My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 54


__ADS_3

“Indah banget ,kan Fall?”


Akhir pekan


Naufal dan Thella benar-benar pergi ke danau. Tempat tersembunyi yang sering


Thella kunjungi seorang diri. Biasanya saat pergi ke sini, dia sedang merasa


sedih yang mendlam. Keindahan suasana danau membuat mood kembali dengan cepat.


Airnya berwarna


kehijauan, tapi tidak keruh. Suasana hijau pepohonan kecil yang ada di


pinggirnya membuat mata betah memandangnya. Beberapa burung bangau berjalan dan


mencari makan di pinggirnya. Angsa –angsa berenang dengan riang.


“Ya, ini sangat


indah. Darimana kamu tahu tempat seindah ini dan tersembunyi?”


Naufal


penasaran, bagaimana Thella bisa menemukan tempat seindah Danau itu, sedangkan


tempatnya tersembunyi.


“Aku sering


ikut mama lari pagi, biasanya saat istirahat mereka pada ngomongin sesuatu,


nah, suatu hari ada yang bahas tentang tempat ini, lalu aku iseng pergi ke sini


sendirian beberapa kali,”


Benar, hanya


beberapa kali. Saat Thella merasa perlu pergi ke sana, Thella biasanya melempar


banyak batu kerikil ke daamnya, juga berteriak melepas seluruh kepenatan yang


mendera hatinya.


“Kamu tidak


takut ada seseorang yang menculikmu, kalau kamu pergi ke sini sendirian?”


“Tentu saja


tidak, kamu lihat, di sana ada pos pengamanan. Beberapa meter dari sini juga


ada kantor polisi darurat. Memang biasanya aku juga takut, sih. Kalau pergi ke


tempat asing seorang diri. Tapi, saat pergi ke sini, aku merasa tempat ini


sudah sering aku kunjungi, jadi perasaan takutku melebur perlahan,” Thella mengenang


saat itu, ia dengan berani pergi ke Danau seorang diri.


“Cewek unik. Pantas


saja penampilanmu tomboy begitu, mainnya ke sini-sini,”


“Aku nyaman


begitu, sebelum menikah dengan kamu. Tapi karena kamu sukany aku begini, jadi


sekarang aku nyaman juga dengan penampilanku yang baru. Awalnya sempet risih


juga, sih,”


“Aku justru


terpana tahu, saat pertama kali kamu berpakaian seperti ini. Setelah hari


itu,aku segera pergi ke toko yang sama tempat kamu beli baju saat itu dan


memborong semuanya untuk menyambut kedatanganmu saat kamu tiba di rumahku. Aku sengaja


menyiapkan semua yang mungkin kamu butuhkan, sampai aku searching semua


kebutuhan fashion cewek,”


Naufal


bersemangat menceritakan tentang awalnya tervipta lemari khusus Thella saat


wanita itu baru saja datang ke rumahnya.

__ADS_1


“ Kamu


berlebihan, Fall. Itu kan jadi banyak yang tidak terpakai. Buat apa coba? Tas dan


sepatu tidak perlu banyak-banyak. Toh, aku kalau udah suka satu ya satu aja,


seperti suka sama kamu,” Thella tertawa kecil , baru saja ia menggombali  Naufal.


“Biar,lebih


baik lebih daripada kurang kan? Ayo kita kesana, sepertinya ada pelukis, gimana


kalau kamu di lukis sama dia, buat kenng-kenangan,”


“Boleh juga,


gimana kalau kita di lukis berdua, bikin pose yang romantis, gitu.”


“Malu. Kamu aja


yang di lukis. Aku nggak bisa pose, kaku.”


“Makanya,


jangan kebanyakan  duduk di depan laptop


aja, biar kalau di ajak pose nggak malu-maluin, “ Thella menggoda Naufal.


“Dulu, siapa


yang mau aku ajak pose? Punya pacar juga paling tahan satu bulan,”


“Gimana mau


tahan, di ajak jalan, nggak pernah, apalagi belanja, makan malam romantis,


kasih hadiah, pasti juga nggak pernah, makanya pacarnya pada kabur. Aku juga


pasti kabur kalau punya pacar begitu modelnya,”  Thella mengomentari curhaan kisah cinta Naufal


yang terjalin selalu pendek.


