My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 72


__ADS_3

Naufal dan Thella menyudahi


aktivitas mereka dengan berpelukan, di sekitar ranjang mereka berserakan baju


yang puluhan menit yang lalu masih mereka kenakan. Mereka berdua mengatur


nafas. Dengan peluh yang masih membasahi badan keduanya. Thella mendekap Naufal


dengan kepala bersandar di atas dada lelaki itu. Wanita itu bia mendengar detak


jantung Fall yang tidak beraturan.


“Semoga kali ini berhasil. Tapi


jika memang kita harus coba lagi, aku juga tidak keberatan.” Naufal menyisir


rambut Thella dengan jarinya.  Rambut


yang biasanya halus tergerai itu, kini tampak begitu lepek dan sedikit basah.


”Kalau itu sih, maumu saja, Fall.


Kamu selalu mau lagi dan lagi,” Thella tersenyum sambil menatap Naufal tajam.


Pria itu hanya tersenyum manis. Sebagai lelaki normal, tentu saja ia tidak


menampik kalau ia memiliki hasrat untuk bercinta dengan istrinya hampir setiap


hari.


“Tidak ada salahnya, kan? Aku ini


pria normal sayang,  apalagi aku kan


memang udah memiliki istri. Itu juga sudah menjadi kewajiban kamu untukselalu menuruti


mauku,” Ada-ada saja jawaban Naufal yang membuat Thella tidak bisa menolaknya.


Ia sepertinya telah di kuasai oleh lelaki itu.


“Baiklah, aku juga tidak bisa


menolakmu karena kamu sudah memiliki slogan, tidak menerima penolakan, jadi aku


bisa apa? Sudahlah, sekarang aku benar-benar ingin mandi. Rasanya sangat gerah,


aku ingin berendam saja untuk merelaksasi diriku,”  Thella beranjak dari tidurnya dan perlahan


berjalan menuju kamar mandi bahkan tanpa handuk. Fall hanya tersenyum melihat


tingkah Thella yang sedikit mesum. Kalau di ingat lagi, bisa jadi itu dia yang


mengajarkannya.


Thella mengisi bathup hingga penuh, ia mulai membuat


busa dengan sabun  favoritnya. Ia mulai


memasuki bak mandinya itu dan berendam di sana. Ia memejamkan mata, menikmati


sensasi  aroma yang sangat menenangkan.


Ini adalah mandi yang terbaik di minggu ini yang pernah ia lakukan. Ia kembali


membuka matanya saat merasakan ada seseorang  yang ikut masuk ke dalam bak, siapa lagi kalau bukan Fall.  Ia menarik Thella mendekat padanya seolah ia


tengah memangku istrinya itu.


“Aku bahagia sekali hari ini


Thella. Meskipun aku harus sakit, tapi aku merasa hari ini angat spesial. Kamu


tahu kenapa? Karena aku hari ini benar-benar menghabiskan hari ini bersamamu.


Tidak ada yang lebih spesial selain ini di minggu ini. Apakah kamu merasa


senang juga? Sama sepertiku?” Naufal menyabun beberapa bagian tubuh Thella yang


menjadi favoritnya.


“Aku juga merasa senang sekali,


Fall. Kapan lagi, kita bisa seromantis ini.  Menghabiskan seharian ini dengan raja singaku yang paling garang.  Ternyata begini rasanya menghabiskan waktu


seharian bersama kamu?  Bikin


ketagihan,  kapan kita bisa seperti ini


lagi? Masa iya, harus nunggu kamu sakit dulu, baru bisa bener-bener menikmati


waktu bersama?”  Thella menempelkan busa


lembut yang memenuhi permukaan air ke pipi Fall dengan gemas.  Perempuan itu sangat menikmati setiap detik


momen  berendam bersama mereka.


“Aku akan usahakan mulai sekarang


akan lebih meluangkan waktu lagi untuk kebersamaan kita, aku tahu, selama ini


kamu sebenarnya ingin aku seperti ini, kan? Hanya saja, mungkin kamu tidak bia


mengatakannya secara gamblang padaku. Juga karena aku yang mungkin terlalu


sering mengabaikan aku. Sebenenarnya aku mau ngasih tahu kalau setelah pulang


dari jogja aku akan kembali sibuk seperti biasanya, dan juga akan banyak lembur


,  aku harap kamu tidak kecewa, “  Tentu saja Naufal merasa bersalah pada


Thella, karena beberapa saat yang lalu ia sudah membicakan masalah waktu


kerjanya yang akan ia kurangi.  Pada


kenyataannya, pertambahan target akan membuat ia kembali sibuk. Ia  terpaksa harus kembali menjadi seseorang yang


workaholik, seperti awal mereka menikah dulu.


