My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 45


__ADS_3

"Fall, bangun..." Thella mrmbangunkan Naufal yang masih tertidur pulas sambil memeluknya. Setelah olahraga siang, mereka berdua sengaja tidur melepas lelah.


"Ehm.. Aku masih ngantuk, Thella," Keluhnya sambil beringsut memeluk Thella lagi dari arah yang berbeda.


"Bangun dong, kita mandi, terus jalan-jalan sore. Kita ke taman deket komplek situ, main sepeda," Thella ingin menghabiskan sore bersama Naufal di taman sekitar tempat tinggalnya.


"Main sepeda? tapi aku nggak bisa naik sepeda, gimana dong?"


"Tenang, biar aku yang nyetir. Kamu tahu, main sepeda itu seru. Romantis gimana, gitu..." Thella senyum-senyum sendiri saat membayangkan mereka main sepeda berdua.


"Baiklah, iya. Tapi ada syaratnya..."


"Apa?"


"Kita mandi bareng sekarang,"


"Kumat kan, genit. Nggak mau aku,"


"Ya, udah. Kalau nggak mau. Kita nggak jadi ke taman,"


"Aku ngambek,"


"Ngambek aja, nggak perduli..."


"Oke, fix. Nggak ke taman, kamu tidur di luar..." Ancam Thella.


"Jangan dong, nggak kasian? Aku digigitin nyamuk. Mukaku yang tampan ini bisa ternoda,"


"Biarin, biar di gigit Vampir sekalian,"


"Memangnya kamu rela, kalau aku sampai di gigit Vampir? Nanti nangis..." Lrdek Naufal sambil menempelkan pipinya pada pipi Thella. Mereka sangat romantis sekali.


"Nggak akan rela. Hanya aku yang boleh gigit kamu, seperti ini, aem..." Thella menggigit pipi Naufal gemas.


"Auuuh.. sakit. Siapa sih yang ngajarin istriku jadi tukang gigit seperti ini?" Keluh Naufal sambil memijat bekas gigitan Thella.


"Tuan Singa yang ngajarin, mau lagi?"

__ADS_1


"Jangan... cukup. Gimana kalau aku gantian yang gigit kamu?" Naufal menggigit kecil pundak Thella. Membuat istrinya itu menggeliat karena geli.


"Suamiku genitnya... Kamu ketularan siapa, sih? Kok jadi genit begini?"


"Istriku yang mengajarkan ilmu kegenitan padaku,kamu mau jurus genit yang lain?" Diam-diam Naufal meraba perut datar Thella. Tentu saja Thella menggelinjang sebagai reaksi sentuhan Fall.


"Fall, udah dong.Godain aku terus. Ayo, katanya mau mandi..." Thella tanpa sadar mengingatkan Naufal tentang acara manfi bersama.Tentu saja keputusan Thella membuat pria itu bersemangat.


"Yuk..yuk..."


Sore harinya, mereka berdua benar-benar ke taman. Naufal yang sebelumnya tidak pernah pergi ke tempat umum agak lumayan tidak nyaman dan salah tingkah. Belum lagi para ibu-ibu dan wanita muda selalu menatapnya dengan tatapan aneh.


"Eh, neng Thella, suaminya ganteng amat dah, kayaj bintang pilem," Komentar seorang ibu yang sudah mengetahui kalau Thella menikah.


"Suamiku memang ganteng sih bu, tapi pemalu," Thella menggoda Naufal hingga suaminya itu semakin salah tingkah.


"Sudah ngisi belum, Neng?" Tanya sqlah seorang ibu yang lainnya.


"Belum, Bu. Belum di kasih kepercayaan sama yang di atas,"


"Jangan terlalu santai, atuh. Buruan periksa, Neng. Takutnya ada apa-apa. Suaminya ganteng begitu,kalau nggak bisa hamil, bisa-bisa cari yang lain,"


"Iya, bener tuh. Buruan periksa dan cari solusinya, Neng. Nanti suami neng bisa berpaling,"


Para gerombolan ibu-ibu justru sibuk mengomentari Thella yang belum juga hamil dengan berbagai pendapat. Kebanyakan justru membuat pikiran Thella menjadi tidak tenang.