“Kamu benar. Aku


tidak ada waktu untuk melakukan hal-hal itu bersama mantan-mantanku dulu.  Itu karena aku pikir, semua wanita sepertu


Clara, yang menyukai pria beruang daripada yang selalu ada di sampingnya,”


sebelumnya, kamu nggak seperti ini maksudnya, sebelum putus dari Clara?”


“Tentu saja,


aku dulu juga seperti pria normal pada umumnya, aku kerja alakadarnya dengan


penghasilan seadanya. Saat aku berniat serius dan melamar Clara, dia malah


bertunangan dengan seorang konglomerat dan meninggalkan aku begitu saja,”


“Lalu setelah


itu, kamu memutuskan untuk bekerja keras dan mengumpulkan uang


sebanyak-banyaknya sampai lupa diri, begitu?”


“Itu juga


sepertinya benar. Awalnya aku bekerja biasa, lalu semakin banyak bekerja, makin


banyak lagi dan semakin banyak, sampai aku benar-benar  kecanduan kerja. Kalau sehari saja tidak


bekerja rasanya aneh. Sama seperti sekarang pas ngurangin kerja,  rasanya juga aneh, tapi aku akan terus berusaha


sampai terbiasa,”  Naufal menggandeng


Thella jalan santai menghampiri tukang lukis yang sedang menggambar sesuatu di


pinggir Danau yang mereka kunjungi.


“Kan


kalau berat udah aku bilang, jangan di lakukan, aku nggak keberatan kalau kamu


tetap menjadi workaholik. Aku nggak ngerasa rugi dan udah terbiasa,”


“Pasti


awal-awal kamu juga sulit kan menerima keadaanku yang workaholik? Sampai akhirnya


kamu terbiasa?”

__ADS_1


“Aku


dulu, saat masih belum terlalu dekat dengan kamu, setelah beresan rumah, aku


bingung mau ngapain. Meskipun kamu selalu mengizinkan aku pergi kemanapun, tapi


aku merasa hampa. Rasanya nggak nyaman. Memang sih, kamu kasih aku segalanya,


tapi... kebahagiaan itu tidak bisa di gantikan dengan uang atau barang. Kamu ngerti


kan sekarang?”


Thella


menghentikan langkahnya,  Naufal  pun ikut berhenti. Mereka berdua berhadapan


dan saling memandang satu sama lain.


“Iya


aku mengerti. Mempunyai banyak uang juga tidak menjamin kebahagiaan. Aku saja


punya banyak uang tapi tidak pernah menggunakannya. Karena setiap hari hanya


aku gunakan untuk bekerja, setelah bersamamu aku juga menyadari, tidak semua


wanita hanya menginginkan uang, tapi juga kasih sayang,”  Naufal menarik Thella ke dalam pelukannya, ia


mendekap wanita itu beberapa menit.


“Tentu


saja, Fall. Aku lebih butuh kasih sayang darimu daripada uangmu. Meskipun,


uangmu juga aku perlukan,”  Thella


membalas pelukan Naufal erat. Alam pun bersaksi betapa besarnya cinta yang


terjalin di antara mereka.


Mereka


begitu dekat, bahkan tanpa jarak. Detak jantung mereka seakan saling


bersahutan. Mereka saling tidak ingin terpisah satu sama lain. Tidak ada lagi


perdebatan yang terjadi. Hanya ada rindu dan ikatan kasih sayang.


“Thella,


aku ingin kamu jadi yang terakhir di dalam hidupku. Kita jalani semuanya,


dengan segala rintangan yang ada, sampai akhir, kamu mau kan?”


 “Tentu saja, Fall. Kita jalani semuanya sampai


akhir. Semoga setelah beberapa kejadian kemarin, kita tidak lagi di pertemukan


dengan orang-orang yang berniat tidak baik, ya. Eh, kita malah berhenti terlalu


lama di sini, ayo kita hampiri bapak pelukis itu,”


Mereka


berdua bergegas menemui bapak pelukis yang ada di pinggir danau itu dan meminta


untuk di lukis berdua.


“Kalian


masih pacaran atau...”


“Kami


pengantin baru, pak,” Sahut Naufal cepat.


“Pantas


saja kalian sangat romantis sekali. Semoga hubungan kalian selalu langgeng ya,


Nak...”


“Amin,


Pak. Terima kasih atas do’anya. Sebaliknya, semoga rezeki bapak selalu di


lancarkan,”


“Amin...”

__ADS_1


Setelah


sesi pelukisan selesai, mereka berdua naik perahu dan menyusuri danau.


__ADS_2