
"Fall, hari ini kita mau kemana?" Thella dan Naufal tengah bersiap untuk melakukan perjalanan romantis mereka menelusuri keindahan pulau Jeju.
Baik Naufal ataupun Thella, mereka sama-sama memakai baju hangat. Meskipun cuaca tidak terlalu ekstrem, tapi mereka berjaga-jaga mengingat suhu udara di tempat itu berbeda jauh dengan di Indonesia.
"Hari ini kita akan mendaki Gunung Hallasan. Gunung tertinggi.di korea yang terletak di tengah-tengah pulau ini,"
"Apa itu tidak terlalu ekstrem?"
"Tenang saja, Thella. Gunung Hallasan mudah untuk di daki. Medannya tidak sulit. Aku pikir akan seru kalau kita melakukan pendakian ke sana. Kamu tahu, Gunung Hallasan masuk ke daftar situs warisan dunia UNESCO, pemandangannya pun indah luar biasa," Naufal bersemangat menjelaskan tentang gunung yang akan mereka daki di hari ke dua mereka ada di korea.
"Baiklah, aku sangat tertarik untuk mendaki bersamamu, Fall. Ayo kita segera berangkat," Thella sangat antusias dengan perjalanan yang akan mereka lakukan hari ini. Meskipun akan sedikit sulit, karena mereka belum pernah melakukan pendakian sebelumnya.
Dengan persiapan semaksimal mungkin mereka melakukan perjalanan menuju target kunjungan mereka pertama kali. Thella masih merasa seperti mimpi dapat menapakkan kakinya ke tempat ia berada bersama Fall saat ini.
"Thella, aku mau cerita sesuatu padamu. Tapi kamu jangan marah, ya," Naufal memulai pembicaraannya pada Thella.
"Cerita saja, aku tidak akan marah, kok." Thella tersenyum lebar, memberikan Naufal ruang untuk menceritakan apa yang ingin ia ceritakan saat itu.
"Aku dulu pernah mempunyai kenangan bersama mantan di pulau ini," Ungkap Naufal, tapi bukannya marah, Thella justru tertawa.
"Memangnya kenapa kalau kamu punya kenangan dengan mantan di pulau ini? Toh, dia sudah menjadi mantanmu, kan?" Thella memandang Naufal dengan tatapan penuh perhatian. Ia sama sekali tidak terganggu dengan adanya kisah cinta masa lalu di hidup Naufal.
Bagi Thella, setiap orang memiliki masalalu yang berbeda. Baik atau buruk, itu sudah terlewati. Asal, perbaiki diri untuk masa yang akan datang. Tidak hanya Naufal, dirinya pun punya banyak kenangan dengan seseorang.
"Aku pikir kamu akan meledak-meledak saat aku menceritakannya padamu. Tapi ternyata responmu sungguh luar biasa, kamu benar-benar berbeda." Naufal merasa sedikit terkejut saat mengetahui reaksi dari Thella saat ia menceritakan tentang mantannya.
"Naufal Ferdinand Roxy, sudah aku bilang, aku tidak sama dengan wanitamu yang dulu. Aku apa adanya, pada dasarnya memang seperti ini, Fall." Thella paham, jika sikapnya yang terlalu baik akan mudah membuat orang berbuat tidak baik padanya. Namun, rasanya ia tidak bisa menjadi orang lain, untuk saat ini.
"Benar, kamu memang berbeda,Thella. Sebuah keberuntungan menemukan dirimu." Naufal menggenggam jari jemari Thella. Saling menyalurhan hawa hangat dari tangan mereka masing-masing.
"Fall, Berapa lama kita akan di sini?"
"Terserah kamu,"
"Kok terserah aku?"
"Iya, karena perjalanan ini kan memang aku persembahkan untuk kamu. Aku ingin kamu bahagia,memuaskan masa liburan bersama, aku juga bisa memenuhi permintaan kamu untuk selalu menemani kamu 24 jam," Kalimat yang Naufal ucapkan membuat Thella tersentuh. Ia sangat merasa bahagia dengan ketersediaan Naufal meluangkan waktu untuk mewujudkan impian 24 jam bersamanya.
"Baiklah, aku tidak akan minta pulang sampai aku merasa bosan di sini. Bagaimana nanti kalau uangmu habis karena aku?" Thella meledek Naufal.
