
Hari telah menjelang malam saat
Ardian dan Vanya pulang dari rumah Fall dan juga Thella. Mereka berempat
keasyikan ngobrol, terlebih mereka juga tidak pernah ngobrol bersama. Pertemuan mereka berempat baru dua kali,
pertama di resto dan yang kedua, barusaja di rumah Fall.
“Aku tidak menyangka, ternyata
kisah cinta Thella dan Fall sangat unik, ya. Sama persis seperti kisah yang ada
di dalam novel. Tapi keromantisan mereka tidak kalah dengan mereka yang pacaran
selama bertahun-tahun.” Ardian masih memikirkan
keunikan pertemuan mereka, sama seperti
dirinya dan Vanya, jodoh memang tak akan kemana.
“Iya, Mas. Aku juga ikut seneng, loh. Mereka bisa
bertahan sampai hari ini. Dulu mereka memang hampir pisah. Aku sampai ajari Thella beberapa trik untuk mendapatkan
hati Fall, abisnya mereka berdua sama-sama polos, pokoknya geregetan kalau
ngomongin mereka berdua,” Vanya terkekeh. Ia masih ingat saat membawa Thella ke
supermarket hanya untuk membeli beberapa baju tidur dan dalaman seksi. Ia masih
ingat bagaimana muka polos sahabatnya kala itu.
“Jangan-jangan kamu ajarin Thella
pakai ajaran sesat, ya? Jangan bilang kalian ke dukun..” Ardian ngakak, ia
tidak serius, dia sedikit banyaknya bisa menangkap pembicaraan Vanya.
“Untuk menaklukan lelaki tidak
perlu dukun, cukup memanfaatkan kostum dan keahlian dalam diri,” Vanya
terkekeh, ia tidak berharap Ardian mengerti apa maksudnya.
“Wah, jangan-jangan, kamu dekati
aku dengan trikmu, nih. Tanpa aku sadari aku sudah terperangkap dalam trikmu,”
Ardian menyindir Vanya sambil mengerling curiga.
“Meskipun aku menggunakan trik
untuk mendapatkan hati dan perhatianmu,aku yakin kamu tidak akan merasa rugi,
kok. Karena perasaan dan cintaku tulus padamu, Ardian.” Pernyataan Vanya
berhasil membuat senyum merekah di bibir Ardian.
“Tuh, kan. Yang barusan pasti
trik kan?Tapi aku termakan
trikmu, bagaimana ini, seseorang... tolong aku,” Ardian mulai bermain peran.
Vanya hanya tertawa geli melihat tingkah calon suaminya yang mendadak jenaka.
“Terus aja begitu, aku cubit, nih.” Ancam Vanya
sambil bersiap mencubit lengan lelaki itu.
“Biasanya juga cium, sekarang gantian nyubit,
kamu kejam sayang...” Ardian terkekeh.
Ia sangat senang menggoda Vanya. Ardian
berharap keromantisan mereka akan terus berlanjut sampai mereka tua nanti.
Cup..
Tiba-tiba Vanya mengecup pipi Ardian sekilas.
Membuat pria itu terdiam, ini pertama kalinya Vanya berani menciumnya.
Biasanya Ardian terus yang berinisiatif
untuk mengecup kening atau pipi wanita itu. Ia benar-benar terejut.
“Baru begitu saja sudah tidak bisa berkata
apa-apa, bagaimana kalau yang lainnya? Jangan-jangan langsung pingsan.” Vanya
mengejek Ardian, membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
“Habisnya tumben banget kamu mau berinisiatif
__ADS_1
mengecup pipiku duluan, biasanya juga aku terus yang begitu, kamu sengaja kan, mau ngerjain aku?” Tebak
Ardian, ia merasa sikap Vanya sedikit aneh.
“Aku ngerjain kamu dengan tujuan apa? Aku
sengaja, pengen buat kejutan aja. Eh, sayang, nanti mampir di martabaak
telor di depan gang situ, ya. Itu
martabaknya enak banget, kesukaan mama sama papa,”
“Kesukaan mama papa, apa kesukaan kamu? Awas
loh, banyak makan yang begituan, nanti badan kamu melar, nggak muat deh
gaunnya. Pas resepsi ganti pakek goni, ahahhaa,” Ardian tertawa sampai sakit
perut karena leluconnya sendiri yang menurut Vanya sangat garing.
“Kalau melar, tinggal ganti dengan gaun size
xxl, beres kan?” Vanya menimpali perkataan Ardian. Pria itu semakin tergelak.
“Udah, udah. Aku tahu yang barusan sama sekali
nggak lucu. Tapi aku lagi bayangin kamu gendut, apalagi sampai pakai baju
ukuran dobel xl, pasti gembul banget,”
“Itu aku dulu, Mas. Waktu masih TK.” Vanya
mengakui dirinya pernah gemuk saat masih berada di Taman Kanak-Kanak. Saat itu,
vanya mau makan apa saja selalu di perbolehkan oleh Sang Nenek yang selalu
memanjakannya, sehingga badannya perlahan menjadi gemuk. Untung saja, itu
terjadi di saat ia masih anak-anak, kalau saat ia sudah dewasa, pasti sulit
sekali untuk menurunannya, harus diet ketat.
