My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 74


__ADS_3

Memiliki seorang pasangan yang


selalu mengerti dan menyayangi diri kita dengan tulus adalah impian sebagian


besar orang. Tapi, tidak semua orang beruntung dan menemukan pasangan yang


setulus keinginannya karena pada dasarnya, terkadang tuhan memberikan kita


ujian lewat perpisahan, lewat di ambilnya orang yang kita sayangi dengan


berbagai cara.


Terkadang, ada orang ketiga yang


hadir di dalam sebuah hubungan, itu bukan masalah siapa yang setia dan siapa


yang paling tidak setia, semua kembali kepada takdir, semuanya terjadi sebagai


ujian, sanggupkah melewati semuanya? Saat kesakitan dan luka datang menerpa,


jika kita tidak mampu melewatinya, itulah takdir yang tanpa sadar kita setujui


kehadiranya, lalu berpisah begitu saja menjadi keputusan akhir.


Begitupula Thella dan Naufal, ada


waktunya mereka romantis, ada pula kalanya mereka bertengkar. Mereka bisa saja


berpisah, tetapi keduanya memiliki perasaan yang sama-sama kuat untuk tetap


bersama.  Perjalanan cinta mereka yang


bisa di bilang tidak cukup mudah, membuat mereka memang harus mempertahankan


apa yang telah mereka capai sekarang. Sebuah cinta dan berjuta kenangan manis


di dalamnya.


Apa yang sudah di miliki, memang


patut untuk di syukuri. Menuntut yang lebih dari apa yang kita miliki, bukanlah


hal yang patut untuk di lakukan. Tuhan lebih tahu, porsi mana yang cocok untuk


kita. Ingat, memaksakan kehendak hanya akan membuat kita menjadi orang yang


tidak akan pernah puas.


“Fall, kamu lagi ngapain, sih?


Sibuk banget. Dari tadi fokus melototin layar laptop mulu, ada banyak kerjaan?


Mau di bantu?”  setelah Ardian dan Vanya


pulang, mereka sudah makan malam,  Naufal


sempat membaca banyak email masuk. Seperti perkiraannya, banyak sekali pekerjaan


hari ini yang harus ia kerjakan.


Itulah kenapa, Fall paling malas


libur ke kantor, pada akhirnya pekerjaan yang harus selesai pada hari itu,


harus di tumpuk lagi dan di kerjakan esok hari. Makin menumpuk, makin banyak


waktu yang akan di butuhkan untuk menyelesaikannya.


“Ini, sayang, banyak pekerjaan


yang harus aku selesikan ternyata. Ada staff yang ngabarin juga, besok ada meeting jadi harus siapin materi. Ini


yang bikin aku malas libur ke kantor, besok  pekerjaan jadi harus dobel, belum lagi, kalau ternyata banyak kegiatan


luar, jadi makin terbengkalai.” Keluh Fall sedikit kesal. Ia tipe orang  yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan.


Menurutnya, menunda justru membuat semuanya semakin rumit.


“Kamu jangan stres, nanti sakit


lagi, kan baru sembuh. Gini aja, gimana kalau aku temenin kamu lembur sambil


aku bantu pekerjaan kamu yang bisa aku bantu,  sekarang aku mau  bikinin kamu


coklat panas dulu, biar pikiran kamu lebih rileks,” Thella meninggalkan Fall


yang sedang sedikit stress dengan deadline-nya  yang harus kelar malam ini. Untung saja ada


Thella, istrinya yang super perhatian, di saat apapun, dia selalu bisa membuat


Fall menjadi sedikit lebih tenang.


Fall mulai mengerjakan berkasnya


perlahan sambil berusaha mengendalikan pikirannya agar fokus, stres sedikit


saja akan membuat hasil pekerjaannya jadi kurang bagus. Dia selain seorang


workaholik juga seorang perfeksionis, ia ingin apa yang ia kerjakan hasilnya


selalu maksimal dan memukau.


