My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 75


__ADS_3

Thella terbangun dari tidurnya,


ia melihat jam dinding di kamarnya, sudah pukul tiga pagi, di sampingnya Fall


tengah pulas sambil memeluknya, ia yakin, suaminya itu pasti bekerja sampai


larut malam. Ia menggeser letak tubuhnya pelan, lalu mengecup pipi Fall


sekilas. Ia sangat bangga dengan suaminya itu.


Pelan-pelan Thella membebaskan


diri dari rengkuhan Naufal dan meninggalkannya perlahan.  Ia menyempatkan mengikat rambutnya terlebih


dahulu. Lalu di lanjutkan dengan menyiapkan keperluan Fall. Kemudian, ia mulai


membereskan rumahnya, lalu secepat mungkin masak sesuatu untuk sarapan mereka.


Setelah semuanya kelar, ia segera membangunkan suaminya untuk revisi  berkasnya.


“Fall,  bangun... udah pagi,  katanya kamu mau revisi hasil kerjaan kamu,


nanti kesiangan, loh.”  Thella


membangunkan suaminya perlahan, sepertinya dia memang mengantuk sekali,


sehingga agak sulit membangunkannya.


“Hmm... jam berapa, sayang?”


sahutnya dengan suara tidak jelas dan sedikit serak, matanya juga belum terbuka


sepenuhnya, tapi telah duduk perlahan.


“Udah jam empat pagi, ayo bangun,


aku udah siapin susu hangat untukmu,”  Thella  menarik selimut yang


menutupi tubuh Fall perlahan dan melipatnya, lelaki itu perlahan menuruni


ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


“Terima kasih, istriku...”


ucapnya pelan dan tampak sedikit lesu. Ia baru bisa tidur setelah dini hari,


satu jam sebelum Thella bangun. Kepalanya sedikit berat, tapi mungkin akan


baik-baik saja nanti. Ini bukan pertama kalinya Fall harus begadang karena


mengerjakan kerjaan kantor. Sebelum menikah dengan Thella, hampir setiap hari


di begadang dan sendirian, biasanya di temani musik yang di putarnya dari


ponsel.


Sekarang, meskipun ia lembur,


tidak perlu lagi ada musik, cukup ada Thella di sampingnya, itu sudah lebih


dari cukup.  Meskipun saling diam, Thella


sudah sangat membuat perasaan Naufal jauh lebih hangat dan tenang.  Mungkin karena wanita itu adalah orang yang


dia sayangi, jadi di dekatnya saja sudah membuatnya bahagia.


Thella selesai membereskan


kamarnya, ia lalu menuju ke dapur, membawa susu hangat yang telah ia buat ke


ruang keluarga, tempat Fall menyelesaikan pekerjaannya.  Thella sangat paham bagaimana keadaan


suaminya itu, ia pasti sedang dalam kondisi lelah dan lesu, apalagi ia baru


saja sakit.


Naufal keluar dari kamarnya,


masih menggunakan singlet dan celana panjang yang biasa untuknya tidur.  Wajahnya masih terlihat sedikit lesu,

__ADS_1


rambutnya juga ack-acakan. Melihat itu, Thella mengambil sisir di kamarnya dan


mulai menyisir rambut Fall, membuat lelaki itu tersenyum manis karena terkesan.


“Perhatian banget, tahu aja kalau


aku belum nyisir rambut. Masih ngantuk banget , sayang. Rasanya aku pengen


tidur lagi, tapi hari udah siang aja,” keluh Naufal, dia merasakan  rasa kantuknya begitu mengganggu dan berusaha


menariknya untuk kembali tidur.


“Semangat suamiku, kamu pasti


bisa. Aku yakin, semuanya akan kamu lalui dengan mudah, aku tahu kamu sangat


mencintai pekerjaanmu, iya kan?” Thella berusaha memberikan semangat untuk


suaminya. Ia ingin lelaki itu kembali bangkit dari rasa kantuk yang


menghantuinya.


“Ahaha, kamu benar, sayang. Aku


harus semangat lagi, pekerjaan ii membutuhkan aku, bangga sekali mempunyai


istri sepengertian kamu, ingin rasanya aku peluk,”  Mendadak Naufal bangkit dari duduknya dan


memeluk Thella erat, wanita itu hanya membalas pelukan Fall dan tersenyum lebar


karena bahagia.


