My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Episode 47


__ADS_3

“Fall, aku pergi ke waterboom dengan Vanya, kamu mau ikut?”Ujar Thella pelan sambil memeluk Naufal yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya dari belakang. Wangi rambut pria itu sangat di sukai oleh Thella.Ia menghirupnya beberapa kali.


“Aku di rumah saja, kamu hati-hati, ya. Jangan terlalu lama perginya.” Sahut Naufal pelan sambil terus mengetik.Pria itu memang seperti robot, ia tidak.bisa berhenti bekerja dan selalu mengutamakan pekerjaannya.


“Terima kasih, sayangku.  Jangan telat makan, ya. Aku perginya Cuma sebentar kok.” Thella berkata dengan sangat lembut. Ia seperti sedang merayu lelakinya itu untuk membiarkan dia pergi.


Cup...


Thella mengecup pipi Naufal lembut lalu meninggalkan pria yang sudah tenggelam dalam pekerjaannya itu. Saat masih  sendiri dulu, Thella dan Vanya sering


berenang bersama. Rumahnya memang tidak semewah rumah Naufal yang ada kolam renangnya.


Dulu saat mamanya masih ada, mereka sering berenang bertiga.


Makanya, saat awal-awal mamanya meninggal,  Thella sering menolak ajakan Vanya untuk berenang karena masih terkenang


masa bersama dengan mamanya di tempat itu.


Thella merasa sangat beruntung, secara tidak langsung


kedatangan Naufal di dalam kehidupannya mengisi kekosongan hatinya karena


kehilangan mamanya. Fall membuat hidupnya yang tadinya hampa menjadi lebih


enerjik.


Lelaki itu, pada akhirnya menjadi satu-satunya harapan


Thella karena papanya yang tidak bisa menemani kesehariannya dan harus tinggal


di rumah istri barunya.  Semakin banyak


hari yang mereka lalui, semakin dalam pula perasaan Thella terhadap pria itu.


“Ayo, kita pergi. Aku udah dapat izin dari Naufal. Aku sudah bawa baju renang buat kita berdua. Bawa motor metik aku aja gimana?”


Thella rindu mengendarai motor metik yang biasa mengantarkannya pergi bekerja. Motor itu juga hadiah dari mamanya di ulang tahunnya yang ke-20.


“Malah seru, ayo. Kita udah lama nggak pergi pakai si Ketty.Secara dulu setiap berangkat dan pulang kerja kita selalu pakai si Ketty,”


Thella menamai motornya dengan nama Ketty, karena dia sangat menyukai kucing, dan di kepala motornya ada gambar kucing putih yang sangat imut.


“Masih ingat aja kamu dengan nama motorku. Ingatanmu sangat bagus Vanya.” Thella meledek sahabatnya yang masih mengingat dengan baik nama kendaraannya meskipun mereka telqh lama tidak menggunakannya.


“Kamu meledekku? Kamu pikir aku sudah setua apa? Punya sahabat, tukang ngejek.” Vanya menyahut ledekan Thella sambil tersenyum geli. Saling ejek dalam persahabatan mereka adalah hal yang sangat umum terjadi.


“Begini juga kamu sayang banget kan sama aku,” Thella tidak mau kalah begitu saja dengan Vanya.


“Tentu saja. Aku suka temenan sama kamu, karena kamu itu apa adanya. Dari dulu, kamu juga tidak pernah macam-macam,  tulus, pokoknya aku nggak mau kehilangan sahabat seperti kamu,”Sahabat sejati adalah dambaan setiap orang. Sebenarnya, dalam dunia persahabatan, kita memang tidak perlu memiliki banyak teman. Cukup satu atau dua orang saja, tapi yang mengerti kita dengan baik.


“Aku juga sama, tidak butuh teman banyak , yang kubutuhkan adalah teman yang menerima aku apa adanya. Dan semuanya sudah ada pada kamu,


Vanya.” Thella tidak pernah mempunyai sahabat lain selain Vanya. Teman banyak, tapi untuk sahabat, hanya Vanya yang sanggup menerima gelar itu.


