My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 34


__ADS_3

Naufal dan Thella telah tiba di Bandara Indonesia. Setelah banyak menghabiskan waktunya di dalam pesawat dengan tidur cantik, Thella dibangunkan oleh Naufal saat pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat.


Ada rasa bahagia tersendiri, saat mereka sampai di Indonesia. Karena, mereka terbayang dengan kesibukan masing-masing, yang akan mereka lakukan seperti biasanya.


Baik Naufal atau Thella, mereka berdua sama-sama merindukan rumah yang mereka tinggali. Meskipun hanya beberapa hari di luar negeri, rasanya mereka seperti sudah berbulan-bulan tidak pulang.


" Senangnya sudah kembali ke negara sendiri, terkadang memang berpergian jauh itu sangat di inginkan. Tapi ternyata, setelah ada di luar sana, kerinduan terhadap Negeri sendiri itu pasti ada. Seperti sekarang ini, rasanya bahagia banget bisa kembali menghirup udara Indonesia." Thella merentangkan kedua tangannya saat ia sudah turun dari pesawat.


"Kembali bekerja! Senang sekali bisa kembali ke Indonesia. Aku rindu laptop ku, rindu ruangan kerja, karyawan-karyawan ku, semuanya aku rindu," Thella hanya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Naufal.


Saat masih ada di Korea, dia bilang, dia tidak masalah meninggalkan pekerjaannya. Tetapi seperti yang Thella duga, Nauval memang merindukan pekerjaannya. Bagaimanapun, pria itu sudah menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja dan dia sepertinya sudah sangat mencintai pekerjaannya.


"Katanya kemarin kamu nggak Rindu dengan pekerjaanmu," Thella menyindir Naufal. Lelaki itu hanya tersenyum. Bagaimanapun, dia saat itu sedang berusaha untuk menutupi semuanya dari Thella. Agar wanita itu bisa menikmati masa liburannya dengan tenang.


"Thella, aku memang merindukan kerjaanku. Tapi untuk kemarin-kemarin, aku meluangkan waktu untuk kamu. Sekali-sekali memang harus mengabaikan pekerjaan, kan? Apalagi itu untuk membahagiakan kamu. aku harus lakukan apa yang aku bisa dan mengesampingkan apa yang biasanya aku lakukan." Naufal menggandeng Thella masuk ke Bandara untuk mengurus barang-barang mereka.


" Aku ingin kita segera sampai rumah, aku sudah sangat merindukan suasana rumah," Racau Thella yang ditanggapi senyuman oleh Naufal.


" Kamu rindu rumah atau rindu aku?" Akhirnya Thella mencubit Naufal lumayan kencang, hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan karena perbuatannya.


"Kamu kan ada di sini, bagaimana aku bisa rindu? Kita kan dari kemarin selalu sama-sama," Thella sedikit geram dengan perilaku suaminya yang terkadang sedikit menggemaskan.


" Tadi yang udah bahas bikin PR siapa? Kok sekarang udah berubah lagi? Jadi, udah nggak kangen sama aku?"Ledek Naufal lagi sambil tertawa terkekeh.


" Naufal, kenapa sih kamu sekarang jadi mesum sekali? Nanti malam, bukan sekarang. Kita kan baru sampai, masih capek tahu," Thella hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang sedikit nyeleneh.


" Cie,cie...kode nanti malam,"


"Kan kamu yang mulai duluan,"


"Kamu ngarep banget, ya?"


"Naufal, jangan mulai, deh!"


"Mulai apa? Kan kamu duluan tadi yang bahas,"


"Mana ada, aku nggak bahas, aku bilang kangen rumah," Thella tetap ngotot.


"Tapi aku kangen kamu, Thella." Bisik Naufal. Thella diam.


"..."Thella hanya diam sambil berjalan mendahului Fall menuju deretan taksi yang berjejer lalu ia masuk ke salah satunya, di ikuti oleh Naufal. Sopir taksi memasukkan koper mereka ke bagasi.


"Kamu marah?"

