My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 59


__ADS_3

“Bos,  papa bos sudah datang, apakah  dia harus menunggu  di lobi, atau di izinkan masuk ke ruangan


ini?”


“Dia papaku, bukan tamu, jadi


suruh saja dia masuk, terima kasih infonya,”


“Baik, Bos,”


Orang kepercayaan Naufal itu


segera pergi dari hadapannya. Thella dan Naufal bersiap menyambut  kedatangan papa mereka. Thella sedikit gugup


karena ini kali kedua ia bertemu dengan papa mertuanya. Sebelumnya, saat mereka


menikah bertemu hanya sekilas karena segera di boyong oleh Naufal ke rumahnya.


Naufal sendiri sebenarnya tidak


begitu dekat dengan papanya. Setiap bersama beberapa kali, mereka hanya saling


diam dan sibuk mengurus urusan masing-masing. Dia yang caggung pada papanya,


juga sebaliknya, papanya yang tidak terbuka terhadapnya.


Cklek...


Suara gagang pintu di tarik oleh


seseorang , membuat Naufal dan Thella menengok bersamaan ke arah pintu. Seorang


lelaki berwajah mirip dengan Naufal versi  setengah baya, muncul dengan senyum merekah.


“Fall, menantu, senang sekali


bisa bertemu kalian. Maaf sedikit telat, biasa, macet sekali,”


“Selamat datang, Papa,” Naufal


mencium tangan papanya.


“Selamat datang, Papa,” Thella


melakukan hal yang sama yang di lakukan oleh Naufal.


“Senang sekali, kalian berdua


tampak sangat sehat,  bagaimana


perusahaan Fall? Lancar?”


“Lancar, Pa. Hanya saja sekarang


Fall harus mengurangi waktu kerja, karena Fall sudah menikah,”


“Bagus, Papa setuju. Jangan


terlalu kebanyakan bekerja, itu tidak baik.  Selama ini kamu sudah bekerja cukup keras.


Papa pikir, uangmu cukup untuk hidup dalam sepuluh tahun ke depan tanpa


bekerja,”


“Papa terlalu berlebihan, mana


ada uang akan bertahan lama saat kita tidak bekerja. Aku tidak bisa hidup


seperti itu, Pa. Aku tetap ingin hidup normal seperti diriku yang biasanya,”


“Jadi, kamu pikir, hidup tanpa


bekerja atau sedikit bekerja itu, tidak normal?”


“Begitulah, Pa. Aku belum bisa


seperti itu dan sepertinya tidak akan bisa,”


“Kamu memang benar-benar anak


Papa, tidak biisa hidup tanpa bekerja,”


“Mau bagaimana lagi, tentu saja


buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Jawab Fall enteng.  Yang di katakannya memang benar,


kepandaiannya dalam berbisnis adalah sifat turunan dari sang ayah.


“Kamu harus sabar menghadapi


Fall, Menantu. Karena anakku ini sudah terlanjur tertular sikapku yang tidak


bisa untuk tidak bekerja,”


“Tentu saja, Papa. Aku sudah


menerima Fall apa adanya,”

__ADS_1


“Wah, beruntung sekali kamu,


Fall. Sepertinya istrimu ini sangat mencintai dan menyayangi kamu,”


“Memang dia istri yang terbaik,


Pa. Aku benar-benar beruntung memiliki dia,” Ia ingin menunjukkan pada papanya


bagaimana ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Thella. Dia seorang gadis


sederhana yang mampu menarik perhatiannya.


“Papa tahu itu, dia tampak


berbeda dengan mantan-mantanmu di masalalu. Thella, coba ceritakan, bagaimana


kalian bertemu, mengapa anak papa yang digin seperti es ini, menikah degan


mendadak,”


Papa Naufal rupanya penasaran,


bagaimana putranya bertemu dengan menantunya itu. Menurut papanya, kisah cinta


Naufal terbilang unik. Mungkin karena mendadak putranya menikah setelah


beberapa saat di tinggal kekasihnya bertunangan.


“Baiklah, Pa. Aku akan


menceritakannya. Sebelumnya aku akan membuatkan kopi untuk papa.  Papa sepertinya lelah. Jika sambil ngopi,


obrolan kita pasti akan menarik, Pa,”


“Baiklah, Thella. Idemu sangat


bagus. Papa juga agak sedikit mengantuk, mungkin dengan minum kopi,  kesadaran papa akan meningkat,”


Thella segera membuatkan papa


mertuanya secangkir kopi, begitupula dengan Naufal. Kedua bapak dan anak itu


duduk berdampingan. Sementara  Thella  berada di hadapan mereka


berdua.


