
Naufal dan Thella sampai di rumah Thella. Sesuai keinginan
Thella, mereka berdua tinggal di rumah peninggalan orang tua Thella. Mereka
saat ini merasa lebih nyaman tinggal di rumah itu, tentu saja kehadiran mama
Naufal dan juga Vania, yang membuat mereka tidak betah tinggal di rumah mereka
sendiri.
Mereka berdua turun dari mobil, Fall merangkul mesra
pinggang Thella dan mereka masuk ke dalam rumah beriringan. Mereka tidak tahu
kalau Bibi dan Mang Diman mengamati kedatangan mereka dengan senyuman senang.
“Suami Non Thella itu
sudah tampan, kaya, penyayang lagi, beruntung sekali Non Thella mendapatkan suami seperti Den Fall. Inem jadi ngiri, Mang,” Bibi yang mengemati
mereka pun mengomentari kemesraan kedua sejoli itu.
“Kamu, mah tidak usah ngiri, Nem. Wajah kamu sama Non Thella
jauh, ibarat langit sama bumi. Jadi tidak perlu mimpi ketinggian, nanti kalau
jatuh, sakit. Makanya nikah sama saya saja, gini-gini saya kembaranya bret
pit,” Mang Diman berkelakar, Bibi pun menertawakan kalimat yang di ucapkan oleh
Mang Diman.
“Kembaran bret pit darimana, penampilan saja sudah mirip
seperti orang-orangan sawah,” Ledek Bibi sambil tertawa geli.
“Kamu mah belum tahu, pesona saya kalau saya sudah dandan
rapi. Stevan William saja kalah sama saya. Ayolah, Nem, menikah sama saya,”
Mang Diman terus berusaha menggoda Bibi. Wanita itu membawa sapu yang ada di tangannya masuk ke dalam rumah.
“Saya belum kepikiran menikah, apalagi menikahnya sama situ.
Saya harus pikir-pikir seribu kali,” Bibi berlalu sambil tertawa, sementara Mang diman memandandang kepergian
Bibi sambil senyum-senyum tidak jelas karena apa.
Sementara itu...
Thella dan Naufal sampai di kamar mereka. Thella menaruh tas
dan barang belanjaan yang semopat di belinya ke atas meja serbaguna yang ada di
kamarnya. Thella menjatuhkan diri ke atas kasurnya yang empuk. Meskipun hanya
belanja dan jalan tidak penting, tapi rasa lelah di tubuhnya sangat terpampang
nyata.
“Hari ini aktivitas kita biasa aja, tapi lelahnya luar
biasa. Apa mungkin karena aku tidak terbiasa olahraga tadi pagi, ya?” Keluh
Thella yang mengalami kelelahan tidak seperti biasanya.
“Kamu, sih. Makanya, kalau olahraga jangan terlalu berat di
hari pertama. Capek, kan jadinya?” Omel
naufal sambil memandang Thella iba.
“Aku gitu emang, suka terlalu semangat olahraga. Besok nggak
akan begini lagi deh. Sini, katanya kangen sama aku,” Thella menarik Naufal
untuk tiduran di sampingnya.
“Dih, megada-ada. Aku nggak bilang kangen kamu perasaan,” Naufal mencolek pelan ujung hidung
Thella.
“Nggak bilang juga aslinya nggak akan nolak buat deketan,
kan?” Thella menggoda Naufal.
“Tentu saja, buat apa
menolak deketan sama orang yang aku sayangi,”
“Kurang-kurangin bucin-nya, pak. Lama-lama mual dengernya,”
Ledek Thella. Suaminya itu makin ke sini makin manis perkataannya, sampai
membuat perasaan Thella jadi campur aduk.
“Bilangnya mual, padahal aslinya suka banget , kan?”
“Dih, sok tahu banget, dah.”
“Ngaku atau nggak? Atau nunggu aku pergi dulu?”
“Iya, iya. Aku ngaku deh. Aku suka gaya kamu yang manis
seperti sekarang,”
“Nah, gitu kan enak, yang tadi gimana?” Naufal teringat
kejadian di pinggir jalan tadi.
“Yang tadi? Apaan?” Thella tidak sedang pura-pura. Dia
benar-benar lupa dengan apa yang Naufal bicarakan.
“Serius , kamu nggak inget?” Naufal mencoba memancing ingatan
Thella.
