
"David, lepaskan aku. Jangan ganggu aku!" Thella coba berontak.
"Jangan coba berontak, Sayang. Kamu akan menikmati semuanya," David menatapnya dengan tatapan setajam iblis. Thella semakin ketakutan.
David memojokkan Thella ke sudut ruangan. Memegang kedua tangan Thella dengan posisi di atas kepala.Wanita itu tidak bisa berontak. David merapatkan tubuhnya pada Thella.
"David! lepaskan aku! Kamu sudah gila?!" Oceh Thella kesal, karena David melecehkannya.
"Aku memang gila karenamu, Thella. Kamu tidak mau meninggalkan Naufal untuk bersamaku. Aku punya segalanya, setara dengan suamimu, kenapa kamu tidak memilihku saja? Dulu, kamu bilang, kamu juga menyukaiku, kan?" David mengungkit masalalu yang pernah terjadi di anatara mereka berdua.
"David! Semuanya sudah berlalu. Itu masa dulu, saat aku masih labil. Sekarang semuanya sudah berubah, aku sudah menikah dan mencintai suamiku. Aku sudah melupakan semuanya. Kamu harus tahu itu." Tentu saja Thella tidak mungkin meninggalkan Naufal untuk lelaki seperti David. Hari ini.ia baru tahu, kenapa ayahnya menentang kedekatannya dengan David, meskipun orang tua mereka dekat dan bersahabat.
"Apa aku harus memaksamu, Cantik? Aku ingin memilikimu. Kamu menolak, aku tidak akan mundur. Thella hanya boleh menjadi milikku," David menyeringai, Thella semakin ketakutan. Apalagi saat ini David mendekatkan wajahnya. Dia berharap Naufal datang dan menolongnya, dia sangat jijik kalau sampai David menyentuhnya.
"David, jangan lakukan apapun. Jangan merusak rumah tanggaku dengan Naufal, aku tidak ingin berpisah darinya, lepaskan aku!" Thella coba berontak, meskipun usahanya hanya sia-sia.
David tidak perduli dengan perkataan Thella, dia menodai leher Thella dengan tanda merah. Wanita itu menangis. Dia sangat ketakutan, bayangan Naufal akan membencinya karena tindakan David terpampang nyata.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang menarik David kasar dan menghajar lelaki itu tanpa ampun. Pria itu adalah Naufal.
Bugh! Bugh! Bugh!
David terkapar, Fall segera menghampiri Thella yang jongkok, dengan rambut acak-acakan sambil memeluk kedua kakinya. Ia menangis histeris, Naufal memeluk istrinya erat. Lalu perlahan membawa Thella pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Mereka berdua memutuskan untuk pulang, di dalam mobil, Thella masih saja menangis, ia tampak menangisi kejadian yang menimpanya. Wajahnya pucat karena ketakutan.
Naufal memutuskan untuk menghentikan mobilnya, ia memeluk Thella lagi,wanita itu tidak bisa berhenti menangis, Naufal kesal saat melihat tanda merah yang ada di leher Thella.
"Jangan menangis lagi, aku sudah melaporkan David ke polisi, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi,"
"Aku merasa ternoda,Fall. Aku malu. Aku merasa tidak suci," Thella terus menangis. Naufal merasa iba pada kejadian yang menimpa istrinya.
"Tidak. Kamu tidak ternoda. Hanya bekas ******,itu tidak apa-apa. Kamu tidak perlu merasa ternodai, aku tahu ini bukan maumu. Meskipun aku kesal, tapi aku tidak pernah membencimu," Naufal masih mendrkap Thella erat, mencoba menenangkan wanita itu.
"Tapi seharusnya hanya kamu yang melakukan ini,Naufal.Kamu yang berhak atas aku, bukan dia,"Thella masih terisak. Naufal sedikit bingung harus berbuat apalagi supaya Thella tenang.
Naufal tidak yakin ini bisa membantu membuat Thella tenang, tapi ia mencoba, semoga dengan ini Thella menjadi lebih tenang.
