My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 61


__ADS_3

Dalam sebuah hubungan, terkadang rindu bisa membuat hubungan jadi semakin indah. Ada yang bilang, rindu itu adalah tanda sayang.Meskipun kadang menyiksa, rindu teekadang memberikan warna yang indah di setiap kehidupan.


Rindu juga bisa saja datang di saat yang tidak tepat. Tidak kenal waktu, tempat dan pada siapa kerinduan iru di tujukan. seperti Rindu Thella pada Naufal.


Karena sakit perut datang bulan, terpaksa ia tidak ikut ke kantor bersama Fall. Wanita itu menahan sakit di atas tempat tidurnya. Is juga sudah menempelkan air hangat ya ia isikan ke dalam botol untuk meredakan, seperti yang sering ibunya lakukan.


"Nanti kalau nggak juga baikan cepat hubungi aku, ya. Jangan sampai berlebihan sakitnya," Pesan Fall Sebelum berangkat ke kantor.


"Mungkin sebaiknya aku segera mengirim pesan kepada Naufal agar segera pulang. Rasa sakit di perutku tidak juga mereda," Ujar Thella seorang diri. Ia segera mengirim pesan pada Naufal agar suaminya itu segera pulang ke rumah.


Meskipun jika mereka sedang bersama sering berdebat, tapi ketika berjauhan Thella merasa rindu. padahal mereka terpisah belum sampai satu hari, tapi rasanya Thella sudah ingin bertemu segera dengan suaminya itu.


Sikap Naufal yang sekarang memprioritaskan dirinya, membuat Thella semakin sayang. Perasaannya yang tidak menentu, kini telah pasti. Wanita itu telah benar-benar sepenuh hati menjatuhkan hatinya pada Fall.


Kalau di ingat lagi, banyak hal dan kenangan manis yang mereka lewati. Kenangan demi kenangan itu sudah seperti album yang mengisi setiap lembar kisah perjalanan rumah tangga Thella dan juga Naufal.


"Thella, bagaimana keadaanmu? Aku kan tadi sudah tidak ingin berangkat ke kantor, tapi kamu tetap ngeyel dan memintaku untuk tetap pergi. Kalau sudah terlalu sakit begini bagaimana? Ayo kita ke dokter saja," Naufal panik menemukan Thella yang tergolek dengan keadaan pucat pasi.


Seperti yang di ketahui sebelumnya, Naufal adalah orang yang mudah panik. Ia jarang mengurus orang sakit dan suka panik setiap Thella sakit, bingung harus berbuat apa.


Fall segera mengambilkan air putih hangat untuk membantu meringankan rasa sakit yang di derita oleh Thella saat ini.Fall tidak tega saat harus melihat Thella seperti saat ini.


"Fall, jangan panik. Ini hanya sakit datang bulan saja, bukan hal yang serius."


"Bagaimana aku tidak panik, kalau wajahmu saja sampai sepucat itu,"


"Adakalanya aku memang drop seperti ini saat datang bulan. Kadang juga sampai pingsan segala. Jangan takut. Sini dekat aku, Aku kangen kamu, Fall."


"Ini sakitnya sebenarnya sakit perut apa sakit kangen?" Fall jadi merasa bingung sendiri dengan sikap Thella yang membingungkan. Ia takut Thella kenapa-kenapa, tapi justru dia tampak tenang dan sekit manja.


"Aku sakit perut, tapi aku pikir dengan pelukan darimu, rasa sakitku akan berkurang, Fall. Jadi kamu mau memelukku atau tidak?"


"Iya.. iya. kok jadi marah,"Fall mendekap Thella erat. Wanita itu hanya terkulai lemas tidak berdaya.


"Kan aku memang suka marah-marah kalau pas begini. Ini bukan marah,hanya pengaruh hormon."


"Kamu sudah makan?"


"..." Thella tidak menyahut, hanya menggeleng.


"Mau aku ambilin makan?"


"..." Thella tetap tidak menjawab, hanya menggeleng sebagai isyarat ia menolak.


"Terus maunya apa? Aku bingung..."


"Sudah.. diem. Seperti ini saja aku sudah senang kok. Perlahan perasaan sakit ini pasti akan berkurang nanti,"


"Kamu yakin?"


Thella menggangguk mengiyakan pertanyaan Fall.


"Ya sudah, sekarang kamu diam. Jangan banyak gerak. Aku ada di sini mendampingi kamu. Kalau ada apa-apa, bilang saja,"


Di tempat lain...


