
Thella terbangun dari tidurnya,
ia melihat jam dinding di kamarnya, sudah pukul tiga pagi, di sampingnya Fall
tengah pulas sambil memeluknya, ia yakin, suaminya itu pasti bekerja sampai
larut malam. Ia menggeser letak tubuhnya pelan, lalu mengecup pipi Fall
sekilas. Ia sangat bangga dengan suaminya itu.
Pelan-pelan Thella membebaskan
diri dari rengkuhan Naufal dan meninggalkannya perlahan. Ia menyempatkan mengikat rambutnya terlebih
dahulu. Lalu di lanjutkan dengan menyiapkan keperluan Fall. Kemudian, ia mulai
membereskan rumahnya, lalu secepat mungkin masak sesuatu untuk sarapan mereka.
Setelah semuanya kelar, ia segera membangunkan suaminya untuk revisi berkasnya.
“Fall, bangun... udah pagi, katanya kamu mau revisi hasil kerjaan kamu,
nanti kesiangan, loh.” Thella
membangunkan suaminya perlahan, sepertinya dia memang mengantuk sekali,
sehingga agak sulit membangunkannya.
“Hmm... jam berapa, sayang?”
sahutnya dengan suara tidak jelas dan sedikit serak, matanya juga belum terbuka
sepenuhnya, tapi telah duduk perlahan.
“Udah jam empat pagi, ayo bangun,
aku udah siapin susu hangat untukmu,” Thella menarik selimut yang
menutupi tubuh Fall perlahan dan melipatnya, lelaki itu perlahan menuruni
ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
“Terima kasih, istriku...”
ucapnya pelan dan tampak sedikit lesu. Ia baru bisa tidur setelah dini hari,
satu jam sebelum Thella bangun. Kepalanya sedikit berat, tapi mungkin akan
baik-baik saja nanti. Ini bukan pertama kalinya Fall harus begadang karena
mengerjakan kerjaan kantor. Sebelum menikah dengan Thella, hampir setiap hari
di begadang dan sendirian, biasanya di temani musik yang di putarnya dari
ponsel.
Sekarang, meskipun ia lembur,
tidak perlu lagi ada musik, cukup ada Thella di sampingnya, itu sudah lebih
dari cukup. Meskipun saling diam, Thella
sudah sangat membuat perasaan Naufal jauh lebih hangat dan tenang. Mungkin karena wanita itu adalah orang yang
dia sayangi, jadi di dekatnya saja sudah membuatnya bahagia.
Thella selesai membereskan
kamarnya, ia lalu menuju ke dapur, membawa susu hangat yang telah ia buat ke
ruang keluarga, tempat Fall menyelesaikan pekerjaannya. Thella sangat paham bagaimana keadaan
suaminya itu, ia pasti sedang dalam kondisi lelah dan lesu, apalagi ia baru
saja sakit.
Naufal keluar dari kamarnya,
masih menggunakan singlet dan celana panjang yang biasa untuknya tidur. Wajahnya masih terlihat sedikit lesu,
__ADS_1
rambutnya juga ack-acakan. Melihat itu, Thella mengambil sisir di kamarnya dan
mulai menyisir rambut Fall, membuat lelaki itu tersenyum manis karena terkesan.
“Perhatian banget, tahu aja kalau
aku belum nyisir rambut. Masih ngantuk banget , sayang. Rasanya aku pengen
tidur lagi, tapi hari udah siang aja,” keluh Naufal, dia merasakan rasa kantuknya begitu mengganggu dan berusaha
menariknya untuk kembali tidur.
“Semangat suamiku, kamu pasti
bisa. Aku yakin, semuanya akan kamu lalui dengan mudah, aku tahu kamu sangat
mencintai pekerjaanmu, iya kan?” Thella berusaha memberikan semangat untuk
suaminya. Ia ingin lelaki itu kembali bangkit dari rasa kantuk yang
menghantuinya.
“Ahaha, kamu benar, sayang. Aku
harus semangat lagi, pekerjaan ii membutuhkan aku, bangga sekali mempunyai
istri sepengertian kamu, ingin rasanya aku peluk,” Mendadak Naufal bangkit dari duduknya dan
memeluk Thella erat, wanita itu hanya membalas pelukan Fall dan tersenyum lebar
karena bahagia.
