My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 69


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Thella dan Fall sudah kembali ke rumah mereka . Pagi itu Thella mendapati Naufal demam, suhu badannya tinggi. Pertama kalinya lelaki itu sakit selama menikah dengan Thella.


Thella mengompres kening fall dengan handuk kecil yang sebelumnya di celupkan ke air panas. Pria itu bisa mengoceh tapi matanya tetap tertutup. Perkataannya pun tidak jelas.


"Aku buatkan bubur dulu,"


Thella berniat beranjak dari tempat tidur untuk memasak bubur. Thella sangat iba melihat keadaan Naufal yang pucat dan tidak bertenaga.


"Jangan pergi..."


"Kamu harus makan, jadi aku mau masakin kamu bubur,"


"Jangan tinggalin aku..."Naufal menarik tangan Thella supaya tidak pergi meninggalkannya.


"Kalau aku nggak ninggalin aku masak, gimana caranya aku masak tanpa ninggalin kamu?" Thella bingung, bagaimana caranya bisa memasak tanpa meninggalkan Naufal.


Pria itu memegangi tangan Thella erat. Dia benar-benar tidak mau di tinggalkan. Ia memegang kening Fall, panasnya sangat tinggi.


"Aku ikut... aku ikut ke dapur," Rengek fall, baru kali ini dia manja.Thella merasa keimutan Fall tampak saat ia manja seperti ini.


"Fall, badanmu panas tinggi, di sini aja... jarak dapur ke sini kan deket," Rayu Thella, supaya Naufal tidak ngotot memintanya mengajak ke dapur.


"Nggak, aku ikut atau nggak usah masak," Ancam Fall tidak mau mengalah.


"Oke, ayo ikut. Bandel banget..."


Terpaksa Thella memapah Fall keluar kamar menuju dapur. Pria itu tidak bisa berjalan dengan benar.Sempoyongan kesana kemari. Thella sedikit kesulitan memapah lelaki manja itu.


Thella menarik kursi makan dan mendudukkan Fall di sana. Pria itu sebenarnya juga tidak sanggup duduk. Ia menyandarkan kepalanya di meja. Kepalanya sangat pusing dan berat. Badannya terasa dingin dan tidak karuan.

__ADS_1


"Kamu di sini dulu, sebentar kok," Thella segera memasak bubur untuk Naufal. Sesekali ia menengok ke arah Fall yang masih tergolek lemas di tempatnya duduk tadi.


Ia juga memasak sup ayam untuk bayi besarnya yang tiba-tiba manja dan suka merengek itu. Sepertinya hari ini Fall tidak bisa pergi ke kantor, Thella pun sama. Ia tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sakit itu di rumah seorang diri.


Thella tersenyum karena merasa sikap Naufal yang tidak biasa itu lucu. Mungkin karena sakit, dia menjadi sangat manja. Bukannya Thella menyukai keadaan Fall yang sakit, tapi menurutnya kemanjaan pria itu sangat imut.


Beberapa saat, semuanya selesai. Thella kembali membawa pria itu ke kamar. Ia telah menyiapkan makanan yang akan di makan oleh Naufal dan juga segelas teh hangat.


"Kamu harus makan yang banyak, biar cepet baikan. Hari ini kita tidak usah ke kantor dulu. Keadaan kamu seperti ini. Aku juga tidak akan pergi." Thella menyuapkan makanan ke mulut pria itu. Ia tidak membantah dan mengikuti kemauan wanita itu.


"Peluk..." Rengeknya lagi setelah acara makannya selesai. Thella hanya bisa menuruti keinginan Fall. Ia memeluk pria bersuhu tinggi itu.


"Tidurlah, siapa tahu kamu baikan. Kalau nggak baikan juga kita ke dokter, ya..." Thella mengecup kening Naufal sekilas. Ia menempelkan wajah pria itu ke dadanya untuk berbagi suhu.


"..."Fall tidak menyahut , dia hanya mengangguk dan balas memeluk erat istrinya. Ia tidak bisa melawan keinginannya untuk bermanja. Ini pertama kali dalam hidupnya, ada orang yang memanjakannya di saat ia tidak enak badan.


