My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 48


__ADS_3

Naufal melajukan kendaraannya dengan cepat.Perasaan tidak enaknya semakin menjadi. Bibi sampai panik. Iya tidak paham kenapa majikannya tiba-tiba menjadi gelisah, padahal sebelumnya baik-baik saja sebelum tragedi pecahnya gelas itu terjadi.


Perasaan Naufal sendiri kacau tidak karuan. Entah mengapa di dalam pikirannya seperti ada perasaan tidak tenang yang tidak bisa digambarkan dan ia merasa bahwa Thella sedang dalam bahaya.


Mendadak mobilnya harus berhenti di tengah jalan karena di depannya ada orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadian itu membuat perasaan Naufal semakin tidak menentu lalu dia memutuskan untuk turun dari mobilnya.


" Bi, biarkan aku naik ojol saja ke tempat renang yang sedang mereka kunjungi. Bibi boleh nunggu di sini atau pulang juga ke rumah menggunakan ojol"


"Tidak, Den. Biarkan Bibi menunggu di sini. Perasaan Bibi juga ikut tidak enak, siapa tahu nanti kalian membutuhkan bantuan. silakan Aden segera pergi, saya jadi takut terjadi sesuatu dengan Non Thella"


" Baiklah, kalau begitu saya akan segera kesana sekarang juga. Bibi baik-baik di sini jangan membuka jendela untuk orang yang tidak dikenal, karena sekarang banyak sekali orang jahat"


"Baik, Den. hati-hati. Bibi akan menunggu di sini semoga tidak terjadi apa-apa dengan Non Thella dan perasaan tidak enak hati itu hanya karena Aden merindukannya"


"Terima kasih aku jalan dulu"


Naufal menunggu sebentar sebelum akhirnya ojek online pesanannya datang lalu mereka berdua sedikit bercakap-cakap sebelum akhirnya pergi dari tempat di mana bibi berdiam diri di dalam mobil.


Wanita itu hanya melihat punggung majikannya yang telah pergi menggunakan layanan ojek online dengan pikiran yang juga tidak tenang karena ia takut terjadi sesuatu pada Thella.


Perasaannya yang tadi tenang, tiba-tiba berubah menjadi tidak enak. Entah karena apa. Dia telah lama mengasuh Thella, hampir 10 tahun. semenjak ia menjadi janda, ia mengabdi kan hidupnya di keluarga Thella.


Pertama kali ia datang kerumah Thella, saat itu usia istri Naufal itu baru menginjak usia 13 tahun. saat Thella baru saja lulus SD. Pribadi yang menyenangkan dan menganggapnya seperti saudara membuat bibi betah bekerja di rumahnya.


Sejak dulu, sebelum mamanya meninggal Thella sudah sering ditinggal kedua orang tuanya. Papanya fokus dengan bisnisnya sementara mamanya mengurus rumah makan yang sekarang dikelola oleh keluarganya.


Setiap hari di rumah besar itu hanya ada mereka berdua. Karena, saat itu Mang Diman belum bekerja di rumah Thella. Hampir setiap hari, mereka berdua melakukan kegiatan bersama-sama, seperti bersih-bersih rumah bersama dan masak bersama.


Tidak adanya jarak di antara mereka, itulah yang membuat bibi bertahan sampai hari ini bekerja di rumah Thella. Bahk, bibi sudah menganggap dia seperti anaknya sendiri.


Sementara itu di waterboom...


Naufal tiba di kolam renang tempat Vanya dan juga Thella renang. Suasana saat itu sudah sangat ramai, banyak sekali orang berkerumun. Perasaan tidak enak Naufal semakin menjadi. Ia menerobos orang-orang yang tengah berkumpul itu.


Ia mendapati Thella sudah tidak sadarkan diri dan Vanya menangis tersedu-sedu di samping wanita itu. Naufal segera menghampiri istrinya itu dan memberikan pertolongan pertama. Berkali-kali ia berusaha memberikan nafas buatan untuk Thella tapi hasilnya tidak menunjukkan perubahan yang bagus.


