
Menghadiri acara kantor rekan kerjanya, Fall terpaksa
meninggalkan Thella di rumah lagi. Kondisinya masih belum terlalu baik untuk
bepergian, apalagi acaranya akan sedikit lama. Selepas jam makan malam, Naufal
pergi.
Thella hanya seorang diri. Ia mengisi waktunya dengan
menonton drama favoritnya. Tiba-tiba
saja ia teringat saat menonton drama favoritnya dengan Naufal ada di
sampingnya. Biasanya ia menjadikan pria itu sebagai bantal. Dia akan dengan
rela di gigit lengannya, di cubit pipinya, di pukul-pukul dadanya saat Thella gemas dan baper, wanita itu jadi
tertawa seorang diri.
Salah satu drama favoritnya adalah ‘My Love From The
Star’. Bahkan Thella tidak ada
bosan-bosannya menonton meskipun diulang beberapa kali. Siang itu, ia merasa
bosan menonton drama, tapi ia ingin mendengarkan lagu favoritnya yang merupakan
salah satu sountrack drama favoritnya.
Na dashi heoraghan damyeon
Jika aku di izinkan sekali lagi
Geudael dashi *** su it damyeon
Jika aku bisa bertemu denganmu lagi
Nae jinan gieog sogeseo
(Di dalam kenangan masa laluku)
Geu apeum sogeseo
(Di dalam rasa sakit itu)
Geudael bulleo
(Aku akan memanggilmu)
You are my destiny geudaen
(Kau adalah takdirku, kau)
You are my destiny geudaen
(Kau adalah takdirku, kau)
You are my everything
(Kau adalah segalanya bagiku)
Geudae man bomyeonseo
(Aku hanya bisa memandangmu saat ini)
Ireohge sori eobsi bulleo bobnida
(Aku memanggilmu diam-diam)
You re the one my love, geudaen
(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)
You re the one my love, geudaen
(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)
You re my delight of all
(Kau adalah kebahagiaanku)
Geudaeneun yeong wonhan naui sarang ijyo
(Kau adalah cintaku selama-lamanya)
Nae gyeote dagawa jwoyo
(Datanglah ke sisiku)
Nal ajig saranghan damyeon
(Jika kau masih mencintaiku )
Du nune goin nunmuri
(Air mata di mataku)
Geudaereul wonhajyo
(menginginkanmu)
Saranghaeyo
(Aku mencintaimu)
You are my destiny, geudaen
(Kau adalah takdirku, kau)
You are my destiny, geudaen
(Kau adalah takdirku, kau)
You are my everything
(Kau adalah segalanya bagiku)
__ADS_1
Byeonhaji anhneun geon geudaereul hyanghan
(Hal yang tidak pernah berubah)
You re the one my love, geudaen
(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)
You re the one my love, geudaen
(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)
You re delight of all
(Kau adalah kebahagiaanku)
Sesangi byeonhaedo
(Bahkan jika dunia berubah,apakah kau)
Geudae man sarang haneun nareul anayo
(Tahu bahwa aku hanya akan mencintaimu)
My destiny...
(Takdirku...)
Geudaereul bulleo bobnida
(Aku memanggilmu)
(Lyn, My Destiny)
Sumber: youtube.com
Thella mengulang lagu
itu berulang kali. Dia merasa lagu itu
sangat cocok dengan perasaannya pada Naufal. Perjalanan hidup mereka mungkin
sedikit rumit. Penuh dengan lika-liku, rintangan dan lain sebagainya. Tapi,
semakin sering melewati sebuah rintangan Thella merasa hubungan mereka semakin
erat dan semakin tergantung satu sama lain.
Ia sendiri terkadang merasa aneh dengan perasaannya terhadap
lelaki itu, ia bahkan tidak tahu sejak kapan perasaannya tumbuh terhadap pria dingin
itu. Dia menyadari semuanya setelah ia telah jatuh terlalu dalam. Cinta
terkadang datang dengan banyak pilihan, tapi cintanya datang tanpa pilihan.
Thella mulai gelisah ketika malam mulai larut. Ia tidak bisa
tidur, hanya berbolak-balik sambil memeluk gulingnya. Di matanya hanya
saja harus di temani oleh suami tampannya itu.
Thella beberapa kali mengirim pesan pada Naufal, menanyakan
kapan dia akan pulang. Tapi, tidak ada jaawaban darinya. Mungkin saja Fall
tengah sibuk dengan teman-temannya. Padahal pria itu sudah membawa kunci
cadangan, tapi tetap saja, susah bagi Thella untuk terlelap.
Ia hanya bisa menatap foto suaminya yang ia jadikan walpaper
di layar ponselnya. Ada seberkas
kerinduan yang terlintas di pikirannya. Thella ingin Naufal cepat pulang.
Wanita itu keluar dari kamarny, menghidupkan kembali lampu
ruang tamu yang sempat ia matikan. Ia duduk di sofa sambil membuka-buka majalah minggu lalu. Ia merasa ngantuk, tapi
matanya enggan terpejam. Berulang kali ia melirik jam dinding yang berada tidak
jauh dari foto pernikahan mereka. Thella akhirnya tanpa sadar terlelap.