“Sama-sama, sayang. Terima kasih,


semalam kamu sudah memindahkan aku dari sofa ke kamar. Aku sampai tidak sadar,


kapan aku mulai tertidur, seingatku, aku masih melihat drama korea favoritku


setelah selesai berbalas pesan dengan Vanya. Aku pasti menjadikan bahumu


sebagai  bantal kan?” Thella menebak aa


lelaki itu yang ia gunakan sebagai bantal.


“Bagus, kamu mengingatkanku untuk


menghukummu karena kamu telah mengabaikan aku. Aku kan sudah menyuruhmu untuk


tidur di kamar, tapi kamu malah ngotot untuk tetap menemaniku, akhirnya kamu


tertidur di sampingku dan membuat aku menggendongmu sampai kamar,” Tanpa


aba-aba Fall langsung memberikan hukuman romantisnya pada wanita kesayangannya


itu, bukanny menghindar, Thella justru membalas perlakuan Fall dengan sangat


romantis. Di sela-sela waktu yang seharusnya di gunakan Fall untuk merevisi


pekerjaannya, justru mereka gunakan untuk melakukan morning kiss berulang.


Setelah cukup lama mereka


melakukan itu, Thella teringat akan jadwal padat hari ini dansegera mendorong


Naufal menjauh darinya perlahan, ia tidak ingin mereka menghabiskan lebih


banyak waktu lagi untuk memadu kasih di pag buta itu.


“Fall, kamu tidak lupa kan,


jadwal kita padat hari ini?”  Thella


mengingatkan tentang  jadwal hari itu


pada suaminya, ia tidak ingin semuanya kacau karena mereka terhanyut suasana.


“Maaf, maaf, aku lupa kalau hari


ini kita punya jadwal yang padat. Kalau sudah bersamamu, bawaannya begitu, “

__ADS_1


Fall tertawa, menertawakan kecerobohannya sendiri.


“Makanya, kurang-kurangin


mesumnya...”


“Nggak bisa, malah mau di tambah


lagi levelnya,”


“Di kira permainan, ada levelnya


segala?” Thella tertawa geli dengan perumpamaan Fall.


“Iya, kamu belum sadar, ini


permainan romantis yang sering kita mainkan berdua, Sayang.”


“Sudahlah, makin halu nanti, sana


kerja..”


“Bentar, aku punya ide, bagaimana


kalau momen kepergian kita ke Jogja kita jadikan acara bulan madu kedua


kita?”  Fall mencetuskan idenya dengan


mata berbinar, ia berharap Thella menyetujui usulannya itu.


“Bulan madu kedua ya? Sepertinya


itu bagus juga. Aku setuju untuk itu, jadi waktu liburannya di tambah lagi,


ya..” Thella memanfaatkan momen baik hati Fall ini untuk meminta perpajangan


jatah waktu liburan.


“Gimana ya?aku pikir-pikir dulu, deh.” Fall pura-pura


mengabaikan Thella dengan mulai mengecek kekurangan apa yang ia buat semalam.


“Bolehlah, katanya sayang, masa Cuma nambah


waktu liburan saja tidak boleh,’ Protes Thella, Fall tersenyum mendengarkannya.


“Kelarkan dulu pekerjaan, baru kita pikirkan


apakah kita perpanjang liburan atau tidak,” Tentu saja, lagi-lagi Thella harus


bersaing sehat dengan pekerjaan yang Fall punya.  Tapi dia sama sekali tidak keberatan, karena


Thella yakin, suaminya pasti bisa memilih, yang mana yang lebih penting, Thella


atau pekerjaannya.


“Baiklah, aku mengerti, Fall. Aku hanya ingin


lebih banyak waktu berdua kita nanti di sana. Kalau hanya beberapa hari rasanya


jadi hanya seperti mimpi saja, iya kan?” Thella masih memberikan suaminya


penawaran, siapa tahu itu menjadi bahan pertimbangan Naufal.


“Aku tahu, kamu pandai merayu, tapi untuk saat


ini aku belum bisa memberikan keputusan. Nanti kalau harinya tiba, aku pasti


akan memberikan keputusan yang terbaik. Tapi kamu paham kan, aku selalu


mementingkan yang terpenting?” Fall pelan-pelan memberikan pengertian agar  Thella mengerti bahwa ia tidak bisa


menjanjikan apapun karena takut mengecewakan.


“Iya, fall. Aku mengerti dan sangat paham, kok.


Aku juga menyadari siapa dirimu, aku harus mendukungmu, apapun yang terjadi.


Sudah, bekerjalah, aku mau mandi,” Thella melangkah meninggalkan Fall yang

__ADS_1


kembali tenggelam dalam dunianya.


__ADS_2