Naufal segera mengangkat tubuh Thella dan orang-orang yang berkerumun itu memberikan jalan untuk mereka pergi. Vanya mengikuti Naufal tanpa diminta, ia sangat takut Naufal akan memarahinya karena kejadian ini. Ia juga tidak menyangka semuanya akan terjadi.


" Ceritakan padaku apa yang terjadi kenapa Thella sampai menjadi seperti ini?" Naufal mencecar hanya dengan pertanyaan yang sudah Tela perkirakan akan ditanyakan oleh pria itu.


Saat itu, mereka bertiga sudah ada di dalam taksi. Naufal akan membawa Thella dan Vanya dengan mobilnya menuju rumah sakit.Di tatapnya berulang kali Thella yang tidak juga sadarkan diri. Naufal.semakin panik.


"Jadi waktu itu aku meninggalkan Thella untuk berganti baju, karena kolam renang masih sepi hanya ada kami berdua. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Tapi saat aku kembali Thella sudah berada di dalam kolam dengan keadaan tidak sadarkan diri"


Saat kejadian itu terjadi, Vanya memang tidak ada di tempat kejadian. Ia tengah berganti pakaian dan membiarkan Thella duduk di pinggir kolam seorang diri.

__ADS_1


" Kenapa tiba-tiba terjadi seperti itu? Apakah ada orang lain selain kalian berdua yang ada di kolam itu? Thella tidak mungkin tenggelam, keahliannya bagus dalam berenang"


Tentu saja Naufal tahu, bagaimana kualitas berenang Thella, karena saat itu, di rumahnya, Thella berenang dengan sangat lincah. Tidak mungkin ia tenggelam begitu saja tanpa sebab.


"Semua ini pasti ada hubungannya dengan seseorang yang sengaja ingin mencelakai Thella. Sebaiknya kita harus memeriksa kamera pengawas."


Vanya merasa ada yang tidak beres. Sebagai sahabat Thella, ia tentu sangat paham dengan kemampuan renang Thella yang pernah memenangkan kejuaraan renang di sekolahnya itu ada di atas rata-rata.


"Apa kalian punya musuh? Sebelumnya kejadian ini pernah terjadi?"


Vanya coba mengingat-ingat. Selama ini dia dan Thella tidak punya musuh. Mereka anak baik, di sekolahpun tidak pernah bandel. Vanya dan Thella juga sering pergi ke kolam renang itu dan tidak pernah ada kejadian yang aneh.


Vanya mrnggeleng pasti.


"Tidak ada Fall. Kami sama sekali tidak ada musuh.Kami juga dulu sering pergi ke kolam renang ini,tidak pernah terjadi hal seperti ini.Baru terjadi kali ini,"


Vanya yakin ingatannya cukup bagus. Kejadian aneh yang baru saja Thella alami adalah yang pertama kali. Ia sangat geram dan penasaran. Siapa pelaku percobaan pembunuhan ini.


"Kalau begitu, setelah sampai di rumah sakit dan Thella telah di tangani dokter, aku akan segera mengecek kamera pengawas di tempat renang itu. Aku minta tolong, jaga Thella, kamu tidak sendiri, ada Bibi juga nanti yang menemanimu."


Naufal sangat kesal. Apa yang menimpa istrinya membuatnya sangat murka. Kenapa orang-orang sepertinya sengaja mencelakai orang yang di cintainya itu. Kemarin David, hari ini, siapa lagi yang berulah. Naufal tidak akan membiarkan mereka bebas begitu saja.


"Baiklah, Fall. Serahkan semuanya padaku. Aku akan menjaga Thella dengan baik.Jangan biarkan pelakunya lolos. Aku sangat kesal dan juga penasaran, siapa pelakunya,"


Taksi itu berhenti, tepat di samping mobil Naufal. Saat melihat Naufal keluar sambil membopong Thella yang tidak sadarkan diri, Bibi sangat terkejut dan tidak percaya. Ternyata ikatan batin kedua suami istri itu sangat kuat.


