My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Episode 78


__ADS_3

“Fall, Bibi sudah menemukan orang


yang tepat untuk menggantikannya kerja di rumah papa. Jadi besok sudah bisa


pindah kerja di sini. Sekarang sedang  masa pembelajaran dulu, biar paham apa-apa saja


yang perlu di kerjakan di sana.”  Kata


Thella suatu pagi, saat ia masih memasak dan Naufal menungguinya sambil duduk


di kursi yang terletak di dekat meja makan.


“Bagus kalau gitu. Nanti kalau


sudah ada bibi di sini, pekerjaanmu akan semakin ringan sayang.  Kalau pagi gini kamu bisa sedikit lebih


santai. Bisa duduk minum teh berdua mungkin,”  sahut Naufal  yang sedang memakan


biskuit sambil memainkan ponselnya.


“Tapi wajar kan, ini menurutku


memang pekerjaan umum yang di kerjakan oleh sebagian besar wanita. Aku


sebenarnya senang  bisa mengerjakan ini


untukmu setiap hari. Nanti kalau ada bibi malah buat aku jadi pemalas gimana?”


Thella mulai menghidupkan kompor dan meletakkan teplon ke atasnya.


Sejak mamanya masih ada, salah


satu hobi Thella adalah memasak. Untungnya, semua masakan Thella di sukai oleh


Naufal, terlebih lagi, pria itu bukan tipe yang suka memilih makanan. Apa yang


Thella makan, itu juga yang ia makan. Kalau dia sedang tidak memasak, mereka


makan di luar. Terkadang, Fall juga tidak keberatan untuk memasak,karena ia


juga pandai memasak.


“Kamu kan masih bisa mengurusku,


kamu bisa lebih fokus. Mengurusku dan juga dirimu sendiri.” Naufal


menyunggingkan senyumannya.


“Oh, jadi itu alasan sebenarnya,


karena pengen manja sama aku?  Ketahuan, ya. Bukan simpati sama aku tapi untuk kepentingan kamu


sendiri,” Cibir Thella, sambil sesekali  tersenyum. Ia mulai menumis bumbu-bumbu yang telah ia persiapkan.


“Itu hanya salah satunya,


sembilan puluh persen, tentu saja untuk kepentingan kamu. Apalagi yang mau


bekerja di sini sudah seperti mama kandung kamu sendiri, aku jadi sedikit lebih


tenang kalau begitu,  kalau misalnya aku


ke luar kota, kamu ada yang menemani di rumah,” Kalimat yang di ucapkan oleh


Fall itu mampu membuat Thella tersenyum malu-malu. Ia sangat senang karena Fall


sangat memanjakannya.


“Memangnya kalau ke luar kota,


nggak bisa ajak aku lagi? Bukan aku posesif, aku hanya tidak ingin berpisah


denganmu,aku maunya selalu dekat denganmu, Fall.” Ujar Thella sambil memeluk


dari belakang dan mencium pipi kanan Naufal sekilas. Thella mulai menghidangkan


masakannya ke meja makan.


“Kamu tidak usah kecapean dulu,

__ADS_1


diam-diam di rumah. Aku kalau pergi juga tidak akan lama, kok.  Paling dua sampai tiga hari sudah kembali. “


jelas Naufal.


“Itu namanya lama, Sayang. Apa


nanti aku bisa tidur, kalau kamu ninggalin aku sampai berhari-hari? Kamu inget


kan, waktu itu aku semalaman sampai nggak bisa tidur gara-gara pisah ranjang


sama kamu,” Thella mengingatkankan  Fall,


saat mereka berdua bertengkar kala itu.


“Aku yakin, nanti kamu lama-lama


akan terbiasa. Kok. Itu juga terjadi ntah kapan, jadi tidak usah khawatir untuk


sekarang,” Naufal sedikit menenangkan  Thella.


Sementara itu...


Di rumah lama Thella. Bibi sedang


mengajak Yanti, nama asisten baru di sana, untuk keliling rumah sembari  menjelaskan apa saja yang harus di kerjakan.


Hal apa yang tidak boleh di lakukan dan lain sebagainya.


“Yanti, kerja di sini itu harus


jujur kunci utamanya. Kalau kamu jujur dan juga rajin, kamu akan dapat nilai


tambah dari majikan kita. Disini kerjanya juga santai, yang penting rapi dan


bersih.” Bibi memulai penjelasannya terhadap Yanti.


