
Naufal dan Thella menyudahi
aktivitas mereka dengan berpelukan, di sekitar ranjang mereka berserakan baju
yang puluhan menit yang lalu masih mereka kenakan. Mereka berdua mengatur
nafas. Dengan peluh yang masih membasahi badan keduanya. Thella mendekap Naufal
dengan kepala bersandar di atas dada lelaki itu. Wanita itu bia mendengar detak
jantung Fall yang tidak beraturan.
“Semoga kali ini berhasil. Tapi
jika memang kita harus coba lagi, aku juga tidak keberatan.” Naufal menyisir
rambut Thella dengan jarinya. Rambut
yang biasanya halus tergerai itu, kini tampak begitu lepek dan sedikit basah.
”Kalau itu sih, maumu saja, Fall.
Kamu selalu mau lagi dan lagi,” Thella tersenyum sambil menatap Naufal tajam.
Pria itu hanya tersenyum manis. Sebagai lelaki normal, tentu saja ia tidak
menampik kalau ia memiliki hasrat untuk bercinta dengan istrinya hampir setiap
hari.
“Tidak ada salahnya, kan? Aku ini
pria normal sayang, apalagi aku kan
memang udah memiliki istri. Itu juga sudah menjadi kewajiban kamu untukselalu menuruti
mauku,” Ada-ada saja jawaban Naufal yang membuat Thella tidak bisa menolaknya.
Ia sepertinya telah di kuasai oleh lelaki itu.
“Baiklah, aku juga tidak bisa
menolakmu karena kamu sudah memiliki slogan, tidak menerima penolakan, jadi aku
bisa apa? Sudahlah, sekarang aku benar-benar ingin mandi. Rasanya sangat gerah,
aku ingin berendam saja untuk merelaksasi diriku,” Thella beranjak dari tidurnya dan perlahan
berjalan menuju kamar mandi bahkan tanpa handuk. Fall hanya tersenyum melihat
tingkah Thella yang sedikit mesum. Kalau di ingat lagi, bisa jadi itu dia yang
mengajarkannya.
Thella mengisi bathup hingga penuh, ia mulai membuat
busa dengan sabun favoritnya. Ia mulai
memasuki bak mandinya itu dan berendam di sana. Ia memejamkan mata, menikmati
sensasi aroma yang sangat menenangkan.
Ini adalah mandi yang terbaik di minggu ini yang pernah ia lakukan. Ia kembali
membuka matanya saat merasakan ada seseorang yang ikut masuk ke dalam bak, siapa lagi kalau bukan Fall. Ia menarik Thella mendekat padanya seolah ia
tengah memangku istrinya itu.
“Aku bahagia sekali hari ini
Thella. Meskipun aku harus sakit, tapi aku merasa hari ini angat spesial. Kamu
tahu kenapa? Karena aku hari ini benar-benar menghabiskan hari ini bersamamu.
Tidak ada yang lebih spesial selain ini di minggu ini. Apakah kamu merasa
senang juga? Sama sepertiku?” Naufal menyabun beberapa bagian tubuh Thella yang
menjadi favoritnya.
“Aku juga merasa senang sekali,
Fall. Kapan lagi, kita bisa seromantis ini. Menghabiskan seharian ini dengan raja singaku yang paling garang. Ternyata begini rasanya menghabiskan waktu
seharian bersama kamu? Bikin
ketagihan, kapan kita bisa seperti ini
lagi? Masa iya, harus nunggu kamu sakit dulu, baru bisa bener-bener menikmati
waktu bersama?” Thella menempelkan busa
lembut yang memenuhi permukaan air ke pipi Fall dengan gemas. Perempuan itu sangat menikmati setiap detik
momen berendam bersama mereka.
“Aku akan usahakan mulai sekarang
akan lebih meluangkan waktu lagi untuk kebersamaan kita, aku tahu, selama ini
kamu sebenarnya ingin aku seperti ini, kan? Hanya saja, mungkin kamu tidak bia
mengatakannya secara gamblang padaku. Juga karena aku yang mungkin terlalu
sering mengabaikan aku. Sebenenarnya aku mau ngasih tahu kalau setelah pulang
dari jogja aku akan kembali sibuk seperti biasanya, dan juga akan banyak lembur
, aku harap kamu tidak kecewa, “ Tentu saja Naufal merasa bersalah pada
Thella, karena beberapa saat yang lalu ia sudah membicakan masalah waktu
kerjanya yang akan ia kurangi. Pada
kenyataannya, pertambahan target akan membuat ia kembali sibuk. Ia terpaksa harus kembali menjadi seseorang yang
workaholik, seperti awal mereka menikah dulu.
