
Fall dan Thella sama-sama merebahkan diri di ranjang. Keduanya mengantuk,
tapi belum bisa memejamkan mata. Mereka membayangkan keseruan yang baru saja
mereka lewati bertiga tadi. Fall senang karena papa Thella menerima
kehadirannya dengan baik. Pantas saja
Thella sedih saat mamanya tidak bisa menerima dia dengan baik.
“Bener kan, papa nggak serem?
Begitu saja kamu sudah merasa grogi sampai tidak tenang, papaku orangnya ramah, dia juga gitu sama
temen-temen sekolahku dulu. Tidak pernah galak,”
Sikap Naufal sama dengan saat
pertama kali teman-temannya datang ke rumah, mereka pati takut pada papa
Thella, tapi setelah kenal, justru papanya sering membantu mereka mengerjakan
tugas. Terkadang juga mereka malah bercanda
bersama. Alhasil, teman-temannya semangat jika di minta kerja kelompok di rumah
Thella.
“Iya, ternyata papa kamu
baik, aku bahkan udah ketakutan setengah
mati , papamu asyik. Hanya butuh beberapa menit untuk akrab, aku melihat
keharmonisan dalam kehidupan kalian. Pasti dulu, banyak sekali kenangan kalian
bertiga di rumah ini,”
Naufal justru kembali teringat
pada kenangan buruk yang terjadi di dalam kehidupannya yang tentu saja
berbanding terbalik dengan apa yang di alami oleh Thella. Setidaknya istrinya
tumbuh di dalam keluarga normal yang saling mencintai dan mendukung satu sama
lain, hal yang selama ini hanya ada di dalam khayalan Fall.
Terkadang masih ada keinginan
untuk memulai kehidupan masa kecilnya, tapi ia ingin kedua orang tuanya tidak
sibuk dengan urusan masing-masing dan menjadi orang tua yang sesuai dengan
impiannya. Ia sangat iri saat masuk taman kanak-kanak, semua teman-temannya di
antar oleh mama atau papa mereka, bahka ada juga yang di antar keduanya, tapi
Fall, ia hanya datang dengan pengasuhnya.
Entah mengapa sulit sekali melupakan
masa-masa sulit itu, padahal jelas-jelas
ia sudah mengajak Thella untuk melupakan masa lalu, tapi ternyata ia tidak
cukup kuat untuk melakukan itu. Kenangan pahit itu terlalu sulit untuk di
lupakan. Bahkan masih sering menghantui hari-hari Naufal.
“Aku tahu, pasti saat ini kamu
sedang memikirkan masa lalumu kan? Bukannya kamu sudah mengajakku untuk
melupakan semuanya? Sekarang kamu sudah punya aku,Fall. Aku tidak akan membiarkan kamu kesepian, jadi
kamu jangan takut lagi. Jika di maa lalu ada yang memukulmu, sekarang ada aku
__ADS_1
yang akan selalu memelukmu. Aku tidak akan meninggalkanmu, selalu sayang
padamu,” Thella hanya ingin membuat Naufal tidak merasa sendiri lagi. Ia hadir
untuk menjadi motivasi dan semangat di
dalam hidupnya.HN
“Terima kasih, Thella. Kamu telah
menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Kamu bukan hanya menjadi seorang istri, tapi kamu adalah salah satu orang yang
penting di dalam hidupku. Pertemuan kita sudah di rencanakan oleh takdir sejak
lama. Kamu adalah salah satu kebahagiaan terindah yang pernah Tuhan kirimkan
untukku,” Fall yang tadinya menghadap ke langit-langit menoleh ke arah Thella
dan tersenyum pada wanita yang telah beberapa bulan menjadi istrinya itu.
“Aku juga berterima kasih, karena
kamu telah menemani kesendirianku selama ini. Aku merasa lebih berharga saat
menjadi istrimu. Aku akan berusaha untuk selalu menyayangimu, lebih dari ini,”
Thella menggenggam tangan Fall perlahan, jarinya mencari celah jari Naufal dan
mengisinya dengan jemarinya, lalu mengeratkan genggamannya.
Ia terkadang melupakan bagaimana
sikap Fall di awal pertemuan mereka, yang ia tahu, saat ini lelaki di sampingnya
itu mencintainya dengan sangat baik. Di awal, ia menyesali pertemuannya dengan
Fall, tapi kini ia menyadari, apakah hidupnya akan sebaik sekarang saat ia
cintanya dengan pria dingin yang telah menjadi hangat di sampingnya itu.
