
“Aku gugup sekali, apa papamu akan menerima aku, ya? Bagaimana,
apakah bajuku sudah cukup rapi?” Naufal tampak sangat sibuk merapikan
pakaiannya di depan cermin. Thella yang tengah duduk di pinggir ranjang
memperhatikannya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ia tidak menyangka
suaminya akan sepanik itu hanya untuk bertemu dengan ayahnya.
“Fall, kamu kan mau bertemu
mertua, bukan mau melamar kerja, tidak usah panik begitu. Papaku bukan orang
yang galak, kok. Dia juga sangat pmenyayangiku, karena kamu sudah menjadi teman
hidup putri kesayangannya, tentu saja dia akan menyayangimu juga,” Thella coba
menenangkan perasaan Naufal yang sedang panik. Bagaimanapun ia juga pernah
merasakan kegugupan yang sama dengan yang di rasakan oleh Fall saat ini.
“Coba kamu peluk aku dulu,
Sayang. Serius, aku tidak pernah segugup ini.” Fall memang benar-benar dalam
keadaan gugup. Ia bahkan tidak menguasai dirinya sendiri. Ia sangat panik dan
memikirkan bagaimana reasi mertuanya saat melihatnya.
Thella bangkit dari duduknya dan
segera menghampiri Naufal, lalu memeluk pria itu. Ia tidak menyangka pria
dingin dan cuek seperti Naufal bisa merasa gugup saat akan bertemu dengan
ayahnya. Tingkah Fall membuat ia merasakan sisi imut suaminya itu.
“Percaya padaku, papa tidak akan
menolakmu,” Thella mengelus lembut rambut Naufal. Dia sendiri juga yakin kalau
papanya pasti akan menerima Naufal dengan baik.
“Baiklah, kalau menurut kamu
begitu, aku jadi sedikit tenang, aku
juga ingin bisa dekat dengan papamu sama seperti kamu dekat dengan papaku, apa
papamu suka permainan sesuatu?” Fall sangat berniat untuk mendekati papa
mertuanya.
“Papa suka main catur, dia
biasanya suka main catur sampai larut kalau ada waktu senggang denganku, apa
kamubisa permainan itu?”
Thella masih teringat jelas dengan
kenangan yang pernah ia ukir dengan kedua orang tuanya, saat itu ia dan papanya
main catur dan mamanya yang menjadi jurinya, sekaligus yang membantunya melawan
sang papa. Setiap kalah papanya selalu bilang ‘Kalian curang, beraninya main
keroyokan, dua lawan satu, sungguh tidak adil,’
Hal itu tidak bisa ia lupakan,
terutama mamanya, beliau adalah wanita terbaik yang pernah hadir di dalam hidupnya.
Dari mamanya ia mempelajari banyak hal, terutama bagaimana caranya mencintai
seorang pria dengan baik. Mamanya juga banyak mengajarkan Thella memasak,
menurut mamanya, pria itu harus di manjakan perutnya dengan makanan lezat hasil
__ADS_1
kreasi tangan istri, agar rasa sayangnya semakin bertambah.
“Kebetulan sekali aku juga suka
main catur, kalau begitu aku akan membawa atur ke rumah papa. Tadi semua
oleh-oleh sudah di masukkan ke mobil kan, sayang?” Naufal mengingatkan barang bawaan yang akan di berikan
kepada mertuanya sebagai oleh-oleh.
“Tentu saja sudah, sayang. Aku sudah
memasukkannya ke jok belakang. Kalau begitu, ayo kita berangkat, aku takut kita
telat sampai di rumah papa,” Thella melepaskan pelukannya, uia yakin, suaminya
saat ini sudah jauh merasa nyaman di bandingkan tadi.
“Baiklah, ayo kita berangkat. Tunggu,
aku ambil catur dulu,” Naufal mengambil catur yang di letakkannya di dalam
laci. Malam ini ia harus bisa menjalin keakraban dengan mertuanya.
Setelah semuanya siap da mereka
sudah berada di dalam mobil, Fall segera menghidupkan mesin mobilnya dan
berangkat menuju rumah papa. Sepanjang perjalanan, Naufal masih merasakan
kecemasan meskipun tidak separah tadi.