“Fall, aku kan sudah pernah


bilang, aku tidak pernah keberatan. Lagipula, kita akan kerja bersama kan? Jadi


aku akan menemani kamu, setiap hari. Aku selalu mendukungmu, apapun keputusan


yang kamu ambil. Aku yakin itu yang terbaik untuk keluarga kecil kita,”  Thella menempatkan posisi wajahnya agar bisa


melihat wajah suaminya dengan jelas. Perlahan ia mendaratkan kecupan singkat di


pipi lelaki yang di cintainya itu. Ia benar-benar menunjukkan sikap sangat


mendukung terhadapnya.


“Tuh, kan. Kamu memang pasanganku


yang terbaik. Kamu selalu berusaha mendukung aku di dalam setiap keadaan.


Makanya, aku tidak punya alasan untuk jauh dari kamu, jadi  jangan salahkan aku, kalau setiap hari rasa


sayangku kian bertambah padamu. Terus bawaannya mau nempel aja sama kamu,” Fall


menuangkan sampo ke rambut Thella, lalu membasahinya dengan air dan mulai


memijat kepala Thella layaknya  petugas


salon yang tengah memberikan layanan cuci rambut. Tentunya dengan di bumbui


beberapa tindakan romantis.


“Kamu bisa aja, ih. Kalau


perasaan ingin selalu nempel itu bukan efek dari aku yang selalu pengertian


sama kamu, tapi itu terjadi karena kamu memang mesum. Hayo ngaku...”  Thella mengejek Fall sambil memainkan busa


seperti anak-anak. Mengumpulkan di tangannya lalu meniupnya hinngga busa itu


menyebar ke mana-mana.


“Kamu seneng banget sih, bilang


aku mesum.  Padahal kenyataannya iya,”

__ADS_1


Naufal terkekeh   mendengar pengakuannya


sendiri. Biasanya ia selalu protes, tapi kali ini ia menerima pernyataan Thella


dengan lapang dada. Ia ingin menyenangkan hati Thella.


“Dih, aku kan emang selalu benar


tebakannya. Belum lama sih kamu jadi begini, awalnya seorang Fall sangat polos


sekali, sepertinya sekarang  gelar


polosnya sudah hilang, malah berubah drastis.” Thella terkikik mengenang


masa-masa Fall masih cupu  dan hubungan


mereka masih biasa saja.


“Jadi, jujur. Kamu lebih


suka  aku yang masih polos atau yang sekarang?”  Pertanyaan Naufal membuat Thella tersenyum


lebar. Tentu saja dia lebih suka Fall yang sekarang. Dia yang dulu terlalu


dingin dan kaku.


“Meskipun aku kadang kesel, tapi


aku lebih suka kamu yang sekarang. Kamu yang dulu terlalu kaku. Bahkan kamu tidak


perduli padaku kalau sudah lelah. Awas saja, aku tidak mau kamu kembali seperti


dulu lagi. Aku nggak rela,”  Thella


tersenyum tidak jelas. Ia terkadang masih merasa konyol kalau mengingat mereka


di masa lalu. Terlalu lucu untuk di kenang.


“Baiklah, baiklah, aku tidak akan


berubah atau kembali ke masalalu kita. Satu lagi, aku lupa bilang, aku akan


cari supir, jadi nanti saat aku harus lembur, kamu tidak usah ikut lembur,


cukup aku saja.” Jelas saja Fall tidak mau Thella ikutan lembur bersamanya. Ia


tidak bia membiarkan orang yang ia sayangi  itu ikut merasakan lelahnya lembur.


“Baiklah, aku nurut apa katamu


saja, Fall. Ayo kita sudahi acara mandi ini, setelah ini bantuin aku masak,


ya.” Thella keluar dari bak, lalu menghidupkan shower dan membilas dirinya. Fall pun mengikuti apa yang Thella


lakukan.


“Siap, aku akan membantu kamu


untuk memasak sesuatu. Kalau kamu lelah, kamu juga bisa mengandalkan suamimu


ini, aku pintar memasak loh, jangan lupa itu.” Fall sedikit menyombongkan diri.


“Iya deh, aku percaya kalau


suamiku ini pintar sekali dalam hal masak memasak. Tak apa, nanti kita masak


berdua saja, biar lebih romantis.” Thella memakai handuk yang sudah ia siapkan


lalu keluar dari kamar mandi, diikuti oleh Fall.


Thella menyiapkan baju yang akan


di gunakan oleh Naufal. Memberesi baju yang berserakan, lalu mencari bajunya


sendiri. Karena hari sudah sore, Thella memilih baju tidur panjang dengan bahan


satin untuk ia pakai.


