My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 51


__ADS_3

Hati Naufal sangat sakit sebenarnya saat harus melihat orang


yang telah melahirkannya di bawa oleh polisiH. Tapi semuanya adalah pilihan


mamanya sendiri. Kalau saja mamanya tidak berbuat jahat pada istri dan juga


anaknya, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.


Thella sangat paham apa yang ada di dalam hati suaminya saat


ini. Ia segera memeluk erat  Fall agar


pria itu merasa ada yang mendukungnya. Thella juga sebenarnya tidak tega


melihat mertuanya harus mendekam di penjara.


“Fall, aku tahu kamu pasti sangat sedih karena kejadian ini.


Semua kejadian ini memang sulit untuk kita terima. Tapi, kita tidak bisa


membiarkan semuanya terjadi begitu saja tanpa konsekuensi. Aku juga tidak


serius benci pada mama. Bagaimanapun dia adalah wanita  yang telah melahirkan suamiku, tentu saja aku


sangat menaruh hormat,”


Tanpa Thella berkata seperti itu, Naufal sebenarnya juga


sudah sangat memahami kalau istrinya bukan wanita sejahat itu. Wanita itu tidak


akan membenci mertuanya tanpa alasan yang jelas.


Naufal mengecup ubun-ubun Thella sebagai tanda sayangnya


yang eramat dalam pada wanita itu. Jika  mamanya bisa seperi mertua yang lainnya tentu


saja hubungan antara Thella dengan mama Naufal akan terlihat sangat harmonis.


“Terima kasih, Thella. Telah menguatkan aku, mendukungku


dalam setiap keadaan. Aku tahu, apa yang kita selesaikan hari ini, akan ada


lagi rintangan lainnya di hari yang akan datang. Untuk itu, sanggupkah kamu


melangkah bersamaku, Thella?”


“Tentu saja, Naufal. Kamu dan aku, kita jalani semuanya


berdua, tersenyumlah...”


Thella ingin menjadi sosok yang menguatkan Naufal, meskipun


ia juga idak sekuat itu. Thella memang kesepian karena meninggalnya sang mama,


lalu papanya juga menikah lagi dan meninggalkannya, tapisetidaknya, Thella


masih merasakan kehangatan seorang ibu, berbeda dengan naufal yang di abaikan


ibunya sejak kecil.


Seorang mama adalah kekuatan untuk anaknya. Ketika mama


tidak bisa lagi menjadi seorang peri dalam kehidupan anaknya, di situlah


anaknya akan merasa rapuh. Terkadang keinginan seorang anak sangatlah


sederhana, ingin di mengerti, di sapa atau di beri sedikit perhatian.


“Sekarang, kamu pasti lelah kan? Ayo, sekarang kamu


beristirahat di kamar, aku akan memasakkanmu sesuatu. Aku yakin, hasil


masakanku nanti kamu pasti suka,” Naufal ingin istrinya segera  beristirahat. Naufal takut Thella akan stres


juga memikirkan semuanya, tentangnya, hidupnya, dan kehidupan rumah tangga


mereka.

__ADS_1


“Baiklah, Tuan Singa, aku akan mengikuti apa saranmu. Kalau nanti


masakanmu tidak enak, aku akan menghukummu. Jadi, gunakan kesempatan memasakmu


dengan baik,” Thella sengaja menggoda Naufal untuk memberi lelaki itu semangat.


Setidaknya, jika tidak ada seorangpun yang perduli padanya, Thella ingin


menjadi satu-satunya orang yang paling peduli pada suaminya itu.


“Baiklah, tapi jika masakanku ternyata enak, kamu harus aku


hukum,”


“Kok, gitu? Aku kan tidak bersalah apapun, kenapa harus di


hukum?”


“Karena aku kangen sama istriku ini,  jadi salah ataupun tidak, aku akan tetap


menghukummu,” Naufal mengacak rambut Thella, rasanya seperti sudah lama sekali


tidak melakukan ini.


“Baiklah, Fall. Seharusnya tidak perlu malu untuk mengakui,


kalau kamu sangat merindukan aku. Kalau begitu, aku istirahat dulu. Rasanya kepalaku


sedikit pusing.” Thella meninggalkan Naufal dan masuk ke kamarnya.


Melihat rumahnya yang sangat berantakan Naufal memutuskan


untuk merapikan semuanya. Ia tidak ingin membebani Thella dengan pekerjaan


rumah yang menumpuk seperti saat ini. Mungkin saja tadi wanita itu tidak


terlalu memperhatikan detail ruangan karena fokus pada permasalahan yang ada.