Persahabatan Thella dan Vanya sudah berlangsung lama. Semenjak mereka masih duduk di bangku SMP.  Diawali kedekatan kedua orang tua, membuat mereka  saling dekat satu sama lain. Saat itu, mama


Vanya arisan di rumah Thella dan mengajak Vanya, dari situlah awal mula persahabatan mereka.


Sepanjang perjalanan, mereka membahas banyak hal tentang kenangan konyol berdua. Mereka seperti saling melepas rindu karena telah lama

__ADS_1


tidak bisa pergi bersama semenjak Thella menikah dengan Naufal.


“Aku masih inget banget, loh. Waktu di Bar, tiba-tiba Fall datang dan meminta kamu untuk jadi istrinya. Lalu, dia pergi begitu saja,


sampai kamu mengumpat,” Vanya  tertawa geli mengingat kejadian di Bar saat itu. Dimana Thella sampai ngambek dan berniat meninggalkan tempat itu, lalu berakhir dengan dansa bersama Fall.


“Lucu juga, ya? Aku tidak percaya kenapa bisa berbalik jatuh cinta padanya , padahal saat itu aku sama sekali tidak menyukainya, bahkan aku


sampai membencinya,”


Ya, cinta memang begitu. Di awali dengan hal-hal yang tidak terduga. Saling membenci pun akhirnya bisa menjadi saling jatuh cinta. Bahkan, awalnya biasa saja, bisa menjadi luar biasa di saat tertentu.


“Itulah, tipisnya jarak antara cinta dan benci. Bahkan kamu sampai tidak menyadari  kapan kamu


melewati batas itu, iya kan?”  Kalimat


yang di ucapkan oleh sahabatnya ada benarnya.  Thella juga tidak menyadari sejak kapan ia mulai jatuh cinta pada Naufal. Saat ia menyadari, perasaannya sudah tumbuh besar.


“Ya, kamu benar, Vanya. Sekalinya aku tahu, aku sudah memiliki perasaan cinta yang dalam padanya. Mendadak, aku mengkhawatirkan dia, selalu perduli padanya, berusaha menuruti apa yang dia katakan, dan semuanya menjadi indah begitu saja.”


Sering waktu, karena mereka selalu bersama, perlahan perasaan itu mulai tertanam. Seperti tanaman yang di pupuk, rasa itu akan tumbuh dan besar seiring waktu.


“Itulah cinta, misterius. Dia tiba-tiba datang dengan sikap yang aneh, lalu berhasil merebut perasaanmu dengan begitu saja. Saat ini, apa


impian terbesarmu dengannya?”


Setiap orang punya mimpi. Dalam sebuah hubungan, ada suatu tujuan yang ingin di capai. Sebuah harapan kecil yang mungkin menunjukkan cinta yang besar.


“Aku ingin segera hamil. Dengan begitu, kebahagiaan kami akan lengkap. Aku bisa mengabulkan hal yang paling dia inginkan,”


Seorang istri, tentu saja ingin dapat mengandung seorang anak. Apalagi suaminya jelas-jelas menginginkan hal itu terjadi.


“Kamu yakin, dia adalah cinta terakhir dalam hidupmu?”


“Meskipun keyakinanku tidak terlalu besar, aku berharap  seperti itu.  Aku ingin dia menjadi  yang


terakhir untukku. Sampai nannti, maut memisahkan kami berdua,”


Thella pun mempunyai harapan yang sama. Ia ingin bersama Naufal selamanya, meskipun ia sadar jika ia tidak bisa mengetahui apakah harapannya itu bisa terwujud atau tidak.


“Apa sih, kelebihan dia yang membuat kamu tidak bisa berpaling?"


Munafik sekali jika seseorang bilang mencintai tanpa alasan. Karena sejatinya, setiap orang pasti memiliki alasan untuk jatuh cinta, meskipun itu adalah bagian yang sangat kecil.


 “ Bukan kelebihan,sih. Justru menurut dia ini kekurangan dia. Tapi aku suka banget hal ini dari


dia, aku suka banget sifat dinginnya dia. Tapi akhir-akhir ini mulai hilang gara-gara ketularan aku, dia sekarang jadi lebih agresif dari yang dulu,”


Kekurangan pun bisa menjadi suatu kelebihan bagi seseorang yang tulus.Awal dari sebuah rasa tidak selalu berasal dari kelebihan, tetapi juga kekurangan.


