
Memiliki seorang pasangan yang
selalu mengerti dan menyayangi diri kita dengan tulus adalah impian sebagian
besar orang. Tapi, tidak semua orang beruntung dan menemukan pasangan yang
setulus keinginannya karena pada dasarnya, terkadang tuhan memberikan kita
ujian lewat perpisahan, lewat di ambilnya orang yang kita sayangi dengan
berbagai cara.
Terkadang, ada orang ketiga yang
hadir di dalam sebuah hubungan, itu bukan masalah siapa yang setia dan siapa
yang paling tidak setia, semua kembali kepada takdir, semuanya terjadi sebagai
ujian, sanggupkah melewati semuanya? Saat kesakitan dan luka datang menerpa,
jika kita tidak mampu melewatinya, itulah takdir yang tanpa sadar kita setujui
kehadiranya, lalu berpisah begitu saja menjadi keputusan akhir.
Begitupula Thella dan Naufal, ada
waktunya mereka romantis, ada pula kalanya mereka bertengkar. Mereka bisa saja
berpisah, tetapi keduanya memiliki perasaan yang sama-sama kuat untuk tetap
bersama. Perjalanan cinta mereka yang
bisa di bilang tidak cukup mudah, membuat mereka memang harus mempertahankan
apa yang telah mereka capai sekarang. Sebuah cinta dan berjuta kenangan manis
di dalamnya.
Apa yang sudah di miliki, memang
patut untuk di syukuri. Menuntut yang lebih dari apa yang kita miliki, bukanlah
hal yang patut untuk di lakukan. Tuhan lebih tahu, porsi mana yang cocok untuk
kita. Ingat, memaksakan kehendak hanya akan membuat kita menjadi orang yang
tidak akan pernah puas.
“Fall, kamu lagi ngapain, sih?
Sibuk banget. Dari tadi fokus melototin layar laptop mulu, ada banyak kerjaan?
Mau di bantu?” setelah Ardian dan Vanya
pulang, mereka sudah makan malam, Naufal
sempat membaca banyak email masuk. Seperti perkiraannya, banyak sekali pekerjaan
hari ini yang harus ia kerjakan.
Itulah kenapa, Fall paling malas
libur ke kantor, pada akhirnya pekerjaan yang harus selesai pada hari itu,
harus di tumpuk lagi dan di kerjakan esok hari. Makin menumpuk, makin banyak
waktu yang akan di butuhkan untuk menyelesaikannya.
“Ini, sayang, banyak pekerjaan
yang harus aku selesikan ternyata. Ada staff yang ngabarin juga, besok ada meeting jadi harus siapin materi. Ini
yang bikin aku malas libur ke kantor, besok pekerjaan jadi harus dobel, belum lagi, kalau ternyata banyak kegiatan
luar, jadi makin terbengkalai.” Keluh Fall sedikit kesal. Ia tipe orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan.
Menurutnya, menunda justru membuat semuanya semakin rumit.
“Kamu jangan stres, nanti sakit
lagi, kan baru sembuh. Gini aja, gimana kalau aku temenin kamu lembur sambil
aku bantu pekerjaan kamu yang bisa aku bantu, sekarang aku mau bikinin kamu
coklat panas dulu, biar pikiran kamu lebih rileks,” Thella meninggalkan Fall
yang sedang sedikit stress dengan deadline-nya yang harus kelar malam ini. Untung saja ada
Thella, istrinya yang super perhatian, di saat apapun, dia selalu bisa membuat
Fall menjadi sedikit lebih tenang.
Fall mulai mengerjakan berkasnya
perlahan sambil berusaha mengendalikan pikirannya agar fokus, stres sedikit
saja akan membuat hasil pekerjaannya jadi kurang bagus. Dia selain seorang
workaholik juga seorang perfeksionis, ia ingin apa yang ia kerjakan hasilnya
selalu maksimal dan memukau.
