My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 58


__ADS_3

Ting...tong..


Bunyi bel di rumah Vanya berulang


kali berbunyi.  Gadis itu sedang merias


diri di depan cermin, awalnya dia mengabaikan dan berharap ada ayah atau ibunya


yang membukakan pintu untuk seseorang yang datang.


Beberapa menit, sampai bel


berbunyi berulang tidak ada juga yang membukakannya. Vanya baru ingat kalau


kedua orang tuanya pergi ke rumah kakeknya sejak pagi-pagi sekali. Ia lalu


bergegas turun dan menghampiri pintu. Ia merasa bersalah pada siapapun yang


datang.


Vanya membuka pintu dan mendapati


seseorang bersembunyi di balik buket bunga mawar merah ukura besar. Ia tahu di


balik buket bunga itu pasti Ardian. Ada-ada saja cara romantisnya untuk membuat


Vanya berbunga-bunga.


“Selamat pagi, calon Nyonya


Ardian,”


Sapaan pria itu semakin membuat


Vanya tersipu malu. Sepagi ini dia sudah mendapatkan hal manis, semanis madu.


“Selamat pagi, calon suamiku. Apaan


sih, Mas pakai datang bawa bunga sebegitu besar. Niat banget mau bikin aku


baagia?”


“Iya dong, kamu tahu, bunga mawar


merah adalah tanda cinta. Banyaknya bunga mawar yang ada di buket ini,


jumlahnya masih kalah banyak daripada cintaku padamu. Pagi ini, aku mau


melamarmu versi satu. Maukah kamu menjadi istriku, Vanya?”


Vanya menutup mulutnya yang


menganga karena terkejut. Ia tidak menyangka kalau pagi ini akan di lamar oleh


Ardian. Mata Vanya berkaca-kaca karena ungkapan perasaan dari Ardian. Ia mengangguk


perlahan.


“Tentu saja, Mas. Aku mau menikah


sama kamu, aku mau jadi istrimu,”


Ardian menyelipkan sebuah cincin


pada jari manis Vanya. Cincin itu berbeda dengan cincin yang mereka beli saat


persiapan gaun yang akan ia pakai saat acara pertunangan sekaligus lamaran


mereka.


“Cincin ini aku beli sehari


sebelum aku pulang dari Korea. Sebenarnya aku mau langsung melamarmu saat kita


bertemu. Tapi keberanianku belum cukup,”


Satu lagi, hal yang membuat Vanya


terharu. Ternyata  Ardian sudah lama


berniat serius padanya. Dia sangat dewasa. Itu membuat Vanya kagum pada


sosoknya. Ardian berhasil menjadi sosok yang berhasil meraih hatinya.


“Ayo masuk. Silahkan duduk, Mas. Aku


terharu, ternyata kamu sudah lama mau melamarku. Aku sangat beruntung memiliki


seseorang sepertimu. Sebentar, aku ambil minum. Mas mau minum apa?”


“Apa saja, kalau yang buat kamu


pasti akan aku minum. Aku sudah lama mencintai kamu, dan kamu pasti tahu itu. Aku


tidak ingin membuang kesempatan kedua. Setelah tahu dari Thella kalau kamu


masih sendiri, aku langsung berniat untuk meminangmu. Aku tidak ingin


kehilangan kesempatan ini lagi. Aku tidak ingin bersama wanita lain selain kamu,”


Ardian sangat serius menyatakan


ini. Vanya memang satu-satunya wanita yang pernah ia cintai dan merupakan cinta


pertamanya. Sejak pertama kali dekat dengan Vanya, ia merasa wanita itu berbeda


dari semua perempuan yang ia temui.


“Ini, minumannya mas, terima kasih


masih bertahan untuk mendapatkan hatiku. “


Vanya menghidangkan jus mangga


untuknya dan Ardian. Itu adalah minuman favorit mereka. Mereka memang sangat


cocok. Seperti yang sudah di ceritakan sebelumnya, Vanya dan Ardian memang


memiliki banyak kesamaan.


Jadi tidak heran kalau mereka


berdua bisa saling memperdulikan satu sama lain. Mereka salimh tahu apa yang


tidak di sukai dan apa yang di sukai satu sama lain. Menurut Author, mereka


akan menjadi pasangan yang serasi. Untuk yang kepo Visual mereka berdua, nanti


Author share di awal bulan ya. Sekarang waktunya sudah tidak keburu, karena


review gambar sedikit lama.