__ADS_1


"Siapa yang marah,"


"Kenapa mendiamkan aku?"


"Kalau aku ladeni, kamu pasti akan berbuat mesum di depan umum," Omel Thella, membuat Naufal terkekeh.


Setelah menyebutkan alamat tujuan, taksi pun melaju. Thella dan Naufal saling diam. Mereka sepertimya lelah berdebat. Keduanya sama-sama memandang ke luar lewat kaca.


Sesampainya di rumah mereka, ada hal ganjil yang terjadi. Pintu rumah terbuka, di dalam juga tampak ramai. Thella dan Naufal saling berpandangan karena penasaran, siapa yang ada di dalam rumah mereka? Seingat Naufal, hanya mamanya yang punya kunci cadangan rumah itu.


Mereka berdua masuk ke dalam. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memeluk Naufal erat. Spontan lelaki itu mendorong wanita itu menjauh darinya.


" Kamu siapa sih? Tiba-tiba main peluk-peluk, aja. Kamu enggak lihat aku udah punya istri? Kenapa juga kamu seperti kurang belaian begitu? Peluk lelaki yang tidak dikenal sembarangan," Naufal tampak marah kepada wanita itu. Ia benar-benar tidak mengenalnya, tapi tiba-tiba saja wanita itu memeluknya seolah-olah mereka sudah sangat akrab.


"Naufal ini Vania. Calon istri baru kamu, mama merasa dia lebih cocok, deh. jadi istri kamu, dibandingkan dengan dia," Mama Naufal menunjuk arah Thella dan memandangnya dengan pandangan yang tidak senang.


"Mah, aku sudah menikah dan aku hanya butuh satu istri. Aku juga tidak peduli dengan pilihan mama. Karena, aku sudah sangat mencintai istriku yaitu Thella. Tidak ada yang bisa gantiin dia, apalagi wanita tipe macam dia," Naufal menuju ke arah wanita yang disebut bernama Vania itu.


" Mama akui, istrimu ini memang cantik, Tapi dia punya apa? Istrimu ini pasti dari kalangan orang biasa. Kamu harus menikah dengan Vania, karena Vania lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan istrimu itu," Mama Naufal menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Thella, Tetapi, istri Naufal itu lebih memilih untuk diam, karena ia tahu suaminya tidak akan diam saja, membiarkan dia dicemooh oleh mamanya.


" Siapa yang berhak untuk menentukan, siapa yang terbaik menemani hidupku? Hanya aku sendiri.Mama pun tidak berhak. Selama ini mama peduli sama aku? Mama juga tidak pernah memperdulikan aku kan? Apapun yang terjadi padaku. terserah pada keputusanku. Baik buruknya, hanya aku yang merasakan. Jadi jangan pernah mama coba untuk mengusik kehidupan rumah tanggaku dengan Thella," Fall tampak begitu marah kepada mamanya. Selama ini ia masih banyak mengalah, tapi untuk kali ini dia tidak akan pernah membiarkan mamanya, menggantikan posisi Thella dengan wanita yang baru saja ia kenal dengan sifatnya yang aneh.


"Sudahlah ikuti apa kata mama. Ceraikan saja istrimu itu, lagipula dia belum hamil kan? Jadi masih ada kesempatan untuk meninggalkan dia, karena kamu nggak ada tanggung jawab untuk nya," Dengan gampangnya, mamanya berkata seperti itu. Membuat Naufal semakin naik darah. Ia semakin kesal dengan sikap mamanya yang tidak bisa dimengerti.


" Oh, bagus. Jadi wanita ini yang mengajarimu seperti itu kepada Mama? Mengajarimu menjadi anak yang durhaka? Sungguh, Mama tidak habis pikir, apa yang kamu banggakan dari istri seperti dia? Suatu saat, ketika perusahaanmu mengalami masalah, dia tidak akan bisa membantumu. Jadi apa yang bisa kamu banggakan dari dia?" Mamanya terus menghina Thella dengan perkataan-perkataan yang tidak menyenangkan. Tetapi di saat itu Thella hanya tetap diam, ia berusaha sopan kepada mertuanya.