Ia menyempatkan diri sedikit


berhias. Memakai lipbalm berwarna transparan dan juga sedikit berbedak.


Rambutnya di biarkan tergerai dengan bando berbentuk telinga kelinci,


Ting..tong..


Suara bel rumah mereka berbunyi.


Keduanya saling berpandangan, seperti saling bertanya, siapa yang datang.


“Biar aku saja yang buka,” Fall


berjalan keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumahnya. Ternyata Ardian dan


Vanya yang datang.


“Eh, kalian, ayo masuk. Silahkan


duduk, sebentar, aku panggil Thella,” Fall mempersilahkan tamunya itu untuk


masuk dan duduk lalu dengan segera ia menemui Thella agar keluar menemui mereka


berdua.


“Thella, ada Ardian sama Vanya,


keluar gih,”


“Ada Vanya sama Ardian? Waah


seneng deh, “  Thella segera keluar dari


kamarnya dan menemui  kedua sahabatnya


yang sebentar lagi akan menikah dan tinggal menghitung hari itu.


“Vanya, apa kabar...” Layaknya


sahabat yang sudah lama tidak bertemu, Thella dan Vanya saling peluk dan cium


pipi kanan-kiri. Dengan Ardian, karena dia cowok, jadi cukup jabat tangan saja.


“Kabar aku baik, Thella. Makin


gemuk aja kamu, baru berapa hari nggak ketemu. Bahagia banget kayaknya,”


Ledek  Vanya saat menyadari tubuh


sahabatnya sedikit gemukan.


“Masa, sih? Setiap hari semenjak


sama Naufal aku kan selalu bahagia emang. Kamu juga nanti kalau sudah menikah


dengan Ardian akan merasakan bahagianya menikah itu seperti apa. Pokoknya


bawaannya nyesel deh, nyesel kenapa nggak dari dulu aja,”


Pernyataan Thella membuat semua


yang ada di sana tertawa. Thella bicara apa adanya,  setelah menikah dengan Naufal ia merasa


hidupnya jauh lebih berwarna. Ia juga merasa jauh lebih aman dan ada yang


menjaga. Beda jauh dengan saat ia masih sendiri.


“Duh, bisa aja nih, sahabat aku,


bikin pengen buru-buru nyusulin. Aku juga belum nikah udah ngerasa bahagia.


Jadi nggak bisa bayangin, gimana rasanya kalau udah nikah. Kalian lagi libur


atau udah pulang dari kantor?  Kita


ngaysal aja ke sini, untung kalian pas ada di rumah,” Vanya memang lupa


menghubungi Thella terlebih dahulu untuk mengabari kedatangan mereka, dari


tempat makan langsung meluncur begitu saja ke rumah Fall. Untung saja mereka


berdua sedang ada di rumah.

__ADS_1


“ Kebetulan, hari ini Fall nggak


enak badan, maanya kita berdua nggak ngantor. Aku mau pergi ke kantor sendirian


nggak tega ninggalin Fall yang sedang demam,  jadi deh aku menemani dia sampai demamnya turun. Untungnya dia cepat


baikan. Eh, sebentar, aku ambil minuman dulu,”  Thella bergegas menuju kulkas dan mengambil beberapa minuman dingin lalu


membawanya bersama makanan kecil yang ada di dalam lemari.


“Silahkan,” Thella menghidangkan


makana kecil berupa biskuit buatannya sendiri dan juga minuman dingin yang di


ambilnya dari kulkas tadi. “Jadi kalian tadi darimana?” Sambungnya. Ia ingin


tahu apakah Vanya sengaja datang  ke


rumahnya, atau dari tempat lain.


“Kami berdua barusaja melakukan


foto pranikah.  Baru beberapa pose saja


sudah lelah. Apalagi nanti saat resepsi, pasti makin lelah. Belum lagi saudara


dari mama papa, banyak banget. Enakan nikah seperti kalian, sah, udah, bawa


kabur pengantin wanitanya,” Vanya menyindir Fall yang langsung membawa pulang


Thella beberapa saat setelah acara ijab kabul selesai. Menurut Vanya itu adalah


pernikahan tersimpel yang pernah ia lihat.


“Habisnya aku udah nggak tahan,


mau bully dia. Saat itu kan aku sama dia masih musuhan, seperti kucing dan


tikus,” Fall tertawa, di susul dengan yang lain.