“Sayang, kamu belum tidur?”
Kalimat yang di ucapkan oleh Naufal membuat Thella terbangun
dari tidurnya.
“Fall, kamu sudah pulang? Larut sekali kamu pulang, kenapa
pesanku tidak kamu balas?’
“Maaf, Thella. Tadi pertemuannya cukup formal dan tidak enak
dengan anggota yang lain kalau harus berbalas pesan, maafkan aku,”
“Tidak apa-apa,tidak perlu meminta maaf. Kamu nggak salah
kok, aku aja yang manja. Cepat bersih-bersih dan tidur, Fall. Sini aku bantu
buka jas kamu. Mana tas kamu juga, kasihan banget suamiku ini, kerja siang dan malam buat aku. Niatnya mau
bantu, aku malah jadi ngerecokin kamu terus ya,”
“Siapa bilang? Kamu sudah banyak membantuku kok, Thella.
Meskipun saat kamu tidak ada di sisiku, tapi bayangan senyummu buat aku merasa
terinfus semangat. Jadi, jangan merasa
tidak berguna begitu,” Naufal melepas dasinya lalu menyerahkannya pada Thella.
Naufal segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah meletakkan semua barang-barang Naufal, Thella
__ADS_1
merebhkan dirinya ke kasur. Ada ketenangan yang berbeda saat Naufal telah
kembali. Pikirannya yag tadi melayang entah kemana kini telah kembali tenang.
“Tadi, agak tidak enak suasananya, hampir semuanya membawa pasanyan, aku merasa
seperti orang yang tidak tentu arah, untung aku bertemu dengan teman lama yang
kebetulan tidak membawa istrinya karena sedang hamil tua. Kami berdua jadi banyak berbincang.”
“Kasian banget kamu, mas. Pasti kamu merasa sangat kesepian,
ya kan?”
“Tidak salah, sih. Tapi lebih tepatnya sedikit canggung.”
“Maafkan aku, seharusnya aku bia menemanimu pergi, tapi
malah kondisiku tidak memungkinkan,”
“Sudahlah, semuanya juga sudah berlalu, kan?” Naufal
menyusul naik ke atas ranjang setelah
memakai celana pendek dan kaos favoritnya.
“Baiklah, sekali lagi maafkan aku. Maaf juga, aku telah
mengantuk, mari kita tidur,”
“Baiklah,”
Pagi hari di rumah Thella..
Semalam ayah Thella tiba di rumahnya, seorang diri tanpa ibu
sambungnya. Sepertinya ayahnya sangat merindukan putri kecilnya.
“Bibi, apakah Thella dan suaminya pernah pulang ke rumah
ini?”
“Tentu saja Tuan, mereka menginap
beberapa malam di sini, “
“Bagaimana rumah tangga mereka? Baik-baik saja kan?” Ayah Thella khawatir tentang keadaan rumah
tangga anaknya, karena ia sadar putrinya masih sangat muda untuk menjalani
sebuah pernikahan.
“Baik-baik saja, Tuan. Mereka sangat
romantis. Suaminya juga memperlakukan Nona dengan sangat baik. Dia angat
menyayangi Nona,”
“Bagulah, Bi. Mekipun aku tidak
bisa selalu ada di sampingnya, aku selalu berharap yang terbaik untuk putriku,”
“Nona sudah memilih suami dengan
benar, meskipun mereka menikah mendadak, ternyata mereka sama romantisnya
dengan pasangan yang sudah mengenal lama,”
“Aku turut senang kalau begitu,
besok malam undang mereka makan malam di rumah ini. Aku ingin lebih dekat
dengan menantuku, siapa namanya?”
“Naufal, tuan...”
“Ya, itu dia, Naufal,”
Awalnya ayah Thella sedih karena
hanya bisa menjadi wali via telepon, tapi dia tidak punya pilihan lain. Kabar pernikahan
Thella sangat mendadak membuat ia tidak bisa pulang terlebih dahulu untuk
menghadiri acara pernikahannya itu. Anaknya sendiri yang bilang bahwa
pernikahannya tidak bisa di tunda lagi dan harus dilaksanakann hari itu juga.
Di taman komplek rumah Thella dan
Vanya...
Ardian dan Vanya sedang melakukan jalan santai. Mereka berdua sengaja
menyempatkan waktu untuk jalan santai berdua.
“Van...”
“Ya, ada apa Vanya?”
“Begini saja sudah bahagia,
apalagi nanti kalau kita sudah sama-sama.”
“Itu dia yang namanya bahagia itu
sederhana,”
“Jadi ingat judul lagu,”
“Memang itu judul lagu,”
“ Pantesa aku nggak berasa aneh,”
“Sengaja, tujuannya sih, buat
kalian tertawa, tapi apesnya ceritaku sama sekali tidak lucu."
__ADS_1