"Mama, menurut mama Ardian itu gimana?" Saat masak bersama mamanya Vanya sekalian meminta pendapat mamanya tentang Ardian.


"Sejak dulu anak itu baik, mama suka. Dia juga anaknya sopan dan apa adanya. Mama seneng, loh. Kamu jadian sama dia. Sejak dulu kalian juga sudah cocok," Pernyataan mamanya membuat senyum Vanya merekah. Ia bahagia mamanya menyambut positif dengan adanya hubungan antara dia dan juga Ardian.


"Ardian udah lamar aku di sesi pertama seperti selebritis di televisi.Rasanya aku nggak nyangka, ma. Akhirnya aku bakalan jadi istri Ardian,"


"Sudah terlihat saat kalian masih sama-sama pelajar kalau Ardian itu suka sekali padamu. Kamu yang sepeertinya pura-pura tidak peka,"


"Bukan, Ma. Aku sengaja tidak ingin pacaran karena masih sekolah. Takut mengganggu konsentrasi belajar, apalagi aku, Thella dan Ardian kan masuk ke kelas unggulan. Anak kelas unggulan nggak boleh punya nilai jelek, malu-maluin,"


"Mama bangga banget sama kamu, Nak. Kamu berani bertahan untuk pelajaran dan pada akhirnya jodoh memang tidak akan kemana,"


"Betul, Ma. Aku bahagia banget. Makanya aku sekarang makin gencar belajar masak sama Mama, soalnya aku takut nanti di bilang nggak bisa masak sama mama mertuaku ,"


"Bagus, Mama suka perubahan yang ada di dalam diri kamu. Mama akan ajarkan apa saja yang Mama bisa. Kamu juga bisa belajar pada Thella. Mamanya yang seorang Koki itu pasti pintar memasak."


"Masakan Thella memang enak Mama. Aku pernah beberapa kali mencoba. Pokoknya bikin ketagihan. Aku lain kali akan belajar sama dia,"


"Kalau kamu menikah dengan Ardian, kamu akan tinggal di sini kan sama mama dan papa?"

__ADS_1


"Kalau Ardian punya rumah sendiri, aku juga harus ikut dia dong, Ma,"


"Iya juga, ya. Kalian pasti tidak akan bisa terus bersama Mama. Bayanginnya, mama kok jadi sedih ya. Harus pisah dari kamu,"


"Aku akan sering-sering kunjungan ke Mama, kok. Jadi Mama tidak akan kesepian. Jangan takut,Ma."


Vanya mencoba menenangkan Mamanya. Dia memang anak bungsu. Kedua kakaknya bekerja dan tinggal di luar kota. Kemungkinan Mamanya membayangkan rasa Sepi yang akan menghantuinya saat Vanya tidak ada lagi di rumah itu.


Selama ini Vanya juga tidak pernah jauh dari kedua orang tuanya, itu juga akan menjadi salah satu faktor penyebab Kesedihan yang hadir di dalam hati ma9ma Vanya.


"Bener, ya. Kamu harus janji selalu kunjungi Mama. Setiap ada kesempatan, kamu harus selalu mengunjungi Mamamu ini, Vanya."


"Tentu, Mama. Mas Ardian juga orangnya penyayang, kalau dia aku beri pengertian pasti akan mau, kok, dengerin permintaan aku,"


"Baguslah, kalau begitu Mama jadi ikut lega. Kamu kan tidak pernah jauh dari Mama dam di rumah juga kadang masih tidur sama Mama saat Papamu ke luar kota, pasti bakalan sepi untuk awal-awal kamu pergi dari rumah ini,"


"Iya, Ma. Vanya pqham apa yang mama bayangkam dan juga mama rasakan.Jangan sungkan buat telepon kalau mama kangen sama aku,"


"Pastilah, bila perlu Mama datangi rumah kamu,"


"Mama bisa aja deh.."


Di rumah Ardian..


"Bang, Kata pakde Abang mau nikah,emang iya?" Astuti, adik sepupu Ardian mengkonfirmasi kebenaran kabar pernikahan yang akan di laksanakan oleh Ardian.


"Iya, Abang mau nikah sama Kak Vanya, ada apa memangnya?"


"Aku pikir Abang belum ada calon, mau aku kenalin sama temen. Tapi kalau udah, gapapa. Selamat ya, Abang. Eh, Kak Vanya yang mana?"


"Dulu sering belajar bareng kok di sini. Anaknya imut, cantik."


