
“Fall, Bibi sudah menemukan orang
yang tepat untuk menggantikannya kerja di rumah papa. Jadi besok sudah bisa
pindah kerja di sini. Sekarang sedang masa pembelajaran dulu, biar paham apa-apa saja
yang perlu di kerjakan di sana.” Kata
Thella suatu pagi, saat ia masih memasak dan Naufal menungguinya sambil duduk
di kursi yang terletak di dekat meja makan.
“Bagus kalau gitu. Nanti kalau
sudah ada bibi di sini, pekerjaanmu akan semakin ringan sayang. Kalau pagi gini kamu bisa sedikit lebih
santai. Bisa duduk minum teh berdua mungkin,” sahut Naufal yang sedang memakan
biskuit sambil memainkan ponselnya.
“Tapi wajar kan, ini menurutku
memang pekerjaan umum yang di kerjakan oleh sebagian besar wanita. Aku
sebenarnya senang bisa mengerjakan ini
untukmu setiap hari. Nanti kalau ada bibi malah buat aku jadi pemalas gimana?”
Thella mulai menghidupkan kompor dan meletakkan teplon ke atasnya.
Sejak mamanya masih ada, salah
satu hobi Thella adalah memasak. Untungnya, semua masakan Thella di sukai oleh
Naufal, terlebih lagi, pria itu bukan tipe yang suka memilih makanan. Apa yang
Thella makan, itu juga yang ia makan. Kalau dia sedang tidak memasak, mereka
makan di luar. Terkadang, Fall juga tidak keberatan untuk memasak,karena ia
juga pandai memasak.
“Kamu kan masih bisa mengurusku,
kamu bisa lebih fokus. Mengurusku dan juga dirimu sendiri.” Naufal
menyunggingkan senyumannya.
“Oh, jadi itu alasan sebenarnya,
karena pengen manja sama aku? Ketahuan, ya. Bukan simpati sama aku tapi untuk kepentingan kamu
sendiri,” Cibir Thella, sambil sesekali tersenyum. Ia mulai menumis bumbu-bumbu yang telah ia persiapkan.
“Itu hanya salah satunya,
sembilan puluh persen, tentu saja untuk kepentingan kamu. Apalagi yang mau
bekerja di sini sudah seperti mama kandung kamu sendiri, aku jadi sedikit lebih
tenang kalau begitu, kalau misalnya aku
ke luar kota, kamu ada yang menemani di rumah,” Kalimat yang di ucapkan oleh
Fall itu mampu membuat Thella tersenyum malu-malu. Ia sangat senang karena Fall
sangat memanjakannya.
“Memangnya kalau ke luar kota,
nggak bisa ajak aku lagi? Bukan aku posesif, aku hanya tidak ingin berpisah
denganmu,aku maunya selalu dekat denganmu, Fall.” Ujar Thella sambil memeluk
dari belakang dan mencium pipi kanan Naufal sekilas. Thella mulai menghidangkan
masakannya ke meja makan.
“Kamu tidak usah kecapean dulu,
__ADS_1
diam-diam di rumah. Aku kalau pergi juga tidak akan lama, kok. Paling dua sampai tiga hari sudah kembali. “
jelas Naufal.
“Itu namanya lama, Sayang. Apa
nanti aku bisa tidur, kalau kamu ninggalin aku sampai berhari-hari? Kamu inget
kan, waktu itu aku semalaman sampai nggak bisa tidur gara-gara pisah ranjang
sama kamu,” Thella mengingatkankan Fall,
saat mereka berdua bertengkar kala itu.
“Aku yakin, nanti kamu lama-lama
akan terbiasa. Kok. Itu juga terjadi ntah kapan, jadi tidak usah khawatir untuk
sekarang,” Naufal sedikit menenangkan Thella.
Sementara itu...
Di rumah lama Thella. Bibi sedang
mengajak Yanti, nama asisten baru di sana, untuk keliling rumah sembari menjelaskan apa saja yang harus di kerjakan.
Hal apa yang tidak boleh di lakukan dan lain sebagainya.
“Yanti, kerja di sini itu harus
jujur kunci utamanya. Kalau kamu jujur dan juga rajin, kamu akan dapat nilai
tambah dari majikan kita. Disini kerjanya juga santai, yang penting rapi dan
bersih.” Bibi memulai penjelasannya terhadap Yanti.