“Sayang, ini dia coklat


panasnya.  Gimana, biar kamu sedikit


lebih tenang kerjanya, aku kasih kamu sebuah pelukan? Aku tahu banget, sekarang


pasti pikiran kamu lagi kacau kan? Kamu dengerin aku, kamu selama ini tidak


pernah libur, kan?  Hari ini, badan kamu


hanya minta istirahat dalam sehari, masa kamu marah? Bukannya kesehatan itu


yang terpenting dan nomor satu?  Kamu


juga harus tahu, kalau rasa lelah itu terkumpul dan menjadi penyakit serius,


siapa yang rugi? Pastinya kamu, karena libur yang harusnya sehari, malah jadi


berhari-hari...” omel Thella panjang lebar sambil menarik kepala Fall dalam


dekapannya. Ia ingin menenangkan suaminya dan berharap bisa menjadikan perasaan


Naufal  menjadi jauh lebih tenang.


“Aku suka kalau kamu sudah ngomel


begini, aura perhatian kamu jadi terpancar dengan jelas. Aku tahu, aku memang


bersalah karenaterlalu merasa rugi hanya karena waktu yang aku habiskan untuk


kesehatanku sendiri. Terima kasih, cinta, kamu buat semangatku yang tadinya


menurun jadi nanjak lagi, kayaknya aku bakalan kangen terus dengan omelan


kamu.”


Fall sadar, tidak seharusnya ia


merasa kesal hanya karena dirinya sakit. Ia jadi merasa sedikit malu pada


Thella karena tidak bisa konsekuen dengan ucapannya sendiri. Ia bilang ingin


mengurangi waktu kerjanya, tapi ternyata, libur sehari karena sakit saja sudah


membuatnya kelimpungan.


Mungkin karena pekerjaan sudah

__ADS_1


menemani pria itu bertahun-tahun, sehingga membuatnya merasa ada yang kurang


saat tidak mengerjakannya. Naufal mengakuinya, jika ia memang sudah seperti


kecanduan terhadap pekerjaannya. Meskipun begitu, ia selalu berusaha untuk


menguranginya, meskipun sepertinya ia akan kembali ke posisi seperti semula


karena tuntutan target.


Ia ingin selalu menaikkan


targetnya, agar apa yang ia tekanka pada karyawannya juga ia kerjakan, jadi


mereka juga bisa merasakan semangat yang di tularkan olehnya sebagai pemimpin.


Ia juga menuntut keseriusan dan juga totalitas dalam bekerja.


“Aku begini untukkebaikanmu juga,


aku merasa kamu memang butuh sebuah saran kecil dariku. Maka dari itu, aku


sendiri tidak pernah menuntut kamu untuk ini dan itu, karena aku sudah


menerimamu apa adanya, kamu yang dingin, kamu yang cuek, kamu yang cerewet, dan


kamu yang sangat mencintai pekerjaanmu. Aku tidak merasa keberatan, meskipun


kamu tidak berubah, semua itu karena aku sangat mencintai kamu, aku mencintai


kamu tulus dan apa adanya. “


Masih ada yang percaya ada cinta


setulus itu? Ya, Thella memilikinya. Sejatinya mencintai pasangan kita memang


harus sesempurna itu, bukan terus mencari seseorang yang sempurna untuk  dicintai. Kesempurnaan pasangan hanya bisa


kita dapatkan dengan menyempurnakannya.


“Aku memang selalu membutuhkanmu


dalam setiap langkahku, kamu seperti infus semangat yang selalu menyuplai


semangat untuk diriku seorang rapuh yang selalu berpura-pura kuat, kamu sudah


menjadi pasangan yang cukup sempurna untukku. Aku harap kamu selalu begini,


selalu mencintaiku seperti ini dan tidak pernah berubah.” Setiap untai


perhatian yang Thella berika menjadikan Naufal semangat dalam menjalani hari


dengan baik seperti biasanya, meskipun kadar keberuntungan dan kebaikan di


setiap harinya selalu berubah.


“Intinya, kita berdua saling


membutuhkan. Kita berdua butuh saling dukung dan memotivasi. Di antara kita


adalah dua insan yang saling memiliki kelebihan dan kekurangan,  dan kita berdua diciptakan untuk saling


menyempurnakan. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan selalu berusaha yang


tebaik untuk belajar mencintai dn menyayangi kamu dengan baik,” Thella mengecup


kepala Fall, ia bahkan dapt menghirup wangi sampo yang di pakai oleh suaminya.


“Sekarang kamu sudah lebh baik,


kan? Minum dulu coklatnya, terus baru mulai kamu kerjain tugasnya satu persatu.


