
Hati Naufal sangat sakit sebenarnya saat harus melihat orang
yang telah melahirkannya di bawa oleh polisiH. Tapi semuanya adalah pilihan
mamanya sendiri. Kalau saja mamanya tidak berbuat jahat pada istri dan juga
anaknya, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.
Thella sangat paham apa yang ada di dalam hati suaminya saat
ini. Ia segera memeluk erat Fall agar
pria itu merasa ada yang mendukungnya. Thella juga sebenarnya tidak tega
melihat mertuanya harus mendekam di penjara.
“Fall, aku tahu kamu pasti sangat sedih karena kejadian ini.
Semua kejadian ini memang sulit untuk kita terima. Tapi, kita tidak bisa
membiarkan semuanya terjadi begitu saja tanpa konsekuensi. Aku juga tidak
serius benci pada mama. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah melahirkan suamiku, tentu saja aku
sangat menaruh hormat,”
Tanpa Thella berkata seperti itu, Naufal sebenarnya juga
sudah sangat memahami kalau istrinya bukan wanita sejahat itu. Wanita itu tidak
akan membenci mertuanya tanpa alasan yang jelas.
Naufal mengecup ubun-ubun Thella sebagai tanda sayangnya
yang eramat dalam pada wanita itu. Jika mamanya bisa seperi mertua yang lainnya tentu
saja hubungan antara Thella dengan mama Naufal akan terlihat sangat harmonis.
“Terima kasih, Thella. Telah menguatkan aku, mendukungku
dalam setiap keadaan. Aku tahu, apa yang kita selesaikan hari ini, akan ada
lagi rintangan lainnya di hari yang akan datang. Untuk itu, sanggupkah kamu
melangkah bersamaku, Thella?”
“Tentu saja, Naufal. Kamu dan aku, kita jalani semuanya
berdua, tersenyumlah...”
Thella ingin menjadi sosok yang menguatkan Naufal, meskipun
ia juga idak sekuat itu. Thella memang kesepian karena meninggalnya sang mama,
lalu papanya juga menikah lagi dan meninggalkannya, tapisetidaknya, Thella
masih merasakan kehangatan seorang ibu, berbeda dengan naufal yang di abaikan
ibunya sejak kecil.
Seorang mama adalah kekuatan untuk anaknya. Ketika mama
tidak bisa lagi menjadi seorang peri dalam kehidupan anaknya, di situlah
anaknya akan merasa rapuh. Terkadang keinginan seorang anak sangatlah
sederhana, ingin di mengerti, di sapa atau di beri sedikit perhatian.
“Sekarang, kamu pasti lelah kan? Ayo, sekarang kamu
beristirahat di kamar, aku akan memasakkanmu sesuatu. Aku yakin, hasil
masakanku nanti kamu pasti suka,” Naufal ingin istrinya segera beristirahat. Naufal takut Thella akan stres
juga memikirkan semuanya, tentangnya, hidupnya, dan kehidupan rumah tangga
mereka.
__ADS_1
“Baiklah, Tuan Singa, aku akan mengikuti apa saranmu. Kalau nanti
masakanmu tidak enak, aku akan menghukummu. Jadi, gunakan kesempatan memasakmu
dengan baik,” Thella sengaja menggoda Naufal untuk memberi lelaki itu semangat.
Setidaknya, jika tidak ada seorangpun yang perduli padanya, Thella ingin
menjadi satu-satunya orang yang paling peduli pada suaminya itu.
“Baiklah, tapi jika masakanku ternyata enak, kamu harus aku
hukum,”
“Kok, gitu? Aku kan tidak bersalah apapun, kenapa harus di
hukum?”
“Karena aku kangen sama istriku ini, jadi salah ataupun tidak, aku akan tetap
menghukummu,” Naufal mengacak rambut Thella, rasanya seperti sudah lama sekali
tidak melakukan ini.
“Baiklah, Fall. Seharusnya tidak perlu malu untuk mengakui,
kalau kamu sangat merindukan aku. Kalau begitu, aku istirahat dulu. Rasanya kepalaku
sedikit pusing.” Thella meninggalkan Naufal dan masuk ke kamarnya.
Melihat rumahnya yang sangat berantakan Naufal memutuskan
untuk merapikan semuanya. Ia tidak ingin membebani Thella dengan pekerjaan
rumah yang menumpuk seperti saat ini. Mungkin saja tadi wanita itu tidak
terlalu memperhatikan detail ruangan karena fokus pada permasalahan yang ada.
