
Beberapa jam kemudian, jari-jari Thella terlihat bergerak perlahan. Naufal sangat senang melihat perubahan itu. Ia memang berharap Thella cepat sadar dan ia bisa membicarakan semuanya kepada istrinya itu. Ia ingin segera mengungkapkan perasaan bersalahnya kepada Thella.
"Fall..." Panggil thella sangat lemah.
"Aku ada di sini, Thella." Naufal menggenggam erat tangan Thella. Tangan yang tadi dingin itu perlahan menghangat.
"Kamu tidak meninggalkan aku kan, Fall? Aku nggak mau kehilangan kamu Fall,aku sayang sekali sama kamu, Fall, aku mau kamu tetap menjadi suamiku, aku tidak pernah selingkuh..."
"Ssttt..." Naufal menaruh jari telunjuknya di bibir Thella, ia tidak mau wanita itu bicara lagi.
"Thella, dengar aku, yang salah di sini adalah aku, aku yang menuduhmu sembarangan sampai kamu jadi seperti ini. Maafkan aku, sayang. Aku nggak tahu kalau kamu mempunyai penyakit hipotermia. Saat badai salju, kamu ada di mana? Untung ada Ardian yang menemukan kamu," Naufal menceritakan, bagaimana Ardian menemukan dia saat badai itu datang. Ia tidak ingin dalam menyangka bahwa dirinya lah yang membawa Thella ke rumah sakit itu dan Naufal pun berharap Thella berterima kasih kepada Ardian atas kebaikannya.
" Jadi, saat badai itu yang menyelamatkan aku adalah Ardian? Aku pikir saat itu aku sudah tidak akan bertemu dengan kamu lagi Naufal. Karena, udara saat itu sangat dingin dan sepertinya akan segera turun badai salju. Hingga akhirnya, aku tidak sadar lagi. Saat itu aku hanya berharap kamu datang. Aku memanggil manggil nama kamu, tapi kamu tidak juga hadir di sampingku. Aku saat itu sangat takut," Thella menceritakan apa yang dialaminya sesaat sebelum badai itu terjadi, saat itu Thella memang merasa sangat ketakutan dan berharap Naufal datang untuk menolongnya. Tapi ternyata novel tidak hadir, sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri, Untung saja saat itu Ardian datang membantunya.
"Maafkan aku Thella, aku terlalu tersebut emosi saat itu. Aku sangat cemburu, padahal kalian berdua tidak berbuat apa-apa. Aku sudah minta maaf kepada Ardian dan berterima kasih karena dia telah menolong kamu, membawamu ke rumah sakit, Hingga kamu mendapatkan pertolongan. Dia juga yang menemui aku di kamar hotel dan mengabarkan keadaanmu kepadaku, kalau saja tidak ada Ardian, entah apa yang terjadi padamu. Kita sepertinya harus berterima kasih secara spesial kepadanya," Naufal berkata kepada Thella sejujur-jujurnya, apa yang terjadi antara dirinya dan Ardian. Naufal ingin mengakhiri segala bentuk kesalahpahaman antara ldirinya, Naufal dan juga Thella. Sebenarnya, hanya dirinyalah yang salah paham.
" Dia memang sahabatku, sejak dulu kami bertiga Aku, Ardian dan Vanya selalu bersama-sama dalam segala hal. Seperti mengerjakan tugas atau ke kantin bersama. Aku dan dia, dari dulu saat tidak ada perasaan apapun. Kami hanya murni bersahabat," Thella sedikit memberikan pencerahan tentang hubungannya dengan Ardian di masa lalu. Sejak dulu, mereka memang hanya bersahabat. Sedangkan Thella sendiri tahu, perasaan Ardian tertuju kepada sahabatnya Vanya.
"Ardian sudah bercerita kepadaku tentang kamu di masa lalu. Saat kalian masih sama-sama SMA. Ia menceritakan bagaimana kisah cintamu di saat itu, dia juga menyarankan padaku untuk menjaga kamu baik-baik. Karena aku mungkin tidak akan menemukan orang sepertimu di masa yang akan datang ketika aku melepasmu dan aku hanya akan menyesal jika aku melakukan itu. Tentu saja aku tidak akan melepasmu, karena aku sudah merasa cocok padamu. lagipula, kamu adalah satu-satunya istriku yang paling kusayang. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu, karena, hanya kamu yang bisa menerima kekuranganku dengan tulus. Terima kasih Thella, kamu telah hadir ke dalam hidupku dan menyayangiku apa adanya," Naufal akhirnya dapat menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya. Ia memang harus mengungkapkan itu dan posisi Thella tidak akan pernah terganti oleh siapapun.
" Aku juga minta maaf, bagaimanapun, aku juga sudah melanggar apa yang menjadi keinginanmu Fall. Seharusnya aku tidak berbicara dengan Ardian tadi. Jadi, kamu tidak perlu minta maaf. Aku juga salah disini, meskipun aku dan Ardian hanya murni mengobrol tentang hal-hal saat masih sekolah," Thella membenarkan letak duduknya. Dari berbaring, ia menata diri agar bisa sedikit duduk. Badannya masih terasa sedikit cemas dan tentu saja hawa dingin itu masih terasa. Ketika ia sudah menyerap dingin, terkadang sulit baginya untuk menghilangkan rasa dingin itu, seperti sudah melekat sampai ke tulang.
