My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 44


__ADS_3

Naufal dan Thella sampai di rumah Thella. Sesuai keinginan


Thella, mereka berdua tinggal di rumah peninggalan orang tua Thella. Mereka


saat ini merasa lebih nyaman tinggal di rumah itu, tentu saja kehadiran mama


Naufal dan juga Vania, yang membuat mereka tidak betah tinggal di rumah mereka


sendiri.


Mereka berdua turun dari mobil, Fall merangkul mesra


pinggang Thella dan mereka masuk ke dalam rumah beriringan. Mereka tidak tahu


kalau Bibi dan Mang Diman mengamati kedatangan mereka dengan senyuman senang.


“Suami  Non Thella itu


sudah tampan, kaya, penyayang lagi, beruntung  sekali Non Thella mendapatkan suami seperti Den Fall.  Inem jadi ngiri, Mang,” Bibi yang mengemati


mereka pun mengomentari kemesraan kedua sejoli itu.


“Kamu, mah tidak usah ngiri, Nem. Wajah kamu sama Non Thella


jauh, ibarat langit sama bumi. Jadi tidak perlu mimpi ketinggian, nanti kalau


jatuh, sakit. Makanya nikah sama saya saja, gini-gini saya kembaranya bret


pit,” Mang Diman berkelakar, Bibi pun menertawakan kalimat yang di ucapkan oleh


Mang Diman.


“Kembaran bret pit darimana, penampilan saja sudah mirip


seperti  orang-orangan sawah,”  Ledek Bibi sambil tertawa geli.


“Kamu mah belum tahu, pesona saya kalau saya sudah dandan


rapi. Stevan William saja kalah sama saya. Ayolah, Nem, menikah sama saya,”


Mang Diman terus berusaha menggoda Bibi.  Wanita itu membawa sapu yang ada di tangannya masuk ke dalam rumah.


“Saya belum kepikiran menikah, apalagi menikahnya sama situ.


Saya harus pikir-pikir seribu kali,”  Bibi berlalu sambil tertawa, sementara Mang diman memandandang kepergian


Bibi sambil senyum-senyum tidak jelas karena apa.


Sementara itu...


Thella dan Naufal sampai di kamar mereka. Thella menaruh tas


dan barang belanjaan yang semopat di belinya ke atas meja serbaguna yang ada di


kamarnya. Thella menjatuhkan diri ke atas kasurnya yang empuk. Meskipun hanya


belanja dan jalan tidak penting, tapi rasa lelah di tubuhnya sangat terpampang


nyata.


“Hari ini aktivitas kita biasa aja, tapi lelahnya luar


biasa. Apa mungkin karena aku tidak terbiasa olahraga tadi pagi, ya?” Keluh


Thella yang mengalami kelelahan tidak seperti biasanya.


“Kamu, sih. Makanya, kalau olahraga jangan terlalu berat di


hari pertama.  Capek, kan jadinya?” Omel


naufal sambil memandang Thella iba.


“Aku gitu emang, suka terlalu semangat olahraga. Besok nggak


akan begini lagi deh. Sini, katanya kangen sama aku,” Thella menarik Naufal


untuk tiduran di sampingnya.


“Dih, megada-ada. Aku  nggak bilang kangen kamu perasaan,” Naufal mencolek pelan ujung hidung


Thella.


“Nggak bilang juga aslinya nggak akan nolak buat deketan,


kan?”  Thella menggoda Naufal.


“Tentu saja,  buat apa


menolak deketan sama orang yang aku sayangi,”


“Kurang-kurangin bucin-nya, pak. Lama-lama mual dengernya,”


Ledek Thella. Suaminya itu makin ke sini makin manis perkataannya, sampai


membuat perasaan Thella jadi campur aduk.


“Bilangnya mual, padahal aslinya suka banget , kan?”


“Dih, sok tahu banget, dah.”


“Ngaku atau nggak? Atau nunggu aku pergi dulu?”


“Iya, iya. Aku ngaku deh. Aku suka gaya kamu yang manis


seperti sekarang,”


“Nah, gitu kan enak, yang tadi gimana?” Naufal teringat


kejadian di pinggir jalan tadi.


“Yang tadi? Apaan?” Thella tidak sedang pura-pura. Dia


benar-benar lupa dengan apa yang Naufal bicarakan.


“Serius , kamu nggak inget?” Naufal mencoba memancing ingatan


Thella.