“Agresif?” Mata Vanya terbelalak mendengar kalimat yang diucapkan Thella.


Vanya menduga, Fall agresif dalam adegan dewasa.


“Bukan agresif yang seperti ada di pikiranmu. Maksudku, dia sekarang sudah lebih berinisiatif gitu, misalnya kayak nawarin sesuatu, ingin


tahu aku kenapa, gitu. Jangan berpikir yang tidak-tidak,” Thella menjitak  kepala  Vanya. Dia pikir sahabatnya itu sudah mulai terkontaminasi oleh sifat


mesum karena akan menikah dengan Ardian.

__ADS_1


“Maaf, maaf. Aku pikir agresif yang seperti itu.  Thella, seandainya saat ini kamu harus


berpisah sama dia, bagaimana perasaan kamu?”


Berbicara tentang perpisahan, itu memang akan sangat menyakitkan. Walaupun sudah hukum alam, setiap pertemuan akan di akhiri dengan perpisahan.


“Perasaanku? Kemungkinan aku akan merasa sangat hancur.  Bahkan untuk sementara waktu, aku pasti akan kehilangan semangat hidupku. Kamu tahu mengapa? Dia yang sudah berhasil


menghangatkan kesunyian yang ada di dalam hidupku, semenjak mamaku meninggal


dan papa menikah lagi. Dia banyak membuat aku tersenyum,Vanya. Dia yang merawat


aku di saat aku sakit. Dia adalah seseorang yang sangat penting dalam hidupku.”


Mata Thella mengeluarkan air mata begitu saja. Ia tidak bisa membayangkan


bagaimana jika ia harus kehilangan lagi orang yang ia sayangi.


“Aku tahu, perasaanmu sudah sangat dalam terhadapnya. Aku doakan semoga cinta kalian bisa abadi, ya. Sampai akhirnya hanya maut yang bisa


memisahkan kalian,”


Bagi Thella, do'a dari seorang sahabat adalah hal yang penting. Ia juga berdo'a agar hubungannya dengan Naufal berjalan dengan baik.


“Terima kasih, Vanya. Semoga  hubunganmu dengan Ardian juga sama. Kalian bisa bahagia selau sampai akhirnya kalian bisa menikah. Suatu hari anak-anak


kita akan bersahabat seperti kita,” Thella sudah membayangkan hal yang jauh di depan mereka.


Persahabatan turunan dari orang tua ingin juga Thella turunkan pada anaknya kelak. Di masa depan, anak-anak mereka yang akan melanjutkan hubungan persahabatan itu.


“Betul, dan persahabatan kita akan terus turun menurun.”


Rupanya Vanya juga memiliki harapan yang sama untuk hubungan persahabatan mereka.


“Sepertinya akan seru. Eh,  kita sudah hampir sampai. Tinggal belok kanan, sampai. Mari kita lomba,aku pengen tahu, apakah kualitas renangmu masih sama seperti dulu,”


Saat masih sekolah dulu, Thella dan Vanya sering melakukan lomba renang berdua. Bukan sebagai bentuk rival, mereka hanya mengasah kemampuan masig-masin.


“Ayo, siapa takut. Aku  pasti akan memenangkan perlombaan denganmu. Kamu kan selalu kalah,” Thella mengejek Vanya yang selalu kalah.


“Kali ini beda, Nyonya Naufal,”


Kedua sahabat itu memasuki area kolam renang. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengamati gerak gerik mereka. Sementara Vanya dan


Thella tidak menyadari keberadaan orang misterius itu.


Sementara itu...


“Ini jus jeruknya, Den...”


“Terima kasih, Bi. Sini gelasnya,”


Prankk !


Tiba-tiba gelas berisi jus jeruk itu terjatuh dan pecah. Perasaan


Fall mendadak tidak enak dan kepikiran pada  Thella.


“Maaf, Den. Sepertinya Bibi kurang hati-hati. Biar bibi ganti minumannya,”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, tidak usah. Tolong antarkan saya ke kolam renang tempat Thella dan Vanya berenang. Perasaan saya tiba-tiba gelisah.”


“Baik, Den. Mari...”


__ADS_2