Tidak ada takdir yang kebetulan,
yang pasti Thella bahagia menjalani
takdirnya menjadi pasangan Naufal Ferdinand Roxy, ia tidak ingin menukarnya
dengan orang lain lagi. Pria itu adalah pemilik cinta terbaik setelah ayahnya. Dengannya,
Thella merasakan sebuah kesempurnaan cinta.
Mungkin, jika di tuliskan dalam
sebuah puisi, entah berapa judul yang akan ia habiskan untuk melukiskan
perasaannya pada Fall. Di setiap baitnya pasti akan menguntai kalimat-kalimat
cinta yang indah. Bahkan, ketika seseorang membacanya, akan dapat merasakan apa
yang ia rasakan, Naufal seperti seorang pangeran di dunia dongeng, dan dia
adalah seorang putri yang beruntung mendapatkan cintanya yang suci.
Wanita itu telah memutuskan untuk
mengabdikan seluruh cintanya untuk mendampingi Naufal, apapun yang
terjadi. Tidak ada seseorang yang lebih
pantas untuk di cintainya selain dia. Thella bangga, dapat berdiri di samping
pria sesempurna dia.
“Thella, jika suatu hari ada
orang lain yang lebih baik dari aku, apakah kamu akan menggantikan aku dengan dia?” Naufal sengaja memberikan pertanyaan
__ADS_1
ini, ia ingin tahu, sebagaimana besar rasa sayang wanita yang ada di sampingnya
itu padanya.
“Naufal, tidak ada orang lain
yang bisa menggantikanmu, kamu adalah lelaki terbaik setelah ayahku di dalam
hidupku. Meskipun ada yang lebih baik darimu, memilikimu sudah lebih dari cukup
untukku,”
Pernyataan Thella berhasil
meyakinkan Naufal, pria itu sedikit tenang karena ketakutannya akan kehilangan
Thella memudar. Ia tahu, istrinya bukan
tipe wanita yang seperti itu, mudah mencintai dan mudah pula menghianati,
Thella juga cinta terbaik dalam hidupnya, bahkan cintanya lebih unggul daripada
mamanya.
“Kamu memang spesial,
Thella. Kamu tidak pernah bisa di gantikan
oleh siapapun juga. Kamu mencintaiku dengan terlalu sempurna, sampai aku tidak
tahu lagi, harus membalas perasaanmu dengan
apa,” Naufal menggeser posisi tidurnya agar bisa berdekatan dengan Thella. Ia ingin
menghapus jarak di antara mereka.
Naufal menyentuh kelopak mata,
hidung dan bibir wanita itu perlahan, mata indah yang selalu menatapnya dengan
cinta, hidung yang selalu menghembuskan Nafas di setiap pagi saat ia membuka
mata, dan bibir yang selalu memberikan senyuman semangat saat ia merasa terpuruk.
Naufal mencintai semua yang ada di dalam diri istrinya, sampai ia tidak lagi
mempunyai alasan untuk membencinya.
Thella membalas perlakuan Naufal
dengan mengelus pipi pria itu lembut, hingga membuat Fall menikmati sentuhan
itu. Bibir Thella mengembangkan senyum sempurnanya, mereka berdua saling
berpandangan penuh cinta. Siapapun yang melihat dua insan ini akan merasa iri
dengan keromantisan mereka berdua.
“Fall, kamu tahu, senyuman kamu
membuat aku susah lupa, rasanya setiap hari rasa cintaku semakin bertambah
padamu. Cintamu berhasil mengalihkan
duniaku, kamu membuatku mabuk dalam lingkaran asmaramu, tetaplah menjadi raja
di dalam hatiku, hari ini, esok, dan selamanya,” Thella mendekatkan wajahnya pada
kepala Fall, dan mendaratkan kecupan lama di kening pria itu. Ia memejamkan
matanya cukup lama, hingga ada setitik air yang merembes dari celah matanya.
Tuhan, jangan pernah pisahkan lagi aku dan dia kecuali atas takdirmu. Aku
sangat mencintainya dan sangat bahagia dapat memiliki kesempatan memiliki
lelaki sebaik dia di dalam hidupku. Biarkan aku membahagiakan dia semampuku.
__ADS_1