My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 36


__ADS_3

Siangnya...


Acara spa sudah selesai, Naufal menghantarkan Thella ke rumah Vanya. Sebelum akhirnya Naufal menemui Clara.


"Thella, nanti aku akan menjemputmu. Aku pergi dulu," Naufal tersenyum. Lalu meninggalkan Thella yang melepas kepergiannya dengan melambaikan tangan.


"Thella...!"


"Vanya...!"


Keduanya heboh dan saling berpelukan, seperti tidak bertemu selama satu tahun.


"Apa kabar? duduk," Vanya mempersilahkan Thella duduk di kursi yang terletak di serambi rumahnya.


"Kabarku baik Van. Kamu sendiri?"


"Sama, baik juga. Gimana, bulan madunya?"


"Seru, pengen ke sana lagi,"


"Kesana aja lagi, suamimu kan kaya, jadi nggak masalah dong ke korea berulang kali," Vanya meledek Thella.


"Suami aku memang kaya, tapi waktunya miskin," Thella terkekeh.


"Udah ada tanda-tanda belum nih?" Vanya yang meminta kado garis dua dari bulan madu pun kembali menanyakan apakah Thella sudah mengalami tanda-tanda kehamilan.


"Belum. Padahal si Fall sudah mengharapkan punya anak. Apa kandungan aku nggak subur ya?" Thella mengeluh. Ia juga sebenarnya sudah ingin segera hamil..


"Belum tentu, bisa jadi Fall yang kurang titik-titik," Vanya tertawa ngakak. Ia tengah menggoda Thella.


"Apaan sih titik-titik, yang pasti kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pasrah dulu sementara waktu. Kalau sebulan nggak ada perubahan juga, aku mau ke dokter sama Naufal," Thella tampak sedikit kecewa karena belum bisa memberikan keturunan untuk Naufal.

__ADS_1


"Omong-omong, mana suamimu? kamu di antar atau naik taksi?"


"Tadi aku di anter, abis spa. Sekarang orangnya lagi ketemu sama seseorang. Mungkin rekan kerjanya,"


"Padahal pengen gitu puas-puas mandang suami kamu, malah nggak mampir," Ledek Vanya, membuat Thella tertawa.


"Lakiku bukan artis, jadi nggak perlu di pandangin lama-lama, ntar kamu bisa mual," Thella terkekeh. Dia paham, kalau Vanya memang kepo dengan wajah Naufal karena belum sempat bertemu secara jelas.


"Dih, suami kamu ganteng gitu nggak akan ngebosenin," Timpal Vanya.


"Wah, makasih loh, di bilang suamiku ganteng. Eh kamu dapat salam dari Ardian, masih inget kan?" Thella baru teringat dengan sosok Ardian yang ia temui saat masih di Korea.


"Ardian yang suka sekelompok belajar bareng kita? Dimana kamu ketemu dia? Kangen banget. Makin ganteng nggak sih dia?" Kalau sudah berbicara tentang cowok ganteng, Vanya ratunya. Mereka berdua sama, pro.


"Gantengan sekarang si Ardian. Aku sempet di cemburui sama si Fall, gara-gara ngobrol sama dia. Cemburuan suamiku ternyata,"


"Minta kontak Ardian, dong. Eh, masa sih si Naufal cemburu? Emangnya kalian ngapain? Jangan bilang kalian mesra-mesraan!"


"Vanya, aku lakban, ya bibirmu, sembarangan kalau ngomong. Aku cuma ngobrol biasa sama si Ardian, itu juga bahas kamu, eh malah si Fall ngambek. Hampir aja aku mati di tengah badai salju. Untung Ardian nolong aku." Thella menceritakan kisah dramatis antara Dia, Fall dan juga Ardian.


"Belum tahu, dia. Untung saja aku ketemu sama Ardian. Dia nanyain kamu, loh. Dia kepo kamu masih jomblo atau nggak. Sepertinya perasaannya saat masih SMA nyambung lagi, deh. Kalau iya, kali ini kalian jadian, gih!"


"Tentu saja. Aku nggak akan buat dia menunggu lebih lama, aku dari dulu kan bukan nggak mau, hanya saja aku merasa masih SMA,"


"Alumni kita mau ngadain reunian. Kamu ikut ya,nanti sekalian ketemu sama Ardian deh."