" Apa yang bisa aku banggakan dari Thella? Banyak, Mah. Dia yang sudah menemani aku di saat aku kesepian, sudah menerima aku apa adanya, meskipun aku hanya orang dingin dan selalu sibuk bekerja. Dia dengan sabar memperhatikan aku, menghawatirkan aku,dan merawat aku. Mama tahu, itu sangat berharga bagiku mah. Itu yang membuat aku tidak akan pernah melepaskan dia, apapun yang terjadi. Jadi aku minta tolong, Mama jangan pernah lagi coba-coba untuk mempengaruhiku, aku tidak ingin menceraikan dia dan itu tidak akan pernah terjadi," Naufal menegaskan kepada mamanya, bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Thella, apapun yang terjadi. Hal itu tentu saja membuat mamanya semakin kesal.


" Kalau begitu Vania pulang aja Tante. Lagipula, Naufal tidak mau menikah dengan Vania, jadi buat apa Vania ada disini. Percuma saja kan? aku memang kalah cantik dengan istrinya Naufal, jadi dia menolak Vania begitu saja," Vania bersikap manja kepada mama Naufal, ia memang terlihat seperti seorang wanita penggoda dan itu yang membuat Naufal semakin tidak menyukainya.


" Vania kamu tidak boleh menyerah begitu saja. Tante akan memastikan bahwa, kamu akan menjadi istri Naufal. Percaya pada tante, tante sendiri yang akan menyingkirkan istrinya, dia tidak pantas mendampingi anakku," Thella merasa kesal, ia tidak kuat lagi. Thella menangis dan meninggalkan ruangan masuk ke dalam kamarnya.


" Mama keterlaluan! Untuk apa mau melakukan ini? Aku udah bilang, jangan pernah mengganggu kehidupan rumah tanggaku dan kehidupanku. Mama urusi saja hidup Mama sendiri. Bukankah Mama sudah tidak menganggapku anak lagi?" Naufal masih ingat, bagaimana mamanya mengatakan bahwa dia bukan anaknya saat itu. Kenapa dia tiba-tiba datang dan mengaku bahwa dia adalah ibunya, padahal dia sendiri yang membuangnya.


" Mama tahu, saat itu Mama salah. Mama sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya mama katakan. Tapi mama sadar, ternyata Mama sangat menyayangi kamu. Naufal, jadi Mama mohon, Mengertilah, Mama ini ada calon pilihan Mama. kalau memang kamu tidak ingin menceraikannya, maka jadikanlah dia istri kedua mu, Vania pasti bersedia, ya kan Van?" Mamanya terus mendesak Naufal untuk menerima Vania menjadi istrinya. Bahkan, menawarkan nya untuk menjadi istri kedua. Tentu saja ini membuat Naufal semakin tidak mengerti, apa sebenarnya tujuan mamanya menjodohkannya dengan wanita itu.


" Tentu saja, Tante, aku sangat bersedia. Meskipun aku hanya menjadi istri yang kedua, aku tidak masalah, aku tetap mau menerimanya apa adanya," Vania menanggapi perkataan mamanya Naufal dengan nada yang sangat manja dan dibuat-buat.


" Bukankah kamu dengar sendiri, Vania mau menjadi istri kedua mu. Jadi, tunggu apalagi, nikahi dia secepatnya. Kalau meman tidak bisa bersamanya, biarkan dia tinggal di lantai atas. Itu kan juga kosong, mama dan Vania bisa tinggal di sana," Mamanya tidak menyerah, ia tetap bersikeras untuk mempersatukan Naufal dengan Vania, Naufal berpikir mamanya benar-benar tidak normal.


" Tidak! Sekali aku bilang tidak, tetap tidak. Mama tidak bisa memaksaku menikah dengan dia. Aku cuma ingin istri satu, aku tidak ingin beristri dua dan istriku hanya Thella. Tidak ada yang lain, dan tidak akan ada yang berubah. Mama lebih baik meninggalkan tempat ini. Aku sangat tidak nyaman, ada Mama di sini. Mama hanya bisa mengganggu kehidupan rumah tangga aku, membuatku tidak nyaman," Naufal mengendurkan ikatan dasinya, karena dadanya sedikit sesak, harus menahan emosi menghadapi mamanya sendiri.