“Fall, aku kan sudah pernah
bilang, aku tidak pernah keberatan. Lagipula, kita akan kerja bersama kan? Jadi
aku akan menemani kamu, setiap hari. Aku selalu mendukungmu, apapun keputusan
yang kamu ambil. Aku yakin itu yang terbaik untuk keluarga kecil kita,” Thella menempatkan posisi wajahnya agar bisa
melihat wajah suaminya dengan jelas. Perlahan ia mendaratkan kecupan singkat di
pipi lelaki yang di cintainya itu. Ia benar-benar menunjukkan sikap sangat
mendukung terhadapnya.
“Tuh, kan. Kamu memang pasanganku
yang terbaik. Kamu selalu berusaha mendukung aku di dalam setiap keadaan.
Makanya, aku tidak punya alasan untuk jauh dari kamu, jadi jangan salahkan aku, kalau setiap hari rasa
sayangku kian bertambah padamu. Terus bawaannya mau nempel aja sama kamu,” Fall
menuangkan sampo ke rambut Thella, lalu membasahinya dengan air dan mulai
memijat kepala Thella layaknya petugas
salon yang tengah memberikan layanan cuci rambut. Tentunya dengan di bumbui
beberapa tindakan romantis.
“Kamu bisa aja, ih. Kalau
perasaan ingin selalu nempel itu bukan efek dari aku yang selalu pengertian
sama kamu, tapi itu terjadi karena kamu memang mesum. Hayo ngaku...” Thella mengejek Fall sambil memainkan busa
seperti anak-anak. Mengumpulkan di tangannya lalu meniupnya hinngga busa itu
menyebar ke mana-mana.
“Kamu seneng banget sih, bilang
aku mesum. Padahal kenyataannya iya,”
__ADS_1
Naufal terkekeh mendengar pengakuannya
sendiri. Biasanya ia selalu protes, tapi kali ini ia menerima pernyataan Thella
dengan lapang dada. Ia ingin menyenangkan hati Thella.
“Dih, aku kan emang selalu benar
tebakannya. Belum lama sih kamu jadi begini, awalnya seorang Fall sangat polos
sekali, sepertinya sekarang gelar
polosnya sudah hilang, malah berubah drastis.” Thella terkikik mengenang
masa-masa Fall masih cupu dan hubungan
mereka masih biasa saja.
“Jadi, jujur. Kamu lebih
suka aku yang masih polos atau yang sekarang?” Pertanyaan Naufal membuat Thella tersenyum
lebar. Tentu saja dia lebih suka Fall yang sekarang. Dia yang dulu terlalu
dingin dan kaku.
“Meskipun aku kadang kesel, tapi
aku lebih suka kamu yang sekarang. Kamu yang dulu terlalu kaku. Bahkan kamu tidak
perduli padaku kalau sudah lelah. Awas saja, aku tidak mau kamu kembali seperti
dulu lagi. Aku nggak rela,” Thella
tersenyum tidak jelas. Ia terkadang masih merasa konyol kalau mengingat mereka
di masa lalu. Terlalu lucu untuk di kenang.
“Baiklah, baiklah, aku tidak akan
berubah atau kembali ke masalalu kita. Satu lagi, aku lupa bilang, aku akan
cari supir, jadi nanti saat aku harus lembur, kamu tidak usah ikut lembur,
cukup aku saja.” Jelas saja Fall tidak mau Thella ikutan lembur bersamanya. Ia
tidak bia membiarkan orang yang ia sayangi itu ikut merasakan lelahnya lembur.
“Baiklah, aku nurut apa katamu
saja, Fall. Ayo kita sudahi acara mandi ini, setelah ini bantuin aku masak,
ya.” Thella keluar dari bak, lalu menghidupkan shower dan membilas dirinya. Fall pun mengikuti apa yang Thella
lakukan.
“Siap, aku akan membantu kamu
untuk memasak sesuatu. Kalau kamu lelah, kamu juga bisa mengandalkan suamimu
ini, aku pintar memasak loh, jangan lupa itu.” Fall sedikit menyombongkan diri.
“Iya deh, aku percaya kalau
suamiku ini pintar sekali dalam hal masak memasak. Tak apa, nanti kita masak
berdua saja, biar lebih romantis.” Thella memakai handuk yang sudah ia siapkan
lalu keluar dari kamar mandi, diikuti oleh Fall.
Thella menyiapkan baju yang akan
di gunakan oleh Naufal. Memberesi baju yang berserakan, lalu mencari bajunya
sendiri. Karena hari sudah sore, Thella memilih baju tidur panjang dengan bahan
satin untuk ia pakai.