“Sayang, ini dia coklat
panasnya. Gimana, biar kamu sedikit
lebih tenang kerjanya, aku kasih kamu sebuah pelukan? Aku tahu banget, sekarang
pasti pikiran kamu lagi kacau kan? Kamu dengerin aku, kamu selama ini tidak
pernah libur, kan? Hari ini, badan kamu
hanya minta istirahat dalam sehari, masa kamu marah? Bukannya kesehatan itu
yang terpenting dan nomor satu? Kamu
juga harus tahu, kalau rasa lelah itu terkumpul dan menjadi penyakit serius,
siapa yang rugi? Pastinya kamu, karena libur yang harusnya sehari, malah jadi
berhari-hari...” omel Thella panjang lebar sambil menarik kepala Fall dalam
dekapannya. Ia ingin menenangkan suaminya dan berharap bisa menjadikan perasaan
Naufal menjadi jauh lebih tenang.
“Aku suka kalau kamu sudah ngomel
begini, aura perhatian kamu jadi terpancar dengan jelas. Aku tahu, aku memang
bersalah karenaterlalu merasa rugi hanya karena waktu yang aku habiskan untuk
kesehatanku sendiri. Terima kasih, cinta, kamu buat semangatku yang tadinya
menurun jadi nanjak lagi, kayaknya aku bakalan kangen terus dengan omelan
kamu.”
Fall sadar, tidak seharusnya ia
merasa kesal hanya karena dirinya sakit. Ia jadi merasa sedikit malu pada
Thella karena tidak bisa konsekuen dengan ucapannya sendiri. Ia bilang ingin
mengurangi waktu kerjanya, tapi ternyata, libur sehari karena sakit saja sudah
membuatnya kelimpungan.
Mungkin karena pekerjaan sudah
__ADS_1
menemani pria itu bertahun-tahun, sehingga membuatnya merasa ada yang kurang
saat tidak mengerjakannya. Naufal mengakuinya, jika ia memang sudah seperti
kecanduan terhadap pekerjaannya. Meskipun begitu, ia selalu berusaha untuk
menguranginya, meskipun sepertinya ia akan kembali ke posisi seperti semula
karena tuntutan target.
Ia ingin selalu menaikkan
targetnya, agar apa yang ia tekanka pada karyawannya juga ia kerjakan, jadi
mereka juga bisa merasakan semangat yang di tularkan olehnya sebagai pemimpin.
Ia juga menuntut keseriusan dan juga totalitas dalam bekerja.
“Aku begini untukkebaikanmu juga,
aku merasa kamu memang butuh sebuah saran kecil dariku. Maka dari itu, aku
sendiri tidak pernah menuntut kamu untuk ini dan itu, karena aku sudah
menerimamu apa adanya, kamu yang dingin, kamu yang cuek, kamu yang cerewet, dan
kamu yang sangat mencintai pekerjaanmu. Aku tidak merasa keberatan, meskipun
kamu tidak berubah, semua itu karena aku sangat mencintai kamu, aku mencintai
kamu tulus dan apa adanya. “
Masih ada yang percaya ada cinta
setulus itu? Ya, Thella memilikinya. Sejatinya mencintai pasangan kita memang
harus sesempurna itu, bukan terus mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai. Kesempurnaan pasangan hanya bisa
kita dapatkan dengan menyempurnakannya.
“Aku memang selalu membutuhkanmu
dalam setiap langkahku, kamu seperti infus semangat yang selalu menyuplai
semangat untuk diriku seorang rapuh yang selalu berpura-pura kuat, kamu sudah
menjadi pasangan yang cukup sempurna untukku. Aku harap kamu selalu begini,
selalu mencintaiku seperti ini dan tidak pernah berubah.” Setiap untai
perhatian yang Thella berika menjadikan Naufal semangat dalam menjalani hari
dengan baik seperti biasanya, meskipun kadar keberuntungan dan kebaikan di
setiap harinya selalu berubah.
“Intinya, kita berdua saling
membutuhkan. Kita berdua butuh saling dukung dan memotivasi. Di antara kita
adalah dua insan yang saling memiliki kelebihan dan kekurangan, dan kita berdua diciptakan untuk saling
menyempurnakan. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan selalu berusaha yang
tebaik untuk belajar mencintai dn menyayangi kamu dengan baik,” Thella mengecup
kepala Fall, ia bahkan dapt menghirup wangi sampo yang di pakai oleh suaminya.
“Sekarang kamu sudah lebh baik,
kan? Minum dulu coklatnya, terus baru mulai kamu kerjain tugasnya satu persatu.