" Aku Ini mamamu, Naufal. Kamu tega mengusir mama, mama tidak punya apa-apa lagi. Apa kamu mau, mama tinggal di jalanan? Kamu tidak malu, menjadi seorang anak yang kaya dan membuang orang tuanya begitu saja? Kamu lupa, kamu lahir dari siapa? Mama yang melahirkan kamu, mama yang mengandung kamu, tapi kenapa kamu lebih membela wanita itu dibandingkan dengan Mama?" Mama Naufal memelas, supaya anaknya mau bersimpati kepadanya. Hanya Naufal harapannya satu-satunya. Ia sangat ingin menguasai harta kekayaan anaknya yang begitu banyak itu.

__ADS_1


"Aku tidak masalah Mama tinggal di sini. Tapi, mama tidak bisa memaksaku untuk menikah. Kalau Mama mau tinggal, silakan tinggal. Tapi jangan minta aku nikah dengan dia, karena aku tidak akan pernah melakukannya. Kalau mama tetap memaksa silakan, Mama pergi dari rumah ini," Naufal tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan pernah berubah, dia tidak akan menuruti apa kata mamanya. Menikahi wanita seperti Vania hanya akan membuatnya menjadi gila, karena dia yakin wanita itu hanya mencintai hartanya tapi bukan dirinya.


Bagaimana seorang wanita yang baru bertemu langsung jatuh cinta begitu saja padanya, itu sangat tidak bisa dipercaya. Sedangkan istrinya saja baru beberapa waktu mencintainya, tidak langsung ketemu dan jatuh cinta. Lagipula, wanita sebaik apapun Vania,Thella tidak akan pernah tergantikan, karena Naufal sudah benar-benar mencintainya.


" Baiklah, baiklah. Mama tidak akan memaksamu lagi. Tapi, izinkan mama untuk tinggal di sini. Kalau lantai satu ini terlalu sempit, Mama ingin tinggal di lantai 2, apa kamu mengizinkan?" Tentu saja sang Mama memilih tinggal di lantai dua, karena fasilitasnya pun hampir sama dengan lantai dasar. Untuk sementara ini, Mama Naufal lebih memilih untuk mengalah terlebih dahulu.


Tentu saja mama Naufal sedang menyiapkan sebuah strategi untuk menghancurkan rumah tangga Thella dan Naufal. Bagaimanapun, mamanya ingin Naufal menikah dengan Vania, dengan begitu ia bisa menguasai harta yang dimiliki Naufal tanpa harus terdebat.


" Terserah Mama saja, satu yang perlu Mama ingat, jangan pernah usik hubunganku dengan Thella atau Mama harus angkat kaki dari rumah ini. Aku serius, Ma. Jangan anggap ini sebagai permainan. Aku tidak akan mengizinkan siapapun mengganggu rumah tangga kami, meskipun itu Mama. Karena dia adalah orang yang sangat penting dalam hidupku, sejak ada, dia aku merasa jauh lebih baik seperti sekarang, karena dia aku juga terbebas dari kesepian, keterpurukan, kesendirian, yang Mama sebagai orang yang telah mengandungku tidak perduli. Hanya dia yang hadir sama itu, Mah. jadi Mama harus menghargai keputusanku." Naufal menyusul Thella ke kamarnya. Ia tahu, hati orang yang dicintainya itu pasti sekarang sangat hancur, melihat penolakan dari mertuanya sendiri.


Naufal melihat Thella sedang menangis di depan cermin rias nya. Ia terlihat sangat hancur, karena penolakan itu dan merasa bahwa kehidupan rumah tangganya bersama dengan Naufal yang sudah sangat indah itu terancam. Entah kenapa ada orang lain yang tidak menyukai hubungan mereka lagi, lebih parahnya ini adalah Mama Naufal, yang tidak lain adalah mama mertuanya.


