
“Indah banget ,kan Fall?”
Akhir pekan
Naufal dan Thella benar-benar pergi ke danau. Tempat tersembunyi yang sering
Thella kunjungi seorang diri. Biasanya saat pergi ke sini, dia sedang merasa
sedih yang mendlam. Keindahan suasana danau membuat mood kembali dengan cepat.
Airnya berwarna
kehijauan, tapi tidak keruh. Suasana hijau pepohonan kecil yang ada di
pinggirnya membuat mata betah memandangnya. Beberapa burung bangau berjalan dan
mencari makan di pinggirnya. Angsa –angsa berenang dengan riang.
“Ya, ini sangat
indah. Darimana kamu tahu tempat seindah ini dan tersembunyi?”
Naufal
penasaran, bagaimana Thella bisa menemukan tempat seindah Danau itu, sedangkan
tempatnya tersembunyi.
“Aku sering
ikut mama lari pagi, biasanya saat istirahat mereka pada ngomongin sesuatu,
nah, suatu hari ada yang bahas tentang tempat ini, lalu aku iseng pergi ke sini
sendirian beberapa kali,”
Benar, hanya
beberapa kali. Saat Thella merasa perlu pergi ke sana, Thella biasanya melempar
banyak batu kerikil ke daamnya, juga berteriak melepas seluruh kepenatan yang
mendera hatinya.
“Kamu tidak
takut ada seseorang yang menculikmu, kalau kamu pergi ke sini sendirian?”
“Tentu saja
tidak, kamu lihat, di sana ada pos pengamanan. Beberapa meter dari sini juga
ada kantor polisi darurat. Memang biasanya aku juga takut, sih. Kalau pergi ke
tempat asing seorang diri. Tapi, saat pergi ke sini, aku merasa tempat ini
sudah sering aku kunjungi, jadi perasaan takutku melebur perlahan,” Thella mengenang
saat itu, ia dengan berani pergi ke Danau seorang diri.
“Cewek unik. Pantas
saja penampilanmu tomboy begitu, mainnya ke sini-sini,”
“Aku nyaman
begitu, sebelum menikah dengan kamu. Tapi karena kamu sukany aku begini, jadi
sekarang aku nyaman juga dengan penampilanku yang baru. Awalnya sempet risih
juga, sih,”
“Aku justru
terpana tahu, saat pertama kali kamu berpakaian seperti ini. Setelah hari
itu,aku segera pergi ke toko yang sama tempat kamu beli baju saat itu dan
memborong semuanya untuk menyambut kedatanganmu saat kamu tiba di rumahku. Aku sengaja
menyiapkan semua yang mungkin kamu butuhkan, sampai aku searching semua
kebutuhan fashion cewek,”
Naufal
bersemangat menceritakan tentang awalnya tervipta lemari khusus Thella saat
wanita itu baru saja datang ke rumahnya.
__ADS_1
“ Kamu
berlebihan, Fall. Itu kan jadi banyak yang tidak terpakai. Buat apa coba? Tas dan
sepatu tidak perlu banyak-banyak. Toh, aku kalau udah suka satu ya satu aja,
seperti suka sama kamu,” Thella tertawa kecil , baru saja ia menggombali Naufal.
“Biar,lebih
baik lebih daripada kurang kan? Ayo kita kesana, sepertinya ada pelukis, gimana
kalau kamu di lukis sama dia, buat kenng-kenangan,”
“Boleh juga,
gimana kalau kita di lukis berdua, bikin pose yang romantis, gitu.”
“Malu. Kamu aja
yang di lukis. Aku nggak bisa pose, kaku.”
“Makanya,
jangan kebanyakan duduk di depan laptop
aja, biar kalau di ajak pose nggak malu-maluin, “ Thella menggoda Naufal.
“Dulu, siapa
yang mau aku ajak pose? Punya pacar juga paling tahan satu bulan,”
“Gimana mau
tahan, di ajak jalan, nggak pernah, apalagi belanja, makan malam romantis,
kasih hadiah, pasti juga nggak pernah, makanya pacarnya pada kabur. Aku juga
pasti kabur kalau punya pacar begitu modelnya,” Thella mengomentari curhaan kisah cinta Naufal
yang terjalin selalu pendek.