“Baik, Mbak. Terima kasih sudah


memberikan saya pengarahan. Saya akan mengikuti semua peraturan yang berlaku di


sini.  Saya sudah berniat ingin


lama Bibi bekerja di rumah Thella.


“Aku sudah lama bekerja di sini,


sekarang aku mau pindah ke rumah anaknya, karena dia sudah seperti anakku


sendiri, Yan, kamu nanti kalau sudah bekerja di sini juga akan merasa nyaman.


Rumah ini kosong, hanya ada Mang Diman, tukang kebun. “ Bibi menjelaskan


lagi.  Dia memang sudah merasa nyaman


bekerja dengan keluarga itu. Ia sangat bahagia karena mereka mempelakukannya dengan


baik.


“lalu, tuan dan nyonyanya kemana,


mbak? Kenapa rumah sebesar ini di biarkan kosong?” Yanti mengamati sekitar,


rumah Thella itu memang sangat besar baginya yang datang dari dusun.


“Mereka ada di luar negeri.


Kemarin belum lama tuan juga pulang untuk menengok anaknya. Sebenarnya memang


cukup di sayangkan, rumah sebesar ini kosong. Saya kadang juga mulai takut,


takut rumah ini akan ada yang menghuni di sini, makhluk lain,” canda Bibi


sambil tertawa.  Hantu itu tentu saja


tidak ada.


“kalau di dusun saya, rumah


sebesar ini sudah yang paling megah, Mbak. Kalau masalah hantu, jujur saja saya

__ADS_1


tidak takut dengan yang begituan. Dulu saya dan suami juga pernah tinggal di


rumah yang sangat angker. Hampir setiap hati ada penampakan dan hal-hal


ganjil.” Yanti menceritakan pengalamannya saat tinggal di rumah yang berdiri di


atas tanah bekas pemakaman.


“Wah, serem juga. Lalu bagaimana


selanjutnya? Masih tetap tinggal di sana? Kalau saya, orangnya penakut,


walaupun kalau di ada yang menampakkan diri tidak ketakutan, tapi justru di


saat-saat tertentu malah ketakutan sendiri,” Bibi memang takut dengan hal-hal


mistis.


“Awalnya tetap tinggal, tapi


lama-lama mereka usil.  Sering kejadian,


barang pindah tempat, barang-barang berjatuhan, suara gemericik di kamar mandi,


tapi ternyata nggak ada siapa-siapa. Dan banyak hal mistis lainnya. Akhirnya,


saya dan suami pindah  dari rumah itu


karena terlalu banyak gangguan yang buat tidak nyaman.” Yanti mengisahkan


pengalaman horornya yang membuat Bibi jadi sedikit takut.


“Duh, ceritamu buat aku jadi


takut, ayo kalau begitu kita ke dalam saja. Aku mau kasih kamu tahu apa-apa


yang harus di kerjakan. Di sini masaknya bebas, kita ada jatah uang makan,


masak cuma buat berdua dengan Mang Diman, jadi tidak perlu banyak-banyak,”


pesan Bibi.


“Baiklah saya mengerti. Jadi tuan


rumah jarang pulang ke rumah, ya?”


“Betul, sangat lama dan juga


jarang. Makanya kita bekerja di sini jadi Cctv sendiri buat diri sendiri,


meskipun mereka tidak mengetahui kelakuan kita sehari-hari di rumah ini, kita


tetap harus menjaga kepercayaan na kalau mereka. Karena kalau kita sudah di


percaya, kerja akan lebih terasa ringan dan menyenangkan.” Bibi berharap, Yanti


bisa sesuai dengan harapannya. Bagaimanapun, Bibi ingin yang terbaik untuk


keluarga Thella.


“Mbak betul juga. Saat kita di


beri kepercayaan, seharusnya kita bisa menjaga kepercayaan itu. Krena saat


sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan dengan bos yang baik. Saya akan


berusaha menjadi asisten yang baik di sini, meneruskan Mbak,”  Yanti berusaha meyakinkan Bibi, kalau ia akan


meniru langkah pembantu terdahulu keluarga Thella itu.


“Terima kasih, Yanti. Keluarga


ini sudah seperti keluarga bagiku. Jadi aku sangat mengharapkan kamu bisa


bekerja di sini dengan sangat baik, jangan sampai mengecewakan kami,”


Mereka berdua terus berbincang,


membahas berbagai macam hal seputar pekerjaan dan pengalaman hidup. Semoga saja

__ADS_1


Yanti bisa menjadi pengganti Bibi yang baik ya.


__ADS_2