“Tahu aja kalau aku suka jus


mangga,”


“Dih, kita kan sering minum ini


bareng, Mas. Kamu lupa atau pura-pura lupa?”


“Aku pikir setelah lama berpisah,


kamu sudah lupa dengan hal-hal apa yang aku sukai. Ternyata kamu masih inget


dengan apa yang aku sukai. Terima kasih, Vanya.”


“Aku mana mungkin lupa, Mas. Bahkan


tiap meminum jus mangga aku selalu ingat kamu. Aku kadang kangen kebersamaan


kita. Aku pikir kamu sudah menikah atau sudah memiliki calon istri,”


“Aku maunya juga gitu, tapi tiap


mencoba aku selalu gagal, tidak ada yang bisa seperti kamu. Ada saja yang


membuat nggak cocok. Aku pacaran terlama dua bulan, itupun tidak ada perasaan


nyaman yang aku rasakan. Aku hanya merasa mereka selalu kurang ini dan itu,


tidak pernah ada kelebihan yang bisa menarik perhatianku, kecuali hanya


wajahnya.”


“Aku pikir hanya aku saja yang


merasa begitu. Ternyata mas juga. Hari ini kita mau pergi ke mana?”


“Gimana kalau kita makan di


tempat makan baru? Rekomendasi dari teman katanya makanannya enak dan juga


murah, aku bukan ambil murahnya, tapi enaknya, jangan salah paham,”


“Dih, memangnya aku masalah, mau


di ajak makan di tempat mahal ataupun murah, aku mah iya aja. Asalkan makan


bareng mas, makan apapun juga pasti enak.”


“Aduh, aku dio gombalin ini. Hatiku


bisa meleleh,”


Vanya mencubit lengan Ardian


karena merasa gemas dengan pria itu karena ia merasa gemas. Ardian hanya

__ADS_1


meringis tanpa membalas perlakuan kekasihnya itu.


”Tunggu, aku ganti baju dulu mas,”


“Oke,”


Tidak berapa lama Vanya keluar


dengan celana jeans dan baju kemeja kotak-kotalk paduan abu-abu hitam. Mereka pun


pergi ke tempat makan yang di bicarakan oleh Ardian. Sejak dulu mereka memang


suka wisata kuliner, bedanya, saat masih sekolah, mereka hanya membeli


makanan-makanan yang harganya pas di kantong. Usut punya usut, ternyata Ardian


dan Vanya sering jalan berdua di belakang Thella. Wah, mereka ternyata TTM ya,


alias Teman Tapi Mesra, Author ngiri lagi nih, hwaaaa.


“sebelah mana restonya, Mas?  Kok sepertinya mengarah ke perusahaan Fall,


ya? Waktu itu aku pernah di ajak ke kantor Naufal, nganterin makanan. Gara-gara


hari itu Thella masak makanan favorit Naufal,”


“Apa nama perusahaannya? Siapa tahu


aku pernah tahu atau kunjungan,”


“Roxy Group, Mas. Paling pernah


lah ke sana, karena termasuk perusahaan besar,”


“Wah, dia pemilik Roxy Group, ya?


Itu perusahaan besar,  perusahaanku belum


apa-apanya, aku baru berani bermimpi untuk memiliki perusahaan sebesar itu,”


“Semuanya butuh proses, kan? Bukan


tidak mungkin, suatu hari, Mas juga bisa memiliki perusahaan sebesar itu.  Dia hebat sih mas, benar-benar dari usahanya


sendiri. Tapi waktunya sampai tersita habis untuk bekerja. Sampai sekarang pun


masih. Bawa pekerjaannya ke rumah. “


“Kasihan dong Thella,


terabaikan.  Mana si Naufal itu anaknya


cemburuan abis, aku cuma ngobrol sebentar sama Thella saja, langsung berantem


deh mereka berdua,  sampai  dia kena badai salju dan hampir tidak


tertolong. Sampai emosi, aku pukul Naufal.”


“Iya, Thella juga cerita soal


itu. Kenapa kamu pukul dia? Memangnya kenapa?”


“Aku kesal karena dia selalu


cemburu buta. Harusnya dia tanya dulu apa yang terjadi di antara kami berdua,


baru marah kalau terjadi sesuatu antara aku dan Thella,”


“Maklumin aja, Mas. Kata Thella,


dia trauma di duakan, makanya dia bener-bener tidak mengizinkan istrinya buat


dekat dengan laki-laki lain.”