Kalau ada yang bisa aku bantu, kirim aja
ke email aku, biar aku yang kerjakan. Aku juga ingin merasakan beban pekerjaan yang sedng kamu tanggung
seperti memperlakukan anak kecil, tapi di balik itu semua tersimpan bongkahan
kasih sayang yang begitu besar terhadapnya. Fall juga merasa nyaman di cintai Thella
dengan caranya.
Pria itu lalu melepaskan diri
perlahan dari dekapan Thella, meraih secangkir coklat hangat yang ada di meja
dan mulai menyeruputnya. Seketika ada rasa damai di pikirannya, coklat itu
terasa begitu nikmat, mungkin karena Thella yang membuatkannya.
Ada pepatah yang mengatakan, bila
cinta sudah melekat, gula jawa pun terasa coklat. Begitulah yang Fall rasakan
saat ini, apapun yang Thella berikan untuknya, apapun yang Thella perbuat,
semuanya terasa manis untuk nya, tiada satu pun yang tidak ia sukai.
“Terima kasih untuk coklat
panasnya, aku suka. Sekarang kamu duduk manis saja, tidak perlu mengerjakan
apapun, kalau memang tujuanmu ingin
menemaniku, aku ingin kamu duduk dan diam, sambil nonton drakor juga boleh,”
Fall kembali fokus pada layar laptopnya. Di temani oleh Thella sudah membuatnya sangat senang, jadi dia tidak ingin wanitanya itu ikut lelah mengerjakan
pekerjaan yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya.
“Kenapa gitu, aku nggak boleh
bantu? Hasil kerjaan aku belum cukup bagus ya? Atau cara kerja aku masih
lambat?” Thella sengaja mengerjai Fall, padahal ia paham kalau sebenarnya
suaminya itu tidak ingin ia ikutan lelah bekerja.
“Memangnya aku pernah bilang
gitu? Aku kan Cuma nggak mau kamu lelah aja, aku sudah cukup senang kok dengan
kamu ada di samping aku untuk menemani aku lembur, aku tidak ingin kamu semakin
lelah dengan membantu pekerjaan aku,”
Terpaksa Fall memberikan penjelasan meskipun sambil tetap fokus pada
pekerjaannya tanpa menengok sama sekali, hingga ia tidak tahu kalau Thella
tengah tersenyum karena merasa berhasil mengerjainya.
“Padahal tanpa kamu jelasin aku
juga sudah paham Naufalku tersayang, sudah sana fokus, aku akan diem kok,
nonton drakor tanpa suara. Nanti kalau kamu lelah bilang ya, aku bisa gantiin
ngerjain pekerjaan kamu,” Pesan Thella sekedar basa basi, sebenarnya untuk
hal-hal besar, tentu saja Thella tidak mau ambil resiko untuk itu. Mengingat
Fall juga seorang perfeksionis, ia tidak berani mengerjakan berkas yang
sekiranya ia tidak begitu paham. Karena saat pertama kali dia mengerjakan file, hampir full revisi. Thella tidak masalah dengan itu, ia justru kagum
dengan keahlian yang suaminya miliki.
“Bagus, aku suka kalau kamu
__ADS_1
nurut, nanti akan aku berikan bonus untukmu, sayang. Oh, ya. Besok
kitaberangkat pagian, jadi aku minta tolong bangunin lebih pagi, ya. Aku mau
sempatkan revisi terlebih dahulu, supaya hasilnya benar-benar sesuai dengan apa
yang aku mau. Karena sekarang sudah malam, bisa jadi banyak typo yang berserakan,” sudah menjadi kebiasaan Naufal untuk selalu
teliti dalam bekerja, itu juga sifatnya yang selalu menjadi pautan semua
bawahannya. Dia benar-benar sosok bos yang sempurna.
“Wah, aku suka kalau bicara
tentang bonus, kira-kira apa bonus yang akan aku dapatkan kalau aku menuruti
kemauan kmu? Penasaran. Baiklah, Bos, aku akan membangunkanmu esok hari, kalau
aku sendiri tidak kesiangan,” Thella terkekeh.
“Makanya, tidur sana. Biar besok
kamu tidak kesiangan.”