“Makanya sekarang jaga pola makan kalau takut
gendut. Kalau aku sih, mau kamu gemuk atau langsing, rasa sayangku tidak akan
pernah berubah padamu,” Boleh di bilang gombal, tapi pernyataan itu tulus dari
dalam hati Ardian. Ia mencintai wanita itu apa adanya.
Setelah sempat mampir ke beberapa tempat, akhirnya
sampai ke depan pintu rumahnya
“Tidak masuk dulu, nak Ardian?” Mama menawarkan
calon menantunya itu untuk singgah, tapi karena hari sudah cukup malam, Ardian
lebih memilih untuk menolak.
“Maaf, Ma. Ardian lanjut saja, lain kali
mampir, sudah malam. Maaf karena pulangnya terlalu larut,” ujar Ardian sangat
sopan.
“Baiklah, Ardian. Tidak apa-apa, kalau begitu
hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mengantar Vanya dengan selamat,”
Setelah sedikit basa-basi, akhirnya Ardian
melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya. Vanya masuk ke dalam rumah,
di iringi oleh ibunya.
“Darimana saja dengan Ardian?” Selidik mamanya penasaran, mamanya tahu,
mereka berdua pasti tidak hanya melakukan pemotretan saja, hingga pulang malam.
“Kami ke rumah Thella, Ma. Keasyikan ngobrol,
sampai magrib. Lepas magrib, kami pamit pulang. Setelah itu, mampir makan,
mampir ke pasar malam sebentar, jadilah pulangnya kemalaman. Maaf, ya Ma...”
Vanya mengungkapkan rasa bersalahnya pada mamanya.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Mama hanya penasaran
saja, kalian darimana. Eh, itu martabak favorit mama?” Mama Vanya mencium bau
martabak favoritnya dari bungkusan yang Vanya bawaq.
“Iya, nih, Ma. Tadi aku sengaja beli buat mama
__ADS_1
dan papa,”
“Eh, anak papa sudah pulang. Mana Ardian?” Papa
Vanya baru saja dari kamar mandi, belum sempat melihat Ardian datang.
“Ardian sudah pulang, Pa. Tadi dia titip salam
buat papa. Memangnya papa darimana sih?” Gantian Vanya yang penasaran darimana
papanya sampai tidak menyambut kedatangannya dan juga Ardian.
“Maaf, papa tadi mules, makanya agak lama di
kamar mandi,” Papanya terkekeh.
“Makanya papa, kurangin makan pedesnya, mama
kan udah bilang, perut papa udah nggak bakalan tahan kalau di ajak makan pedes,
papa suka ngeyel, sih di bilangin,” Omel mama Vanya pada papanya yang lumayan
bandel karena suka makan pedas tetapi perutnya selalu bermasalah.
“Maaf, Ma. Habisnya kalau tidak makan pedas,
rasanya tidak tertantang. “ Bantah papanya.
“Tapi kan pa...”
“Stooooop! Udah berantemnya aduh... pusing deh
Vanya, mama sama papa setiap hari debat mulu ih, nanti kalau Vanya udah tinggal di rumah Vanya
sendiri, siapa coba, yang mau pisahin mama da papa berantem?” Protes Vanya, ia sedikit kesal karena mama
dan papanya selalu berdebat karena hal yang tidak terlalu penting. Hampir
setiap hari keduanya melakukan itu, sampai-sampai kalau keduanya tidak saling
bantah, rumah itu menjadi sepi.
“Makanya Vanya, kamu sama Ardian tidak usah
beli rumah baru, kalian tinggal saja di sini bareng mama sama papa, biar bisa
lerai kami setiap kami beradu mulut,” mama Vanya tertawa kecil. Ia sebenarnya
tidak serius berantem dengan papa Vanya, hanya saja, itu seni dalam berkasih
sayang, begitu penjelasan sang mama jika di tanya oleh Vanya. Ada-ada saja.
“Betul, Thella. Papa juga pasti sangat kangen masakan
kamu. Kalau kamu tinggal bersama Ardian,
siapa yang akan masak tempe gosong dan sayur hambar lagi, hahahaha,” Papanya
tertawa menyindir Vanya tentang hasil terburuk saat ia belajar memasak.
“Papa, jangan di ingetin lagi... malu kalau
ingat itu, tapi setidaknya Vanya sekarang sudah banyak belajar dari mama,
bagaimana memasak dengan baik dan benar.” Ujar Vanya bangga. Ia telah berhasil
memasak beberapa makanan dengan rasa yang tidak begitu mengecewakan.
Hallo, lohaaa!!!
Berjumpa lagi dengan
Author terketche di mangatoon #upsspede
Terima kasih untuk
dukungan kalian buat My Workaholic Husband, terus ikuti, jangan lupa
komentarnya...
Baca juga judul-judul
baru karyaku
1. Mendadak Nikah
2. Handsome Ghost My Love
3. Tama
Dan beberapa karyaku
yang lain, bisa di cek di profilku. Janga lupa favorit, like, juga bintang 5
nya. Komentar di cerita mana yang kamu suka, karena komentar kalian semangat
__ADS_1
untukku.
Salam hangat, AUTHOR.