Jika nanti akhirnya Naufal menikah dengan Vania, entah apa yang terjadi dengan hidupnya. Tidak mungkin bisa menerima begitu saja, ia juga tidak ingin kehilangan Naufal, laki-laki yang sudah merebut hatinya dan begitu dicintainya itu.


Naufal memeluk Thella dari belakang. Dihapusnya air mata wanita itu dengan ibu jarinya selembut mungkin. Ia bisa merasakan betapa dalamnya luka yang ada di dalam hati Thella.


" Jangan dengarkan Mama Thella. Aku sudah bicara pada mama, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, jangan takut. Wanita sekelas Vania tidak akan pernah bisa merebut hati aku. Kamu adalah istriku satu-satunya, aku akan mempertahankan kamu bagaimanapun caranya. Bila perlu, kita beli rumah yang baru dan pindah dari sini bila mereka memang ingin memiliki rumah ini," Naufal sebisa mungkin menghibur Thella yang sedang sedih.


Ia tahu, rasanya penolakan itu pasti akan sangat menyakitkan di hati Thella. Naufal pun tidak menyangka, semuanya akan jadi seperti ini. Tiba-tiba saja, mamanya hadir setelah mereka melewati masa-masa yang romantis beberapa hari yang lalu.


"Tidak, mamamu benar Naufal. Aku hanya dari keluarga biasa, aku tidak punya perusahaan sepertimu. Aku hanya memiliki sebuah restoran kecil. Wajar saja kalau mamamu tidak merestui ku menjadi menantunya. Tidak ada salahnya juga mamamu menjodohkan Vania denganmu, karena dia mungkin memang sekelas dengan level kalian. Kalau memang mamamu benar-benar tidak suka padaku, mungkin aku lebih baik meninggalkanmu saja. Aku harap kamu bahagia dengan dia," Pernyataan Thella membuat Naufal kesal. Ia mendengus, membuka jasnya kasar dan membuangnya begitu saja. Dia menarik Thella dan memaksanya untuk bangkit dari duduknya. Sekarang Naufal mengajak Thella berhadap-hadapan, ia menatap mata wanita itu dengan tajam.


" Kamu tidak akan pernah aku ijinkan pergi dari kehidupanku. Kalau kamu melakukan itu, lebih baik aku tidak hidup lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu Thella, paham kan?" Naufal menarik badan Thella mendekat pada tubuhnya, lalu memeluknya dengan sangat erat. Ia memang benar-benar tidak ingin kehilangan wanita itu.


"Tapi, kalau aku tidak juga hamil, itu pasti akan menjadi alasan untuk mamamu menyingkirkan aku, Fall. Lagipula, kalau sampai aku tidak hamil juga, mungkin memang lebih baik kamu mencari istri lain saja Naufal," Thella tampak kecewa dengan dirinya sendiri, Naufal semakin mengeratkan pelukannya. Ia mengecup krpala Thella dengan sangat lama.


"Kamu bicara apa, sayang?Mau kamu bisa hamil atau tidak, aku akan tetap mencintai kamu apa adanya. Kamu tetap tidak akan tergantikan. Jangan pernah bicara seperti itu lagi," Naufal mengusap punggung Thella pelan. Ia tahu apa yang saat ini sedang istrinya rasakan. Penolakan dari mamanya tentu membuatnya sangat terpukul.


" Kamu janji, kan? Jangan tinggalkan aku ya. Meskipun aku belum bisa kasih kamu keturunan atau misalnya nanti ada kemungkinan terburuk. Jangan pernah tinggalkan aku Naufal. Karena aku sangat sayang padamu, aku akan memberikan apa yang aku bisa, semaksimal mungkin dan apabila aku tidak bisa memberikanmu sesuatu, maka tolong, terimalah aku apa adanya," ujar Thella dengan suara parau karena tangisannya.