"Desktipsi Abang ambigu. Jelas aja dia imut dan cantik di mata Abang. Kan Abang lihatnya pakai kacamata cinta. Yang suka masak itu bukan, sih?"


"Bukan, iti Thella, udah nikah dia,"


"Bukannya dulu abang suka sama dia, ya? Kok nikahnya sama temennya?"


"Dulu.memang sempet suka sama Thella, tapi kan udah lama, masalalu. Abang juga suka sama Vanya,"


"Bukan, sih. Aduh, gimana jelasinnya, ya? jadi gini, mungkin karena keseringan bersama, jadi Abang ada rasa sama keduanya, tapi itu bukan cinta. Lebih ke kagum sama kelebihan masing-masing, aja sih,"


"Itu namanya, suka Abang. Ribet banget dah, bahasa abang,"


"Iya kah? Terserahlah apa itu. Yang jelas perasaan Abang udah sama Si Vanya."


"Karena Kak Thella udah nikah?"


"Bukan, karena Thella memang bukan jodoh aku. Hayo kamu mau bilang apa?"


"Iya juga sih, Abang jitu.Sama siapa aja lah bang, yang penting dia baik. Aku pasti setuju banget."


"Kamu, kapan mau nikah?"


"Belum ada yang lamar, Bang."


"Mau abang cariin pacar?"


"Boleh, Bang. Tapi yang pengusaha macam Abang, ya? Ada nggak?"


"Banyak. Tinggal merekanya aja mau nggak sama kamu," Ardian meledwk Astuti, gadis itu cemberut.


"Abang! Kebiasaan nih, ngeledek aja terus. Tunggu nanti kalauAstuti jadi langsing, Bang!"


"Kapan kamu mau langsing? Makan banyak, olahraga nggak, cita-citq langsing? Mimpi!" Ardiam kembali yltertawa ngakak. Membuat Astuti semakin kesal.


"Ngomong sama Abang bikin kesel, Ih!" Astuti pun pergi meninggalkan Ardian yang masih menikmati sisa tawanya.


"Kenapa itu si Tuti?" Tanya mamanya.


"Biasa, Ma, kalah debat sama aku,"


"Kamu juga, sudah mau nikah masih suka nggak mau ngalah. Dia kan anaknya agak sensitif,"


"Biar ajalah, Ma. Ngambeknya juga sebentar. Aku udah hapal kalau sama dia, Mah."

__ADS_1


"Dasar.Kamu ini memang anaknya rese banget. Kapan kamu mau bawa calon istrimu ke rumah? Mama pengen kenalan dulu lebih jauh, Kan dulu baru teman, sekarang udah calon istri, jadi harus di bawa kesini secara khusud,"


"Aku tanya sama dia dulu, Ma. Kapan ada waktu untuk main ke sini. Aku masih gugup sebenarnya. Apa Ardian terlalu cepat menikah, ya Ma?"


"Pernikahan itu, lebih cepat lebih baik, Ardian. Percaya deh, sama Mama."


"Baiklah, kalam mama bilang begitu aku kan jadi lega. Kalau begitu, Ardian mandi dulu, Ma,"


"Baiklah, Nak."


.


Ardian bergegas mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi .Tidak berapa lama terdengar bunyi gemericik air dari dalam sana.


Di rumah Naufal...


Thella yang menahan sakit merasa nyaman dalam pelukan Naufal dan akhitnya terlelap. Fall yang awalnya ingin menjaga, akhirnya dia ikut tertidur pula. Saat terbangun tanpa terasa hari mulai sore.


Fall mengerjapkan matanya berulang kali. Ia melihat istrinya masih terlelap. Bibirnya sudah memerah, tidak sepucat tadi. Mungkin rasa sakit yang terasa sudah berkurang.


Fall membelai pelan rambut Thella pelan-pelan. Ia memandangi wajah Thella dengan teliti tanpa ada satupun yang luput dari pengamatannya. Bidadarinya yang cantik itu bahkan terlihat srmakin cantik di matanya.


Naufal seperti kehabisan kata untuk mengungkapkan perasaannya.Seberapa dalam perasaannya pada wanita itu. Dia lebih indah dari yang terindah, dia yang teristimewa Di bandingkan dengan yang paling istimewa.Dia bahkan lebih dari sekedar spesial.


