
Malam harinya Thella dan Naufal benar-benar tidur terpisah. Naufal tidur di ruang tamu dan Thella tidur di kamarnya. Wanita itu masih enggan berbicara pada Naufal karena dia masih kesal akibat kejadian yang mereka alami siang tadi.
Tidak berapa lama petir menggelegar, hujan pun turun membuat Thella yang sedang berada di dalam kamar memikirkan Naufal yang tidur seorang diri di sofa ruang tamu.
" Naufal kedinginan enggak, ya di luar sana? Mana dia nggak pakai jaket, nggak ada selimut, pasti dia kedinginan. Kenapa aku jadi nggak tega, ya? Kira-kira dia bisa tidur nggak atau aku coba lihat dia deh, rasanya aku juga sudah tidur berpisah ranjang seperti ini. Salah dia sih, kenapa coba dia harus bertemu dengan mantan nya itu." Thella bermonolog, ia sangat khawatir kalau Naufal di luar sana kedinginan. Dia juga gelisah, karena tidak terbiasa tidur sendirian tanpa Naufal.
Perlahan Thella keluar dari kamarnya sambil membawa 1 buah selimut untuk dia pakai kan pada Naufal. Cuaca di luar kamar terasa lebih dingin dibandingkan di dalam kamarnya.
Thella melihat Naufal tengah terlelap di sofa sambil menyilangkan tangannya di dada untuk menahan dingin. Thella iba melihat suaminya yang biasa tidur di kasur empuk harus tidur di sofa karena hukumannya.
Thella pelan-pelan mengangkat kepala Naufal dan menyelipkan bantal di bawahnya. Ia memandang suaminya itu dengan penuh kelembutan. Saat tidur, suaminya tampak jauh lebih tampan dari biasanya.
Wanita itu lalu menyelimuti kan selimut yang dibawanya untuk melindungi Naufal dari terpaan udara dingin yang berhembus lumayan kencang.Thella juga merasakan dinginnya udara malam itu, meskipun dia memakai piyama panjang.
Thella memandangi Naufal, rasa sayangnya pada lelaki itu lebih besar daripada rasa bencinya karena telah bertemu dengan Clara. Thella diam-diam bermaksud untuk mencium Naufal.
Mendadak, Naufal membuka mata, saat jarak di antara mereka sangat dekat. Hanya beberapa senti saja, dan nyaris bersentuhan. Thella mematung dan menatap dua bola mata yang juga menatapnya. Lalu, Thella beringsut menjauh.Dengan satu gerakan, Naufal menarik Thella ke dalam pelukannya membuat bibir mereka beradu.
Mereka berdua lupa kalau saat itu sedang bertengkar, bahkan terlibat dalam ciuman hangat. Thella merebahkan diri di dada Naufal, membuat setiap degup jantung lelaki itu terdengar dengan jelas di telinganya.
"Thella, maafkan aku, karena telah melakukan kesalahan besar tadi siang. Aku tidak apa-apa kamu hukum tidur seorang diri selama yang kamu mau, asalkan kamu mau memaafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Mendadak Thella teringat kembali pada kejadian yang terjadi tadi siang antara dirinya, naufal dan wanita itu. Thella bangun dari posisinya sekarang dan duduk, masih di kursi yang sama dengan Naufal.
"Benar, kamu tidak akan mengulanginya lagi?"
"Benar, aku janji tidak akan seperti itu lagi, aku akan jujur padamu kalau seandainya ada hal yang sama seperti ini. Jangan marah lagi, Thella. Aku sangat sayang padamu."
Naufal bangkit dan memeluk Thella dari belakang. Rasa rindu pada istri tercintanya itu sudah menggunung, padahal baru beberapa jam mereka tidak akur.
__ADS_1
"Aku tidak percaya padamu, Fall."
"Lalu aku harus apa, agar kamu percaya kalau aku serius?"
"Gendong aku sampai ke kamar,"
"Maksudnya?"
"Kamu menungguku berubah pikiran?"
