
“Bos, papa bos sudah datang, apakah dia harus menunggu di lobi, atau di izinkan masuk ke ruangan
ini?”
“Dia papaku, bukan tamu, jadi
suruh saja dia masuk, terima kasih infonya,”
“Baik, Bos,”
Orang kepercayaan Naufal itu
segera pergi dari hadapannya. Thella dan Naufal bersiap menyambut kedatangan papa mereka. Thella sedikit gugup
karena ini kali kedua ia bertemu dengan papa mertuanya. Sebelumnya, saat mereka
menikah bertemu hanya sekilas karena segera di boyong oleh Naufal ke rumahnya.
Naufal sendiri sebenarnya tidak
begitu dekat dengan papanya. Setiap bersama beberapa kali, mereka hanya saling
diam dan sibuk mengurus urusan masing-masing. Dia yang caggung pada papanya,
juga sebaliknya, papanya yang tidak terbuka terhadapnya.
Cklek...
Suara gagang pintu di tarik oleh
seseorang , membuat Naufal dan Thella menengok bersamaan ke arah pintu. Seorang
lelaki berwajah mirip dengan Naufal versi setengah baya, muncul dengan senyum merekah.
“Fall, menantu, senang sekali
bisa bertemu kalian. Maaf sedikit telat, biasa, macet sekali,”
“Selamat datang, Papa,” Naufal
mencium tangan papanya.
“Selamat datang, Papa,” Thella
melakukan hal yang sama yang di lakukan oleh Naufal.
“Senang sekali, kalian berdua
tampak sangat sehat, bagaimana
perusahaan Fall? Lancar?”
“Lancar, Pa. Hanya saja sekarang
Fall harus mengurangi waktu kerja, karena Fall sudah menikah,”
“Bagus, Papa setuju. Jangan
terlalu kebanyakan bekerja, itu tidak baik. Selama ini kamu sudah bekerja cukup keras.
Papa pikir, uangmu cukup untuk hidup dalam sepuluh tahun ke depan tanpa
bekerja,”
“Papa terlalu berlebihan, mana
ada uang akan bertahan lama saat kita tidak bekerja. Aku tidak bisa hidup
seperti itu, Pa. Aku tetap ingin hidup normal seperti diriku yang biasanya,”
“Jadi, kamu pikir, hidup tanpa
bekerja atau sedikit bekerja itu, tidak normal?”
“Begitulah, Pa. Aku belum bisa
seperti itu dan sepertinya tidak akan bisa,”
“Kamu memang benar-benar anak
Papa, tidak biisa hidup tanpa bekerja,”
“Mau bagaimana lagi, tentu saja
buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Jawab Fall enteng. Yang di katakannya memang benar,
kepandaiannya dalam berbisnis adalah sifat turunan dari sang ayah.
“Kamu harus sabar menghadapi
Fall, Menantu. Karena anakku ini sudah terlanjur tertular sikapku yang tidak
bisa untuk tidak bekerja,”
“Tentu saja, Papa. Aku sudah
menerima Fall apa adanya,”
__ADS_1
“Wah, beruntung sekali kamu,
Fall. Sepertinya istrimu ini sangat mencintai dan menyayangi kamu,”
“Memang dia istri yang terbaik,
Pa. Aku benar-benar beruntung memiliki dia,” Ia ingin menunjukkan pada papanya
bagaimana ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Thella. Dia seorang gadis
sederhana yang mampu menarik perhatiannya.
“Papa tahu itu, dia tampak
berbeda dengan mantan-mantanmu di masalalu. Thella, coba ceritakan, bagaimana
kalian bertemu, mengapa anak papa yang digin seperti es ini, menikah degan
mendadak,”
Papa Naufal rupanya penasaran,
bagaimana putranya bertemu dengan menantunya itu. Menurut papanya, kisah cinta
Naufal terbilang unik. Mungkin karena mendadak putranya menikah setelah
beberapa saat di tinggal kekasihnya bertunangan.
“Baiklah, Pa. Aku akan
menceritakannya. Sebelumnya aku akan membuatkan kopi untuk papa. Papa sepertinya lelah. Jika sambil ngopi,
obrolan kita pasti akan menarik, Pa,”
“Baiklah, Thella. Idemu sangat
bagus. Papa juga agak sedikit mengantuk, mungkin dengan minum kopi, kesadaran papa akan meningkat,”
Thella segera membuatkan papa
mertuanya secangkir kopi, begitupula dengan Naufal. Kedua bapak dan anak itu
duduk berdampingan. Sementara Thella berada di hadapan mereka
berdua.