“Baik, Mbak. Terima kasih sudah
memberikan saya pengarahan. Saya akan mengikuti semua peraturan yang berlaku di
sini. Saya sudah berniat ingin
lama Bibi bekerja di rumah Thella.
“Aku sudah lama bekerja di sini,
sekarang aku mau pindah ke rumah anaknya, karena dia sudah seperti anakku
sendiri, Yan, kamu nanti kalau sudah bekerja di sini juga akan merasa nyaman.
Rumah ini kosong, hanya ada Mang Diman, tukang kebun. “ Bibi menjelaskan
lagi. Dia memang sudah merasa nyaman
bekerja dengan keluarga itu. Ia sangat bahagia karena mereka mempelakukannya dengan
baik.
“lalu, tuan dan nyonyanya kemana,
mbak? Kenapa rumah sebesar ini di biarkan kosong?” Yanti mengamati sekitar,
rumah Thella itu memang sangat besar baginya yang datang dari dusun.
“Mereka ada di luar negeri.
Kemarin belum lama tuan juga pulang untuk menengok anaknya. Sebenarnya memang
cukup di sayangkan, rumah sebesar ini kosong. Saya kadang juga mulai takut,
takut rumah ini akan ada yang menghuni di sini, makhluk lain,” canda Bibi
sambil tertawa. Hantu itu tentu saja
tidak ada.
“kalau di dusun saya, rumah
sebesar ini sudah yang paling megah, Mbak. Kalau masalah hantu, jujur saja saya
__ADS_1
tidak takut dengan yang begituan. Dulu saya dan suami juga pernah tinggal di
rumah yang sangat angker. Hampir setiap hati ada penampakan dan hal-hal
ganjil.” Yanti menceritakan pengalamannya saat tinggal di rumah yang berdiri di
atas tanah bekas pemakaman.
“Wah, serem juga. Lalu bagaimana
selanjutnya? Masih tetap tinggal di sana? Kalau saya, orangnya penakut,
walaupun kalau di ada yang menampakkan diri tidak ketakutan, tapi justru di
saat-saat tertentu malah ketakutan sendiri,” Bibi memang takut dengan hal-hal
mistis.
“Awalnya tetap tinggal, tapi
lama-lama mereka usil. Sering kejadian,
barang pindah tempat, barang-barang berjatuhan, suara gemericik di kamar mandi,
tapi ternyata nggak ada siapa-siapa. Dan banyak hal mistis lainnya. Akhirnya,
saya dan suami pindah dari rumah itu
karena terlalu banyak gangguan yang buat tidak nyaman.” Yanti mengisahkan
pengalaman horornya yang membuat Bibi jadi sedikit takut.
“Duh, ceritamu buat aku jadi
takut, ayo kalau begitu kita ke dalam saja. Aku mau kasih kamu tahu apa-apa
yang harus di kerjakan. Di sini masaknya bebas, kita ada jatah uang makan,
masak cuma buat berdua dengan Mang Diman, jadi tidak perlu banyak-banyak,”
pesan Bibi.
“Baiklah saya mengerti. Jadi tuan
rumah jarang pulang ke rumah, ya?”
“Betul, sangat lama dan juga
jarang. Makanya kita bekerja di sini jadi Cctv sendiri buat diri sendiri,
meskipun mereka tidak mengetahui kelakuan kita sehari-hari di rumah ini, kita
tetap harus menjaga kepercayaan na kalau mereka. Karena kalau kita sudah di
percaya, kerja akan lebih terasa ringan dan menyenangkan.” Bibi berharap, Yanti
bisa sesuai dengan harapannya. Bagaimanapun, Bibi ingin yang terbaik untuk
keluarga Thella.
“Mbak betul juga. Saat kita di
beri kepercayaan, seharusnya kita bisa menjaga kepercayaan itu. Krena saat
sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan dengan bos yang baik. Saya akan
berusaha menjadi asisten yang baik di sini, meneruskan Mbak,” Yanti berusaha meyakinkan Bibi, kalau ia akan
meniru langkah pembantu terdahulu keluarga Thella itu.
“Terima kasih, Yanti. Keluarga
ini sudah seperti keluarga bagiku. Jadi aku sangat mengharapkan kamu bisa
bekerja di sini dengan sangat baik, jangan sampai mengecewakan kami,”
Mereka berdua terus berbincang,
membahas berbagai macam hal seputar pekerjaan dan pengalaman hidup. Semoga saja
__ADS_1
Yanti bisa menjadi pengganti Bibi yang baik ya.