Ia menyempatkan diri sedikit
berhias. Memakai lipbalm berwarna transparan dan juga sedikit berbedak.
Rambutnya di biarkan tergerai dengan bando berbentuk telinga kelinci,
Ting..tong..
Suara bel rumah mereka berbunyi.
Keduanya saling berpandangan, seperti saling bertanya, siapa yang datang.
“Biar aku saja yang buka,” Fall
berjalan keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumahnya. Ternyata Ardian dan
Vanya yang datang.
“Eh, kalian, ayo masuk. Silahkan
duduk, sebentar, aku panggil Thella,” Fall mempersilahkan tamunya itu untuk
masuk dan duduk lalu dengan segera ia menemui Thella agar keluar menemui mereka
berdua.
“Thella, ada Ardian sama Vanya,
keluar gih,”
“Ada Vanya sama Ardian? Waah
seneng deh, “ Thella segera keluar dari
kamarnya dan menemui kedua sahabatnya
yang sebentar lagi akan menikah dan tinggal menghitung hari itu.
“Vanya, apa kabar...” Layaknya
sahabat yang sudah lama tidak bertemu, Thella dan Vanya saling peluk dan cium
pipi kanan-kiri. Dengan Ardian, karena dia cowok, jadi cukup jabat tangan saja.
“Kabar aku baik, Thella. Makin
gemuk aja kamu, baru berapa hari nggak ketemu. Bahagia banget kayaknya,”
Ledek Vanya saat menyadari tubuh
sahabatnya sedikit gemukan.
“Masa, sih? Setiap hari semenjak
sama Naufal aku kan selalu bahagia emang. Kamu juga nanti kalau sudah menikah
dengan Ardian akan merasakan bahagianya menikah itu seperti apa. Pokoknya
bawaannya nyesel deh, nyesel kenapa nggak dari dulu aja,”
Pernyataan Thella membuat semua
yang ada di sana tertawa. Thella bicara apa adanya, setelah menikah dengan Naufal ia merasa
hidupnya jauh lebih berwarna. Ia juga merasa jauh lebih aman dan ada yang
menjaga. Beda jauh dengan saat ia masih sendiri.
“Duh, bisa aja nih, sahabat aku,
bikin pengen buru-buru nyusulin. Aku juga belum nikah udah ngerasa bahagia.
Jadi nggak bisa bayangin, gimana rasanya kalau udah nikah. Kalian lagi libur
atau udah pulang dari kantor? Kita
ngaysal aja ke sini, untung kalian pas ada di rumah,” Vanya memang lupa
menghubungi Thella terlebih dahulu untuk mengabari kedatangan mereka, dari
tempat makan langsung meluncur begitu saja ke rumah Fall. Untung saja mereka
berdua sedang ada di rumah.
__ADS_1
“ Kebetulan, hari ini Fall nggak
enak badan, maanya kita berdua nggak ngantor. Aku mau pergi ke kantor sendirian
nggak tega ninggalin Fall yang sedang demam, jadi deh aku menemani dia sampai demamnya turun. Untungnya dia cepat
baikan. Eh, sebentar, aku ambil minuman dulu,” Thella bergegas menuju kulkas dan mengambil beberapa minuman dingin lalu
membawanya bersama makanan kecil yang ada di dalam lemari.
“Silahkan,” Thella menghidangkan
makana kecil berupa biskuit buatannya sendiri dan juga minuman dingin yang di
ambilnya dari kulkas tadi. “Jadi kalian tadi darimana?” Sambungnya. Ia ingin
tahu apakah Vanya sengaja datang ke
rumahnya, atau dari tempat lain.
“Kami berdua barusaja melakukan
foto pranikah. Baru beberapa pose saja
sudah lelah. Apalagi nanti saat resepsi, pasti makin lelah. Belum lagi saudara
dari mama papa, banyak banget. Enakan nikah seperti kalian, sah, udah, bawa
kabur pengantin wanitanya,” Vanya menyindir Fall yang langsung membawa pulang
Thella beberapa saat setelah acara ijab kabul selesai. Menurut Vanya itu adalah
pernikahan tersimpel yang pernah ia lihat.
“Habisnya aku udah nggak tahan,
mau bully dia. Saat itu kan aku sama dia masih musuhan, seperti kucing dan
tikus,” Fall tertawa, di susul dengan yang lain.
