
Thella dan Naufal masih ada di Supermarket. Mereka sedang main di Game Zone. Keduanya sangat menikmati masa santai. Saat Main berbagai permainan Naufal hampir semuanya kalah, karena dia salah fokus, bukan fokus ke permainan yang di mainkannya, pria itu justru konsentrasi memandang wajah istrinya.
"Kamu nggak asyik, Fall. Gimana sih, main game tapi kamu fokusnya ke wajah aku. Gimana mau menang? Masa aku terus yang menang." Thella protes karena Naufal tidak serius bermain game dan justru memperhatikan wajahnya.
"Makanya, jangan terlalu cantik, dong. Biar aku nggak terpesona." Gombal Naufal sambil tertawa geli.
"Kamu aja yang terlalu genit, padahal setiap hari bersama, tapi masih memandangiku sampai tidak berkedip seprrti itu," Thella pura-pura kesal. Membuat Naufal semakin menjadi tertawanya.
"Daripada dulu, saat aku tidak perduli. Kamu mau aku secuek dulu lagi?" Naufal tampak berbicara dengan nada sedikit serius.
"Ogah. Mana mau aku kamu cueki terus, udah gitu sok nyuruh-nyuruh, galak lagi, udah gitu suka ngatur-ngatur, jadi ingat julukanmu, Tuan Singa," Gantian Thella yang ngakak di sini.
"Kamu pasti benci banget saat itu, padaku. Bahkan kamu bilang berencana ingin meninggalkan rumahku."
"Siapa yang akan senang saat di perlakukan seperti itu?"
"Terus, krnapa kamu jatuh cinta padaku? Karena aku tampan? Atau karena aku kaya?"
"Tidak keduanya,"
"Lalu?"
"Aku jatuh cinta sama kamu, karena kamu dingin, tidak agresif seperti kebanyakan lelaki, meskipun sampai harus melewati berbagai drama," Sifat dingin yang biasanya di benci oleh semua mantan pacar Naufal justru mrmbuat Thella jatuh cinta.
"Kamu memang unik, alasan jatuh cintamu kepadaku sangat unik, berbeda dengan yang lain. Kamu justru membuatku jatuh cinta karena perhatianmu yang berbeda jika di bandingkan pacarku dulu, mereka hanya perhatian padaku saat menginginkan sesuatu, tapi setelah itu menghilang lagi." Curhat Naufal. Memang untuk lelaki populer seperti Naufal, akan sulit untuk mendapatkan seorang wanita yang akan tulus mencintainya.
__ADS_1
"Beruntung dong berarti kamu bertemu denganku, wanita apa adanya yang mencintai kamu dengan sederhana. Aku lebih fokus pada kebaikanmu di bandingkan ketampanan atau kekayaanmu, Fall."
"Kamu benar, Thella. Kamu seperti pahlawan yang mampu menyelamatkan hatiku dari kebekuan, dari cinta-cinta palsu, aku sangat beruntung jatuh cinta padamu," Naufal menyudahi permainannya. Ia bermaksud meninggalkan Game Zone sambil menggamit tangan Thella.
"Terima kasih. Aku juga merasa beruntung telah di cintai oleh sosok yang sepertimu. Untuk sekarang, tidak ada yang lebih spesial darimu di hatiku, Fall." Thella mengikuti langkah Naufal. Mereka berdua saling merasa beruntung karena bisa mencintai satu sama lain.
"Sekali-sekali makan cepat saji, yuk?! Hari ini pengen makan burger. Sudah lama sekali, tidak pernah makan makanan cepat saji, jadi sekali-sekali bolehlah, ya?" Naufal mengajak Thella makan di KVC Hari itu, Naufal ingin sekali makan makanan cepat saji.
"Boleh banget, aku juga sudah lama nggak makan di sini. Rindu rasanya, apalagi sensasi minuman sodanya yang menggetarkan," Kelakar Naufal membuat Thella tersenyum geli.
Terakhir thella ke KVC adalah saat sebelum menikah dengan Naufal, sedangkan Naufal, terakhir dia ke sana adalah saat ulang tahunnya ke sepuluh, itupun dia harus memaksa mamanya untuk mengabulkan permintaannya.
Mereka memesan dua porsi jumbo burger. Sambil menungggu pesanan mereka siap, Thella dan Naufal memilih tempat duduk di sudut ruangan, agar sedikit tenang.
