
Bibi menemani Thella menuju ke rumah sakit karena keadaannya yang sedikit mengkhawatirkan. Wanita itu melarang asisten rumah tangganya untuk.menghubungi Fall dengan alasan ia akan mengganggunya bekerja.
"Non Thella beneran tidak perlu di panggilkan Den Naufal?" tanyanya lagi mencari keyakinan. Melihat Thella yang pucat pasi seperti itu, Bibi tidak tega.
"Tidak apa, Bi. Aku kuat kok, hanya sedikit lemas tapi tidak begitu buruk. Aku tahu, Naufal sangat sibuk. Ia tidak seharusnya memikirkan hal sepele semacam ini." Thella bersikeras menolak saran Bibi untuk menghubungi suaminya.
"Sepele bagaimana Non. Jelas-jelas Non pucat begini. Ya sudah, ayo.kita ke dokter saja, sebelum terlambat. Bibi tidak ingin di salahkan oleh Den Naufal." Bibi mengambil keputusan, ia takut terjadi apa-apa pada Thella.
"Ya sudah, sebentar Bi, aku ganti baju dulu." Thella menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan segera mengganti bajunya.
Thella menyempatkan diri sedikit memoles wajahnya agar tampak segar. wanita itu mengamati wajahnya di cermin, memang sangat pucat, bahkan ia tidak percaya kalau itu dirinya.
Semuanya siap, Thella menenteng tas kecilnya dan segera mengajak Bibi ke dokter sesuai saran wanita.itu.Selebihnya ia juga tidak ingin sakit karena harus mengurus Fall setiap harinya. Pria manja itu tidak bisa di andalkan untuk mengurus dirinya sendiri sekarang.
Mereka berdua naik taksi. Keadaan tubuhnya tidak mengizinkan Thella untuk menyetir mobil sendiri. Keduanya hanya pergi ke rumah sakit terdekat dari rumah Fall.
"Non kuat kan? Kata pak supir sebentar lagi kita sampai, Non." Bibi khawatir karena Thella menyandarkan kepalanya ke jok mobil dan memejamkan matanya.
"Iya, Bi. Aku kuat kok." Sahutnya lemah tanpa.membuka matanya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit yang lumayan besar. Bibi memapah Thella yang sedikit sempoyongan memasuki area rumah sakit itu.
Beberapa saat kemudian....
"Selamat Ibu, saat ini ibu positif hamil. Kehamilan ibu sudah memasuki usia tiga minggu," Pernyataan seorang dokter wanita itu membuat Thella. mengembangkan senyumnya.
Penantiannya dan Fall akhirnya terjawab. Ia akan segera memiliki seorang bayi. Kali ini ia tidak akan ceroboh dan menjaga bayinya dengan baik. Bibi pun ikut bersyukur atas kehamilan anak majikannya itu.
Thella berencana untuk memberitahukan kehamilannya sebagai kejutan. Ia yakin, Fall pasti akan sangat bahagia dengan kabar ini, karena ia sangat menginginkan seorang anak.
Di kantornya...
Naufal sedikit gelisah memikirkan Thella. Konsentrasinya sedikit terpecah di tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung. Ia sebisa mungkin menyelesaikan dengan cepat agar bisa segera kembali ke rumah.
Teleponnya berdering, Naufal segera mengangkat gagang telepon itu dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Hallo, kamu, baiklah, ada apa?"
"...."
"Rapat di tiga tempat? bisa di cek profil perusahaannya? Apakah bisa di mundurkan jadwalnya menjadi besok?"
"...."
"Baiklah, mereka penting, kalau begitu tidak perlu undur jadwal. Segera kirim via email jadwal rapat saya."
__ADS_1
"...."
"Bagus. Terima kasih."
Naufal menaruh gagang teleponnya dengan lesu. Sekali lagi ia harus mengabaikan keluarganya untuk karirnya. Keduanya penting, tapi rapat itu saat ini sangat penting untuk kelangsungan perusahaannya.
Sepulang kantor nanti, Naufal akan memberikan kejutan kecil untuk istrinya. Meskipun ia bisa di pastikan akan pulang larut malam.
Malam harinya...
Thella sudah menyuruh Bibi untuk memasak semua menu makanan kesukaan Naufal.Wanita itu sangat antusias menanti kepulangan suaminya. Ia ingin malam ini spesial untuk mereka berdua.