“Sama-sama, sayang. Terima kasih,
semalam kamu sudah memindahkan aku dari sofa ke kamar. Aku sampai tidak sadar,
kapan aku mulai tertidur, seingatku, aku masih melihat drama korea favoritku
setelah selesai berbalas pesan dengan Vanya. Aku pasti menjadikan bahumu
sebagai bantal kan?” Thella menebak aa
lelaki itu yang ia gunakan sebagai bantal.
“Bagus, kamu mengingatkanku untuk
menghukummu karena kamu telah mengabaikan aku. Aku kan sudah menyuruhmu untuk
tidur di kamar, tapi kamu malah ngotot untuk tetap menemaniku, akhirnya kamu
tertidur di sampingku dan membuat aku menggendongmu sampai kamar,” Tanpa
aba-aba Fall langsung memberikan hukuman romantisnya pada wanita kesayangannya
itu, bukanny menghindar, Thella justru membalas perlakuan Fall dengan sangat
romantis. Di sela-sela waktu yang seharusnya di gunakan Fall untuk merevisi
pekerjaannya, justru mereka gunakan untuk melakukan morning kiss berulang.
Setelah cukup lama mereka
melakukan itu, Thella teringat akan jadwal padat hari ini dansegera mendorong
Naufal menjauh darinya perlahan, ia tidak ingin mereka menghabiskan lebih
banyak waktu lagi untuk memadu kasih di pag buta itu.
“Fall, kamu tidak lupa kan,
jadwal kita padat hari ini?” Thella
mengingatkan tentang jadwal hari itu
pada suaminya, ia tidak ingin semuanya kacau karena mereka terhanyut suasana.
“Maaf, maaf, aku lupa kalau hari
ini kita punya jadwal yang padat. Kalau sudah bersamamu, bawaannya begitu, “
__ADS_1
Fall tertawa, menertawakan kecerobohannya sendiri.
“Makanya, kurang-kurangin
mesumnya...”
“Nggak bisa, malah mau di tambah
lagi levelnya,”
“Di kira permainan, ada levelnya
segala?” Thella tertawa geli dengan perumpamaan Fall.
“Iya, kamu belum sadar, ini
permainan romantis yang sering kita mainkan berdua, Sayang.”
“Sudahlah, makin halu nanti, sana
kerja..”
“Bentar, aku punya ide, bagaimana
kalau momen kepergian kita ke Jogja kita jadikan acara bulan madu kedua
kita?” Fall mencetuskan idenya dengan
mata berbinar, ia berharap Thella menyetujui usulannya itu.
“Bulan madu kedua ya? Sepertinya
itu bagus juga. Aku setuju untuk itu, jadi waktu liburannya di tambah lagi,
ya..” Thella memanfaatkan momen baik hati Fall ini untuk meminta perpajangan
jatah waktu liburan.
“Gimana ya?aku pikir-pikir dulu, deh.” Fall pura-pura
mengabaikan Thella dengan mulai mengecek kekurangan apa yang ia buat semalam.
“Bolehlah, katanya sayang, masa Cuma nambah
waktu liburan saja tidak boleh,’ Protes Thella, Fall tersenyum mendengarkannya.
“Kelarkan dulu pekerjaan, baru kita pikirkan
apakah kita perpanjang liburan atau tidak,” Tentu saja, lagi-lagi Thella harus
bersaing sehat dengan pekerjaan yang Fall punya. Tapi dia sama sekali tidak keberatan, karena
Thella yakin, suaminya pasti bisa memilih, yang mana yang lebih penting, Thella
atau pekerjaannya.
“Baiklah, aku mengerti, Fall. Aku hanya ingin
lebih banyak waktu berdua kita nanti di sana. Kalau hanya beberapa hari rasanya
jadi hanya seperti mimpi saja, iya kan?” Thella masih memberikan suaminya
penawaran, siapa tahu itu menjadi bahan pertimbangan Naufal.
“Aku tahu, kamu pandai merayu, tapi untuk saat
ini aku belum bisa memberikan keputusan. Nanti kalau harinya tiba, aku pasti
akan memberikan keputusan yang terbaik. Tapi kamu paham kan, aku selalu
mementingkan yang terpenting?” Fall pelan-pelan memberikan pengertian agar Thella mengerti bahwa ia tidak bisa
menjanjikan apapun karena takut mengecewakan.
“Iya, fall. Aku mengerti dan sangat paham, kok.
Aku juga menyadari siapa dirimu, aku harus mendukungmu, apapun yang terjadi.
Sudah, bekerjalah, aku mau mandi,” Thella melangkah meninggalkan Fall yang
__ADS_1
kembali tenggelam dalam dunianya.