" Sejak kapan kamu menderita hipotermia? Kenapa kamu tidak bicara padaku, alau kamu punya penyakit itu? Pantas saja, saat kita akan mendaki gunung saat itu, tanganmu begitu dingin. karena waktu itu kamu lupa tidak memakai sarung tangan . Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu mengidap penyakit itu," Sebagai suaminya, tentu saja Naufal ingin mengetahui sejak kapan Thella menderita penyakit hipotermia. Fall akhirnya memang benar-benar merasa bersalah karena tidak tahu istrinya itu menderita penyakit yang lumayan serius.
" Entah Sejak kapan, tapi gejala ini terjadi pertama kali waktu aku SMA. Sejak saat itu aku sering kambuh kambuhan, apabila udara dingin mulai menyerang. Maka dari itu, aku lebih suka berpakaian tebal dan tertutup, daripada terbuka. Untung saja udara di Indonesia tidak separah di sini. Jadi, saat kamu memutuskan aku untuk selalu memakai dress pendek, itu tidak terlalu berpengaruh," Thella tersenyum memandang Naufal dengan penuh pengertian.
" Kalau begitu, mulai besok, hingga kita sampai di Indonesia, kamu pakai pakaian yang nyaman untuk mu saja, Jangan mengikuti apa mauku, aku tidak ingin kamu sampai sakit lagi seperti ini. Aku sangat khawatir," Lihat, bagaimana Naufal yang fashionable ini, berusaha mengacuhkan apa yang selama ini ia terapkan kepada Thella demi kesehatannya.
" Tidak perlu melakukan itu, Naufal. Aku sudah terbiasa kok. Di sana baik-baik saja soalnya, cuacanya juga tidak terlalu ekstrem. Ini terjadi karena kita pindah ke cuaca yang lebih dingin saja. Aku sudah bahagia menjadi apa yang kamu mau. Dengan begitu, aku merasa sudah membuatmu bahagia. Jangan merasa sungkan, aku sudah terbiasa memakai baju seperti apa yang kamu inginkan. Bukankah sudah menjadi tugasku untuk berpenampilan sebaik mungkin di hadapanmu? kamu bilang kamu tidak suka penolakan, tapi kenapa sekarang kamu lebih mendengarkan penolakanku?" Thella memprotes keputusan Naufak yang melanggar peraturan yang sendiri.
" Aku baru tahu, setelah sekian lama aku mendengar bahwa cinta itu dapat merubah segalanya, ternyata itu terjadi dalam kehidupanku. Rasa cintaku padamu sudah merubah aku begitu banyak. Semua hal buruk yang ada dalam diriku sekarang menjadi positif. Itulah kenapa aku setuju dengan Ardian, bahwa kamu adalah wanita yang istimewa. Kamu susah ditemui dan jika aku berpisah denganmu, aku tidak yakin, aku bisa menemukan yang sebaik dirimu," Naufal membelai rambutnya dengan lembut. Ia hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya, mengapa sekarang dunianya telah beralih kepada wanita yang ada dihadapannya itu. Dia merubah banyak hal, merubah kebiasaan buruk nya menjadi jauh lebih baik.
Bagi Naufal, bertemu dengan Thella adalah hal yang sangat indah. Ia seperti sekuntum bunga yang sangat indah , mampu merubah suasana di ruangan yang didatanginya. Jika di dalam dunia fantasi, Thella bagaikan peri, yang mampu menerima semua kelebihan dan kekurangannya.
" Aku senang, kalau ternyata kehadiranku dalam hidup kamu membawa dampak positif. Itu yang aku inginkan, kamu pada dasarnya memang sudah baik. Hanya saja, kehidupanmu yang kelam membuat kamu jadi seperti itu. Tapi aku menyadari semuanya, karena aku ingin bisa merubah hidupmu menjadi lebih hangat, meskipun sikapmu terkadang masih dingin. Terima kasih, aku senang dapat hadir dalam kehidupanmu," Thella menitikkan air mata karena ia terharu. Ia tidak menyangka dapat bermanfaat untuk kehidupan orang lain. Apalagi itu adalah suaminya sendiri.
Selama ini Thella merasa bahwa dirinya tidak bermanfaat untuk siapapun, karena, papanya lebih memilih untuk tinggal di negara lain daripada bersamanya. Selama ini, Hanya ada pembantu rumah yang menemaninya dan mungkin saat ini rumahnya pun masih ditempati oleh pembantunya itu. Karena yang mau urus semuanya adalah ayahnya, pembayarannya pun ayahnya yang mengurus.
__ADS_1
" Kalau kamu masih lemah, kita tidak ursah jadi kembali ke Indonesia besok. Aku akan membatalkan tiketnya, karena aku juga pesannya via online. Jadi, mudah saja,tinggal di cancel. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu, biarlah nanti kita pulang saat kamu sudah sehat saja," Tentu saja, bagian Naufal kesehatan adalah yang terpenting. Ia tidak peduli lagi, pada semuanya pekerjaannya atau apapun itu.