"Tentu saja tidak, aku akan melakukannya sekarang juga."
Naufal melakukan apa yang diinginkan oleh Thella detik itu juga, tidak lupa Thella menenteng selimut dan bantal yang ia bawa tadi. Fall sangat senang, akhirnya ia bisa berbaikan lagi dengan istrinya.
"Gimana rasanya aku cuekin?" Thella membuka pembicaraan saat mereka berdua telah tidur di kasur. Mereka berdua tidur tanpa jarak. Berdampingan. Bahkan Thella merebahkan kepalanya di dada suaminya.
"Itu tergantung kamu, kalau kamu berani macam-macam, lain kali bukan cuma pisah ranjang, tapi pisah rumah. Aku tidak akan memaafkanmu dalam waktu yang lama. Lebih parah lagi, kita mungkin bisa jadi harus berpisah," Thella serius. Ia tidak mau kalau Fall mempermainkan perasaaannya yang benar-benar dalam pada lelaki itu.
"Nggak. Aku nggak akan seperti itu lagi, sayang. Jangan mengancamku Thella, aku jadi takut. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dari kamu.Aku sayang sama kamu, kamu tega mengabaikan perasaanku?" Naufal mengecup kepala Thella berulang-ulang, tanpa tahu Thella sebenarnya sambil senyum-senyum, karena dia sedang mengetes sedalam apa perasaan Naufal kepadanya.
Sejujurnya Thella juga tidak akan bisa kehilangan Naufal begitu saja. Meskipun Fall melakukan kesalahan, ia tidak mungkin mempunyai niat berpisah darinya, kecuali kesalahannya sangat fatal dan tidak termaafkan.
"Makanya, jangan nakal lagi. Untung hujan, jadi aku nggak tega biarin kamu tidur sendirian di luar, kalau nggak hujan, sampai besok pagi kamu ada di sana,"Omel Thella. Padahal dia nggak bisa tidur pisah dari Naufal. Sok jual mahal.
"Iya, nggak akan lagi seperti itu. Aku akan berusaha untuk lebih terbuka sama kamu, apapun. Supaya nggak kejadian lagi, yang seperti ini," Sepertinya Naufal trauma untuk melakukan kesalahan lagi.
"Memang harus begitu. Hubungan kita tidak akan berhasil tanpa kepercayaan dan keterbukaan.Aku harap ke depan kita bisa jadiin ini sebagai pelajaran ya, Fall."
"Iya, kita harus bisa menjaga hubungan kita. Kamu nggak ngantuk? Jangan-jangan dari tadi kamu tidak bisa tidur ya, karena mikirin aku?"Ledek Naufal, yang sebenarnya adalah Fakta.
__ADS_1
"Mana ada, aku nggak kepikiran kamu, kok. Aku nggak bisa tidur aja karena aku kedinginan," Jawaban Thella justru menjadi ambigu bagi Naufal.
"Iya, kedinginan karena tidak ada aku yang memelukmu seperti ini, iya kan?" Naufal memeluk Thella erat. Memang benar, ia tidak bisa tidur karena memikirkan Naufal yang ada di ruang tamu.
"Bisa jadi,"
"Bilang aja kalau iya,"
"Mungkin, iya."
"Iya aja kenapa?"
"Iya deh iya, aku ngaku,"
"Gitu, dong,"
"Fall, gimana kalau sementara waktu kita tinggal di rumah ini? Aku pengen menenangkan diri. Lagipula kalau di sini, aku bisa sedikit tenang karena ada Bibi,"
"Baiklah, yang penting kamu bahagia, aku setuju mau tinggal di mana aja,"
"Di bulan?"
"Emang bisa?"
"Bisa, dalam mimpi saja,"
"Thella, terima kasih, karena telah hadir dalam kehidupanku. Sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Saat itu, kalau misalnya kamu tidak pernah hadir di samping aku, mungkin aku akan tetap menjadi Fall yang dingin dan cuek."
"..." Thella tidak menjawab, saat di lihat, wanita itu sudah terlelap seperti putri tidur.
__ADS_1