
Kondisi Naufal belum terlalu baik. Suhu badannya masih lumayan tinggi. Mereka berdua masih tidur sambil saling dekap. Sungguh pemandangan suami-istri yang romantis dan serasi.
Fall membuka matanya. Ia merasakan kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik di bandingkan tadi pagi. Posisi wajahnya yang sangat dekat dengan dada Thella membuat pria itu harus mendongak. Wanita itu masih tidur dengan nyenyak. Mungkin ia lelah, selalu mengikuti kegiatan Naufal kemanapun.
Naufal menyentuh pipi Thella lembut, menggeser tidurnya agar sejajar dengan wanita itu. Thella sama sekali tidak terganggu, ia tetap tidur pulas. Pria itu memandanginya lekat-lekat, lalu tersenyum tipis.
Ia senang karena wanita itu dengan setia menemaninya di saat ia sakit dan merawatnya dengan baik. Biasanya, Fall akan berusaha mengurus dirinya sendiri saat sakit. Terkadang ia harus pasrah saat tidak bisa bangun dari tempat tidurnya karena lemah.
"Kesayanganku sudah bangun? Masih pusing?" Thella buru-buru memegang kening suaminya untuk memastikan kondisi Fall sudah membaik.
Fall memegang tangan Thella. Ia kemudian menatap kedua bola mata Thella dalam-dalam. Naufal dapat melihat seberapa khawatirnya wanita itu dengan kondisinya sekarang.
"Aku sudah jauh lebih baik, Thella. Terima kasih sudah merawatku dengan baik. Biasanya tidak ada yang memperdulikanku saat aku sakit. Rupanya begini, rasanya sakit dan di rawat oleh orang yang aku sayang, beruntungnya aku memilikimu, Thella." Naufal mendekap erat tubuh istrinya, seakan ia tidak ingin sedikitpun berjauhan dengannya.
"Syukurlah, aku panik sekali saat tubuhmu demam tadi. Sempat terpikir untuk membawamu ke dokter. Aku takut terjadi sesuatu padamu, Fall." Thella menempelkan kepalanya pada dada pria itu, hingga detak jantungnya yang beraturan, terdengar jelas di telinganya.
"Apa yang kamu takutkan? Aku tidak takut, meskipun aku harus mati, asalkan di dalam dekapanmu," Kelakar Fall membuat Thella gemas.
"Aku tidak rela, kamu mati. Siapa yang akan menghukumku dengan hukuman romantis nanti? Tidak ada lagi yang minta roti dengan bentuk selai love, tidak ada yang memberiku morning kiss saat bangun tidur. Kamu masih banyak rencana bersamaku, Fall."
Memang masih banyak rencara yang belum terlaksana. Mereka berdua masih harus melakukan beberapa hal, belum lagi keinginan mereka untuk mempunyai seorang bayi belum juga terlaksana.
"Rupanya kamu sangat merindukan hukuman dariku, ya? Mendekatlah sayang, aku akan memberikannya padamu dengan sukarela," Fall menggeser posisi tidurnya agar wajah mereka sejajar.Seperti biasa, Naufal memberikan hukuman romantisnya pada Thella. Ciuman romantis ala pasangan muda itu berlangsung lumayan lama, hingga hampir tiga puluh menit.
Keromantisan keduanya membuat banyak pasangan iri. Tidak semua pasangan bisa seromantis mereka dengan berbagai alasan. Terkadang tidak bisa menerima kekurangan pasangan adalah hal yang paling banyak terjadi. Padahal sebenarnya, kita mencari pasangan tidaklah harus yang sempurna, karena itu tidak ada, tapi seseorang yang bisa menerima kita apa adanya dan dapat berbagi suka dan duka juga kekurangan dan kelebihan kita lah yang pantas untuk di perjuangkan.
"Aku menyukai hukumanmu, Fall. Bisakah kamu menghukumku lagi?" Pinta Thella manja sambil.melingkarkan tangannya di leher suaminya. Dia mengakui, meskipun awalnya ia tidak suka dengan hukuman yang selalu di berikan oleh Naufal, tapi pada akhirnya ia justru menginginkannya di saat-saat tertentu dan menjadi kebiasaan favorit yang sering di tunggu oleh Thella.
