
"Selamat pagi istriku," Naufal mengecup pipi Thella Sekilas. Thella yang masih terlelap menggeliat dan membuka matanya.
"Selamat pagi juga, Fall. Maaf aku kesiangan," Thella mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasa penat di badannya masih terasa. Meskipun itu sesuai dengan kebahagiaan yang ia peroleh.
"Di sini kamu kan bebas, mau bangun jam berapapun. Kalau di rumah kan harus siapin keperluan aku," Ledek Naufal.
"Aku paham kok, aku juga nggak beban. Walaupun aku harus setiap hari melakukannya untukmu, Fall," Thella bangkit dari tidurnya. Mengikat rambutnya asal.
"Terima kasih, istriku yang paling cantik," Goda Naufal sambil ikutan bangun dari tidurnya.
"Masih pagi, Fall. Jangan mulai gombal deh, nanti aku mual," Sila bangkit fan berjalan menuju ke arah jendela dan membuka tirai agar cahaya dapat masuk ke dalam ruangan.
"Biar aja kamu mual, bisa jadi bukan karena gombalanku, tapi karena kita mau jadi orang tua,"
"Apa sih, udah niat banget mau jadi ayah?"
"Kenapa? memangnya nggak boleh?"
"Boleh, sih,"
"Ya udah, tunggu apalagi, ayo..."
"Kemana?"
"Buat,"
"Dasar mesum," Thella menarik kedua pipi Naufal.lalu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Naufal hanya tertawa melihat tingkah istrinya yang menurutnya sedikit konyol.
Naufal mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai habis. Ini hari ke tiganya Ia berada di korea. Sebenarnya ada rasa rindu pada kursi kantornya. Ia ingin merasakan mengoreksi berkas-berkas. Mungkin saja saat ini e-mail sudah menumpuk di ponselnya.
Ia menahan diri untuk tidak mengerjakan semuanya hanya untuk memenuhi keinginan Thella, di mana istrinya itu ingin di temani. Lagipula, Naufal juga merasa dirinya butuh jalan-jalan seperti ini.
Baru kali ini, ia pergi ke suatu tempat dengan tujuan murni jalan-jalan. Biasanya, ia pergi ke suatu tempat untuk urusan bisnis, baru jika ada waktu luang, ia akan menggunakannya untuk jalan-jalan.
Mungkin, ini adalah efek positif Thella hadir dalam hidup Naufal. Sifat Workaholic yang di turunkan oleh ayahnya perlahan mulai sedikit samar. Meskipun begitu, ia tetap menjadi pribadi pekerja keras dan pantang menyerah.
"Buruan mandi, kita belum sarapan. Hari ini kita mau ke mana?" Thella sangat penasaran kemana mereka akan pergi hari ini.
"Apa kamu suka beruang?" Naufal justru balik bertanya.
"Beruang? Tentu saja aku suka. Apa hari ini kita akan pergi ke kebun binatang?" Thella tampak sangat antusias. Tapi jika hanya untuk ke kebun binatang, tentu saja Naufal tidak perlu susah-susah membawa Thella ke Korea.
"Bukan, hari ini kita akan ke Teddy Bear Museum. Isinya boneka Beruang dari seluruh dunia. Ada yang hasil buatan pabrik, tapi juga ada yang hasil buatan tangan," Naufal dengan semangat menjelaskan kemana mereka akan pergi.
"Benarkah, Fall? Wah... aku tidak sabar, pasti tempatnya cantik sekali. Aku jadi tidak sabar, ayo kita pergi Fall!"
"Aku belum mandi, Thella." Thella baru sadar kalau Naufal masih memakai celana panjang kaosnya dan bertelanjang dada.
"Sudah, sana mandi. Aku sudah tidak sabar pergi ke museum boneka beruang." Thella memakai baju yang menurutnya cocok.
Kemanapun ia pergi, tak satu pun tempat yang mereka kunjungi membosankan. Bahkan semalam Thella dan Naufal melakukan Dinner Romantis berdua.
__ADS_1
Meskipun ia terhitung nikah muda, tapi Thella tidak merasa menyesal. Ia sangat senang dapat menikah dengan pria sebaik Naufal.