“Ayo, ceritakan Thella bagaimana
kamu bertemu dengan putraku ini,”
“Fall, kamu tidak usah ikut
campur, ini urusan papa dengan menantu kesayangan papa. Sudah, jangan hiraukan
dia Thella dan mulailah bercerita,”
“Baiklah, Papa, aku akan
bercerita, bagaimana awalnya, aku bertemu dengan Naufal. Agak sedikit konyol
dan menggelikan. Aku harap papa tidak tertawa saat mendengarkan ceritaku,”
“Ahahaha, tentu saja tidak. Jika
itu lucu dan membuatku tertawa, berarti aku malah terhibur dengan ceritamu.
Sama dengan Naufal, aku ini peggila kerja, jarang sekali mendengarkan cerita,
apalagi cerita lucu,”
“Papa, tapi kisah hidup Fall,
bukan cerita lucu,”
“Sudah, jangan protes. Papa minta
istrimu bercerita tapi kenapa kamu yang banyak alasan,”
“Aduh, kenapa papa dan Fall
berdebat, Thella kapan mulai ceritanya?”
“Sekarang saja, Thella,”
Naufal hanya bisa pasrah karena
ia tahu tidak akan menang jika melawan papanya.
“Jadi, aku sama Naufal bertemu di
pesta ulangtahun teman di Bar, Pa,”
“Di Bar? Terus...”
“Iya, di Bar. Terus tiba-tiba
Naufal datang padaku, dia nanya gini pa, Thella, itu namamu? Aku jawab, iya,
__ADS_1
ada apa? Lalu Fall bilang gini, jadilah pengantinku, kan aku kaget pa, aku aja
nggak kenal siapa dia, tiba-tiba dia datang dan mengajak menikah,”
“Ahahaha, Fall seperti itu saat
melamarmu? Apa bocah ini sableng?! Tidak ada romantis-romantisnya. Ayo, kamu
jelasin Fall, kenapa kamu melamar Thella dengan begitu tiba-tiba bahkan kalian
belum saling mengenal?” Papa Naufal
berbalik memberikan pertanyaan pada anaknya.
“Waktu itu, aku main permainan
truth or dare Pa, tantangannya aku harus melamar Thella. Soalnya temen mainku
itu ternyata teman sekolahnya Thella,”
“Astaga! Jadi kamu melamar Thella
gara-gara main game? Apa kamu pikir pernikahan itu seperti lotre? Untung saja
Thella ini perempuan baik-baik, bagaimana kalau kamu bertemu dengan wanita
matre, bisa habis hartamu di gasak,”
“Itulah hal yang tidak
terpikirkan olehku, Pa. Untung saja aku bertemu dengan Thella. Kalau tidak,
entah apa nasibku,”
“thella, lalu mengapa kamu akhirnya mau menerima lamaran Naufal yang
dadakan itu?”
“Dia mengancam aku, Pa. Kalau aku
menolak, dia akan membuat hidupku berantakan aku kan jadi takut dan berpikir
harus menerima menikah dengan dia,”
“Lah, gendeng bocah iki. Apa maksudmu
mengancam seperti itu? Ayo jelaskan...”
“Itu karena, saat pertama kali
aku melihat dia, aku tertarik, Pa. Karena dia cantik. Coba papa lihat, dia
cantik, kan?”
“Baiklah, alasamu masuk akal. Thella
memang cantik, tapi seharusnya kamu tidak seceroboh itu. Tapi papa senang,
karena pernikahan kalian bertahan sampai saat ini. Papa harap, pernikahan
kalian bisa bertahan sampai akhir,”
“Terima kasih atas do’anya,
Pa. Aku sangat senang bisa bertemu
dengan papa mertua, ternyata papa orangnya sangat humoris sekali. “
“Papa juga senang, bisa bertemu
dan berbincang denganmu, Thella. Sayangnya, papa tidak bisa lama. Hanya dua
hari saja, pekerjaan papa sangat banyak,”
“Papa belum berencana untuk
pensiun?”
“Belum, Thella. Papa masih ingin
berkarya, mungkinbeberapa tahun lagi, baru akan Papa pikirkan masalah pensiun
itu,”
“Sungguh, kalian tidak ada
bedanya, sama-sama penggila kerja.”
“Tentu saja, kami berdua adalah
master dalam hal pekerjaan, kamu sendiri baru akan paham setelah menjadi
seperti kami,”
Meskipun begitu, tidak ada niat
sedikitpun di hati Thella untuk menjadi seorang workaholik.
__ADS_1