"Kan udah punya kontak Ardian dari kamu tadi, jadi aku minta jemput dong sama dia,"


"Bagus deh, buruan jadian, terus nikah, biar halunya berkurang," Thella tertawa ngakak. Dia meledek Vanya agar segera mengikuti jejaknya, menikah muda.


"Iya deh, aku kalah satu langkah dari kamu. Nantinya aku pasti akan menikah juga, kok. Ardian mau nggak ya, aku ajak nikah?" Vanya mulai halu, dia berkhayal untuk mengajak Ardian menikah. Padahal Vanya sadar, belum tentu juga Ardian mau menikah dengannya.

__ADS_1


"Mau sih, tapi masa iya, kamu yang bakalan tembak dia duluan? Jaim dikit kek," Thella berkomentar dengan sikap yang di tunjukkan oleh Vanya.


"Bercanda, Thella. Gila aja aku ngajak dia nikah duluan, kalau di tolak, bisa malu sekebon kacang."


"Kirain gitu, kamu mau ngajakin si Ardian nikah duluan, eh, makan di luar, yuk, udah lama kan, kita nggak makan-makan" Thella memang belum makan setelah spa. Ia ingin makan sup iga di Resto langganannya.


"Boleh, aku juga kebetulan belum makan. Di tempat biasa kan? Udah lama juga kita nggak ke sana," Makan gratis adalah hobi Vanya. Semenjak Thella menikah dengan Naufal, setiap pergi bersama Vanya jarang mengeluarkan isi dompetnya.


"Kamu tahu nggak sih, Van. Mamanya Fall sekarang tinggal di rumah," Curhat Thella.


"Bagus dong, kan malah bisa akrab sama mertua kamu," Sahut Vanya.


"Akur apaan, mertua aku nggak suka sama aku, lalu mau ngejodohin Naufal sama cewek lain, dan si cewek itu juga tinggal di rumah kita. Bayangin deh jadi aku, nyesek." Mata Thella sedikit berkaca-kaca mengingat perlakuan mertuanya padanya.


Ia tidak hanya di benci, tapi juga akan di singkirkan oleh mama Naufal. Dia juga kesal.karena selalu di bandingkan dengan Vania yang katanya anak orang kaya dan sama-sama pemilik perusahaan sama seperti Naufal.


"Apa?! Serius mak mertua kamu sekejam itu? Wah, nggak beres nih kalau begini, bisa-bisa posisimu terancam dan tersingkirkan," Kalimat yang Vanya ungkapkan membuat Thella sedikit merinding.


"Aku ngerti, Van. hubunganku sama Naufal terancam. Meskipun Fall bilang dia akan mempertahankan aku, tapi bisa saja, dia lama-lama akan terpengaruh oleh mamanya," Thella memang khawatir, Fall akan terpengaruh oleh sifat buruk mamanya dan akhirnya lebih memilih Vania.


"Tapi kalau menurutku sih, Naufal tidak akan begitu saja melepaskan kamu, deh. Dia pasti akan mempertahankan kamu, apalagi dia mau di jodohin kan sama cewek yang kata kamu di bawa itu," Pendapat Vanya ada benarnya, Naufal memang tidak akan menyerah dengan mudah. Apalagi saat itu dia berniat untuk pindah rumah jika ia tidak nyaman tinggal satu rumah dengan mertuanya itu.


"Bisa jadi, bener juga, sih."


"Jangan sedih lagi,"


"Masih baper, aku Van. Saat lagi bahagia-bahagianya sama Fall, tiba-tiba aja ada tragedi begini,"


"Drama, bukan tragedi,"


"Intinya sama aja, kan?"

__ADS_1


"Iya, memang sama aja. Udahlah, yuk kita berangkat ke Resto, daripada kamu galau nggak jelas," Vanya segera mengajak Thella keluar rumah, ia khawatir sahabatnya itu semakin galau.


"Okelah, yuk. Tiba-tiba aja, mood aku jelek. Galau maksimal," Thella menenteng tas kecilnya, lalu mengikuti Vanya.


__ADS_2