My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 64


__ADS_3

“Aku gugup sekali,  apa papamu akan menerima aku, ya? Bagaimana,


apakah bajuku sudah cukup rapi?” Naufal tampak sangat sibuk merapikan


pakaiannya di depan cermin. Thella yang tengah duduk di pinggir ranjang


memperhatikannya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ia tidak menyangka


suaminya akan sepanik itu hanya untuk bertemu dengan ayahnya.


“Fall, kamu kan mau bertemu


mertua, bukan mau melamar kerja, tidak usah panik begitu. Papaku bukan orang


yang galak, kok. Dia juga sangat pmenyayangiku, karena kamu sudah menjadi teman


hidup putri kesayangannya, tentu saja dia akan menyayangimu juga,” Thella coba


menenangkan perasaan Naufal yang sedang panik. Bagaimanapun ia juga pernah


merasakan kegugupan yang sama dengan yang di rasakan oleh Fall saat ini.


“Coba kamu peluk aku dulu,


Sayang. Serius, aku tidak pernah segugup ini.” Fall memang benar-benar dalam


keadaan gugup. Ia bahkan tidak menguasai dirinya sendiri. Ia sangat panik dan


memikirkan bagaimana reasi mertuanya saat melihatnya.


Thella bangkit dari duduknya dan


segera menghampiri Naufal, lalu memeluk pria itu. Ia tidak menyangka pria


dingin dan cuek seperti Naufal bisa merasa gugup saat akan bertemu dengan


ayahnya. Tingkah Fall membuat ia merasakan sisi imut suaminya itu.


“Percaya padaku, papa tidak akan


menolakmu,” Thella mengelus lembut rambut Naufal. Dia sendiri juga yakin kalau


papanya pasti akan menerima Naufal dengan baik.


“Baiklah, kalau menurut kamu


begitu, aku jadi sedikit tenang,  aku


juga ingin bisa dekat dengan papamu sama seperti kamu dekat dengan papaku, apa


papamu suka permainan sesuatu?” Fall sangat berniat untuk mendekati papa


mertuanya.


“Papa suka main catur, dia


biasanya suka main catur sampai larut kalau ada waktu senggang denganku, apa


kamubisa permainan itu?”


Thella masih teringat jelas dengan


kenangan yang pernah ia ukir dengan kedua orang tuanya, saat itu ia dan papanya


main catur dan mamanya yang menjadi jurinya, sekaligus yang membantunya melawan


sang papa. Setiap kalah papanya selalu bilang ‘Kalian curang, beraninya main


keroyokan, dua lawan satu, sungguh tidak adil,’


Hal itu tidak bisa ia lupakan,


terutama mamanya, beliau adalah wanita terbaik yang pernah hadir di dalam hidupnya.


Dari mamanya ia mempelajari banyak hal, terutama bagaimana caranya mencintai


seorang pria dengan baik. Mamanya juga banyak mengajarkan Thella memasak,


menurut mamanya, pria itu harus di manjakan perutnya dengan makanan lezat hasil

__ADS_1


kreasi tangan istri, agar rasa sayangnya semakin bertambah.


“Kebetulan sekali aku juga suka


main catur, kalau begitu aku akan membawa atur ke rumah papa. Tadi semua


oleh-oleh sudah di masukkan ke mobil kan, sayang?” Naufal  mengingatkan barang bawaan yang akan di berikan


kepada mertuanya sebagai oleh-oleh.


“Tentu saja sudah, sayang. Aku sudah


memasukkannya ke jok belakang. Kalau begitu, ayo kita berangkat, aku takut kita


telat sampai di rumah papa,” Thella melepaskan pelukannya, uia yakin, suaminya


saat ini sudah jauh merasa nyaman di bandingkan tadi.


“Baiklah, ayo kita berangkat. Tunggu,


aku ambil catur dulu,” Naufal mengambil catur yang di letakkannya di dalam


laci. Malam ini ia harus bisa menjalin keakraban dengan mertuanya.


Setelah semuanya siap da mereka


sudah berada di dalam mobil, Fall segera menghidupkan mesin mobilnya dan


berangkat menuju rumah papa. Sepanjang perjalanan, Naufal masih merasakan


kecemasan meskipun tidak separah tadi.