Pengasuh Thella itu sangat Khawatir saat mengetahui keadaan Thella yang sangat lemah. Selama ia bekerja di rumah wanita itu, baru kali ini ia mendapati majikannya dalam keadaan kritis seperti saat ini.


"Belum bisa saya ceritakan sekarang, Bi. terpenting, sekarang, kita harus segera membawa Thella ke rumah sakit.Aku takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,"


Naufal segera memasukkan Thella ke dalam mobil yang sebelumnya Vanya telah masuk terlebih dahulu. Ia mendekap sahabatnya erat, setelah Naufal membawa mobil yang mereka tumpangi dengan cepat menuju rumah sakit.


"Thella, semoga kamu baik-baik saja. Semua ini tidak akan terjadi kalau kita tidak pergi ke tempat renang itu. Harusnya, sekarang, kamu baik-baik saja dan tersenyum manis di samping Naufal. Thella, cepat sadar. Aku takut. Kamu harus kuat, lawan penyakitmu. Jangan biarkan ia menghentikan detak.jantungmu. Bukankah kamu ingin mempunyai anak bersama Naufal? Buka matamu Thella..."


Penyakit Hipotermia yang di idap oleh Thella membuat Vanya semakin takut. Jika sampai terlambat, wanita yang ada di dalam dekapannya itu tidak akan selamat. Air mata Vanya mengalir deras, tentu saja, ia tidak ingin kehilangan sahabatnya itu dengan alasan apapun.


Vanya hanya bisa berharap, keberuntungan masih berada di pihak Thella. Ia sangat berharap, Thella membuka matanya dan tersenyum ceria seperti biasanya.


Naufal pun cemas. Ia baru teringat akan penyakit yang di derita oleh Thella. Pria itu mempercepat laju kendaraannya. Ia tidak ingin sampai terlambat.Fall takut, ia harus kehilangan Thella sekarang.


Naufal menghentikan mobilnya sejenak lalu melepas sweaternya dan memberikan pada Vanya.


"Ganti baju Thella dengan ini. Aku takut kita masih lama sampai Rumah Sakit. Aku juga minta tolong, dekap dia dalam pelukanmu sampai kita tiba di sana. Usahakan suhu tubuhnya segera stabil,"


Thella segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Naufal. Mengganti baju basah Thella dengan sweater milik Fall. Ia lalu mendekap sahabatnya lagi erat-erat.

__ADS_1


Tidak berapa lama mereka sampai ke rumah sakit. Thella segera masuk ruang ICU. Naufal gelisah dan tidak bisa tenang. Ia mondar-mandir di depan ruang perawatan Thella dengan wajah yang sangat Khawatir.


Fall hanya bisa berdo'a dan berharap di dalam hatinya. Ia ingin Thella masih di berikan kesempatan untuk berada di sisinya lebih lama lagi.Ia berharap, masih ada waktu untuknya membahagiakan wanita itu.


Naufal menyisir rambutnya kasar dengan jarinya. Beberapa hal akhir-akhir ini menerpa rumah tangganya. Banyak hal yang ia tidak mengerti. Kebahagiaan yang mereka dapatkan tidak pernah mulus. Ada saja hal yang mengganggunya.


Naufal sangat berharap, ia masih di beri kesempatan untuk membahagiakan wanita itu lebih lagi. Bukan sekedar pergi ke tempat wisata atau makan enak. Tapi apakah saat itu masih bisa di lakukan? Apakah Thella masih bisa melakukannya?


"Anda suami pasien?"


Seorang lelaki paruh baya berpakaian serba putih layaknya Dokter mengagetkan lamunan Fall.


"Betul, Dok. saya suami dari pasien,"


"Kalau begitu, selamat. Istri anda berhasil melewati masa kritisnya. Hanya saja..." Dokter itu menghentikan kalimatnya. Ia tampak tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Hanya saja, apa Dok?" Naufal tidak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Thella.