“Pantesan, dia sampai seperti


itu. Pasti dia pernah terluka terlalu dalam, makanya dia tidak mau semuanya


terulang kembali.”


“Bisa jadi,  maka dari itu, dia menjaga baik-baik


pasangannya.”


“Nah, ini nih, tempat makan yang


akan kita kunjungi. “


Ardian membelokkan mobilnya ke


area parkir dari Sanjaya Resto. Mereka berdua turun, Ardian dan Vanya berjalan


beriringan menuju ke dalam resto. Suasana resto itu membuat mereka sangat


nyaman. Seperti kebanyakan tempat makan kekinian, di dinding terlukis berbagai


“Hai...! vanya ...! sini,”


Ternyata secara kebetulan, Thella


juga sedang berada di resto yang sama dan melambaikan tangan mengajak Vanya dan


Ardian untuk bergabung bersama mereka.


”Mas, kita ke sana, yuk. Tuh, di


undang sama Thella,”


“Ayo, kayaknya seru juga makan


rame-rame.”


Ardian dan Vanya berjalan


mendekat ke arah Naufal dan Thella.


“Hai, Thella, Naufal, pas banget


ya, kalian ada di sini,”


“Iya, Nih. Bisa pas banget. Sini-sini,


Ardian, Vanya.”


“Hai, Ardian, apa kabar?” Naufal


menyapa Ardian dengan sangat ramah.


“Hai, Naufal, Baik aku sih,


gimana kabar kamu?”


“Baik juga, seperti yang


terlihat, ayo sini, gabung.” Naufal menggeser tempat duduknya agar memudahkan


Ardian bergabung.


“Kalian mau pesan apa? Ini daftar


menunya, kami sih sudah pesan.


Ardian dan Vanya memilih menu,


makanan apa yang akan mereka makan. Lalu mereka memesan makanan itu pada


pelayan resto.


Baik Ardian dengan Naufal,  Vanya dan Thella, mereka saling bincang


berdua.


“Thella, aku bahagia banget. Kamu


tahu, hari ini Ardian melamar aku sesi pertama, baru ada aku dan dia,”


“Wah, selamat, ya. Peresmiannya kapan?”


“Ntar, aku pasti kabarin, kok. Kamu


pasti jadi tamu utamanya,”


“Bener, ya. Aku tunggu pokoknya. Gimana,


bener kan kata aku, Ardian lebih gantengan yang sekarang?”


“Bener banget, ganteng juga lebih


putih. Nggak salah deh, dari dulu suka sama dia,”


“Benakah? Gantengan mana di


banding oppa koreamu?’


“Gantengan dia lah, nyata. Eh,


itu suamimu pakai plester banyak banget di lehernya, emang kenapa?”  Thella tersenyum geli dengan pertanyaan polos


Vanya.


“Oh, itu. Hasil karyaku


pagi-pagi. Karena aku terlalu gemas sama dia,”


“Wah, ganas banget kamu, segitu


banyak, nggak kasian apa, bisa jadi pusat perhatian,” Bisik Vanya sambil

__ADS_1


tertawa kecil.


“Mereka juga pasti paham, kok. Besok


kalau kamu sudah menikah dengan Ardian juga pasti akan melakukan hal yang sama.”


“Bisa jadi, kan gurunya kamu,”


“Bukannya yang ngajarin semuanya


itu kamu, ya?”


“Hei, aku kan hanya memberikan


teori belum pernah praktek. Jika sampai seperti itu, berarti kamu memang sudah


mahir,” Ejek Vanya, mereka berdua tertawa kecil.


Obrolan merek terjeda karena


kedatangan makanan yang mereka pesan.


Obrolan Ardian dan Naufal...


“Yan, aku minta maaf, soal


kejadian waktu kita di Korea. Aku sudah salah paham sama kamu,”


“Santai, aku nggak apa-apa, kok. Aku


juga minta maaf karena sudah nonjok kamu. Aku melakukan itu karena emosi,”


Ardian juga mengumgkapkan permintaan maafnya pada Naufal atas kejadian yang


menimpa mereka saat di Korea.


“Kamu pantas melakukan itu,


Ardian. Aku memang lelaki yang sedikit kurang peka, terlalu egois dan mudah


cemburu tanpa sebab,”


“Semua pasti ada sebabnya. Jadi aku


memakluminya. Kalia sudah lama menikah?”