"Thella, tidak ada yang bisa ku gunakan untuk menggambarkan perasaanku padamu. Aku sangat mencintai kamu, Thella. Jangan pernah berubah, dan jangan tinggalkan aku," Bisik Naufal, takut Thella terbangum karena ulahnya.


Bagi Naufal, Thella adalah belahan jiwanya, yang akan terus ia coba bahagiakan, dengan waktu dan apapun yang.dia punya. Thella adalah tempat berbagi yang paling tepat untuknya.


"Fall, Maaf, aku jadi ketiduran lama sekali. Kamu pasti bosan hanya menungguku tidur saja. Maaf juga, aku jadi membuat waktu produktifmu jadi sia-sia," Thella ingat kata-kata Naufal saat menjemputnya pertama kali. Ia mengatakan itu saat harus menunggu Thella selama sepuluh menit.


"Aku juga ketiduran pas kamu tidur, jadi judulnya kita tidur bareng. Waktu produktifku tidak penti0ng lagi kalau kamu sedang membutuhkan aku. Aku sama sekali tidak perduli, Thella,"


"Ceritanya, berubah karena aku?"


"Bukan. Lebih tepatnya karena perasaanku sama kamu,"


"Fall, kapan lagi Papa kesini?"


"Belum tahu, yang pasti semau dia. Memangnya kenapa?"


"Seru aja bercanda bersama Papa. Apalagi panggilannya ke kamu, Bocah Sableng, aku suka sekali. Lucu,"


"Ternyata kamu pro dengan papa. Aku teraniaya karena kalian berdua kompak."


Thella tertawa kecil.


"Kapan kita besuk Mama ke penjara?"


"Kapan ya? Mungkin hari minggu, Kepentok jadwal ke jogja juga, aku jadi bingung," Naufal tampak bimbang. Mana yang harus di dahulukan Keduanya sama-sama penting.


"Gimana kalau besok saja?"


"Besok ya? boleh deh, coba kita cek besok jadwalku. Nanti pas senggang kita langsug pergi jengukin mama."


"Baiklah, aku setuju. Kasihan Mama, Fall. Beberapa hari ini Mama makan Apa di sana? Aku jadi sangat kasihan pada Mama. Kalau saja dia bersikap baik seperti papa, tentu saja m, kita akan hidup berdampingan seperti kemarin,"


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan lagi. Kan sudah aku bilang hati mama hanya belum terbuka. Nanti ada saatnya mama akan berubah. Percaya padaku."


"Baiklah, aku coba untuk percaya. Semoga mama akhirnya bisa menwrima aku menjadi menantunya, syukur mau menganggapku anaknya sendiri,"


"Semoga, kamu berdo'a saja terus. Semoga semuanya berubah seiring Waktu."


"Fall, bagaimana kalau kapan-kapan kita mengunjungi Papa?" Thella mencetuskan ide untuk mengunjungi papa mertuanya. Ia sanfat mengagumi cara papa mertuanya dalam menanggapi. Ia seperti tidak membedakan yang mana yang anaknya sendiri dan mana yang menantu.


"Mengunjungi Papa? Baiklah, bisa, bisa. Tapi kita harus cari waktu yang tepat. Papapu juga pekerja keras. Kemungkinan dia juga sangat sulit di temui. Karena kerjanya pindah dan pindah, tidak pernah menetap."


"Jadi rumah papa ada di mana-mana?"


"Ya, lebih tepatnya rumah kontrakan.Rumah papa hanya ada tiga, aku juga tidak tahu, mau buat apa rumah sebanyak itu. Mungkin beliau sering merasa bosan, jadi harus pindah-pindah rumah,"


Naufal agak merasa bingung jika mengungkap tentang ayahnya. Beliau punya banyak rumah, tapi hanya satu rumah yang sering di tempati, itupun juga jarang. Ayahnya lebih sering terbang keksana kemari melakukan tugasnya sebagai desain grafis.


"Jadi papa jarang di rumah? kita harus janjian dulu sama papa, ya? Tidak bisa memberi surprise, tidak seru," Thella menjadi tidak terlalu semangat untuk mengunjungi mertuanya.


"Begitulah. Tapi nanti kita bisa atur jadwal ketemu papa, yamg penting kita selidiki saja dulu apa tugas-tugas papa yang baru,"

__ADS_1


"Aku menunggunya sayang, aku ingin jalan -jalan sekalian berkunjung pada papa. Karena aku pikir sangat indah tempatnyajika bukan tempat kita sendiri, meakipun sebenarnya kurang lebih sama,"


__ADS_2