"Bayi kalian, bayi kalian tidak bisa di selamatkan. Itu disebabkan karena, usia kandungan yang masih sangat muda, juga kondisi ibunya yang kritis. Saya harap Anda dapat menerima dengan tegar, berikan pengertian pada istri Anda, agar dia tidak histeris menerima kenyataan ini,"


Keterangan Dokter membuat Naufal terduduk lesu di kursi tunggu. Ia harus kehilangan anak yang telah di inginkannya, bahkan di saat ia dan Thella belum menyadari keberadaannya. Kali ini, Naufal tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis melepas kepergian janin yang ada di perut istrinya.


Di dalam hatinya, ia hanya bisa meminta maaf pada anaknya berulang kali karena dia tidak bisa menjaga mamanya dengan baik. Ia juga berdo'a agar anaknya tenang di surga.


Sebagai seorang lelaki yang berharap menjadi seorang ayah, hari itu hati Naufal hancur. Ia tidak akan memaafkan dengan mudah, siapapun yang telah melakukan ini kepada istri dan anaknya.


Karena ia yakin, Thella belum tahu jika dirinya mengandung, sementara waktu, ia akan merahasiakan kematian calon bayi mereka sampai waktu yang tidak bisa di tentukan, yang pasti sampai kondisi Thella membaik.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Naufal mengutuk dirinya sendiri karena ia tidak mampu menjaga anak dan istrinya dengan baik. Hal itu menjadi kegagalan terbesar dalam hidupnya. Selama ini ia bisa mempertahankan dan mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi hari ini ia menjadi orang yang gagal.


Dengan tangan gemetar, Naufal meraih gagang pintu rawat Thella. Air matanya masih menggantung di pelupuk matanya. Ia memandang wanita yang tergolek lemah di ranjang kecil itu. Wajahnya yang pucat pasi, membuat hati Naufal semakin lemah.


Lelaki itu meraih tangan istrinya. Mengecupnya lembut, Air mata yang menggantung di matanya jatuh menetes di punggung tangan Thella. Wanita yang menutup mata seperti putri tidur itu telah mengambil seluruh hati Naufal, membuat pria itu lemah tak berdaya.


Naufal mengenang kembali, saat awal perjumpaan mereka, dimana ia dengan konyol mengikuti peraturan permainan yang mengharuskannya melamar Thella mendadak, bahkan tanpa cincin.


Bagaimana ia terpana untuk pertama kali melihat wajah wanita itu. Bagaimana ia dengan egois tidak membiarkan Thella pulang dan meminta gadis itu menemaninya dansa.


Bahkan ia masih ingat, saat Thella harus menuruti keinginannya, membeli dress secara mendadak karena Fall tidak suka penampilannya yang terkesan biasa dan tomboy.


Hangat pelukan Thella pertama kali saat ia telat pulang kerja pun masih ia rasakan. Hari itu adalah saat pertama kali di dalam hidupnya ia merasa ada orang yang perduli dan memperhatikannya.


Ia juga ingat saat pertama kali Thella memberikan kode perasaannya lewat selai coklat yang di bentuk hati. Saat itu ia sangat senang, hanya saja ia tidak bisa mengekspresikan pada wanita itu. Ia memilih cuek dan pura-pura tidak perduli.


Ia telah melewati banyak hari bersama dengan Thella. Baginya, wanita itu bukan hanya sekedar seorang istri, tapi dia juga teman hidup. Orang yang telah mengganti seluruh kesepian dalam hidupnya menjadi kehangatan.

__ADS_1


Naufal benar-benar tidak bisa menghentikan air matanya. Ia mengelus perut Thella pelan. Harusnya ia tahu, di dalam sana telah tumbuh janin yang mereka tunggu. Tapi sekarang anaknya telah tiada. Ia yakin, Thella juga akan histeris saat tahu semuanya.


Di dalam hatinya, Naufal hanya bisa meminta maaf karena dia tidak akan memberi tahu Thella sementara waktu. Naufal bangkit dan mengecup kening istrinya pelan.


__ADS_2