"Fall," Thella mencoba mengajak bicara Naufal yang sedang membalas beberapa email dari karyawannya.
"Ada apa?" Naufal meletakkan ponselnya agar Thella tidak merasa terabaikan.
"Sampai hari ini, kenapa aku tidak merasakan tanda hamil juga, ya?" Thella tengah gelisah, ia ingin segera hamil, seperti yang di inginkan Naufal.
"Sabar Thella, semuanya butuh proses.Kita berusaha saja terus, nanti kalau sudah waktunya kita di beri momongan, pasti akan di beri juga," Naufal mencoba memberikan pengertian kepada Thella, agar istrinya itu tidak berkecil hati karena belum juga hamil.
"Tapi, ini tidak akan berpengaruh pada perasaanmu padaku, kan?" Thella benar-benar ketakutan, jika keadaannya yang belum juga hamil membuat Naufal berubah.
Melihat kegelisahan Thella, Naufal meraih kedua tangan istrinya itu dan menggenggamnya erat. Fall menatap kedua bola mata istrinya itu dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
"Thella, tidak akan ada yang berubah, kamu bisa memberiku anak atau tidak, kamu akan tetap menjadi istri kesayangaku. Aku memang ingin memiliki anak, tapi bukan berarti aku akan menjadi egois dan memaksakan diri. Jangan takut lagi, Thella. Aku suamimu, melindungimu dan menyayangimu apapun keadaannya," Kalimat yang Naufal ucapkan membuat wanita itu jauh merasa tenang. Ketakutannya kehilangan Naufal jika ternyata dirinya di vonis tidak mempunyai keturunan perlahan memudar.
"Terima kasih, Naufal. Kamu sangat pengertian sekali. Aku sangat bahagia memiliki suami yang bijak sepertimu. Semoga suatu hari kita di beri momongan ya. Kalau anak kita laki-laki, dia pasti akan tampan dan cerdas sepertimu," Thella memuji suaminya yang memang pantas di unggulkan. Dia pria cerdas dan juga pekerja keras, tentunya jika mereka mempunyai anak, anak mereka akan seperti ayahnya.
"Kamu juga wanita lembut, sabar dan penuh perhatian. Jika kita memiliki seorang putri, ia juga pasti akan sepertimu, tidak hanya cantik, tapi juga penuh kelembutan." Naufal membalas pujian Thella dengan tak kalah manis.
Pesanan mereka datang, obrolan mereka terputus sementara. Keduanya menikmati burger yang terhidang. Ini adalah makanan cepat saji favorit Naufal.Dua porsi pun ia akan sanggup menghabiskannya.
"Fall, aku ke toilet sebentar. Tunggu di sini. Aku akan segera kembali," Thella bangkit dari duduknya, ia merasa ingin buang air kecil.
"Baiklah, jangan lama. Aku bisa rindu," Fall menggombal ala Dilan
"Gombalan receh," Ejek Thella sambil berlalu di iringi senyuman Naufal.
Thella bergegas ke toilet. Setelah selesai, ia menyempatkan diri untuk mengecek penampilannya di cermin. Ia tidak ingin tampak acak-acakan di depan Naufal. Wanita itu menyisir rambutnya yang sedikit berantakan lalu keluar dari toilet dengan anggun.
"Hai Thella, kita bertemu.di sini rupanya, cantik sekali kekasihku ini," Tanpa sengaja ia bertemu dengan David yang saat itu juga ada di Toilet. Pria itu mencolek dagu Thella, membuat wanita itu merasa risih.
"David, jangan berbuat seperti ini. Tidak pantas. Aku ini istri orang, kamu tidak bisa melecehkanku begitu saja, atau aku akan..."
"Akan apa? Berteriak minta tolong? Tidak akan ada yang bisa mendengarmu nona, area ini kedap suara," David menyeringai, ia mencengkeram kedua pipi Thella dengan satu tangannya. Wanita itu ketakutan. Ia takut David akan melakukan sesuatu terhadapnya.
"David, lepaskan aku. Jangan ganggu aku!" Thella coba berontak.
"Jangan coba berontak, Sayang. Kamu akan menikmati semuanya," David menatapnya dengan tatapan setajam iblis. Thella semakin ketakutan.
__ADS_1