Naufal juga heran, mengapa rumahnya bisa seberantakan ini


padahal di tinggali oleh dua orang wanita, baru saja di tinggal beberapa hari. Sementara


Setiap hari istrinya itu selalu membuat ruangan bersih dan nyaman untuk di


tinggali.


Naufal jadi membayangkan seandainya ia memiliki istri


seperti Vania, pasti rumahnya itu akan menjadi super berantakan dan seperti


tempat sampah.  Karena kejadian ini


Naufal menjadi sadar satu hal yang istimewa lagi dari seorang Thella.


Sejak ia tinggal di rumah yang mereka tempati saat ini,


keahlian Naufal dalam memasak banyak peningkatan. Awalnya ia selalu membeli


makanan di luar, tapi akhirnya ia hilangkan kebiasaan itu dan perlahan mulai


memasak sendiri menu makanan yang ingin di makan olehnya.


Sebagai seorang lelaki, bukan hal aneh ketika harus


mempunyai keahlian memasak. Awalnya Naufal sempa  terinspirasi menjadi seorang koki. Hanya saja


pada akhirnya dia menyadari kalau bakatnya tidak terlalu dominan di sana. Ia


menjadikan memasa hanya sebagai hobi.


Berpuluh menit kemudian...


Naufal menyelesaikan semua masakannya. Ia cukup puas dengan


hasil masakannya. Walaupun mungkin tidak seenak masakan istrinya tapi


setidaknya ia telah berusaha degan semaksimal mungkin.

__ADS_1


Ia bergegas ke kamar untuk membangunkan Thella. Ia melihat


wanita iu sangat pulas. Naufal jadi tidak tega untuk membangunkannya lalu


mwemutuskan untuk mandi saja. Beberapa hari di rumah sakit membuat pria mandi


alakadarnya. Hari itu ia ingin melampiaskan keinginan mandinya yang maksimal.


Sementara itu...


Thella terbangun dari tidurnya saat mendengar suara


gemericik air di kamar mandi. Ia bangkit dari tidurnya dan meraih ponselnya


untuk melhat waktu saat ini. Ia keluar dari kamar dan mrndapati semuanya telah


rapi. Sebenarnya ia menyadari kekacauan yang terjadi di segala sudut ruangan


dan sengaja menunggalkannya begitu saja karena pusing yang tiba-tiba menyerang.


Maksud Thella adalah, ia akan mengerjakan semuanya nanti,


saat rasa pusing d kepalanya berkurang. Tapi ternyata suaminya telah sigap


membersihlan semuanya. Hanya lewat tindakan sederana seperti itu saja sudah


membuat thella terkesan.


“Thella, kamu sudah bngun ternyata, mau makan sekarang?”


Naufal tiba-tiba muncul dari arah belakang sempat membuat Thella sedikit


terkejut.


“Sepertinya aku harus mandi dulu, Fall. Aku khawatir, nanti


kamu akan mual saat harus makan denganku yang hampir seperti gembel ini,”


“Menurutmu kamu gembel sekarang? Ya, kamu benar, kamu gembel


cantik yang telah memulung hatiku,” Fall mencoba mengungkapkan kata-katanya


yang manis.


“Aduh, kalimatmu terlalu manis sayang. Semakin penasaran


aku, sebenarnya darimana sih, suamiku ini belajar gombal?”


“Rahasia dong, sayang. Nanti aku ketahuan kalau suka kopas


kata-kata,”


“Santai lah, Fall. Aku tahu kok, kamu berusaha sampai


seperti itu hanya demi membahagiakan aku kan?”  Thella menyadari semuanya yang  telah Naufal lakukan hanya untuk membuatnya


bahagia. Lelaki itu terdiam. Memang ia belajar  dengan keras karenanya.


“Aku rela melakukan apapun,  asalkan aku bisa mengukir senyuman di  bibirmu.


“Meleleh bang, cukup.  Lama-lama  julukanmu bukan Raja Singa


lagi, tapi berubah jadi Raja Gombal.”


“Aku sama sekali tidak merasa keberatan asal itu bisa


membuatmu senang,”


“Naufal....”


“Apa?”


“Berhenti gombal,”


“Kalau aku nggak mau?”


“Terserah, aku mau mandi,”

__ADS_1


Thella kabur ke kamar mandi.


“Thella! Awas kamu, ya!”


__ADS_2