“Kamu benar. Aku
tidak ada waktu untuk melakukan hal-hal itu bersama mantan-mantanku dulu. Itu karena aku pikir, semua wanita sepertu
Clara, yang menyukai pria beruang daripada yang selalu ada di sampingnya,”
sebelumnya, kamu nggak seperti ini maksudnya, sebelum putus dari Clara?”
“Tentu saja,
aku dulu juga seperti pria normal pada umumnya, aku kerja alakadarnya dengan
penghasilan seadanya. Saat aku berniat serius dan melamar Clara, dia malah
bertunangan dengan seorang konglomerat dan meninggalkan aku begitu saja,”
“Lalu setelah
itu, kamu memutuskan untuk bekerja keras dan mengumpulkan uang
sebanyak-banyaknya sampai lupa diri, begitu?”
“Itu juga
sepertinya benar. Awalnya aku bekerja biasa, lalu semakin banyak bekerja, makin
banyak lagi dan semakin banyak, sampai aku benar-benar kecanduan kerja. Kalau sehari saja tidak
bekerja rasanya aneh. Sama seperti sekarang pas ngurangin kerja, rasanya juga aneh, tapi aku akan terus berusaha
sampai terbiasa,” Naufal menggandeng
Thella jalan santai menghampiri tukang lukis yang sedang menggambar sesuatu di
pinggir Danau yang mereka kunjungi.
“Kan
kalau berat udah aku bilang, jangan di lakukan, aku nggak keberatan kalau kamu
tetap menjadi workaholik. Aku nggak ngerasa rugi dan udah terbiasa,”
“Pasti
awal-awal kamu juga sulit kan menerima keadaanku yang workaholik? Sampai akhirnya
kamu terbiasa?”
__ADS_1
“Aku
dulu, saat masih belum terlalu dekat dengan kamu, setelah beresan rumah, aku
bingung mau ngapain. Meskipun kamu selalu mengizinkan aku pergi kemanapun, tapi
aku merasa hampa. Rasanya nggak nyaman. Memang sih, kamu kasih aku segalanya,
tapi... kebahagiaan itu tidak bisa di gantikan dengan uang atau barang. Kamu ngerti
kan sekarang?”
Thella
menghentikan langkahnya, Naufal pun ikut berhenti. Mereka berdua berhadapan
dan saling memandang satu sama lain.
“Iya
aku mengerti. Mempunyai banyak uang juga tidak menjamin kebahagiaan. Aku saja
punya banyak uang tapi tidak pernah menggunakannya. Karena setiap hari hanya
aku gunakan untuk bekerja, setelah bersamamu aku juga menyadari, tidak semua
wanita hanya menginginkan uang, tapi juga kasih sayang,” Naufal menarik Thella ke dalam pelukannya, ia
mendekap wanita itu beberapa menit.
“Tentu
saja, Fall. Aku lebih butuh kasih sayang darimu daripada uangmu. Meskipun,
uangmu juga aku perlukan,” Thella
membalas pelukan Naufal erat. Alam pun bersaksi betapa besarnya cinta yang
terjalin di antara mereka.
Mereka
begitu dekat, bahkan tanpa jarak. Detak jantung mereka seakan saling
bersahutan. Mereka saling tidak ingin terpisah satu sama lain. Tidak ada lagi
perdebatan yang terjadi. Hanya ada rindu dan ikatan kasih sayang.
“Thella,
aku ingin kamu jadi yang terakhir di dalam hidupku. Kita jalani semuanya,
dengan segala rintangan yang ada, sampai akhir, kamu mau kan?”
“Tentu saja, Fall. Kita jalani semuanya sampai
akhir. Semoga setelah beberapa kejadian kemarin, kita tidak lagi di pertemukan
dengan orang-orang yang berniat tidak baik, ya. Eh, kita malah berhenti terlalu
lama di sini, ayo kita hampiri bapak pelukis itu,”
Mereka
berdua bergegas menemui bapak pelukis yang ada di pinggir danau itu dan meminta
untuk di lukis berdua.
“Kalian
masih pacaran atau...”
“Kami
pengantin baru, pak,” Sahut Naufal cepat.
“Pantas
saja kalian sangat romantis sekali. Semoga hubungan kalian selalu langgeng ya,
Nak...”
“Amin,
Pak. Terima kasih atas do’anya. Sebaliknya, semoga rezeki bapak selalu di
lancarkan,”
“Amin...”
__ADS_1
Setelah
sesi pelukisan selesai, mereka berdua naik perahu dan menyusuri danau.