“Ayo, ceritakan Thella bagaimana


kamu bertemu dengan putraku ini,”


“Fall, kamu tidak usah ikut


campur, ini urusan papa dengan menantu kesayangan papa. Sudah, jangan hiraukan


dia Thella dan mulailah bercerita,”


“Baiklah, Papa, aku akan


bercerita, bagaimana awalnya, aku bertemu dengan Naufal. Agak sedikit konyol


dan menggelikan. Aku harap papa tidak tertawa saat mendengarkan ceritaku,”


“Ahahaha, tentu saja tidak. Jika


itu lucu dan membuatku tertawa, berarti aku malah terhibur dengan ceritamu.


Sama dengan Naufal, aku ini peggila kerja, jarang sekali mendengarkan cerita,


apalagi cerita lucu,”


“Papa, tapi kisah hidup Fall,


bukan cerita lucu,”


“Sudah, jangan protes. Papa minta


istrimu bercerita tapi kenapa kamu yang banyak alasan,”


“Aduh, kenapa papa dan Fall


berdebat, Thella kapan mulai ceritanya?”


“Sekarang saja, Thella,”


Naufal hanya bisa pasrah karena


ia tahu tidak akan menang jika melawan papanya.


“Jadi, aku sama Naufal bertemu di


pesta ulangtahun teman di Bar, Pa,”


“Di Bar? Terus...”


“Iya, di Bar. Terus tiba-tiba


Naufal datang padaku, dia nanya gini pa, Thella, itu namamu? Aku jawab, iya,

__ADS_1


ada apa? Lalu Fall bilang gini, jadilah pengantinku, kan aku kaget pa, aku aja


nggak kenal siapa dia, tiba-tiba dia datang dan mengajak menikah,”


“Ahahaha, Fall seperti itu saat


melamarmu? Apa bocah ini sableng?! Tidak ada romantis-romantisnya. Ayo, kamu


jelasin Fall, kenapa kamu melamar Thella dengan begitu tiba-tiba bahkan kalian


belum saling mengenal?”  Papa Naufal


berbalik memberikan pertanyaan pada anaknya.


“Waktu itu, aku main permainan


truth or dare Pa, tantangannya aku harus melamar Thella. Soalnya temen mainku


itu ternyata teman sekolahnya  Thella,”


“Astaga! Jadi kamu melamar Thella


gara-gara main game? Apa kamu pikir pernikahan itu seperti lotre? Untung saja


Thella ini perempuan baik-baik, bagaimana kalau kamu bertemu dengan wanita


matre, bisa habis hartamu di gasak,”


“Itulah hal yang tidak


terpikirkan olehku, Pa. Untung saja aku bertemu dengan Thella. Kalau tidak,


entah apa nasibku,”


“thella, lalu mengapa kamu  akhirnya mau menerima lamaran Naufal yang


dadakan itu?”


“Dia mengancam aku, Pa. Kalau aku


menolak, dia akan membuat hidupku berantakan aku kan jadi takut dan berpikir


harus menerima menikah dengan dia,”


“Lah, gendeng bocah iki. Apa maksudmu


mengancam seperti itu? Ayo jelaskan...”


“Itu karena, saat pertama kali


aku melihat dia, aku tertarik, Pa. Karena dia cantik. Coba papa lihat, dia


cantik, kan?”


“Baiklah, alasamu masuk akal. Thella


memang cantik, tapi seharusnya kamu tidak seceroboh itu. Tapi papa senang,


karena pernikahan kalian bertahan sampai saat ini. Papa harap, pernikahan


kalian bisa bertahan sampai akhir,”


“Terima kasih atas do’anya,


Pa.  Aku sangat senang bisa bertemu


dengan papa mertua, ternyata papa orangnya sangat humoris sekali. “


“Papa juga senang, bisa bertemu


dan berbincang denganmu, Thella. Sayangnya, papa tidak bisa lama. Hanya dua


hari saja, pekerjaan papa sangat banyak,”


“Papa belum berencana untuk


pensiun?”


“Belum, Thella. Papa masih ingin


berkarya, mungkinbeberapa tahun lagi, baru akan Papa pikirkan masalah pensiun


itu,”


“Sungguh, kalian tidak ada


bedanya, sama-sama penggila kerja.”


“Tentu saja, kami berdua adalah


master dalam hal pekerjaan, kamu sendiri baru akan paham setelah menjadi


seperti kami,”


Meskipun begitu, tidak ada niat


sedikitpun di hati Thella untuk menjadi seorang workaholik.

__ADS_1


__ADS_2