My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 62


__ADS_3

Menghadiri acara kantor rekan kerjanya, Fall terpaksa


meninggalkan Thella di rumah lagi. Kondisinya masih belum terlalu baik untuk


bepergian, apalagi acaranya akan sedikit lama. Selepas jam makan malam, Naufal


pergi.


Thella hanya seorang diri. Ia mengisi waktunya dengan


menonton drama favoritnya.  Tiba-tiba


saja ia teringat saat menonton drama favoritnya dengan Naufal ada di


sampingnya. Biasanya ia menjadikan pria itu sebagai bantal. Dia akan dengan


rela di gigit lengannya, di cubit pipinya,  di pukul-pukul dadanya saat Thella gemas dan baper, wanita itu jadi


tertawa seorang diri.


Salah satu drama favoritnya adalah ‘My Love From The


Star’.  Bahkan Thella tidak ada


bosan-bosannya menonton meskipun diulang beberapa kali. Siang itu, ia merasa


bosan menonton drama, tapi ia ingin mendengarkan lagu favoritnya yang merupakan


salah satu sountrack drama favoritnya.


Na dashi heoraghan damyeon


Jika aku di izinkan sekali lagi


Geudael dashi *** su it damyeon


Jika aku bisa bertemu denganmu lagi


Nae jinan gieog sogeseo


(Di dalam kenangan masa laluku)


Geu apeum sogeseo


(Di dalam rasa sakit itu)


Geudael bulleo


(Aku akan memanggilmu)


You are  my destiny geudaen


(Kau adalah takdirku, kau)


You are my destiny geudaen


(Kau adalah takdirku, kau)


You are my everything


(Kau adalah segalanya bagiku)


Geudae man bomyeonseo


(Aku hanya bisa memandangmu saat ini)


Ireohge sori eobsi bulleo bobnida


(Aku memanggilmu diam-diam)


You re the one my love, geudaen


(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)


You re the one my love, geudaen


(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)


You re my delight of all


(Kau adalah kebahagiaanku)


Geudaeneun yeong wonhan naui sarang ijyo


(Kau adalah cintaku selama-lamanya)


Nae gyeote dagawa  jwoyo


(Datanglah ke sisiku)


Nal ajig saranghan damyeon


(Jika kau masih mencintaiku )


Du nune goin nunmuri


(Air mata di mataku)


Geudaereul  wonhajyo


(menginginkanmu)


Saranghaeyo


(Aku mencintaimu)


You are my destiny, geudaen


(Kau adalah takdirku, kau)


You are my destiny, geudaen


(Kau adalah takdirku, kau)


You are my everything


(Kau adalah segalanya bagiku)

__ADS_1


Byeonhaji anhneun geon geudaereul hyanghan


(Hal yang tidak pernah berubah)


You re the one my love, geudaen


(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)


You re the one my love, geudaen


(Kau adalah satu-satunya cintaku, kau)


You re delight of all


(Kau adalah kebahagiaanku)


Sesangi byeonhaedo


(Bahkan jika dunia berubah,apakah kau)


Geudae man sarang haneun nareul anayo


(Tahu bahwa aku hanya akan mencintaimu)


My destiny...


(Takdirku...)


Geudaereul bulleo bobnida


(Aku memanggilmu)


(Lyn, My Destiny)


Sumber: youtube.com


Thella mengulang  lagu


itu berulang kali.  Dia merasa lagu itu


sangat cocok dengan perasaannya pada Naufal. Perjalanan hidup mereka mungkin


sedikit rumit. Penuh dengan lika-liku, rintangan dan lain sebagainya. Tapi,


semakin sering melewati sebuah rintangan Thella merasa hubungan mereka semakin


erat dan semakin tergantung satu sama lain.


Ia sendiri terkadang merasa aneh dengan perasaannya terhadap


lelaki itu, ia bahkan tidak tahu sejak kapan perasaannya tumbuh terhadap pria dingin


itu. Dia menyadari semuanya setelah ia telah jatuh terlalu dalam. Cinta


terkadang datang dengan banyak pilihan, tapi cintanya datang tanpa pilihan.


Thella mulai gelisah ketika malam mulai larut. Ia tidak bisa


tidur, hanya berbolak-balik sambil memeluk gulingnya. Di matanya hanya


saja harus di temani oleh suami tampannya itu.


Thella beberapa kali mengirim pesan pada Naufal, menanyakan


kapan dia akan pulang. Tapi, tidak ada jaawaban darinya. Mungkin saja Fall


tengah sibuk dengan teman-temannya. Padahal pria itu sudah membawa kunci


cadangan, tapi tetap saja, susah bagi Thella untuk terlelap.


Ia hanya bisa menatap foto suaminya yang ia jadikan walpaper


di layar ponselnya.  Ada seberkas


kerinduan yang terlintas di pikirannya. Thella ingin Naufal cepat pulang.


