
Ting...tong..
Bunyi bel di rumah Vanya berulang
kali berbunyi. Gadis itu sedang merias
diri di depan cermin, awalnya dia mengabaikan dan berharap ada ayah atau ibunya
yang membukakan pintu untuk seseorang yang datang.
Beberapa menit, sampai bel
berbunyi berulang tidak ada juga yang membukakannya. Vanya baru ingat kalau
kedua orang tuanya pergi ke rumah kakeknya sejak pagi-pagi sekali. Ia lalu
bergegas turun dan menghampiri pintu. Ia merasa bersalah pada siapapun yang
datang.
Vanya membuka pintu dan mendapati
seseorang bersembunyi di balik buket bunga mawar merah ukura besar. Ia tahu di
balik buket bunga itu pasti Ardian. Ada-ada saja cara romantisnya untuk membuat
Vanya berbunga-bunga.
“Selamat pagi, calon Nyonya
Ardian,”
Sapaan pria itu semakin membuat
Vanya tersipu malu. Sepagi ini dia sudah mendapatkan hal manis, semanis madu.
“Selamat pagi, calon suamiku. Apaan
sih, Mas pakai datang bawa bunga sebegitu besar. Niat banget mau bikin aku
baagia?”
“Iya dong, kamu tahu, bunga mawar
merah adalah tanda cinta. Banyaknya bunga mawar yang ada di buket ini,
jumlahnya masih kalah banyak daripada cintaku padamu. Pagi ini, aku mau
melamarmu versi satu. Maukah kamu menjadi istriku, Vanya?”
Vanya menutup mulutnya yang
menganga karena terkejut. Ia tidak menyangka kalau pagi ini akan di lamar oleh
Ardian. Mata Vanya berkaca-kaca karena ungkapan perasaan dari Ardian. Ia mengangguk
perlahan.
“Tentu saja, Mas. Aku mau menikah
sama kamu, aku mau jadi istrimu,”
Ardian menyelipkan sebuah cincin
pada jari manis Vanya. Cincin itu berbeda dengan cincin yang mereka beli saat
persiapan gaun yang akan ia pakai saat acara pertunangan sekaligus lamaran
mereka.
“Cincin ini aku beli sehari
sebelum aku pulang dari Korea. Sebenarnya aku mau langsung melamarmu saat kita
bertemu. Tapi keberanianku belum cukup,”
Satu lagi, hal yang membuat Vanya
terharu. Ternyata Ardian sudah lama
berniat serius padanya. Dia sangat dewasa. Itu membuat Vanya kagum pada
sosoknya. Ardian berhasil menjadi sosok yang berhasil meraih hatinya.
“Ayo masuk. Silahkan duduk, Mas. Aku
terharu, ternyata kamu sudah lama mau melamarku. Aku sangat beruntung memiliki
seseorang sepertimu. Sebentar, aku ambil minum. Mas mau minum apa?”
“Apa saja, kalau yang buat kamu
pasti akan aku minum. Aku sudah lama mencintai kamu, dan kamu pasti tahu itu. Aku
tidak ingin membuang kesempatan kedua. Setelah tahu dari Thella kalau kamu
masih sendiri, aku langsung berniat untuk meminangmu. Aku tidak ingin
kehilangan kesempatan ini lagi. Aku tidak ingin bersama wanita lain selain kamu,”
Ardian sangat serius menyatakan
ini. Vanya memang satu-satunya wanita yang pernah ia cintai dan merupakan cinta
pertamanya. Sejak pertama kali dekat dengan Vanya, ia merasa wanita itu berbeda
dari semua perempuan yang ia temui.
“Ini, minumannya mas, terima kasih
masih bertahan untuk mendapatkan hatiku. “
Vanya menghidangkan jus mangga
untuknya dan Ardian. Itu adalah minuman favorit mereka. Mereka memang sangat
cocok. Seperti yang sudah di ceritakan sebelumnya, Vanya dan Ardian memang
memiliki banyak kesamaan.
Jadi tidak heran kalau mereka
berdua bisa saling memperdulikan satu sama lain. Mereka salimh tahu apa yang
tidak di sukai dan apa yang di sukai satu sama lain. Menurut Author, mereka
akan menjadi pasangan yang serasi. Untuk yang kepo Visual mereka berdua, nanti
Author share di awal bulan ya. Sekarang waktunya sudah tidak keburu, karena
review gambar sedikit lama.