“Serius, aku lupa. Apaan, sih? Coba ingetin aku. Apa yang


kamu maksud itu?” Entah mengapa Thella mendadak seperti amnesia karena tidak


ingat apa yang terjadi di jalan tadi.


“Baiklah, kalau kamu nggak ingat, aku akan mengingatkan


kamu, supaya kamu ingat kembali apa yang terjadi di jalan tadi saat kita berdua


di dalam mobil,”


“Oh, yang tadi? Aku ingat. Lalu?”


“Mana janji kamu? Katanya kamu akan mengulangnya dari awal


untukku dan di tuntaskan sampai akhir?” Naufal kembali menagih apa yang Thella

__ADS_1


janjikan.


“Yang itu? Sebenarnya itu hanya bercanda. Aku tidak


bermaksud  untuk serius. Maaf, aku tidak


bisa memberikannya,” Thella menahan tawanya. Ia ingin menggoda suaminya, supaya


si tampan itu merajuk dan cemberut.


“Beraninya kamu mempermainkan aku, ya?  Kalau kamu tidak mau memberikannya , biarkan


aku saja yang memintanya.” Naufal mulai beraksi,  mengulang apa yang mereka lakukan di mobil


tadi.


“Fall, stop...”


“No, I can’t stop it,”


“Naufal  genit...”


“Biar, itu aku yang baru...”


“Kamu yakin , mau melakukannya di siang hari seperti ini?”


Thella sengaja memberikan pertanyaan yang tidak perlu saat Naufal sudah tidak


akan mendengarkan apapun bentuk penolakannya.


“Apa bedanya siang dan malam? Hanya gelap, terang dan panas,


dingin kan? Aku maunnya sekarang,” Naufal merengek. Ia tampak sangat manja dan


imut kalau seperti ini. Membuat Thella tidak bisa untuk menolaknya.


“Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu, Fall...”


Sementara itu...


Ardian sudah kembali dari korea, ia membuat janji dengan


Vanya untuk bertemu di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari rumah Vanya. Untuk


bertemu dengan  Ardian gadis itu tentu


saja tampil maksimal. Kali ini dia tidak akan menyiakan kesempatan keduanya


untuk merebut hati Ardian, sahabat sekaligus teman romantisnya saat SMA.


Karena dekatnya lokasi tempat mereka bertemu, Vanya datang


terlebih dahulu ke kafe. Diliriknya berulang kali jam tangan kulit yang


melingkar di pergelangan tangan Vanya yang kuning langsat. Ia sedikit


gelisah  karena Ardian tidak juga muncul.


Untuk mengurangi kebosanannya menunggu, Vanya memakai


headphonenya dan mulai mendengarkan sebuah lagu. Harusnya ia biasa saja, karena


yang di temuinya hanya teman semasa SMA, tapi entah kenapa, yang ada hati


semakin tidak menentu saat dia membayangkan Ardian datang.


“Maaf telat, macet parah... ternyata masih sama seperti


kemarin,  kamu...” Ardian mendadak kelu


saat melihat ke arah wajah Vanya.  Teman sekolahnya


dulu menyukai Vanya, jadi pertemuan yang lama membuat gadis itu semakin menarik


di mata Ardian.


“Nggak masalah, Ardian...” Vanya segera melepas earphone


yang ada di telinganya. Benar kata Thella, sahabatnya itu kini tampak jauh


lebih tampan. Kulitnya yang dulu gelap, kini berubah lebih terang.


“A..apa kabar? Sudah lama, ya. Apa kesibukan kamu sekarang?”


Ardian tampak sedikit


salah tingkah di hadapan Vanya.


“ Kabarku baik, iya, sejak lulus, baru sekarag kita bertemu.


Aku bisnis olshop, kamu sendiri?” Sebenarnya Vanya grogi karena harus bicara


dengan orang yang telah membuatnya jatuh hati sejak lama. Pernyataan Thella


tentang pertanyaan Ardian membuatnya seperti memiliki harapan untuk bisa


bersatu dengan pria yang ada di hadapannya itu.


“Aku nerusin bisnis keluarga,  meskipun aku sebenarnya tidak terlalu


tertarik melakoninya,”


“Seingetku, kamu dulu ingin masuk fakultas kedokteran, kan?”


“Itu dia, papaku tidak mengizinkan aku kuliah kedokteran. Mau


tidak mau aku harus kuliah dengan jurusan pilihan papa.”