“Nanti, kamu biasa aja  sama papa, beliau orangnya tidak harus


terlalu formal, kalau mudah akrab malah semakin suka. Kamu juga bisa cerita apa


saja, dia orangnya tidak kaku seperti kamu,” Thella tersenyum setelah mengatai


suaminya.


“Apa maksudmu denganaku kaku? Memangnya


rupanya Naufal tidak terima dirinya di bilang kaku dan berusaha membela diri.


“Iya, maaf. Aku hanya bercanda


sayang, tidak perlu serius seperti itu. Aku sudah melihat banya;k perubahan


dalam diri kamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau para papa datang


saat kita masih dalam perkenalan saat itu, pasti hasilnya kacau sekali,” Thella


membayangkan jika papa mereka datang saat keduanya  masih saling cuek dan saling tidak perduli.


“Pasti akan banyak sekali drama


yang terjadi, Thella. Kalau kejadian ini terjadi saat itu, aku tidak tahu lagi


harus berbuat apa,” ternyata Naufal juga punya perasaan dan dugaan yang sama


dengan apa yang ada di dlam pikiran Thella.


“Apalagi kalau sampai ada yang


tahu, bagaimana kamu selalu teriak-teriak di setiap saat ketika kamu butuh ini


dan itu, pasti mereka akan memisahkan kita secara paksa.” Thella tidak kala


heboh, membayangkan bagaimana reaksi orang tua mereka saat mereka tahu, isi


rumah tangga mereka seperti apa saat itu. Apalagi papanya yang sangat


memanjakannya.


“Aku merasa menjadi orang


terkejam saat itu, Thella. Aku yang seharusnya perduli dan sayang padamu justru


memerintahmu seperti babu, sampai sekarang aku masih menyesal mengingatnya. Aku

__ADS_1


sudah salah sangka terhadapmu, maaf untuk itu Thella,”  kalau mengingat hal itu, tentulah Naufal


sangat menyesal, karena tidak seharusnya memperlakukan Thella seburuk itu.


“Nggak masalah, lagipula aku


menikmati proses menuju romantis, kalau langsung romantis tidak akan


menyenangkan  bukan?”


Entah karena apa, Thella tidak


merasa di rugikan karena kejadian itu. Sebaliknya, ia merasa itu adalah proses


menuju kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini. Ia bahkan merasa patut berterima


kasih pada suaminya atas pengalaman berharga yang ia berikan.


“Wah, ada juga ya proses menuju


romantis, tidak hanya sukses dalam pekerjan, ternyata dalam hubungan


romantispun butuh proses,”


“Emang nyatanya kita begitu, kan?


Itu menurutku adalah pengalaman yang seru dan tidak terlupakan seumur hidupku,”


Thella benar-benar senang, pernah berada di dalam masa itu, karena meskipun


Naufal menyuruhnya seperti babu, tapi dia juga memberikan fasilitas yang memadai


saat itu. Thella juga sangat senang karena Naufal memberinya banyak kebebasan


hingga  ia tidak merasa terkekang sama


sekali.


“Aku juga merasakan keseruannya,


saat mengerjaimu aku merasa ada kepuasan tersendiri. Hal yang paling sulit


adalah, terus mengabaikanmu di saat tertentu, makanya aku tetap menunjukkan


sisi lembutku diam-diam saat dalam keadaan darurat.” Tentu saja Naufal harus


mengakui itu. Ia bukan robot, bagaimanapun, ia masih mempunyai sisi baik.


“Dasar suami aneh, seneng banget


kalau lihat istrinya sengsara, untung saja aku orangnya sabar dan baik hati,


kalau tidak, sudah aku tinggal pergi,”


“Mana mungkin kamu akan


meninggalkan suamimu yang tampan ini, yang ada justru jatuh cinta seperti


sekarang,”


“iya juga sih, aku tidak bisa


menghindar dari pesonamu,”


“Pada dasarnya aku memang sangat


mempesona, sayang...”


“Iya deh, iya. Sebentar lagi


sampai, sudah tidak gugup lagi kan?”


“Anggap saja, aku sudah siap


bertemu dengan papa mertua,”


Wah, kira-kira bagaimana ya,


reaksi papa Thella? Tunggu di episode selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2