"Aku mencari uang untuk di nikmati, bukan untuk di tumpuk dan menjadi pajangan Thella. Aku sama sekali tidak keberatan untuk itu. Aku hanya berharap, semua ini dapat menebus kesalahanku yang selalu meninggalkanmu setiap hari. Setelah ini aku juga pasti akam sibuk.lagi seperti biasa, semoga kamu akan terus mengerti aku," Meskipun Naufal yakin Thella akan selalu mendukungnya, tapi ia tetap mengharap dukungan dari wanita yang ada di sampingnya itu.
"Tanpa kamu.minta, aku akan selalu mendukungmu, Fall. Aku akan menjado bagian dari setiap perjalanan karirmu. Meskipun hanya itu yang bisa aku lakukan, aku berharap kamu akan merasa cukup senang," Tepat seperti dugaannya, Thella pasti akan selalu mendukungnya.
"Terima kasih. Kamu memang benar-benar penyemangat terbaikku," Sejak kapan, Naufal tidak pernah menyadarinya. Hanya saja ia merasa kekakuan dalam dirinya sedikit memudar.
Di kantor, ia yang dulunya di segani, sekarang seperti menjadi tokoh idola. Dulu, saat ia datang, semua karyawan langsung pura-pura seperti sedang sibuk bekerja, tapi sekarang mereka lebih berani menyapa.
Kehadiran Thella dalam hidup Naufal memang membawa efek positif di dalam kehidupannya. Tentu saja, ia merasa jauh lebih baik sekarang. Saat ini, ia baru menyadari kalau sifanya selama ini sangat buruk, pantas saja tidak ada satupun wanita yang tahan menjalin hubungan dengannya.
Saat awal menikah dengan Thella saja, jiwa penyuruhnya sangat kuat. Terlebih lagi, ia suka sekali menceramahi istrinya. Meskipun itu memang sengaja di lakukannya, tapi Naufal sebenarnya merasa bersalah jika mengingat kejadian itu.
"Sama-sama. Kamu juga orang penting dalam hidupku, Naufal," Thella mengedarkan pandangannya ke luar mobil. ia ingin mengamati hal-hal baru itu untuk ia ceritakan pada Vanya, sahabatnya.
Tanpa terasa mereka sampai di tempat yang di tuju, Gunung Hallasan. Benar saja, gumung itu tidak terlalu susah untuk di daki. Hanya saja, anginnya cukup kencang dan dingin.
__ADS_1
Naufal menggandeng tangan Thella. Ia merasakann hawa dingin yang terserap tangan istrinya, Naufal merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sepasang sarung tangan dan memakaikannya pada Kedua tangan Thella.
"Kenapa tadi tidak memakai sarung tangan? Iklim di sini beda dengan di Indonesia, kamu bisa sakit karena tidak terbiasa," Omel Fall. Ia khawatir dengan keadaan Thella.
"Maaf, aku lupa Fall. Tadi sebenarnya sedah aku siapkan. Sepertinya ketinggalan di hotel. Aku akan baik-baik saja, pakailah sarung tangan ini untukmu saja," Thella jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak membuat kesalahan ini, hingga membuat Naufal menjadi Khawatir.
"Tidak. Biar aku begini saja. Kamu yang harus memakainya. Supaya kamu baik-baik saja nanti." Naufal bersikeras agar Thella tetap memakai sarung tangan itu. Mau tidak mau Thella harus menerimanya. Ia masih ingat, bahwa Naufal tidak menerima penolakan.
"Terima kasih, Naufal. Genggam erat tanganku, dan masukkan tanganmu yang lain ke dalam saku jaket agar dapat menahan rasa dinginnya."
Naufal mengikuti saran Thella dan menggenggam erat jari jemari Thella lalu memasukkan satu tangannya ke saku. Mereka memulai pendakian.
Sungguh pemandangam luar biasa. Meskipun gunung itu tidak terlalu ekstrem, tapi banyak sekali satwa dan tumbuh-tumbuan yang dapat di temui di sana.
"Kamu pernah membayangkan melakukan ini bersama seseorang?" Naufal memulai lagi berbicara, setelah beberapa saat mereka diam tanpa kata.