“Serius, aku lupa. Apaan, sih? Coba ingetin aku. Apa yang
kamu maksud itu?” Entah mengapa Thella mendadak seperti amnesia karena tidak
ingat apa yang terjadi di jalan tadi.
“Baiklah, kalau kamu nggak ingat, aku akan mengingatkan
kamu, supaya kamu ingat kembali apa yang terjadi di jalan tadi saat kita berdua
di dalam mobil,”
“Oh, yang tadi? Aku ingat. Lalu?”
“Mana janji kamu? Katanya kamu akan mengulangnya dari awal
untukku dan di tuntaskan sampai akhir?” Naufal kembali menagih apa yang Thella
__ADS_1
janjikan.
“Yang itu? Sebenarnya itu hanya bercanda. Aku tidak
bermaksud untuk serius. Maaf, aku tidak
bisa memberikannya,” Thella menahan tawanya. Ia ingin menggoda suaminya, supaya
si tampan itu merajuk dan cemberut.
“Beraninya kamu mempermainkan aku, ya? Kalau kamu tidak mau memberikannya , biarkan
aku saja yang memintanya.” Naufal mulai beraksi, mengulang apa yang mereka lakukan di mobil
tadi.
“Fall, stop...”
“No, I can’t stop it,”
“Naufal genit...”
“Biar, itu aku yang baru...”
“Kamu yakin , mau melakukannya di siang hari seperti ini?”
Thella sengaja memberikan pertanyaan yang tidak perlu saat Naufal sudah tidak
akan mendengarkan apapun bentuk penolakannya.
“Apa bedanya siang dan malam? Hanya gelap, terang dan panas,
dingin kan? Aku maunnya sekarang,” Naufal merengek. Ia tampak sangat manja dan
imut kalau seperti ini. Membuat Thella tidak bisa untuk menolaknya.
“Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu, Fall...”
Sementara itu...
Ardian sudah kembali dari korea, ia membuat janji dengan
Vanya untuk bertemu di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari rumah Vanya. Untuk
bertemu dengan Ardian gadis itu tentu
saja tampil maksimal. Kali ini dia tidak akan menyiakan kesempatan keduanya
untuk merebut hati Ardian, sahabat sekaligus teman romantisnya saat SMA.
Karena dekatnya lokasi tempat mereka bertemu, Vanya datang
terlebih dahulu ke kafe. Diliriknya berulang kali jam tangan kulit yang
melingkar di pergelangan tangan Vanya yang kuning langsat. Ia sedikit
gelisah karena Ardian tidak juga muncul.
Untuk mengurangi kebosanannya menunggu, Vanya memakai
headphonenya dan mulai mendengarkan sebuah lagu. Harusnya ia biasa saja, karena
yang di temuinya hanya teman semasa SMA, tapi entah kenapa, yang ada hati
semakin tidak menentu saat dia membayangkan Ardian datang.
“Maaf telat, macet parah... ternyata masih sama seperti
kemarin, kamu...” Ardian mendadak kelu
saat melihat ke arah wajah Vanya. Teman sekolahnya
dulu menyukai Vanya, jadi pertemuan yang lama membuat gadis itu semakin menarik
di mata Ardian.
“Nggak masalah, Ardian...” Vanya segera melepas earphone
yang ada di telinganya. Benar kata Thella, sahabatnya itu kini tampak jauh
lebih tampan. Kulitnya yang dulu gelap, kini berubah lebih terang.
“A..apa kabar? Sudah lama, ya. Apa kesibukan kamu sekarang?”
Ardian tampak sedikit
salah tingkah di hadapan Vanya.
“ Kabarku baik, iya, sejak lulus, baru sekarag kita bertemu.
Aku bisnis olshop, kamu sendiri?” Sebenarnya Vanya grogi karena harus bicara
dengan orang yang telah membuatnya jatuh hati sejak lama. Pernyataan Thella
tentang pertanyaan Ardian membuatnya seperti memiliki harapan untuk bisa
bersatu dengan pria yang ada di hadapannya itu.
“Aku nerusin bisnis keluarga, meskipun aku sebenarnya tidak terlalu
tertarik melakoninya,”
“Seingetku, kamu dulu ingin masuk fakultas kedokteran, kan?”
“Itu dia, papaku tidak mengizinkan aku kuliah kedokteran. Mau
tidak mau aku harus kuliah dengan jurusan pilihan papa.”