“Aku masih mau disini Fall. Nanti
kalau aku mengantuk, aku akan pindah ke kamar, kok. Aku tidak akan kesiangan,
tenang saja.” Thella berusaha meyakinkan Fall, jika esok hari ia pasti akan
bangun pagi dan membangunkan dia tepat waktu.
“Baiklah, aku percaya padamu,
kamu tidak akan mengecewakan aku.” Setelah mengatakan itu, Fall kembali fokus
dengan pekerjaannya tanpa bicara lagi.
Ting...
Nada tand pesan masuk milik
Thella berbunyi, ternyata pesan dari Vanya, mereka berdua saling berbalas
pesan.
Thella, kamu sudah tidur?
Belum, kenapa Van?
Lagi ngapain emang? Jam segini masih melek aja
Dih, kepo. Mau tahu aja urusan
orang dewasa
Hei, kamu kira aku anak bayi? Serius nanya, lagi ngapain? Jangan bilang
kamu lagi....
Bayi gede mulai kepo. Di lurusin
dulu deh, otaknya, biar nggak mikir aneh-aneh. Aku masih nemenin Naufal lembur,
nih. Kamu sendiri ngapain belum tidur?
Ibu negara, punya suami super sibuk berasa di duain sama pekerjaan ya?
Tapi nggak apa-apa, yang penting selalu dapat transferan. Aku baru saja selesai
video call sama Ardian
biasa saja. Transferan sih nggak,
karena yang pegang semua kartunya adalah
aku, kan aku asisten pribadinya. Dih, baru aja ketemu udah kangen aja
Wah, mantep, tuh. Bebas dong, ya, mau ngabisin duitnya buat apa aja,
kalau aku jadi kamu, sudah belanja kesana kemari, apa aja aku beli. Tapi aku
nggak yakin, kamu bisa begitu, dari dulu, kamu yang paling hemat. Duh, iya,
nih. Aku nggak sabar buat ketemu dengan Ardian lagi, padahal barusan pisah
berapa jam. Pengen deh, kayak kamu, bisa berduaan kapan aja
Mana bisa aku seperti itu. Malah
pengen bisa lebih hemat lagi, berasa kikir banget aku. Sabar bu, sebentar lagi juga sah jadi istri,
bisa ketemu sampai bose pokoknya.
Mana mungkin bosen kalau dekat dengan seorang yang di cintai, yang ada
manja-manjaan terus
Jangan salah, ada kalanya rasa
bosan itu datang. Karena selalu romantis juga membuat eneg
Benar juga, sih. Tidak selamanya indah, ya
Benar sekali, Vanya. Eh, tiga
hari lagi aku mau ke Jogja, mau titip apa?
Titip apa ya? Mau titip Borobudur deh, pajang di halaman rumah aku, ya
Kamu pikir aku jin yang ada di
lampunya Aladdin? Mana bisa yang seperti itu, dodol. Aku bawain gantungan kuncinya aja, deh
Siapa tahu gitu kan, kamu ada keturunannya jin dari tuh lampu ajaib.
Okelah, apa aja aku mau. Eh, aku tidur
dulu ya, ngantuk banget, buruan tidur sana, jaga kesehatan
Iya, bawel. Dadaaah.
Thella kembali menonton Drama
favoritnya, di liriknya Fall yang masih tetap konsentrasi mengerjakan tugasnya.
Sebenarnya, Thella juga merasa sedikit mengantuk, lama-lama rasa kantuknya
semakin berat, hingga tanpa sadar ia tertidur dan menyandarkan kepalanya di
bahu Naufal. Membuat lelaki itu berhenti bekerja sejenak.
“Dasar bandel, di suruh tidur
nggak mau, ujungnya tidur juga disini, tunggu sayang, kamu besok akan
mendapatkan hukuman dariku,” Fall menggendong Thella dan membawanya ke kamar.
Lalu merebahkannya perlahan. Di kecupnya kening wanita itu lumayan lama, lalu
menyelimutinya, tidak lupa ia mengatur suhu AC, lalu meninggalkannya untuk
kembali bekerja.
“Selamat tidur, sayangku.” Ujar
Fall pelan, lalu menutup pintu kamar mereka.
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARUKU " MENDADAK NIKAH" YA...
__ADS_1