"Lagi? Tumben kamu manja, minta hukuman berulang, kalau aku tidak mau memberikannya kamu mau apa?" Fall menggoda istrinya. Ia ingin tahu apa yang akan wanita itu lakukan saat ia tidak mau mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak ingin memberikannya, maka aku yang akan memberikan hukuman padamu, jadi mau berikan atau tidak?" Ancam Thella sambil tertawa kecil. Di coleknya ujung hidung Fall dengan gemas.
"Aw, aku takut.. Boleh sembunyi nggak?" Naufal justru semakin menggoda Thella. Membuat wanita itu semakin gemas dan ingin melakukan sesuatu untuk membalas perlakuan Fall.
"Fall, kamu nakal ya, baiklah, aku akan membalas perlakuan kamu lebih parah,"
Tanpa aba-aba lagi, Thella segera membalas perlakuan Naufal dan balik memberikan hukuman romantis pada pria itu yang di balas dengan penerimaan dengan senang hati oleh Fall. Mereka kembali bergelut dalam keromantisan. Rupanya Fall sudah melupakan sakitnya hari itu.
"Boleh nggak aku minta di hukum sampai sore?" Fall mengejek Thella saat dia selesai membalas perlakuan Naufal.
"Nakal, minta lagi dan lagi. Udah ah, aku mau mandi..." Thella akan beranjak dari tempat tidurnya.Tapi Fall menahan wanita itu pergi.
"Mau kemana? Mandi nanti sajalah, masih siang. Aku masih kangen sama kamu," Rengek Naufal tidak mengizinkan Thella pergi.
Terpaksa Thella mengurungkam niatnya untuk mandi dan kembali tiduran di samping Thella. Ada banyak hal yang membuatnya semakin mencintai lelaki di sampingnya itu. Setiap hari, selalu ada perubahan positif yang terjadi di dalam diri Naufal.
"Apanya yang membosankan? Aku justru sangat senang menjalaninya bersama kamu. Kamu sama sekali nggak bosenin. Menyenangkan dan sangat perhatian. Jadi, kamu tidak perlu berubah lagi, aku suka kamu apa adanya. Aku yang perlu banyak berubah, karena aku banyak kekurangan dan harus lebih lagi mengerti kamu,"
Justru yang merasa harus berubah adalah Fall. Dia ingin menjadi suami yang lebih baik lagi dari sekarang. Ia ingin bisa lebih memperhatikan Thella. Seperti Suami-suami pada umumnya. Apalagi, banyak sekali hari yang telah mereka lalui dengan tidak normal.
Jika mengingat masa-masa awal mereka menikah, rasanya ia ingin sekali memutar waktu, ia ingin mengulang semuanya menjadi kenangan manis, tapi Fall sadar, semuanya yang sudah terjadi, tidak bisa di ulang kembali. Ia hanya bisa memperbaiki semuanya, agar ke depan jadi jauh lebih baik lagi.
"Kamu sudah banyak berubah Fall. Kamu sudah berusaha selalu menjadi suami yang baik.Apapun yang pernah terjadi di masalalu, aku tidak pernah mengungkitnya. Aku membiarkan semuanya menjadi kenangan di antara kita. Bukankah semua yang indah memang harus berawal dari yang buruk? Contohnya kupu-kupu, ia harus menjadi ulat dulu yang banyak di benci orang, menjadi kepompong yang bahkan orang tidak sudi melirik, hingga akhirnya ia menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan terbang di atas bunga-bunga lalu menarik perhatian. Terima kasih untuk segalanya, Fall. kamu adalah suamiku yang terbaik."
Thella merebahkan kepalanya di bahu Fall. Ia merasa sangat nyaman di sisi lelaki itu. Bila waktu dapat di putar kembali, Thella tidak keberatan untuk mengulang pertemuan mereka, sekali lagi.