Kalau ada yang  bisa aku bantu, kirim aja


ke email aku, biar aku yang kerjakan. Aku juga ingin merasakan  beban pekerjaan yang sedng kamu tanggung


seperti memperlakukan anak kecil, tapi di balik itu semua tersimpan bongkahan


kasih sayang yang begitu besar terhadapnya. Fall juga merasa nyaman di cintai Thella


dengan caranya.


Pria itu lalu melepaskan diri


perlahan dari dekapan Thella, meraih secangkir coklat hangat yang ada di meja


dan mulai menyeruputnya. Seketika ada rasa damai di pikirannya, coklat itu


terasa begitu nikmat, mungkin karena  Thella yang membuatkannya.


Ada pepatah yang mengatakan, bila


cinta sudah melekat, gula jawa pun terasa coklat. Begitulah yang Fall rasakan


saat ini, apapun yang Thella berikan untuknya, apapun yang Thella perbuat,


semuanya terasa manis untuk nya, tiada satu pun yang tidak ia sukai.


“Terima kasih untuk coklat


panasnya, aku suka. Sekarang kamu duduk manis saja, tidak perlu mengerjakan


apapun, kalau memang  tujuanmu ingin


menemaniku, aku ingin kamu duduk dan diam, sambil nonton drakor juga boleh,”


Fall kembali fokus pada layar laptopnya.  Di temani oleh Thella sudah membuatnya  sangat senang, jadi dia tidak ingin wanitanya itu ikut lelah mengerjakan


pekerjaan yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya.


“Kenapa gitu, aku nggak boleh


bantu? Hasil kerjaan aku belum cukup bagus ya? Atau cara kerja aku masih


lambat?” Thella sengaja mengerjai Fall, padahal ia paham kalau sebenarnya


suaminya itu tidak ingin ia ikutan lelah bekerja.


“Memangnya aku pernah bilang


gitu? Aku kan Cuma nggak mau kamu lelah aja, aku sudah cukup senang kok dengan


kamu ada di samping aku untuk menemani aku lembur, aku tidak ingin kamu semakin


lelah dengan  membantu pekerjaan aku,”


Terpaksa Fall memberikan penjelasan meskipun sambil tetap fokus pada


pekerjaannya tanpa menengok sama sekali, hingga ia tidak tahu kalau Thella


tengah tersenyum karena merasa berhasil mengerjainya.


“Padahal tanpa kamu jelasin aku


juga sudah paham Naufalku tersayang, sudah sana fokus, aku akan diem kok,


nonton drakor tanpa suara. Nanti kalau kamu lelah bilang ya, aku bisa gantiin


ngerjain pekerjaan kamu,” Pesan Thella sekedar basa basi, sebenarnya untuk


hal-hal besar, tentu saja Thella tidak mau ambil resiko untuk itu. Mengingat


Fall juga seorang perfeksionis, ia tidak berani mengerjakan berkas yang


sekiranya ia tidak begitu paham. Karena saat pertama kali dia mengerjakan file, hampir full revisi. Thella tidak masalah dengan itu, ia justru kagum


dengan keahlian yang suaminya miliki.


“Bagus, aku suka kalau kamu

__ADS_1


nurut, nanti akan aku berikan bonus untukmu, sayang. Oh, ya. Besok


kitaberangkat pagian, jadi aku minta tolong bangunin lebih pagi, ya. Aku mau


sempatkan revisi terlebih dahulu, supaya hasilnya benar-benar sesuai dengan apa


yang aku mau. Karena sekarang sudah malam, bisa jadi banyak typo yang berserakan,”  sudah menjadi kebiasaan Naufal untuk selalu


teliti dalam bekerja, itu juga sifatnya yang selalu menjadi pautan semua


bawahannya. Dia benar-benar sosok bos yang sempurna.


“Wah, aku suka kalau bicara


tentang bonus, kira-kira apa bonus yang akan aku dapatkan kalau aku menuruti


kemauan kmu? Penasaran. Baiklah, Bos, aku akan membangunkanmu esok hari, kalau


aku sendiri tidak kesiangan,” Thella terkekeh.


“Makanya, tidur sana. Biar besok


kamu tidak kesiangan.”