Wanita itu keluar dari kamarny, menghidupkan kembali lampu


ruang tamu yang sempat ia matikan. Ia duduk di sofa sambil membuka-buka  majalah minggu lalu. Ia merasa ngantuk, tapi


matanya enggan terpejam. Berulang kali ia melirik jam dinding yang berada tidak


jauh dari foto pernikahan mereka. Thella akhirnya tanpa sadar terlelap.


“Sayang, kamu belum tidur?”


Kalimat yang di ucapkan oleh Naufal membuat Thella terbangun


dari tidurnya.


“Fall, kamu sudah pulang? Larut sekali kamu pulang, kenapa


pesanku tidak kamu balas?’


“Maaf, Thella. Tadi pertemuannya cukup formal dan tidak enak


dengan anggota yang lain kalau harus berbalas pesan, maafkan aku,”


“Tidak apa-apa,tidak perlu meminta maaf. Kamu nggak salah


kok, aku aja yang manja. Cepat bersih-bersih dan tidur, Fall. Sini aku bantu


buka jas kamu. Mana tas kamu juga,  kasihan banget suamiku ini, kerja siang dan malam buat aku. Niatnya mau


bantu, aku malah jadi ngerecokin kamu terus ya,”


“Siapa bilang? Kamu sudah banyak membantuku kok, Thella.


Meskipun saat kamu tidak ada di sisiku, tapi bayangan senyummu buat aku merasa


terinfus  semangat. Jadi, jangan merasa


tidak berguna begitu,” Naufal melepas dasinya lalu menyerahkannya pada Thella.


Naufal segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah meletakkan semua barang-barang Naufal, Thella

__ADS_1


merebhkan dirinya ke kasur. Ada ketenangan yang berbeda saat Naufal telah


kembali. Pikirannya yag tadi melayang entah kemana kini telah kembali tenang.


“Tadi, agak tidak enak suasananya,  hampir semuanya membawa pasanyan, aku merasa


seperti orang yang tidak tentu arah, untung aku bertemu dengan teman lama yang


kebetulan tidak membawa istrinya karena sedang hamil tua.  Kami berdua jadi banyak berbincang.”


“Kasian banget kamu, mas. Pasti kamu merasa sangat kesepian,


ya kan?”


“Tidak salah, sih.  Tapi lebih tepatnya sedikit canggung.”


“Maafkan aku, seharusnya aku bia menemanimu pergi, tapi


malah kondisiku tidak memungkinkan,”


“Sudahlah, semuanya juga sudah berlalu, kan?” Naufal


menyusul  naik ke atas ranjang setelah


memakai celana pendek dan kaos favoritnya.


“Baiklah, sekali lagi maafkan aku. Maaf juga, aku telah


mengantuk, mari kita tidur,”


“Baiklah,”


Pagi hari di rumah Thella..


Semalam ayah Thella tiba di rumahnya, seorang diri tanpa ibu


sambungnya. Sepertinya ayahnya sangat merindukan putri kecilnya.


“Bibi, apakah Thella dan suaminya pernah pulang ke rumah


ini?”


“Tentu saja Tuan, mereka menginap


beberapa malam di sini, “


“Bagaimana  rumah tangga mereka? Baik-baik saja kan?”  Ayah Thella khawatir tentang keadaan rumah


tangga anaknya, karena ia sadar putrinya masih sangat muda untuk menjalani


sebuah pernikahan.


“Baik-baik saja, Tuan. Mereka sangat


romantis. Suaminya juga memperlakukan Nona dengan sangat baik. Dia angat


menyayangi Nona,”


“Bagulah, Bi. Mekipun aku tidak


bisa selalu ada di sampingnya, aku selalu berharap yang terbaik untuk putriku,”


“Nona sudah memilih suami dengan


benar, meskipun mereka menikah mendadak, ternyata mereka sama romantisnya


dengan pasangan yang sudah mengenal lama,”


“Aku turut senang kalau begitu,


besok malam undang mereka makan malam di rumah ini. Aku ingin lebih dekat


dengan menantuku, siapa namanya?”


“Naufal, tuan...”


“Ya, itu dia, Naufal,”


Awalnya ayah Thella sedih karena


hanya bisa menjadi wali via telepon, tapi dia tidak punya pilihan lain. Kabar pernikahan


Thella sangat mendadak membuat ia tidak bisa pulang terlebih dahulu untuk


menghadiri acara pernikahannya itu. Anaknya sendiri yang bilang bahwa


pernikahannya tidak bisa di tunda lagi dan harus dilaksanakann hari itu juga.


Di taman komplek rumah Thella dan


Vanya...


Ardian dan Vanya  sedang melakukan jalan santai. Mereka berdua sengaja


menyempatkan waktu untuk jalan santai berdua.


“Van...”


“Ya, ada apa Vanya?”


“Begini saja sudah bahagia,


apalagi nanti kalau kita sudah sama-sama.”


“Itu dia yang namanya bahagia itu


sederhana,”


“Jadi ingat judul lagu,”


“Memang itu judul lagu,”


“ Pantesa aku nggak berasa aneh,”


“Sengaja, tujuannya sih, buat


kalian tertawa, tapi apesnya ceritaku sama sekali tidak lucu."

__ADS_1


__ADS_2