Naufal juga heran, mengapa rumahnya bisa seberantakan ini
padahal di tinggali oleh dua orang wanita, baru saja di tinggal beberapa hari. Sementara
Setiap hari istrinya itu selalu membuat ruangan bersih dan nyaman untuk di
tinggali.
Naufal jadi membayangkan seandainya ia memiliki istri
seperti Vania, pasti rumahnya itu akan menjadi super berantakan dan seperti
tempat sampah. Karena kejadian ini
Naufal menjadi sadar satu hal yang istimewa lagi dari seorang Thella.
Sejak ia tinggal di rumah yang mereka tempati saat ini,
keahlian Naufal dalam memasak banyak peningkatan. Awalnya ia selalu membeli
makanan di luar, tapi akhirnya ia hilangkan kebiasaan itu dan perlahan mulai
memasak sendiri menu makanan yang ingin di makan olehnya.
Sebagai seorang lelaki, bukan hal aneh ketika harus
mempunyai keahlian memasak. Awalnya Naufal sempa terinspirasi menjadi seorang koki. Hanya saja
pada akhirnya dia menyadari kalau bakatnya tidak terlalu dominan di sana. Ia
menjadikan memasa hanya sebagai hobi.
Berpuluh menit kemudian...
Naufal menyelesaikan semua masakannya. Ia cukup puas dengan
hasil masakannya. Walaupun mungkin tidak seenak masakan istrinya tapi
setidaknya ia telah berusaha degan semaksimal mungkin.
__ADS_1
Ia bergegas ke kamar untuk membangunkan Thella. Ia melihat
wanita iu sangat pulas. Naufal jadi tidak tega untuk membangunkannya lalu
mwemutuskan untuk mandi saja. Beberapa hari di rumah sakit membuat pria mandi
alakadarnya. Hari itu ia ingin melampiaskan keinginan mandinya yang maksimal.
Sementara itu...
Thella terbangun dari tidurnya saat mendengar suara
gemericik air di kamar mandi. Ia bangkit dari tidurnya dan meraih ponselnya
untuk melhat waktu saat ini. Ia keluar dari kamar dan mrndapati semuanya telah
rapi. Sebenarnya ia menyadari kekacauan yang terjadi di segala sudut ruangan
dan sengaja menunggalkannya begitu saja karena pusing yang tiba-tiba menyerang.
Maksud Thella adalah, ia akan mengerjakan semuanya nanti,
saat rasa pusing d kepalanya berkurang. Tapi ternyata suaminya telah sigap
membersihlan semuanya. Hanya lewat tindakan sederana seperti itu saja sudah
membuat thella terkesan.
“Thella, kamu sudah bngun ternyata, mau makan sekarang?”
Naufal tiba-tiba muncul dari arah belakang sempat membuat Thella sedikit
terkejut.
“Sepertinya aku harus mandi dulu, Fall. Aku khawatir, nanti
kamu akan mual saat harus makan denganku yang hampir seperti gembel ini,”
“Menurutmu kamu gembel sekarang? Ya, kamu benar, kamu gembel
cantik yang telah memulung hatiku,” Fall mencoba mengungkapkan kata-katanya
yang manis.
“Aduh, kalimatmu terlalu manis sayang. Semakin penasaran
aku, sebenarnya darimana sih, suamiku ini belajar gombal?”
“Rahasia dong, sayang. Nanti aku ketahuan kalau suka kopas
kata-kata,”
“Santai lah, Fall. Aku tahu kok, kamu berusaha sampai
seperti itu hanya demi membahagiakan aku kan?” Thella menyadari semuanya yang telah Naufal lakukan hanya untuk membuatnya
bahagia. Lelaki itu terdiam. Memang ia belajar dengan keras karenanya.
“Aku rela melakukan apapun, asalkan aku bisa mengukir senyuman di bibirmu.
“Meleleh bang, cukup. Lama-lama julukanmu bukan Raja Singa
lagi, tapi berubah jadi Raja Gombal.”
“Aku sama sekali tidak merasa keberatan asal itu bisa
membuatmu senang,”
“Naufal....”
“Apa?”
“Berhenti gombal,”
“Kalau aku nggak mau?”
“Terserah, aku mau mandi,”
__ADS_1
Thella kabur ke kamar mandi.
“Thella! Awas kamu, ya!”