“Tahu aja kalau aku suka jus
mangga,”
“Dih, kita kan sering minum ini
bareng, Mas. Kamu lupa atau pura-pura lupa?”
“Aku pikir setelah lama berpisah,
kamu sudah lupa dengan hal-hal apa yang aku sukai. Ternyata kamu masih inget
dengan apa yang aku sukai. Terima kasih, Vanya.”
“Aku mana mungkin lupa, Mas. Bahkan
tiap meminum jus mangga aku selalu ingat kamu. Aku kadang kangen kebersamaan
kita. Aku pikir kamu sudah menikah atau sudah memiliki calon istri,”
“Aku maunya juga gitu, tapi tiap
mencoba aku selalu gagal, tidak ada yang bisa seperti kamu. Ada saja yang
membuat nggak cocok. Aku pacaran terlama dua bulan, itupun tidak ada perasaan
nyaman yang aku rasakan. Aku hanya merasa mereka selalu kurang ini dan itu,
tidak pernah ada kelebihan yang bisa menarik perhatianku, kecuali hanya
wajahnya.”
“Aku pikir hanya aku saja yang
merasa begitu. Ternyata mas juga. Hari ini kita mau pergi ke mana?”
“Gimana kalau kita makan di
tempat makan baru? Rekomendasi dari teman katanya makanannya enak dan juga
murah, aku bukan ambil murahnya, tapi enaknya, jangan salah paham,”
“Dih, memangnya aku masalah, mau
di ajak makan di tempat mahal ataupun murah, aku mah iya aja. Asalkan makan
bareng mas, makan apapun juga pasti enak.”
“Aduh, aku dio gombalin ini. Hatiku
bisa meleleh,”
Vanya mencubit lengan Ardian
karena merasa gemas dengan pria itu karena ia merasa gemas. Ardian hanya
__ADS_1
meringis tanpa membalas perlakuan kekasihnya itu.
”Tunggu, aku ganti baju dulu mas,”
“Oke,”
Tidak berapa lama Vanya keluar
dengan celana jeans dan baju kemeja kotak-kotalk paduan abu-abu hitam. Mereka pun
pergi ke tempat makan yang di bicarakan oleh Ardian. Sejak dulu mereka memang
suka wisata kuliner, bedanya, saat masih sekolah, mereka hanya membeli
makanan-makanan yang harganya pas di kantong. Usut punya usut, ternyata Ardian
dan Vanya sering jalan berdua di belakang Thella. Wah, mereka ternyata TTM ya,
alias Teman Tapi Mesra, Author ngiri lagi nih, hwaaaa.
“sebelah mana restonya, Mas? Kok sepertinya mengarah ke perusahaan Fall,
ya? Waktu itu aku pernah di ajak ke kantor Naufal, nganterin makanan. Gara-gara
hari itu Thella masak makanan favorit Naufal,”
“Apa nama perusahaannya? Siapa tahu
aku pernah tahu atau kunjungan,”
“Roxy Group, Mas. Paling pernah
lah ke sana, karena termasuk perusahaan besar,”
“Wah, dia pemilik Roxy Group, ya?
Itu perusahaan besar, perusahaanku belum
apa-apanya, aku baru berani bermimpi untuk memiliki perusahaan sebesar itu,”
“Semuanya butuh proses, kan? Bukan
tidak mungkin, suatu hari, Mas juga bisa memiliki perusahaan sebesar itu. Dia hebat sih mas, benar-benar dari usahanya
sendiri. Tapi waktunya sampai tersita habis untuk bekerja. Sampai sekarang pun
masih. Bawa pekerjaannya ke rumah. “
“Kasihan dong Thella,
terabaikan. Mana si Naufal itu anaknya
cemburuan abis, aku cuma ngobrol sebentar sama Thella saja, langsung berantem
deh mereka berdua, sampai dia kena badai salju dan hampir tidak
tertolong. Sampai emosi, aku pukul Naufal.”
“Iya, Thella juga cerita soal
itu. Kenapa kamu pukul dia? Memangnya kenapa?”
“Aku kesal karena dia selalu
cemburu buta. Harusnya dia tanya dulu apa yang terjadi di antara kami berdua,
baru marah kalau terjadi sesuatu antara aku dan Thella,”
“Maklumin aja, Mas. Kata Thella,
dia trauma di duakan, makanya dia bener-bener tidak mengizinkan istrinya buat
dekat dengan laki-laki lain.”