“Wah, sayang sekali, Ardian. Padahal kamu pinter, cocok lagi
jadi dokter. Kalau kamu yang jadi
dokternya pasti ngantri pasiennya, terus
pasien kamu pasti rata-rata perempuan”
“Kenapa bisa gitu?”
“Abis, kamu ganteng, sih...”
“Bagi kamu kan semua pria memang ganteng, terutama oppa-oppa favoritmu itu. Aku mana
masuk ke dalam kriteria cowok gantengmu,” Ardian memainkan gantungan kuncinya
yang berbentuk kuda laut.
“Siapa bilang? Aku dari dulu sudah mencantumkan kamu sebagai
kriteria cowok idamanku, kamu aja yang nggak sadar,” Vanya memberi kode pada Ardiankalau ia
menyukai lelaki itu.
“Serius? Nanti php lagi, kamu?”
“Lima rius malahan, memangnya aku terlihat seperti sedang
__ADS_1
bercanda?”
“Nggak juga sih, cuma pengen memastikan kalau kamu serius, mau pesen makanan apa ini? Nggak afdol kalau
ngobrol tanpa makanan dan minuman,” Ardian tringat, mereka belum pesan makanan.
“Apa aja deh, samain sama kamu...”
“Kebiasaan ya, dari dulu. Kalau mesen makanan harus gitu,
samaan menunya sama aku?”
“Udah kebiasaan soalnya, karena selera kita selalu sama. Kamu
serius belum punya pacar?”
“Kenapa sih?Nggak percaya juga aku ini jomblo?”
“Mana ada
jomblo ganteng?”
“Emang
orang jomblo nggak boleh kalau ganteng?
“Boleh,
sih. Tapi seharusnya kalau ganteng, nggak jomblo...”
“Baiklah,
biar nggak jomblo lagi, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Eh, kamu
bilang apa?”
“Kesempatan
nggak datang dua kali, mau atau nggak?”
“Baiklah,
aku bersedia,”
“Bersedia
untuk apa?”
“Jadi pacar
kamu, dong,”
Ardian
akhirnya bisa memenangkan hati Vanya. Ia
tidak akan menyiakan kesempatan ini. Dalam
waktu dekat ia akan segera melamar Vanya dan menjadikan gadis itu sebagai
istrinya. Sejak pertemuan mereka di masa putih abu, keduanya sudah saling
tertarik, namun pada masa itu, Vanya tidak
ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
“Baiklah,
kita resmi pacaran sekarang, lalu kenapa dulu kamu menolakku?”
“Dulu kita
masih sekolah Ardian, menurutku tidak etis saja, seusia kita saat itu
berpacaran, “
“Benar juga
sih, jadi... kapan kamu mau aku lamar?”
“Eh,
pertanyaannya serius?” Vanya sedikit
terkejut sampai matanya membulat karena tidak percaya Ardian akan membahas soal
lamaran secepat itu.
“Serius,
aku tidak pernah bercanda soal hubungan. Kita sudah saling dewasa, apa lagi
yang mau di tunggu,” Ardian tampak
serius, pria itu menatap kedua bola mata
Vanya saat berbicara.
“Aku boleh
minta waktu satu bulan lagi?”
“Satu
bulan? Oke, bolehlah. Sebentar, aku pesenin makanan buat kita ya, abis ini kita sambung lagi pembicaraan kita,”
“Baiklah,”
Vanya memandang
Ardian yang menjauh darinya. Ia masih tidak percaya sahabatnya itu kini sudah
menjadi kekasihnya, bahkan mereka sudah akan menjadi calon suami istri.
Ardian memang
bukan tipe lelaki yang mudah berpindah hati, meskipun saat itu Vanya
menolaknya, siapa yang tahu, lelaki itu
bertahan hingga saat ini dan akhirnya bisa mendapatkan hati Vanya.
Tentu saja
kabar gembira ini akan Vanya bagi pada sahabatnya, Thella. Membahas tentang
dia, Vanya jadi ingat tentang pertengkaran sahabatnya dengan sang suami. Vanya berharap keduanya cepat
baikan.
“Memang
sepertinya rumah tangga tidak selalu manis, selalu ada saja masalah yang harus
__ADS_1
di hadapi. Semoga kelak setelah menikah, aku dan Ardian bisa melewati semua
masalah dengan baik,” Vanya berkata lirih seorang diri.