Thella memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis. tidak lupa ia memakai sedikit lipgloss agar tampak fresh. Ia tersenyum.seorang diri saat melihat tampilannya di pantulan cermin.
Setiap akan pergi bersama Naufal, penampilan Thella seperti anak.muda yang akan pergi berkencan. Tentu saja, meskipun bagi Naufal, Thella bukan cinta pertamanya, tapi bagi Thella, Naufal adalah cinta pertamanya. Meskipun ia pernah jatuh cinta pada David, bisa di bilang, cinta mereka adalah cinta monyet.
"Sayangku, cantik banget. Makin sayang kalau begini," Naufal yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mengomentari penampilan Thella. Pakai baju dan dandanan apapun, istrinya itu tetap mempesona.
"Aku kan memang selalu cantik," Thella menyombongkan dirinya sambil berputar-putar di depan cermin. Naufal hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Lalu ia
memutuskan untuk bergegas mengganti baju dan bersiap untuk kunjungan selanjutnya.
"Fall,"
"Kenapa?"
"Pulang nanti kita harus bawa sovenir loh,"
"Buat apa?"
"Buat karyawan kamu, dong. Kita kan pulang bulan madu, harusnya kita bawain mereka sovenir biar senang dan keakraban di antara kalian tetap terjalin,"
"Bagus ide kamu, istri cerdas," Naufal menyetujui usul Thella. Ia berencana untuk membeli beberapa Sovenir untuk di bawa pulang.
"Biar aku yang sisir rambut kamu," Thella membantu Naufal merapikan rambutnya. Fall hanya memberi kesempatan pada wanita itu untuk melakukannya.
"Nah, begini baru deh keren. Aku suka, jangan di ganti lagi Fall. Aduh, ganteng banget, suamiku," Thella tersenyum merekah saat melihat hasil tatanan rambutnya pada Naufal.
"Yang lihat kan aku, kamu cocok dengan style seperti itu," Thella tetap menyukai gaya rambut pilihannya, mau tidak mau Naufal menerima apa yang menjadi keinginan Thella.
"Ayo kita berangkat," Thella merangkul lengan Naufal, ia sudah tidak sabar untuk pergi ke Istana Boneka Beruang.
"Kita sarapan dulu, biar kamu nanti tidak masuk angin. Kalau kamu sakit, percuma dong jauh-jauh ke korea untuk sakit," Naufal membujuk Thella untuk.mau sarapan terlebih dahulu.
"Siap, komandan," Thella mengikuti langkah Naufal keluar dari kamarnya. Wanita itu tanpa sadar masih sambil memeluk lengan suaminya dengan mesra.
"Thella," Bisik Fall.
"Ada apa?"
"Lepaskan pelukanmu di tanganku," Mendengar perkataan Naufal, Thella segera menjaga jarak aman dengan Fall. Ia tidak sadar bersikap seperti itu di depan umum.
"Maaf," Thella benar-benar terkejut, tapi Naufal justru tertawa melihat tingkah Thella yang menjauhinya spontan seperti kuman.
Naufal menarik Thella kembali mendekat ke sisinya. Ia masih tersenyum karena merasa respon Thella terlalu spontan. Sebenarnya tidak akan menjadi masalah meskipun ia dan Thella berpelukan sekalipun, orang-orang di sekelilingnya tidak akan perduli. Dengan kata lain, Naufal sedang mengerjai Thella.
"Jangan jauh dariku, aku cuma bercanda. Kenapa kamu malah menghindar seperti kucing di siram air?" Naufal tertawa lepas dengan suara yang sedikit dipelankan.
"Jadi, kamu cuma ngerjain aku?" Thella melotot ke arah Fall, tapi suaminya itu tidak melakukan apapun kecuali hanya menertawakannya.
"Maaf, maaf, aku hanya iseng. Jangan ngambek dong," Naufal masih saja tertawa ngakak.
__ADS_1
"Naufal!" Thella mencubit lengan lelaki yang ada di sampingnya itu sampai empunya meringis kesakitan.