“Aku masih mau disini Fall. Nanti


kalau aku mengantuk, aku akan pindah ke kamar, kok. Aku tidak akan kesiangan,


tenang saja.” Thella berusaha meyakinkan Fall, jika esok hari ia pasti akan


bangun pagi dan membangunkan dia tepat waktu.


“Baiklah, aku percaya padamu,


kamu tidak akan mengecewakan aku.” Setelah mengatakan itu, Fall kembali fokus


dengan pekerjaannya tanpa bicara lagi.


Ting...


Nada tand pesan masuk milik


Thella berbunyi, ternyata pesan dari Vanya, mereka berdua saling berbalas


pesan.


Thella, kamu sudah tidur?


Belum, kenapa Van?


Lagi ngapain emang? Jam segini masih melek aja


Dih, kepo. Mau tahu aja urusan


orang dewasa


Hei, kamu kira aku anak bayi? Serius nanya, lagi ngapain? Jangan bilang


kamu lagi....


Bayi gede mulai kepo. Di lurusin


dulu deh, otaknya, biar nggak mikir aneh-aneh. Aku masih nemenin Naufal lembur,


nih. Kamu sendiri ngapain belum tidur?


Ibu negara, punya suami super sibuk berasa di duain sama pekerjaan ya?


Tapi nggak apa-apa, yang penting selalu dapat transferan. Aku baru saja selesai


video call sama Ardian


biasa saja. Transferan sih nggak,


karena yang pegang  semua kartunya adalah


aku, kan aku asisten pribadinya. Dih, baru aja ketemu udah kangen aja


Wah, mantep, tuh. Bebas dong, ya, mau ngabisin duitnya buat apa aja,


kalau aku jadi kamu, sudah belanja kesana kemari, apa aja aku beli. Tapi aku


nggak yakin, kamu bisa begitu, dari dulu, kamu yang paling hemat. Duh, iya,


nih. Aku nggak sabar buat ketemu dengan Ardian lagi, padahal barusan pisah


berapa jam. Pengen deh, kayak kamu, bisa berduaan kapan aja


Mana bisa aku seperti itu. Malah


pengen bisa lebih hemat lagi, berasa kikir banget aku.  Sabar bu, sebentar lagi juga sah jadi istri,


bisa ketemu sampai bose pokoknya.


Mana mungkin bosen kalau dekat dengan seorang yang di cintai, yang ada


manja-manjaan terus


Jangan salah, ada kalanya rasa


bosan itu datang. Karena selalu romantis juga membuat eneg


Benar juga, sih. Tidak selamanya indah, ya


Benar sekali, Vanya. Eh, tiga


hari lagi aku mau ke Jogja, mau titip apa?


Titip apa ya? Mau titip Borobudur deh, pajang di halaman rumah aku, ya


Kamu pikir aku jin yang ada di


lampunya Aladdin? Mana bisa yang seperti itu, dodol.  Aku bawain gantungan kuncinya aja, deh


Siapa tahu gitu kan, kamu ada keturunannya jin dari tuh lampu ajaib.


Okelah, apa aja aku mau.  Eh, aku tidur


dulu ya, ngantuk banget, buruan tidur sana, jaga kesehatan


Iya, bawel. Dadaaah.


Thella kembali menonton Drama


favoritnya, di liriknya Fall yang masih tetap konsentrasi mengerjakan tugasnya.


Sebenarnya, Thella juga merasa sedikit mengantuk, lama-lama rasa kantuknya


semakin berat, hingga tanpa sadar ia tertidur dan menyandarkan kepalanya di


bahu Naufal. Membuat lelaki itu berhenti bekerja sejenak.


“Dasar bandel, di suruh tidur


nggak mau, ujungnya tidur juga disini, tunggu sayang, kamu besok akan


mendapatkan hukuman dariku,” Fall menggendong Thella dan membawanya ke kamar.


Lalu merebahkannya perlahan. Di kecupnya kening wanita itu lumayan lama, lalu


menyelimutinya, tidak lupa ia mengatur suhu AC, lalu meninggalkannya untuk


kembali bekerja.


“Selamat tidur, sayangku.” Ujar


Fall pelan, lalu menutup pintu kamar mereka.


JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARUKU " MENDADAK NIKAH" YA...

__ADS_1


__ADS_2