"Thella, bagaimana tentang program kita?" Mendadak Naufal membahas tentang program. Tapi Thella belum mengerti, program apa yang sedang di bahas oleh suaminya.
"Program apa, Fall?" Thella penasaran, lebih tepatnya ia lupa dengan program yang dibuatnya sendiri.
__ADS_1
"Program hamil kamu, jadi kamu gimana? Mau mulai program bersama dokter atau mau alami aja, sedapatnya kapan? Aku tidak menuntutmu, kok. Kapanpun, aku tidak keberatan. Kita kan masih baru. Orang-orang yang puluhan tahun belum punya anak juga masih biasa aja, kan?" Fall berusaha agar Thella merasa nyaman, tidak merasa di buru-buru untuk hamil.
"Oh, masalah itu. Aku malah udah lupa, maksudku bukan melupakan keinginan untuk punya anak, tapi aku lebih tidak berharap berlebihan. Kalau udah saatnya, kita pasti di kasih kok. Aku percaya itu. apalagi kamu juga nggak terlalu menekan aku untuk buru-buru, aku jadi lebih rileks." Itulah yang saat ini Thella rasakan. Ia lebih santai dan tidak terlalu tertekan. Apalagi mereka barusaja kehilangan bayi pertama mereka.
"Baguslah kalau begitu. Bukannya dua hari lagi kita ke Jogja buat pertemuan? Jadi nggak ada yang jemput mama ke kantor polisi, sebelum berangkat, kita harus bolang dulu sama mama, biar mama pulang naik taksi saja,"
Mereka memang akan pergi ke jogja untuk keperluan kerja dan juga liburan atas permintaan Thella. Wanita itu memperpanjang masa kepergian mereka menjadi satu minggu setelah di putuskan di awal hanya tiga hari.
"Iya juga ya. Kita kan nggak ada supir juga nggak ada pembantu, jadi agak susah. Gimana kalau kita ambil asisten rumah tangga dari yayasan, Fall?" Muncul ide di benak Thella. Ia kasihan pada mama mertuanya kalau sampai harus beberes dan mengurus rumah sendirian.
"Kayaknya ide kamu boleh juga, memangnya kamu punya kenalan dari yayasan?" Fall lupa kalau di rumah Thella ada bibi yang juga dari yayasan.
"Bibi kan dari yayasan. Aku bisa minta tolong dia untuk mencarikan teman dari yayasannya untuk kerja disini, atau mereka bisa tukeran kan, bibi di sini, terus yang baru kerja di sana." Thella memang sudah lama di tawari Fall untuk mencari asisten rumah tangga, tapi saat itu ia merasa belum butuh. Sekarang saatnya ia membutuhkan seseorang yang bisa mengurus rumah, karena tidak tega pada mamanya.
"Boleh-boleh. Aku malah sangat setuju kalau bibi tinggal di rumah kita. Aku merasa cocok sama dia. Dia juga sayang sama kamu. Bisa bantu aku jagain kamu, kan?" Tentu saja Fall langsung setuju, karena dia sudah mengenal Bibi dengan baik. Ia tahu bibi bisa di andalkan. Selain untuk menjaga rumahnya, ia juga bisa menjaga istrinya.
"Baiklah, kalau kamu setuju, aku akan menghubungi bibi segera, untuk menanyakan kepada yayasan, adakah asisten rumah tangga yang cocok untuk kerja di rumah papa." Celoteh Thella. Pada akhirnya, mereka memang butuh seseorang untuk bantu-bantu di rumah, apalagi sekarang Thella harus ikut bekerja bersama Fall. Ia juga tidak bisa hanya berdiam diri di rumah.
"Thella.. Kita program yuk sekarang.." Mendadak Fall berbisik di sela-sela obrolan mereka.
"Program apalagi?" Thella tampak bingung.
"Buat baby...yuk..yuk.."Rengek Fall, Thella hanya tersenyum kecil.
"Maaf tuan, permintaan anda di tolak." Thella tertawa kecil.
"Aku tidak menerima penolakan. Di tolak pun, aku akan memaksa," Naufal menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Fall...!"
__ADS_1