“Pantesan, dia sampai seperti
itu. Pasti dia pernah terluka terlalu dalam, makanya dia tidak mau semuanya
terulang kembali.”
“Bisa jadi, maka dari itu, dia menjaga baik-baik
pasangannya.”
“Nah, ini nih, tempat makan yang
akan kita kunjungi. “
Ardian membelokkan mobilnya ke
area parkir dari Sanjaya Resto. Mereka berdua turun, Ardian dan Vanya berjalan
beriringan menuju ke dalam resto. Suasana resto itu membuat mereka sangat
nyaman. Seperti kebanyakan tempat makan kekinian, di dinding terlukis berbagai
“Hai...! vanya ...! sini,”
Ternyata secara kebetulan, Thella
juga sedang berada di resto yang sama dan melambaikan tangan mengajak Vanya dan
Ardian untuk bergabung bersama mereka.
”Mas, kita ke sana, yuk. Tuh, di
undang sama Thella,”
“Ayo, kayaknya seru juga makan
rame-rame.”
Ardian dan Vanya berjalan
mendekat ke arah Naufal dan Thella.
“Hai, Thella, Naufal, pas banget
ya, kalian ada di sini,”
“Iya, Nih. Bisa pas banget. Sini-sini,
Ardian, Vanya.”
“Hai, Ardian, apa kabar?” Naufal
menyapa Ardian dengan sangat ramah.
“Hai, Naufal, Baik aku sih,
gimana kabar kamu?”
“Baik juga, seperti yang
terlihat, ayo sini, gabung.” Naufal menggeser tempat duduknya agar memudahkan
Ardian bergabung.
“Kalian mau pesan apa? Ini daftar
menunya, kami sih sudah pesan.
Ardian dan Vanya memilih menu,
makanan apa yang akan mereka makan. Lalu mereka memesan makanan itu pada
pelayan resto.
Baik Ardian dengan Naufal, Vanya dan Thella, mereka saling bincang
berdua.
“Thella, aku bahagia banget. Kamu
tahu, hari ini Ardian melamar aku sesi pertama, baru ada aku dan dia,”
“Wah, selamat, ya. Peresmiannya kapan?”
“Ntar, aku pasti kabarin, kok. Kamu
pasti jadi tamu utamanya,”
“Bener, ya. Aku tunggu pokoknya. Gimana,
bener kan kata aku, Ardian lebih gantengan yang sekarang?”
“Bener banget, ganteng juga lebih
putih. Nggak salah deh, dari dulu suka sama dia,”
“Benakah? Gantengan mana di
banding oppa koreamu?’
“Gantengan dia lah, nyata. Eh,
itu suamimu pakai plester banyak banget di lehernya, emang kenapa?” Thella tersenyum geli dengan pertanyaan polos
Vanya.
“Oh, itu. Hasil karyaku
pagi-pagi. Karena aku terlalu gemas sama dia,”
“Wah, ganas banget kamu, segitu
banyak, nggak kasian apa, bisa jadi pusat perhatian,” Bisik Vanya sambil
__ADS_1
tertawa kecil.
“Mereka juga pasti paham, kok. Besok
kalau kamu sudah menikah dengan Ardian juga pasti akan melakukan hal yang sama.”
“Bisa jadi, kan gurunya kamu,”
“Bukannya yang ngajarin semuanya
itu kamu, ya?”
“Hei, aku kan hanya memberikan
teori belum pernah praktek. Jika sampai seperti itu, berarti kamu memang sudah
mahir,” Ejek Vanya, mereka berdua tertawa kecil.
Obrolan merek terjeda karena
kedatangan makanan yang mereka pesan.
Obrolan Ardian dan Naufal...
“Yan, aku minta maaf, soal
kejadian waktu kita di Korea. Aku sudah salah paham sama kamu,”
“Santai, aku nggak apa-apa, kok. Aku
juga minta maaf karena sudah nonjok kamu. Aku melakukan itu karena emosi,”
Ardian juga mengumgkapkan permintaan maafnya pada Naufal atas kejadian yang
menimpa mereka saat di Korea.
“Kamu pantas melakukan itu,
Ardian. Aku memang lelaki yang sedikit kurang peka, terlalu egois dan mudah
cemburu tanpa sebab,”
“Semua pasti ada sebabnya. Jadi aku
memakluminya. Kalia sudah lama menikah?”