Mereka berdua akhirnya sarapan setelah melewati drama yang cukup panjang. Thella sangat menyukai berbagai makanan yang ternyata juga favorit Naufal. Mereka pun iseng seperti kulineran dengan berbagai jenis makanan.
Setibanya di Teddy Bear Museum, Thella terpana saat melihat hamparan boneka beruang dengan berbagai bentuk dan ukuran. Dari yang terkecil hingga terbesar.
"Lucu banget ya, ada yang berbentuk bangsawan, nona belanda, lucu-lucu semuanya," Tela tampak heboh mengomentari bentuk-bentuk boneka yang ada di sekitarnya mereka didesain dengan berbagai bentuk dan profesi
"Masih ada banyak lagi bentuk-bentuk boneka beruang yang belum kamu ketahui Ayo kita masuk lebih dalam dan berkeliling," Naufal mengajak Tela untuk mengelilingi Museum boneka beruang itu.
" Dari mana kamu tahu ada museum Boneka sebagus ini di pulau Jeju. Oh iya aku lupa kalau kamu pernah menguntai kenangan di sini bersama mantan kekasih mu," telah teringat perkataan Naufal tentang mantan yang kemarin saat mereka akan pergi ke Gunung Hallasan.
" Kamu cemburu, aku pernah datang ke pulau ini dengan orang lain? Tapi sebenarnya aku pernah lihat tempat ini di sebuah situs. Di sana di katakan kalau ini adalah tempat yang banyak dikunjungi oleh para turis dan terkenal dengan berbagai bentuk boneka beruang yang menarik yang didatangkan dari seluruh dunia," Naufal menjelaskan dari mana ia tahu tentang tempat yang mereka kunjungi. Saat ini ia tidak ingin Thella salah paham dan mengira dirinya pernah datang ke tempat ini bersama orang lain selain dia.
" Siapa yang cemburu? Aku kan hanya bertanya. Aku merasa sangat senang berkunjung ke tempat ini, Kebetulan aku memang pencinta beruang, terutama pada jenis panda. Aku merasa sangat terhibur melihat bagai macam boneka panda yang diatur sedemikian rupa dengan gaya yang begitu apik," Ya Thella memang menyukai berbagai macam bentuk beruang. Di rumahnya ia mengoleksi berbagai boneka beruang. Meskipun tidak sebanyak yang ada di museum itu, tapi ia mempunyai berbagai bentuk dan warna.
" Aku senang telah bisa membawamu ke tempat yang kamu sukai. Jadi, apa yang aku persembahkan untukmu ini tidak sia-sia. Tujuanku membawamu ke sini adalah untuk membuat kamu bahagia. Aku ingin apa yang aku berikan itu bisa berkesan di hatimu, seperti kunjungan kita ke istana boneka beruang ini" Naufal memandang wajah Thella lekat.
"Auh.." Tanpa sengaja bahu Thella bersenggolan dengan seseorang. Ia melihat ke arah seseorang itu mereka berdua sepertinya saling mengenal. Insiden itu membuat mereka saling mengingat satu sama lain.
" Thella, ya?" Sapa lelaki itu yang ternyata seumuran dengan Thella. Rupanya Pria itu adalah teman Thella saat SMA dulu namanya Ardian.
"Ardian? Apa kabar?" Thella sedikit merasa kaget saat dia bisa bertemu dengan Ardian di lokasi tempat wisata yang ia kunjungi. sepertinya sejak mereka lulus sekolah mereka tidak pernah bertemu lagi.
"Baik, kamu apa kabar? ini suamimu?" Sejak saat sekolah dulu gaya bicara Ardian memang selalu renyah dan ramah terhadap siapapun, mereka termasuk dekat saat SMA karena merasa saling cocok dalam hal pertemanan.
"Iya, ini suamiku. Namanya Naufal, dan Fall, ini sahabatku saat SMA, namanya Ardian," Ardian dan Fall saling berjabat tangan. Entah kenapa di dalam hati, Naufal merasa sedikit kecewa melihat keakraban Thella dengan lelaki itu.