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu ? Aku khawatir, kamu nanti akan merasa tidak nyaman jika terlalu lama di sini. Nggak apa-apa kok kemungkinan istirahat satu malam ini juga akan baikkan. biasanya aku tidak pernah sakit sama, jangan buru-buru meng-cancel, siapa tahu aku bisa,"
" Tapi, kata dokter keadaanmu lumayan parah karena kamu terlambat mendapat pertolongan. Jadi lebih baik, kita agak lama saja di sini. Supaya kamu bisa dirawat beberapa hari. Aku tidak apa-apa kok, jika harus meninggalkan pekerjaanku untuk kamu. Sekarang ini, yang terpenting bukanlah pekerjaan tetapi kamu, karena aku bekerja untuk kamu," Naufal persembahkan senyum termanisnya untuk Thella dan wanita itu pun membalas senyuman suaminya itu. Ia sangat bahagia, karena saat ini ia menjadi lebih penting daripada pekerjaan yang Naufal miliki.
"Terima kasih, Naufal. Kamu sudah menempatkan aku menjadi seseorang yang penting dalam hidupmu." Thella memejamkan matanya, qda rasa ngilu di kepalanya. Tapi Thella tidak ingin Naufal mengetahuinya.
"Kamu mau makan? biar aku suapin," Naufal mengambil mangkok bubur yang ada di meja untuk menyuapkannya kepada Thella.
"Boleh, Fall. Aku sedikit lapar." Thella kembali membuka matanya untuk merespon tawaran Naufal untuk makan.
Semenjak bersama Naufal, Thella merasa meskipun sakit, ia selalu mrndapatkan perhatian lebih dari lelaki itu. Beda dengan saat ia masih sendiri dulu, papanya pun tidak ada datang menjenguk.
"kamu kenapa, kok matamu berkaca-kaca?" Naufal menyadari ada air di kedua bola mata Thella dan hampir jatuh.
"Aku terharu, Fall. Kamu tahu, kamu orang pertama yang perduli saat aku sakit selain mamaku. Kamu dengan sabar merawatku, sejak awal, sebelum kita seakrab ini pun, kamu selalu berusaha untuk merawatku." Thella menyeka air matanya yang terjatuh dengan ujung selimut yang di berikan oleh pihak rumah sakit.
"Bukankah ini sudah menjadi kewajibanku, Thella? Aku memang harus merawatmu dengan baik, apalagi, aku yang sudah menyebabkan kamu menjadi seperti ini, kan?" Naufal menyuapkan bubur pada Thella dengan sabar, ia bahkan sangat senang memiliki waktu untuk mengurus Thella.
Sebenarnya, Thella tidak menyukai sikap Naufal yang overprotektif terhadapnya, tapi selebihnya dari itu, Thella tahu bahwa semua itu ia lakukan karena Fall sangat mencintainya.
Dia yang sudah membuat lelaki dingin itu jatuh cinta, maka ia harus menerima konsekuensinya. Naufal tidak akan seperti itu kalau ia tidak sedang dalam pengaruh cinta yang memabukkan.
"Tidak, aku yang membuatmu seperti ini, Thella. Aku harus menebus kesalahanku, jadi kamu boleh meminta apapun, aku akan mengabulkannya,"
"Serius aku boleh meminta apapun?"
"Serius, ayo bilang padaku, apa yang kamu inginkan,"
"Bener? Kamu nggak takut permintaanku terlalu berat?" Ledek Thella.
'Seberat-beratnya aku pasti bisa memenuhinya, jadi apa? Ayo sebutkan," Naufal kembali mencecar Thella dengan pertanyaan.
"Kalau gitu, aku mau kamu selamanya ada di sampingku. Apapun yang terjadi, kamu harus selalu ada untukku."
"Ada lagi?"
__ADS_1
"..." Thella menggeleng tanpa mengucapkan apapun.
"Baiklah, Aku akan selalu ada untukmu. Apapun yang terjadi.Boleh di bilang, aku adalah super hiro untuk kamu, mulai sekarang kamu jangan takut lagi, " Naufal sedikit terkekeh karena ingin melucu tapi jatuhnya garing.
"Terima kasih, Sayang,"
"Kaku,"
"Apanya?"
"Caramu manggil, sayang,"
"Belum biasa, dan tidak mau terbiasa,"
"Kenapa seperti itu?"
"Hubungan itu jika terlalu romantis tidak akan seru lagi,"
"Benarkah?"
"Hu'um. Makanya kamu jangan terlalu romantis,"
"Tapi aku maunya romantis," Naufal mendekati Thella.
"Fall, kamu mau apa?"
"Cium kamu, sebentar saja..."
"Jangan, Fall..."
"Kamu ingat kalimatku, apa?"
"Kamu benci penolakan?"
"Benar, meskipun kamu menolak, aku tetap akan melakukannya,"
Cup.. cup.. cup..
__ADS_1