Waktu terus bergulir, jam makan malampun lewat, Thella terpaksa makan malam seorang diri, sambil.menyemangati dirinya kalau Fall akan pulang sebentar lagi.
"Non, tidur saja. Sekarang sudah lumayan larut. Kasihan bayi non," Bibi khawatir pada Thella, saat ia melihat jarum jam menunjuk ke angka sepuluh.
"Bibi duluan saja. Nanti kalau setengah jam Fall y
tidak pulang, aku akan tidur, Bi." Sahut Thella, masih kekeh tidak ingin pergi tidur sekarang.
"Kalau begitu, Bibi ke atas, Non." Bibi yang telah mengantuk akhirnya memilih untuk meninggalkan Thella sendiri menunggu Fall dan wanita setengah baya itu naik ke atas, ke kamarnya.
Thella mempersilahkan asisten rumah tangganya itu tidur terlebih dahulu. Ia memilih duduk di ruang tamu sambil membaca ulang novel favoritnya. Tapi tak lama kemudian ia pun tertidur.
"Sayang..." Fall mencoba membangunkan pelan istrinya. Ia sangat iba melihat pujaan hatinya itu terlelap di sofa.
"Ada apa ini? Istriku tiba-tiba manja. Aku jadi curiga..." ungkap Fall sambil membalas pelukan Thella yang berulang itu.
"Aku punya kejutan buat kamu sayang," Bisik Thella ke telingan Fall, membuat bulu kuduk lelaki itu meremang.
"Aku juga punya kejutan buat kamu, Ayo kita bertukar kejutan..." ujar Naufal dengan gembira, ia berharap istrinya menyukai kejutan darinya.
"Yuk..."
"Tunggu dulu..."
"Kenapa?" Thella sedikit bingung.
"Sang Ratu harus di gendong oleh Rajanya..." Fall menaruh tasnya sembarangan dan menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.
"Kamu sok romantis," Thella menoel hidung Fall pelan.
"Bukannya dari dulu aku selalu romantis?" protes Fall.
"Tidak, kamu mengesalkan..." Thella pura-pura merajuk.
__ADS_1
Bruk!
Naufal menjatuhkan istrinya lumayan keras ke atas kasur empuk mereka, di susul ia menempatkan diri di atas Thella dengan menyangga dirinya agar tidak menimpa wanitanya.
"Jadi, apa kejutan dari kamu untukku?" cecarnya, Thella tidak dapat menyembunyikan senyumnya yang berkembang begitu saja.
"Aku... aku hamil sayang..."
"Hamil?"
"Iya..."
"Aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Fall lagi tidak percaya.
"Ya, kamu akan segera menjadi seorang ayah," tegas Thella.
Seketika Naufal mengangkat tubuh Thella lagi dan menggendongnya sambil berputar-putar. Ia sangat bahagia karena akhirnya penantian mereka selama ini tercapai juga.
"Sayang..."
"Stop.."
"Aku pusing..."
Keluh Thella.
"Maaf, maaf, maaf sayang... aku terlalu bahagia." Naufal lalu menurunkan Thella perlahan dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Lalu, apa kejutan darimu untukku?" tagih Thella.
"Pejamkan mata kamu, Sayang." perintah Fall. Tanpa menunggu lama, Thella telah melakukan apa yang di minta oleh suaminya.
"Sekarang, kamu buka mata kamu perlahan..." pinta Naufal, dan lagi-lagi Thella menurut.
"Ini semua buat aku, Sayang?" Thella terkesima saat melihat satu set perhiasan bermata berlian beserta kotaknya ada di depan pandangan matanya.
"Tentu saja, semua ini adalah hadiah untuk istriku tercinta. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Jaga bayi kita baik-baik, ya." Fall mengecup kening istrinya lama sekali. Keduanya saling menutup mata. Merasakan gelora cinta dalam jiwa mereka masing-masing.
"Aku juga sangat mencintai kamu, suami workaholikku. Cintai aku seperti kau mencintai pekerjaanmu. Jangan pernah berubah. I Love you.." ujar Thella pelan setengah berbisik.
"I love you too, my honey."
Fall menghadiahkan sebuah ciuman yang lembut untuk istrinya begitu lama. Berawal dari permainan, kisah cinta mereka berakhir dengan begitu indah.
Fall dan Thella, dua hati yang berbeda dan berusaha saling menolak akhirnya terikat dalam ikatan cinta yang manis. Apakah kini kalian percaya, bahwa batasan antara cinta dan benci itu sangatlah tipis?
__ADS_1
❤END❤