Ia membuat noda merah ulang di bagian buatan David dan membuatnya lagi di beberapa bagian, ia berharap ini bisa membuat Thella tidak mengutuk dirinya sendiri.
Thella sedikit lebih tenang, tapi ia belum bisa melepaskan pelukan Naufal. Thella masih terbayang saat David melakukan pelecehan terhadapnya,ia sangat membenci lelaki itu, yang sudah merendahkan dan menodai lehernya.
"Naufal, jangan benci aku, ya." Lirih Thella pelan. Ia benar-benar takut jika karena masalah ini dia harus kehilangan Naufal.
"Percaya padaku, aku bisa melihat yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Aku tidak mungkin menghakimi kamu. Aku tahu, kamu tidak salah, kamu bukan wanita seperti itu, ayo senyum, sayangku..." Naufal mengecup kening Thella lembut dan mengelus rambut istrinya itu perlahan.
Perlahan, Thella mengembangkan senyumnya. Matanya yang sembab membuat wanita itu tampak jelek, Naufal sangat kecewa karena David membuat wanita yang di cintainya sampai menangis seperti itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Suamiku. Kamu suami terbaikku. Bagaimana bisa aku tidak tambah sayang kalau begini. Jangan pernah berubah, kesayanganku, aku mencintaimu," Thella menghadiahkan kecupan singkat pada bibir suaminya berkali-kali.
Merasa gemas dengan perlakuan Thella, Naufal mendorong kepala Thella pada jok mobil, satu tangannya memutar knop pengaturan jok agar lebih landai membuat posisi mereka setengah tidur.
"Berani membangunkan singa tidur, berarti siap untuk di terkam, Apakah kamu berani melawan sekarang, Sayangku?" Ledek Naufal dengan posisi dirinya di atas Thella, wajah mereka juga berdekatan. Thella hanya tersenyum tanpa berkata apapun sambil menatap kedua bola mata Naufal bergantian.
"Tuan Singa, apa yang akan anda lakukan?" Thella berekting seolah mereka sedang bermain drama.
"Aku mau melakukan ini..." Naufal memberikan ciuman lembut pada istrinya itu. Awalnya hanya ingin sebentar, tapi mereka mengulangnya lagi dan lagi.
Iima belas menit kemudian, mereka menyudahi adegan romantis yang baru saja mereka lakukan. Untung saja tidak ada yang menegur mereka karena berhenti cukup lama di pinggir jalan.
"Ayo jalan, nanti kita lanjut lagi di rumah," Thella tersenyum geli karena Naufal yang hampir lupa diri dimana mereka berada saat ini.
"Maaf sayang, aku lupa kalau kita ada di jalan," Naufal menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebagai ekspresi salah tingkahnya.
"Maaf di terima. Lain kali, jangan nakal lagi Singa tampanku," Thella menoel hidung Naufal lalu merapikan bajunya yang hampir terbuka karena tingkah nakal suaminya.
"Siap, Ratuku. Baiklah , kalau begitu kita pulang ke rumah sekarang juga. Tapi jangan lupa bayar setengahnya, ya." Naufal mengedipkan sebelah matanya, Thella mencubit lengan suaminya itu sampai Fall meringis kesakitan.
"Genit. Sudah genit, mesum lagi. Tenang saja, nanti sampai di rumah kita ulang lagi dari awal," Thella sengaja menggoda suaminya, sambil menahan tawa.
"Jangan berani-berani menggodaku, aku suka tidak tahan godaan," Sahut Naufal sambil konsentrasi mengendarai mobil mereka.
__ADS_1
Naufal lega, Thella sudah bisa melupakan traumanya. Meskipun Fall tahu, itu tidak akan permanen.Setidaknya untuk saat ini Thella bisa tersenyum dan terhibur.
Fall mempercepat laju kendaraannya dan berharap mereka bisa sampai lebih cepat ke rumah.