Naufal tidak tahu kenapa ia merasa bahwa Ia tidakml mau dan ingin Thella juga tajullhu bayasan.Hanya tidak terlalu dekat dan berhubungan dengan lelaki manapun Apa mungkin permintaannya terlalu muluk-muluk?
" Maaf Hardian kami harus melanjutkan perjalanan kami mengelilingi museum ini Lain kali kita bisa ngobrol lagi kan?" Naufal membatasi obrolan antara teladan Ardian ya segera menggandeng istrinya dari sisi teman masa SMA nya itu.
"Maaf ya, Ardian. Aku harus berkeliling dulu. Mungkin nanti kita bisa makan siang bersama atau.apa, suamiku ini orang baik, kok," Ucap sebelum jauh dari Ardian lagi itu hanya tersenyum karena ia dapat membaca sebagai pandangannya ke sesama lelaki Bahwa saat ini sedang merasa cemburu. Jika ia berada di. posisi Naufal ya pasti juga akan merasakan hal yang sama karena memiliki istri secantik tela
" Naufal, Kamu kenapa sih tiba-tiba membawaku pergi dari sana? Padahal kita tidak sedang buru-buru kan? Apa karena Ardian yang membuat kamu cemburu?" Thella mencoba menebak Apa yang menjadi penyebab sikap aneh yang terjadi pada suaminya .Tapi jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah Karena Cemburu.
" Jujur saja, aku tidak suka kamu dekat dengan dia. Bagaimanapun juga aku ini suamimu, aku berhak mengatur dengan siapa kamu bergaul. Sebenarnya aku tahu dia pria yang baik, tapi jika kamu terlalu dekat dengan dia suatu saat hubungan kalian akan lebih dari sekedar teman. Karena sejatinya tidak ada hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan selain karena perasaan sayang." tempat seperti dugaannya suaminya itu saat ini sedang cemburu Justru itu membuat tela menjadi semakin gemas.
" Dia hanya mantan temanku saat kamu mrasih sama-sama SMA. Sebaiknya, kamu jangan cemburu terhadapnya, karena aku tidak punya hubungan apapun kecuali pertemanan. Memang dalam pepatah tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan tapi hubunganku dengan dia tetap menjadi teman sampai saat ini. Bahkan kami bersama-sama dari kelas 1 SMA sampai kelas 3 tidak terpisah, selalu dalam satu kelas dan hubungan pertemanan kami selalu berlanjut sampai sekarang.
" Apapun status hubungan kalian, aku tidak ingin kamu berhubungan terlalu dekat dengan dia. Bagaimanapun Ardian tetap laki-laki dan kamu adalah perempuan kalian bisa saja nantinya saling suka," Naufal memperingatkan istrinya. Ia hanya tidak ingin kehilangan Thella .
" Baiklah aku tidak akan berdekatan dengan dia.Kamu jangan takut, meskipun aku ada hubunganpun, di antara kami tidak ada hubungan apapun, kamu bisa pegang perkataanku, Naufal." Thella merasa harus segera memberikan keputusan agar merasa lebih tenang.
" terima kasih Sila, kamu sudah menghargai apa yang menjadi keputusanku, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu. Maaf jika aku menjadi sedikit egois," Naufal tidak bisa menipu perasaannya, bahwa ia memang sedang cemburu pada lelaki bernama Ardian itu. Ia juga tidak mengerti mengapa harus cemburu berlebihan. Kesannya dirinya sangat over protektif.
"Tidak apa-apa, Naufal. Aku mengerti, semua ini terjadi karena kamu sangat menyayangiku kan? Aku justru sangat bahagia karena kamu sangat menjaga apa yang kamu miliki. Aku semakin menyayangimu, Fall."
Mereka terus.bergandengan tangan sambil.berkeliling. Fall memandang Thella.sekilas. Jika bukan Thella, ia pasti sudah di caci maki.karena cemburu tidak masuk.akal. Ia beruntung.mempunyai pasamgan sebaik Thella.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? " Thella menyadari sikap aneh Naufal. Meskipun ia merasa aneh, tapi ia juga menghargai apa yang menjadi.keputusan Naufal.
__ADS_1