"Tidak pernah. Aku bahkan tidak membayangkan akan menikah secepat ini. Aku pikir aku masih akan menikmati masa lajangku beberapa tahun ke depan," Thella mengencangkan suaranya. Ia khawatir Naufal tidak akan mendengar suatanya karena tiupan angin yang lumayan kencang.
"Jadi, apa kamu menyesal menikah denganku?" Pertanyaaan Naufal membuat bola mata Thella membulat.
"Tientu saja tidak, aku sangat berbahagia karena menikah denganmu, Naufal. Jangan berpikir seperti itu. Aku kan hanya mengira. Aku justru sangat bersyukur karena dapat berjumpa dam menikah denganmu," Thella melempar senyumannya pada Naufal. Pria itu melakukan hal yang sama.
"Jadi, apa yang membuat kamu jatuh cinta padaku?" Naufal ingin mengetahui apa yang membuat gadisnya itu jatuh cinta.
"Aku mencintai sikap dinginmu, Fall. Itu yang membuatmu tampak mempesona. Kamu luar biasa. Beda dari yang lain. Daripada menggombal, kamu lebih melakukan hal-hal kecil untuk menunjukkan kepedulianmu, misalnya seperti membopongku beberapa kali saat aku tertidur di bukan tempatnya," Naufal tersenyum mengingat pertama kali ia menggendong dan memindahkan Thella, saat itu ia mencuri cium pipi wanita itu.
"Aku tidak mungkin akan tidur nyenyak saat kamu tidur sendirian di tempat yang tidak seharusnya. Justru gara-gara itu, aku jadi jatuh cinta sama kamu. Kamu ingat saat aku memelukmu saat kamu sakit, itu sebenarnya aku bingung harus berbuat apa untuk menurunkan panas tubuhmu, aku tidak pernah mengurus orang sakit."
Mendengar cerita Naufal, Thella tertawa. Padahal jelas-jelas ia tahu kepanikan lelaki itu saat ia sedikit demam dan mendramatisir agar terlihat parah. Pantas saja ia tidak tahu kalau itu pura-pura. Ia lupa kalau Naufal tidak pernah mengurus orang sakit.
"Tapi ampuh kan obat pelukanmu, paginya aku langsung sembuh. Aku merasa nyaman saat kamu memelukku. Aku pikir kamu tidak akan menyentuhku karena kamu menolak pelukanku di hari itu, saat aku memasang dasi untukmu," Thella mengenang saat pertama kali ia memasang dasi Naufal dan tanpa sengaja jatuh ke sadalam pelukan Fall untuk pertama kali juga.
"Iya, sebenarnya aku merasakan kamu memelukku. Sekalian saja aku memelukmu. Memangnya kamu.merasa rugi?" Thella membuka rahasianya sendiri saat itu.
"Kenapa rugi? Kalau orang lain, pasti aku akan rugi. Terima kasih, untuk semuanya, Thella." Saat itu, Naufal justru merasa sangat bahagia. Karena, di saat-saat itulah benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Sentuhan- msentuhan kecil di antara mereka memicu timbulnya perasaan cinta satu sama lain.
"Naufal, mungkin kalau kejadian di bar hari itu tidak terjadi, kita tidak akan seperti sekarang." Thella mengingatkan Fall dengan kejadian malam itu lagi.
"Tapi waktu itu kamu menolak untuk menikah denganku, kenapa?" Rupanya Naufal masih penasaran dengan apa alasan Thella menolaknya saat malam itu.
"Kamu pikir apa? Aneh tahu, bagaimana aku bisa percaya begitu saja pada orang asing, yang kenal saja tidak, tapi main lamar dan ngajak nikah," Sungut Thella.
"Maaf, Thella. Kamu pikir aku juga mau waktu itu? Aku juga hanya terpaksa," Naufal akhirnya mengakui kalau dia juga terpaksa melakukannya.
"Dih, terpaksa. Jadi sekarang masih terpaksa nih?" Thella mempertanyakan perasaan Naufal, meskipun ia sudah tahu jawabannya apa.
"Mana ada terpaksa tapi bulan madu segala," Naufal menatap jauh ke depan. Awalnya dia juga berpikir akan membuat jera Thella dan membuat gadis itu meninggalkannya, tapi kenyataannya justru ia jatuh hati pada Thella.
