu cukup menyenangkan menjadi seorang pria,”
“Baguslah, kalau aku bukan pria yang membosankan, berarti
aku tidak perlu membeli buku ini,” Naufal menunjukkan sebuah buku bersampul warna
kuning pada Thella.
“Memangnya itu buku apa? ” Thella penasaran dengan buku apa
yang tengah Naufal tunjukkan.
“Buku 1001 Cara Menjadi Pria yang Menyenangkan,”
Spontan Thella tertawa mendengar judul buku yang di
tunjukkan oleh Naufal.
“Kamu sih udah belajar otodidak, tidak perlu beli buku
segala. Bagiku, kamu lebih dari sekedar menyenangkan,” Thella tulus memuji Naufal. Dia memang sosok
suami yang sudah pas di hati Thella.
“Tulus nggak nih, mujinya?” Naufal kembali ikutan memilih buku.
“Tulus dong. Karena aku
nggak bawa atm, bayarin semuanya , ya?” Thella pasang muka memelas.
“Tuh, bener kan nggak tulus, tapi baiklah, karena aku baik
hati, semua bukunya aku yang bayar,” Jawaban Naufal membuat Thella semakin semangat, mumpung sedang ada yang bayarin, Thella
mencari lebih banyak buku lagi. Mendengar
jawaban Naufal wanita itu hanya tersenyum jahil.
Setelah keluar dari Toko Buku, mereka ke kedai es krim dan
memesan dua cup besar. Kebetulan rasa favorit mereka sama. Seperti di drama
romantis, Naufal mengoleskan es krim ke
pipi dan hidung Thella. Tidak mau kalah, Thella pun melakukan hal yang sama dengan naufal.
“Thella, aku seneng peri ke tempat ini,”
“Kenapa?”
“Karena aku bisa tahu, bagaimana rasanya bahagia, kamu
satu-satunya orang yang mengajariku banyak hal,”
__ADS_1
“Ssssssttt, Cukup Fall. Semuanya memang sudah menjadi kewajibanku,”