“Kamu sih, Fall. Jahat banget,


masa iya sahabat aku yang unyu ini kamu biarin tidur di lantai gitu aja. Udh


gitu, kamu suka banget galakin dia lagi. Kamu tahu, Thella sampai mau ninggalin


kamu, untung saja ada aku yang merayu dia untuk mempertahankan kamu. Kalau


nggak, udah kelar nasib pernikahan kalian,”  Vanya buka kartu tentang masalalu pernikahan Fall dan Thella. Semua yang


di sana tertawa lagi.


“Kamu bayangin aja Van, setiap


pagi selalu ada yang teriak, Thella, mana dasiku, mana sepatuku, mada bajuku,


siapkan sarapanku,  rasanya kesel banget


tau nggak. Salah dikit, aku hukum kamu, hukum, hukum, siapa coba yang nggak


pengen nyerah kalau dalam situasi seperti aku?” Gaya bicara Thella yang tampak


lucu membuat mereka semua kembali tertawa lagi.


“Pernikahan kalian memang unik.


Kamu tahu fall, waktu di bar, thella billang gini ‘Dasar laki-laki sialan,’ pas


aku bilang kamu buat aku aja, dia bilang ‘Ambil aja, aku nggak butuh lelaki


seperti dia,’ nyatanya dia malah jadi lengket gini sama kamu,” Vanya heboh


menceritakan saat Thella kesal,  Fall


tiba-tiba datang dan melamarnya.


“Ih, jangan buka kartu dong


Vanya.  Kalau inget itu, aku merasa


sangat malu. Sudah sumpah serapah, akhirnya aku jatuh cinta juga pada Fall,”


Pipi Thella sedikit memerah sambil melihat ke arah Naufal yang serius


mendengarkan cerita Vanya.


“Itu namanya benci jadi cinta.


Aku mendengarkan cerita awal kalian bertemu merasa unik.  Ada juga ya yang begitu, aku pikir yang


seperti itu hanya ada di dalam komik atau novel, ternyata ada juga di dunia


nyata,” Ardian ikut menimbrung obrolan mereka. Ia merasa kisah cinta Thella dan


Naufal sangat unik, lain daripada yang lain.


“Benar sekali, Yan. Aku juga


tidak menyangka kalau akhirnya aku akan hidup bersama dia. Aku tidak menyangka


akan menjalaninya sampai hari ini. Pada dasarnya, aku juga awalnya tidak


menyukainya, aku menikahinya hanya karena sebuah permainan, ternyata aku jatuh


hati juga padanya. Jujur, awalnya aku pikir, Thella itu sama dengan


mantan-mantanku dulu, ternyata dia beda jauh, bahkan bisa memahami aku dengan


baik,”  Ungkap Naufal panjang lebar.  Pernyataannya itu sukses membuat Thella


terharu.


“Kamu beruntung banget Fall, bisa


menikah dengan sahabatku. Dia itu wanita yang baik. Kalau kamu pernah berpikir


dia wanita yang matre, aku yakin saat ini kamu merasa menyesal, kan? Karena


pada kenyataannya, Thella bukanlah wanita yang seperti itu,” Vanya jelas tahu


banyak tentang Thella, karena mereka berdua bersahabat sejak lama. Thella tidak


pernah memanfaatkan seseorang, apalagi yang berhubungan dengan harta.


“Kamu benar, Vanya. Aku sangat


menyesal karena pernah mengira Thella cewek matre, dia sama sekali tidak pernah


seperti itu. Apa saja yang pernah aku berikan padanya setelah menikah, saat ini


masih. Bahkan kartu kriditku tidak pernah sekalipun di gunakan olehnya. Uang


tunai aja, sampai sekarang masih,” Fall merasa heran, mengapa Thella bisa


sehemat itu. Sedangkan, pacar-pacar Naufal dulu,  hampir setiap hari meminta barang mewah.


“Itulah, Thella. Orangnya memang


hemat. Jadi, sekarang masih mikir, mau buang sahabat aku Fall?” Tanya Vanya


terkekeh, ia tidak serius, melainkan sedang bercanda.


“Tentu saja tidak, aku bahkan


tidak  rela jika harus berpisah dengannya


sekarang. Aku sudah sangat menyayanginya, Van. Eh, ngomong-ngomong, kapan


kalian menikah? Kesini  pasti mau bahas


itu, kan? Malah keasyikan bahas aku dan Thella,”


“Jadi gini...”


Mereka berdua akhirnya membahas


maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Naufal dan juga Thella. Setelah itu


mereka juga masih banyak membahas hal yang lainnya hingga hari menjelang malam.


Alhasil, Thella dan Naufal tidak jadi masak makan malam dan mereka memesan

__ADS_1


gofeed untuk menu makan malam.


__ADS_2