"Maaf ibu-ibu kalau saya lancang berbicara. Thella ini istri saya, sebagai suaminya, saya sudah menerima apa adanya dia. Meskipun dia tidak memberikan saya anak, saya masih akan tetap mencintainya," Karena geram dengan komentar negatif ibu-ibu itu, Naufal akhirnya angkat bicara dan suksea membuat para ibu komplek bungkam.


"Wah.. suami neng Thella selain ganteng ternyata juga penyayang ya... Jadi iri. Pengen juga punya mantu kaya suaminya neng Thella," Salah satu ibu ada yang memgomentari kebaikan Naufal dan yang lain justru terdiam karena malu.


"Kalau begitu, saya dan suami saya mau lanjut jalan-jalan. Terima kasih ibu-ibu untuk sarannya. Saya dan suami akan segera ke dokter kandungan," Thella digandeng Naufal dan berlalu dari ibu-ibu rumpi itu. Seperginya mereka, para ibu itu masih saja membicarakan mereka berdua. Sepertinya di mana-mana ada ya, para ibu-ibu yang seperti itu?


"Terima kasih, sayang. Udah belain aku,"


"Dih, pas di belain aja manggilnya segala pake sayang, kemarin-kemarin kemana aja?" Naufal protes karena Thella jarang memanggilnya sayang.


"Sengaja nggak sering, biar nggak bosen juga. Meskipun aku jarang bilang sayang atau manggil kamu sayang, di dalam hatiku, aku selalu menganggapmu yang tersayang, kok." Thella mencoba membujuk Naufal, agar pria itu luluh hatinya.

__ADS_1


"Okelah. Aku percaya.Tunggu sebentar, jangan kemana-mana. Aku mau membelikanmu sesuatu." Naufal berlari kecil mendatangi seorang bapak-bapak penjual gulali dan membeli dua buah gulali berbentuk hati untuk ia dan Thella.


"Nih, gulali yang manis, untuk istriku yang tidak kalah manis," Naufal menyodorkan salah satu gulali pada Thella dan wanita itu mengambilnya. Meskipun hanya gulali, tapi pemberian Naufal itu membuatnya menjadi jauh lebih bahagia.


"Terima kasih, Naufal. Kamu tahu saja kalau aku suka yang manis-manis," Thella membuka bungkus gulali itu dan mulai menikmatinya.


"Gitu dong, senyum. Kalau senyum begini, kan manis," Naufal sengaja ingin membuat istrinya tersenyum. Karena ia tahu, omongan ibu komplek tadi pasti mempengatuhi pikiran Thella.


"Fall... soal masalah tadi..."


"Anak?"


"Iya..."


"Lupakan. Anggap saja kita masih pacaran.Tidak perlu terlalu fokus mikirin punya anak." Naufal tidak ingin lagi membahas tentang keinginannya memiliki anak. Ia percaya, suatu hari nanti mereka pasti akan di beri momongan juga. Jadi tidak perlu terlalu berambisi. Terutama, ia tidak ingin Thella terbebani pikirannya karena hal itu.


Naufal tidak akan membiarkan seorangpun menggugurkam senyuman Thella. Ia ingin istrinya itu selalu ceria dan bahagia. Sebesar apapun keinginannya untuk memiliki anak, jika belum di beri, itu jelas bukan kesalahan Thella.


"Terima kasih, Fall. Kamu sudah sangat mengerti aku dengan sangat baik. Aku hanya bisa selalu berusaha untuk membuatmu bahagia."


"Aku sudah sangat bahagia memilikimu, Thella..."


"Benarkah? Senang sekali bisa membahagiakanmu, Fall."


"Gimana kalau besok kuta mulai masuk ke kantor?"


"Setuju. Aku juga sudah tidak lelah lagi, siap bertempur.." Thella bersemangat. Mungkin dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan, pikirannya bisa jauh lebih baik jika di bandingkan dengan sekarang.


Aku suka semangatmu, kesayanganku..."Naufal mengacak rambut Thella gemas. Bahagia rasanya jika melihat wanita itu tersenyum.


Tiba-tiba ia teringat mamanya. Seandainya mamanya bisa mencintainya dengan tulus, pasti Naufal merasa sangat bahagia.


"Fall, ayo ke sana. Aku akan mengajakmu naik sepeda atau mau aku ajari?"


"Boleh,pasti seru. Yuk kita ke sana..."


Pada dasarnya cinta sejati adalah bagaimana kita dapat menyempurnakan satu sama lain. Bukan saling sibuk mencari kelebihan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2