“Mungkin sekitar lima bulan,  belum terlalu lama. Kata Thella, kalian sudah


jadian, selamat. Kapan akan menikah?”


“Masih terhitung pengantin baru. Kami


mungkin akan menikah satu bulan lagi do’akan saja,”


“Selamat. Semoga lancar sampai


hari H, jangan lupa undang kami,”


“Itu pasti. Bagaimana pekerjaanmu?


Jadi CEO perusahaan besar pasti sibuk, ya. Beda dengan diriku,”


“Sama sajalah denganmu, aku hanya


sok sibuk saja. Aku hanya tidak bisa berhenti mengerjakan sesuatu. Kalau sudah


bekerja, bisa lupa waktu. Bahkan, kadang sampai lupa kalau sudah nenikah,”


“Sebaiknya, sekarang kamu harus


banyak mengingat istrimu, dia juga sangat membutuhkan perhatianmu, kan?” Ardian


coba untuk mengingatkan Naufal agar membagi waktunya dengan Thella.


“Kamu benar, akhir-akhir ini aku


sedang berusaha untuk lebih banyak memperhatikan istriku. Aku juga sadar kalau


selama ini kurang perhatian padanya,”


“Bagus, jangan sampai menyesal. Bukan


hanya para pria, wanita juga bisa pergi meninggalkan kita kalau kita kurang


memperhatikannya,”


“Benar juga katamu, aku tidak


rela jika harus kehilangan Thella, dia adalah bagian penting dalam hidupku,”


“Kamu harus menjaga dia


baik-baik. Dia wanita yang sangat baik, aku sudah mengenalnya sejak lama, jika


kamu menyiakan dia, aku yakin kamu akan rugi,”


“Terima kasih sarannya, Ardian. Wah,


makanannya sudah sampai, mari kita makan. Baru nanti kita ngobrol lagi,”


Mereka berempat menikmati


hidangan mereka masing-masing, tidak ada lagi yang bicara sampai acara makan


bersama itu selesai dan di tutup dengan hidangan penutup. Setelah berbincang


sebentar merekapun akhirnya berpisah. Ardian dan Vanya pulang ke rumahnya,


sementara Fall dan juga Thella kembali ke kantornya.


“Fall,”


“Ada apa?”


“Aku minta maaf soal noda merah


di leher kamu, jadi  banyak yang


memperhatikan kamu, meskipun sudah di plester,”


“Soal ini? Tidak masalah. Memangnya


kenapa kalau orang lain memperhatikanku? Kamu cemburu?” Naufal justru menanggapinya  dengan candaan.


“Jadi kamu nggak marah, kan?”


“Tentu saja, nggak marah. Kenapa harus


marah, ini kan tandasayang dari kamu,”


“Jangan bilang begitu, aku jadi


malu,”


“Kenapa malu? Kan Cuma ada kita


berdua. Awalnya menolak, akhirnya habis juga aku di serang olehmu,”


“Maaf deh, kapan-kapan aku


ulangi,”


“Wah, jadi ada rencana mau


mengulang kembali?”


“Memangnya nggak boleh?”


“Bukan nggak boleh, tapi gelar


mesum kayaknya lebih cocok untukmu sekarang,”


“Nggaklah, gelar itu tetap


untukmu,”


“Terserah, deh. Yang pasti aku


sayang kamu,’


“Kok jadi bilang sayang?”


“Bukan Cuma sayang, aku juga


cinta mati sama kamu,”


“Naufal...Stop!,” Teriak Author


yang sedang baper di jok belakang. “Eh kamu lagi Author nggak jelas, ngapain


nguping?” Tegur Fall. “Terserah aku lah, berani nurunin aku di jalan aku ganti


pemeran utama cowok, kamu aku jadikan gembel,” Ancam Auhor sambil melotot. “Jangan


galak-galak Thor, inget umur. Tambah tua ntar,” Fall coba menasehati Author. “Tua


juga gara-gara mikirin kisah hidupmu, sudahlah, turunin aku di sini,” Author


berubah pikiran. “Nggak jadi sampe rumah, Thor ?” Fall basa-basi. “Takut


meleleh aku, lama-lama di antara kalian.


Akhirnya, Thella dan Naufal


sampai ke kantor mereka. Mereka berdua segera ke ruangan kerja. Begitu sampai


di kantor, tentu saja Naufal berada di mode serius.

__ADS_1


__ADS_2