“Kamu sih, Fall. Jahat banget,
masa iya sahabat aku yang unyu ini kamu biarin tidur di lantai gitu aja. Udh
gitu, kamu suka banget galakin dia lagi. Kamu tahu, Thella sampai mau ninggalin
kamu, untung saja ada aku yang merayu dia untuk mempertahankan kamu. Kalau
nggak, udah kelar nasib pernikahan kalian,” Vanya buka kartu tentang masalalu pernikahan Fall dan Thella. Semua yang
di sana tertawa lagi.
“Kamu bayangin aja Van, setiap
pagi selalu ada yang teriak, Thella, mana dasiku, mana sepatuku, mada bajuku,
siapkan sarapanku, rasanya kesel banget
tau nggak. Salah dikit, aku hukum kamu, hukum, hukum, siapa coba yang nggak
pengen nyerah kalau dalam situasi seperti aku?” Gaya bicara Thella yang tampak
lucu membuat mereka semua kembali tertawa lagi.
“Pernikahan kalian memang unik.
Kamu tahu fall, waktu di bar, thella billang gini ‘Dasar laki-laki sialan,’ pas
aku bilang kamu buat aku aja, dia bilang ‘Ambil aja, aku nggak butuh lelaki
seperti dia,’ nyatanya dia malah jadi lengket gini sama kamu,” Vanya heboh
menceritakan saat Thella kesal, Fall
tiba-tiba datang dan melamarnya.
“Ih, jangan buka kartu dong
Vanya. Kalau inget itu, aku merasa
sangat malu. Sudah sumpah serapah, akhirnya aku jatuh cinta juga pada Fall,”
Pipi Thella sedikit memerah sambil melihat ke arah Naufal yang serius
mendengarkan cerita Vanya.
“Itu namanya benci jadi cinta.
Aku mendengarkan cerita awal kalian bertemu merasa unik. Ada juga ya yang begitu, aku pikir yang
seperti itu hanya ada di dalam komik atau novel, ternyata ada juga di dunia
nyata,” Ardian ikut menimbrung obrolan mereka. Ia merasa kisah cinta Thella dan
Naufal sangat unik, lain daripada yang lain.
“Benar sekali, Yan. Aku juga
tidak menyangka kalau akhirnya aku akan hidup bersama dia. Aku tidak menyangka
akan menjalaninya sampai hari ini. Pada dasarnya, aku juga awalnya tidak
menyukainya, aku menikahinya hanya karena sebuah permainan, ternyata aku jatuh
hati juga padanya. Jujur, awalnya aku pikir, Thella itu sama dengan
mantan-mantanku dulu, ternyata dia beda jauh, bahkan bisa memahami aku dengan
baik,” Ungkap Naufal panjang lebar. Pernyataannya itu sukses membuat Thella
terharu.
“Kamu beruntung banget Fall, bisa
menikah dengan sahabatku. Dia itu wanita yang baik. Kalau kamu pernah berpikir
dia wanita yang matre, aku yakin saat ini kamu merasa menyesal, kan? Karena
pada kenyataannya, Thella bukanlah wanita yang seperti itu,” Vanya jelas tahu
banyak tentang Thella, karena mereka berdua bersahabat sejak lama. Thella tidak
pernah memanfaatkan seseorang, apalagi yang berhubungan dengan harta.
“Kamu benar, Vanya. Aku sangat
menyesal karena pernah mengira Thella cewek matre, dia sama sekali tidak pernah
seperti itu. Apa saja yang pernah aku berikan padanya setelah menikah, saat ini
masih. Bahkan kartu kriditku tidak pernah sekalipun di gunakan olehnya. Uang
tunai aja, sampai sekarang masih,” Fall merasa heran, mengapa Thella bisa
sehemat itu. Sedangkan, pacar-pacar Naufal dulu, hampir setiap hari meminta barang mewah.
“Itulah, Thella. Orangnya memang
hemat. Jadi, sekarang masih mikir, mau buang sahabat aku Fall?” Tanya Vanya
terkekeh, ia tidak serius, melainkan sedang bercanda.
“Tentu saja tidak, aku bahkan
tidak rela jika harus berpisah dengannya
sekarang. Aku sudah sangat menyayanginya, Van. Eh, ngomong-ngomong, kapan
kalian menikah? Kesini pasti mau bahas
itu, kan? Malah keasyikan bahas aku dan Thella,”
“Jadi gini...”
Mereka berdua akhirnya membahas
maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Naufal dan juga Thella. Setelah itu
mereka juga masih banyak membahas hal yang lainnya hingga hari menjelang malam.
Alhasil, Thella dan Naufal tidak jadi masak makan malam dan mereka memesan
__ADS_1
gofeed untuk menu makan malam.