" Kamu bisa pastikan, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Walau apapun yang terjadi, aku akan tetap berusaha memperjuangkan kamu. Meskipun itu sulit tapi aku, akan terus mencoba. Jangan pernah menyerah, Sayang. Ayo kita berjuang bersama, aku juga sangat sayang padamu," Naufal membimbing Thella berjalan ke ranjang. Ia menyuruh Thella untuk duduk lalu mengambilkan satu gelas air putih agar ia menjadi sedikit tenang.


" Apakah menurut mama kamu, aku tidak lebih baik daripada wanita itu? Apakah menurut kamu wanita yang tiba-tiba saja memeluk laki-laki lain itu adalah yang terbaik? Apa mamamu tidak berpikir bahwa dia juga akan melakukan hal yang sama jika bertemu dengan laki-laki lain di luar sana? Entah mengapa aku curiga sama mamamu, sepertinya beliau mempunyai rencana yang tidak kita ketahui. Terserah sih, kamu percaya atau tidak, tapi aku merasa seperti itu," Thella baru saja mencurigai mertuanya. Karena, ia merasa gerak-gerik mama Naufal sangat mencurigakan. Sesekali ia seperti sedang mencari-cari sesuatu dan mencoba menemukan sesuatu sebagai alasan.


" Aku juga merasakan hal yang sama, Thella. Aku merasa ada sesuatu yang ingin di capai mama, makanya dengan sengaja tinggal di sini. Mungkin mama mau mengincar Hartaku, karena aku tahu saat ini keuangan Mama sedang sulit. Tapi seharusnya dia meminta dengan cara baik baik, bukan dengan cara seperti ini. Sungguh aku sangat kecewa, aku ingin memiliki mama yang sama dengan mama orang-orang di luar sana, yang mampu memahami perasaan anaknya tapi mama aku tidak pernah peduli itu," Naufal terkenang kembali saat masa-masa sulitnya dulu, ketika kedua orang tuanya masih bersama tapi selalu bertengkar. Ingin rasanya ia menceburkan diri ke dalam api saat itu supaya tidak hidup lagi, untung ia tidak mengikuti cara berpikiran anak kecilnya saat itu.


" Baiklah, Naufal. Sepertinya kita memang harus menjalani semua ini, sampai akhir. Kita harus memperjuangkan perasaan kita, meskipun banyak pihak yang tidak menyetujui nya. Aku yakin, keputusanku bersamamu adalah sesuatu yang tepat. Kamu tidak akan mungkin menjerumuskan aku ke tempat-tempat yang tidak baik karena aku percaya kamu adalah lelaki idaman," Thella mulai berusaha bangkit dari keterpurukannya gara-gara kehadiran Mama mertuanya yang sudah jelas-jelas tidak menyukainya. Meskipun begitu ia akan tetap berperilaku baik kepadanya dan menghormatinya selayaknya menantu terhadap mertua.


" Kamu memang benar, kita harus menghadapi ini sama-sama. Kalau kita terus berpegangan tangan, bergandengan tangan, kita pasti bisa melewati ini semua dengan mudah. Bukankah cinta tanpa tantangan itu tidak seru?" Naufal tersenyum lebar, membuat tela pun ikut tersenyum. Setidaknya, mungkin inilah saatnya cinta mereka di perjuangkan. Karena hubungan itu, tidak akan bisa lurus lurus saja, pasti akan ada saatnya berbelok-belok sesuai dengan alurnya.


" Mari kita lewati sama-sama, aku percaya kita pasti bisa melewati semua ini, maafkan aku ya. Aku sempat pesimis, tapi sekarang aku yakin untuk bisa melewati semuanya," Thella kembali memeluk Naufal. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena Rindu.


"Mulai sekarang, kita harus saling menguatkan. Biar kita bisa selalu bersama, kalau kita goyah dan tidak kuat, mereka akan semakin bahagia karena berhasil membuat kita kacau," Naufal kembali mendekap erat Thella. Walaupun pikirannya sendiri sedang kacau, tapi ia ingin membuat istrinya tenang.

__ADS_1


__ADS_2