Meskipun terkadang pria yang ada di dalam dekapannya itu membuatnya kesal, suka mengancam seenaknya, tapi di saat ia sakit seperti ini, semua keburukan Fall justru ia rindukan. Kalau tidak begitu seperti bukan dia.


"Thella... tetaplah di sampingku, apapun yang terjadi..." Lirih Fall, dengan suara yang sangat pelan, tapi Thella dapat mendengarnya demgan baik.


"Aku tetap ada di sini sayang, kamu teman hidupku, dan rumah ini adalah tempatku pulang, aku tidak akan kemana-mana,"


Thella berpikir, mungkin Naufal hanya sedang berhalusinasi karena suhu badannya yang tinggi. Thella tidak akan mungkin bisa meninggalkan Naufal begitu saja. Dia akan berjuang dengan keras untuk mempertahankan hubungan mereka jika ada lagi yang ingin memisahkan mereka.


"Kamu janji, kan? Tidak akan meninggalkan aku?" Lirih Fall lagi. Ternyata itu bukan hanya sekedar halusinasi. Fall benar-benar ketakutan. Ia takut kehilangan orang yang sangat menyayanginya.


"Janji. Tidak akan meninggalkan Naufal apapun yang terjadi. Sekarang kamu istirahat saja, jangan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.Kamu bisa merasakan kasih sayang aku, kan?" Ungkapnya pelan sambil mengelus pelan rambut halus Fall.


"..."Sekali lagi ia hanya menanggapi pernyataan Thella hanya dengan anggukan.


Naufal sudah merasakan cinta dan kasih sayang yang begitu tulus dari istrinya. Dia adalah wanita yang mampu mengisi kekosongan hatinya. ia yang paling mampu melelehkan hatinya yang membeku dan memberikan kehangatan pada sikapnya yang selama ini dingin.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu takut kehilangan aku? Tidak akan ada lagi yang jahatin aku. Nggak ada juga yang mau merebutku darimu. Meskipun ada, aku tidak akan terpengaruh begitu saja, apalagi sampai meninggalkan kamu," Thella meyakinkan Naufal bahwa dirinya tidak akan meninggalkan lelaki itu apapun yang terjadi.


"Banyak hal yang membuat aku takut kehilangan kamu,kamu bukan hanya penting, tapi sangat penting dalam hidupku, Thella. Ketika semua orang tidak perduli padaku, kamu datang dan memberikan aku semuanya. Karena itulah, aku tidak ingin kehilangan kamu, meskipun hanya di dalam mimpi sekalipun," Oceh Naufal pelan, ia hanya takut orang yang selama ini perduli dan menyayanginya pergi meninggalkannya. Wanita itu sangat menyita perhatiannya.


"Sayangku, udah.. jangan berisik lagi, ya. Aku tidak akan pergi kemanapun. Ketakutanmu itu cuma halusinasi karena suhu badanmu yang tinggi. Sekarang istirahat yang baik, biar cepet sehat, ok?" Saran Thella. Ia tidak mau kalau suaminya itu terus mengoceh dan ketakutan akan rasa kehilangannya.


Ia paham, semuanya mungkin karena perasaan traumanya kehilangan kasih sayang dari mamanya. Semuanya memang sulit, meskipun Naufal sudah dewasa, tidak menutup kemungkinan, ia masih mengalami trauma karena kejadian itu.


"Baiklah, kali ini raja singa menurut. Lain kali, berani nyuruh aku, hukuman dua kali lipat," Ancamnya, sambil menyunggingkan senyum di bibir pucatnya.


"Udah sakit, masih bisa mengancam ya... Nakal," Thella menarik pelan hidung Naufal.


"Kalau tidak mengancam dengan hukuman yang kamu sukai, itu bukan aku. Aku suka sekali kalau kamu bersalah. Ada kesempatan untuk menghukummu," Naufal tertawa kecil.


"Dasar mesum..."


"Tapi kamu suka, kan?"


"Dih, kamu terlalu pede, Kakak."


"Apaan, aku bukan kakakmu,"


"Maunya apa? Oppa?"


"Oppa? Apa spesialnya..."


"Terus, maunya di panggil apa dong?"


"Panggil aku, Sayang."


"Baiklah, Sayang. Tidurlah. Jangan bawel lagi,"

__ADS_1


__ADS_2