"Aku tahu, kok. Kamu tidak sejahat itu. Kamu sudah pasti benar-benar mencintai aku sekarang. Sekarang, kamu adalah tawananku,"Thella membuat Naufal tersenyum karena kalimat terakhirnya.
"Tidak masalah, aku rela kamu tawan di hatimu seumur hidupku, Thella..."
"So sweet, Baby,"
"Sudah menjadi tugasku untuk membuat kamu bahagia," Naufal sengaja balas membuat Thella tersenyum dan tentu saja tepat sasaran, Thella terpesona dengan kata-kata Naufal.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka saling balas rayuan, hingga tanpa terasa mereka sampai di puncak .
Penatnya kaki karena perjalanan yang memakan waktu lumayan lama itu tidak membuat keduanya jera. Bahkan mereka berdua tidak merasakan lelah, yang ada hanya hati yang bahagia.
"Rasanya seperti di atas awan ya, Fall?" Kabut putih memyerupai awan membuat Thella jadi berimajinasi. Ia seperti putri dari kerajaan awan yang tengah berbahagia.
"Apa.kamu suka? Coba lihat, indah bukan?" Naufal menunjukkan suatu tempat yang penuh dengan tumbuhan berwarna-warni pada Thella. Lagi-lagi wanita itu takjub di buatnya.
"Indah banget Fall, Cantik. Aku tidak menyangka, aslinya lebih bagus di bandingkan dengan Fotonya, Aku suka," Thella tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya karena dapat menikmati waktu di tempat seindah itu bersama Naufal.
"Sudah ku duga, kamu pasti akan heboh." Naufal tersenyum senang karena Thella menyukai hal-hal yang ia suguhkan. Kalau bisa, Naufal ingin memberikan lebih banyak lagi kejutan untuk Thella.
"Tentu saja, bahkan tempat ini.jika di bandingkan dengan perkebunan kopi yang pernah aku tunjukkan padamu, jauh lebih keren tempat ini. Sekali lagi terima kasih, Naufal. Kamu telah membawaku ke tempat ini." Thella tidak bisa berhenti mengucapkan terima kasih pada Naufal. Ia beruntung, mempunyai suami sepertinya.
"Terima kasih saja, terus. Aku kan sudah bilang, ini adalah kewajibanku, Thella. Aku akan merasa bersalah kalau aku tidak bisa membuatmu bahagia. Kalau bisa, aku ingin membuatmu bahagia lebih dari ini, kamu harus jadi wanita yang paling bahagia di sisiku, Thella,"
Mereka duduk berdua berdampingan. Thella menyandarkan kepalanya di bahu Naufal. Mereka berdua menikmati pemandangan yang terhampar di bawah sana dari puncak.
"Kalau aku boleh meminta, aku ingin hari ini di buat lebih lama, agar aku bisa terus menikmati keindahan alam ini, bersamamu," Ceracau Thella. Ia tidak ingin hari itu cepat berakhir.
"Aku juga sama, Aku ingin tetap seperti ini bersamamu. Rasa rinduku padamu sedikit demi sedikit bisa terobati. Kamu pikir aku saat di kantor tidak memikirkanmu? Aku juga galau tahu," Naufal tidak gengsi lagi untuk mengakui perasaannya pada wanita yang ada di sampingnya itu.
"Aku pikir hanya aku saja,"
"Apannya?"
"Yang rindu,"
"Aku juga..."
"Fall..."
"Apa?"
"Aku cimta kamu..."
"Gombal..."
"Aku serius,"
"Aku nggak percaya,"
"Terus?"
"Beliin aku rumah,"
"Ya ampun, Naufal. Ternyata kamu matre juga ya,?!" Thella mencubit pinggang Naufal, membuat pria itu meringis kesakitan karenanya.
"Habisnya, kamu nggak matre, jadi biar aku saja kalau begitu,"
"Jadi kamu suka yang matre?"
"Jika jawabannya itu kamu, aku ya. Tapi kalau selain kamu aku no!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena aku tahu, kamu nggak matre dan tulus apa adanya,"
"Ih, bisa aja deh kamu," Pipi Thella memerah. Pria dinginnya yang sekarang berubah hangat itu merangkap menjadi pria gombal yang membuatnya selalu mengembangkan senyuman.