“Mungkin sekitar lima bulan, belum terlalu lama. Kata Thella, kalian sudah
jadian, selamat. Kapan akan menikah?”
“Masih terhitung pengantin baru. Kami
mungkin akan menikah satu bulan lagi do’akan saja,”
“Selamat. Semoga lancar sampai
hari H, jangan lupa undang kami,”
“Itu pasti. Bagaimana pekerjaanmu?
Jadi CEO perusahaan besar pasti sibuk, ya. Beda dengan diriku,”
“Sama sajalah denganmu, aku hanya
sok sibuk saja. Aku hanya tidak bisa berhenti mengerjakan sesuatu. Kalau sudah
bekerja, bisa lupa waktu. Bahkan, kadang sampai lupa kalau sudah nenikah,”
“Sebaiknya, sekarang kamu harus
banyak mengingat istrimu, dia juga sangat membutuhkan perhatianmu, kan?” Ardian
coba untuk mengingatkan Naufal agar membagi waktunya dengan Thella.
“Kamu benar, akhir-akhir ini aku
sedang berusaha untuk lebih banyak memperhatikan istriku. Aku juga sadar kalau
selama ini kurang perhatian padanya,”
“Bagus, jangan sampai menyesal. Bukan
hanya para pria, wanita juga bisa pergi meninggalkan kita kalau kita kurang
memperhatikannya,”
“Benar juga katamu, aku tidak
rela jika harus kehilangan Thella, dia adalah bagian penting dalam hidupku,”
“Kamu harus menjaga dia
baik-baik. Dia wanita yang sangat baik, aku sudah mengenalnya sejak lama, jika
kamu menyiakan dia, aku yakin kamu akan rugi,”
“Terima kasih sarannya, Ardian. Wah,
makanannya sudah sampai, mari kita makan. Baru nanti kita ngobrol lagi,”
Mereka berempat menikmati
hidangan mereka masing-masing, tidak ada lagi yang bicara sampai acara makan
bersama itu selesai dan di tutup dengan hidangan penutup. Setelah berbincang
sebentar merekapun akhirnya berpisah. Ardian dan Vanya pulang ke rumahnya,
sementara Fall dan juga Thella kembali ke kantornya.
“Fall,”
“Ada apa?”
“Aku minta maaf soal noda merah
di leher kamu, jadi banyak yang
memperhatikan kamu, meskipun sudah di plester,”
“Soal ini? Tidak masalah. Memangnya
kenapa kalau orang lain memperhatikanku? Kamu cemburu?” Naufal justru menanggapinya dengan candaan.
“Jadi kamu nggak marah, kan?”
“Tentu saja, nggak marah. Kenapa harus
marah, ini kan tandasayang dari kamu,”
“Jangan bilang begitu, aku jadi
malu,”
“Kenapa malu? Kan Cuma ada kita
berdua. Awalnya menolak, akhirnya habis juga aku di serang olehmu,”
“Maaf deh, kapan-kapan aku
ulangi,”
“Wah, jadi ada rencana mau
mengulang kembali?”
“Memangnya nggak boleh?”
“Bukan nggak boleh, tapi gelar
mesum kayaknya lebih cocok untukmu sekarang,”
“Nggaklah, gelar itu tetap
untukmu,”
“Terserah, deh. Yang pasti aku
sayang kamu,’
“Kok jadi bilang sayang?”
“Bukan Cuma sayang, aku juga
cinta mati sama kamu,”
“Naufal...Stop!,” Teriak Author
yang sedang baper di jok belakang. “Eh kamu lagi Author nggak jelas, ngapain
nguping?” Tegur Fall. “Terserah aku lah, berani nurunin aku di jalan aku ganti
pemeran utama cowok, kamu aku jadikan gembel,” Ancam Auhor sambil melotot. “Jangan
galak-galak Thor, inget umur. Tambah tua ntar,” Fall coba menasehati Author. “Tua
juga gara-gara mikirin kisah hidupmu, sudahlah, turunin aku di sini,” Author
berubah pikiran. “Nggak jadi sampe rumah, Thor ?” Fall basa-basi. “Takut
meleleh aku, lama-lama di antara kalian.
Akhirnya, Thella dan Naufal
sampai ke kantor mereka. Mereka berdua segera ke ruangan kerja. Begitu sampai
di kantor, tentu saja Naufal berada di mode serius.
__ADS_1