“Nanti, kamu biasa aja sama papa, beliau orangnya tidak harus
terlalu formal, kalau mudah akrab malah semakin suka. Kamu juga bisa cerita apa
saja, dia orangnya tidak kaku seperti kamu,” Thella tersenyum setelah mengatai
suaminya.
“Apa maksudmu denganaku kaku? Memangnya
rupanya Naufal tidak terima dirinya di bilang kaku dan berusaha membela diri.
“Iya, maaf. Aku hanya bercanda
sayang, tidak perlu serius seperti itu. Aku sudah melihat banya;k perubahan
dalam diri kamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau para papa datang
saat kita masih dalam perkenalan saat itu, pasti hasilnya kacau sekali,” Thella
membayangkan jika papa mereka datang saat keduanya masih saling cuek dan saling tidak perduli.
“Pasti akan banyak sekali drama
yang terjadi, Thella. Kalau kejadian ini terjadi saat itu, aku tidak tahu lagi
harus berbuat apa,” ternyata Naufal juga punya perasaan dan dugaan yang sama
dengan apa yang ada di dlam pikiran Thella.
“Apalagi kalau sampai ada yang
tahu, bagaimana kamu selalu teriak-teriak di setiap saat ketika kamu butuh ini
dan itu, pasti mereka akan memisahkan kita secara paksa.” Thella tidak kala
heboh, membayangkan bagaimana reaksi orang tua mereka saat mereka tahu, isi
rumah tangga mereka seperti apa saat itu. Apalagi papanya yang sangat
memanjakannya.
“Aku merasa menjadi orang
terkejam saat itu, Thella. Aku yang seharusnya perduli dan sayang padamu justru
memerintahmu seperti babu, sampai sekarang aku masih menyesal mengingatnya. Aku
__ADS_1
sudah salah sangka terhadapmu, maaf untuk itu Thella,” kalau mengingat hal itu, tentulah Naufal
sangat menyesal, karena tidak seharusnya memperlakukan Thella seburuk itu.
“Nggak masalah, lagipula aku
menikmati proses menuju romantis, kalau langsung romantis tidak akan
menyenangkan bukan?”
Entah karena apa, Thella tidak
merasa di rugikan karena kejadian itu. Sebaliknya, ia merasa itu adalah proses
menuju kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini. Ia bahkan merasa patut berterima
kasih pada suaminya atas pengalaman berharga yang ia berikan.
“Wah, ada juga ya proses menuju
romantis, tidak hanya sukses dalam pekerjan, ternyata dalam hubungan
romantispun butuh proses,”
“Emang nyatanya kita begitu, kan?
Itu menurutku adalah pengalaman yang seru dan tidak terlupakan seumur hidupku,”
Thella benar-benar senang, pernah berada di dalam masa itu, karena meskipun
Naufal menyuruhnya seperti babu, tapi dia juga memberikan fasilitas yang memadai
saat itu. Thella juga sangat senang karena Naufal memberinya banyak kebebasan
hingga ia tidak merasa terkekang sama
sekali.
“Aku juga merasakan keseruannya,
saat mengerjaimu aku merasa ada kepuasan tersendiri. Hal yang paling sulit
adalah, terus mengabaikanmu di saat tertentu, makanya aku tetap menunjukkan
sisi lembutku diam-diam saat dalam keadaan darurat.” Tentu saja Naufal harus
mengakui itu. Ia bukan robot, bagaimanapun, ia masih mempunyai sisi baik.
“Dasar suami aneh, seneng banget
kalau lihat istrinya sengsara, untung saja aku orangnya sabar dan baik hati,
kalau tidak, sudah aku tinggal pergi,”
“Mana mungkin kamu akan
meninggalkan suamimu yang tampan ini, yang ada justru jatuh cinta seperti
sekarang,”
“iya juga sih, aku tidak bisa
menghindar dari pesonamu,”
“Pada dasarnya aku memang sangat
mempesona, sayang...”
“Iya deh, iya. Sebentar lagi
sampai, sudah tidak gugup lagi kan?”
“Anggap saja, aku sudah siap
bertemu dengan papa mertua,”
Wah, kira-kira bagaimana ya,
reaksi papa Thella? Tunggu di episode selanjutnya ya...
__ADS_1