“Wah, sayang sekali, Ardian. Padahal kamu pinter, cocok lagi


jadi dokter.  Kalau kamu yang jadi


dokternya  pasti ngantri pasiennya, terus


pasien kamu pasti rata-rata perempuan”


“Kenapa bisa gitu?”


“Abis, kamu ganteng, sih...”


“Bagi kamu kan semua pria memang ganteng,  terutama oppa-oppa favoritmu itu. Aku mana


masuk ke dalam kriteria cowok gantengmu,” Ardian memainkan gantungan kuncinya


yang berbentuk kuda laut.


“Siapa bilang? Aku dari dulu sudah mencantumkan kamu sebagai


kriteria cowok idamanku, kamu aja yang nggak sadar,”  Vanya memberi kode pada Ardiankalau ia


menyukai lelaki itu.


“Serius? Nanti php lagi, kamu?”


“Lima rius malahan, memangnya aku terlihat seperti sedang

__ADS_1


bercanda?”


“Nggak juga sih, cuma pengen memastikan kalau kamu serius,  mau pesen makanan apa ini? Nggak afdol kalau


ngobrol tanpa makanan dan minuman,” Ardian tringat, mereka belum pesan makanan.


“Apa aja deh, samain sama kamu...”


“Kebiasaan ya, dari dulu. Kalau mesen makanan harus gitu,


samaan menunya sama aku?”


“Udah kebiasaan soalnya, karena selera kita selalu sama. Kamu


serius belum punya pacar?”


“Kenapa sih?Nggak percaya juga aku ini jomblo?”


“Mana ada


jomblo ganteng?”


“Emang


orang jomblo nggak boleh kalau ganteng?


“Boleh,


sih. Tapi seharusnya kalau ganteng, nggak jomblo...”


“Baiklah,


biar nggak jomblo lagi, kamu mau nggak jadi pacar aku?”


“Eh, kamu


bilang apa?”


“Kesempatan


nggak datang dua kali, mau atau nggak?”


“Baiklah,


aku bersedia,”


“Bersedia


untuk apa?”


“Jadi pacar


kamu, dong,”


Ardian


akhirnya bisa memenangkan hati  Vanya. Ia


tidak akan menyiakan kesempatan  ini. Dalam


waktu dekat ia akan segera melamar Vanya dan menjadikan gadis itu sebagai


istrinya. Sejak pertemuan mereka di masa putih abu, keduanya sudah saling


tertarik, namun  pada masa itu, Vanya tidak


ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan siapapun.


“Baiklah,


kita resmi pacaran sekarang, lalu kenapa dulu kamu menolakku?”


“Dulu kita


masih sekolah Ardian, menurutku tidak etis saja, seusia kita saat itu


berpacaran, “


“Benar juga


sih, jadi... kapan kamu mau aku lamar?”


“Eh,


pertanyaannya serius?”  Vanya sedikit


terkejut sampai matanya membulat karena tidak percaya Ardian akan membahas soal


lamaran secepat itu.


“Serius,


aku tidak pernah bercanda soal hubungan. Kita sudah saling dewasa, apa lagi


yang mau di tunggu,”  Ardian tampak


serius,  pria itu menatap kedua bola mata


Vanya saat berbicara.


“Aku boleh


minta waktu satu bulan lagi?”


“Satu


bulan? Oke, bolehlah. Sebentar, aku pesenin makanan buat kita ya,  abis ini kita sambung lagi pembicaraan kita,”


“Baiklah,”


Vanya memandang


Ardian yang menjauh darinya. Ia masih tidak percaya sahabatnya itu kini sudah


menjadi kekasihnya, bahkan mereka sudah akan menjadi calon suami istri.


Ardian memang


bukan tipe lelaki yang mudah berpindah hati, meskipun saat itu Vanya


menolaknya,  siapa yang tahu, lelaki itu


bertahan hingga saat ini dan akhirnya bisa mendapatkan hati Vanya.


Tentu saja


kabar gembira ini akan Vanya bagi pada sahabatnya, Thella. Membahas tentang


dia, Vanya jadi ingat tentang pertengkaran   sahabatnya  dengan  sang suami. Vanya berharap keduanya cepat


baikan.


“Memang


sepertinya rumah tangga tidak selalu manis, selalu ada saja masalah yang harus

__ADS_1


di hadapi. Semoga kelak setelah menikah, aku dan Ardian bisa melewati semua


masalah dengan baik,” Vanya berkata lirih seorang diri.


__ADS_2