My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Chapter 52


__ADS_3

Rindu..


tiada tempat mengadu..


syair syahdu dan bunyi lembu..


mengabarkan hati yang sendu..


Kekasih..


segumpal awan berwarna putih..


menggambarkan hatiku yang tertatih..


memikirkanmu, pemuda yang ku pilih...


Cinta...


Hadirnya hanya cerita..


tak ada yang tau nyata..


Meski sekejap di depan mata..


"Sejak kapan bisa nulis puisi? Perasaan, saat sekolah dulu, kamu nggak terlalu suka pelajaran bahasa indonesia,"


Kedatangan Ardian yang tiba-tiba dari belakang bangku tempatnya duduk membuat Vanya terkejut dan segera menutup notes di ponselnya.


"Aku cuma suka iseng aja kok. Sejak kapan kamu ada di sini?"


"Sejak kami nulis kalimat pertama, memangnya lagi rindu sama siapa, sih?" Ardian meledrk Vanya, hingga pipi gadis itu sedikit merona tanpa blush-on.


"Rindu pada yang mau di rindukan," Jawab Vanya sekenanya.


"Wah, gawat dong. Gimana kalau yang mau banyak?" Ardian menggoda Vanya sambil tertawa kecil.


"Aku pilih satu yang terbaik," Jawab Vanya singkat namun penuh makna.


"Kalau aku ada di antara mereka, apa kamu akan memilihku?"

__ADS_1


"Tentu saja,"


"Apa karena aku yang terbaik itu?"


"Ya, bisa jadi. Mas hari ini ngajak aku bertemu untuk bahas apa?"


"Aku sudah bicara pada orang tuaku, bahwa aku akan menikahimu,"


"Lalu apa tanggapan mereka?" Vanya sangat antusias, ia sangat penasaran dengan tanggapan orang tua Ardian.


"Mereka merestui hubungan kita dan akan segera memikirkan waktu yang tepat untuk datang ke rumahmu. Kamu sendiri, bagaimana? Apakah sudah bilang pada bapak dan ibumu, kalau aku akan melamarmu?" Pertanyaan Ardian membuat Vanya sedikit gugup. Pasalnya ia belum berani membahas ini kepada kedua orang tuanya.


"Maaf, Mas. Aku belum bicara pada kedua orang tuaku tentang ini. Tapi setelah mendengar kabar ini aku pasti akan segera bicara pada mereka tentang ini. Mas jangan marah, ya..."


Vanya sedikit ketakutan kalau sampai Ardian kecewa karena dia yang tidak kunjung memberitahukan orang tuanya tentang Ardian yang akan segera melamarnya.


"Tidak masalah. Untuk seorang cewek, tentu saja butuh pertimbangan untuk mengatakan ini pada orang tua. Aku paham, kamu tidak perlu takut." Ardian bwrkata pelandan lemah lembut. Ia menjaga perasaan Vanya yang tampak sedikit ketakutan dan was-was.


"Bagaimanapun, orang tuaku belum bertemu, Mas. Dulu, mereka mengrnal mas sebagai temanku. Makanya, bisa jadi tanggapamnya agak berbeda.Apa mas mau bertemu dengan orang tuaku terlebih dahulu?" Setidaknya Vanya ingin tahu, bagaimana Ardian di mata mama dan papanya sekarang.


"Baiklah, atur saja waktunya, aku akan segera pergi ke rumahmu untuk bertemu dan meminta restu terlebih dahulu,"


"Kagum kenapa?"


"Kamu menjadi lelaki yang benar-benar keren,"


"Lelaki keren? Mengapa memangnya?"


"Karena, Mas punya kekuatan hari, untuk bertemu dengan orang tuaku saja, Mas hadapi dengan hati yang tenang."


"Lah, kenapa aku harus sungkan? Kan mereka juga akan jadi orang tuaku juga.Jadi mulai sekarang aku memang harus mengakrabkan diri dengan mereka. Biar pas sungkeman tidak canggung lagi,"


Jawaban Ardian membuat Vanya semakin yakin, kalau lelaki yang kini duduk di sampingnya itu benar-benar calonmenantu idaman kedua orangtuanya.


"Bagus deh, Mas ada niat untuk akrab dengan mereka sebagai calon mantu. Sebenarnya malah mudah kan, dari teman jadi pasangan, mereka juga udah kenal sama kamu karena kita dulu sering belajar bareng."


Vanya mengenang kebersamaan mereka bertiga, Vanya, Thella dan Ardian. Saat itu.juga ia teringat kasus yang menimpa Thella.


"Eh, mas, kamu tahu, tiga hari yang lalu, Thella tenggelam di kolam renang langanan kita saat berlatih lomba itu. Kritis parah, karena tahu sendiri kan Thella punya hipotermia.Untung segera di bawa ke rumah sakit, Kalau nggak, mungkin Thella audah lewat."

__ADS_1


Ardian tampak sangat antusias mendengarkan kisah Thella sahabatnya itu. Mereka berdua audah sangat paham dengan penyakit yang di derita Thella.


"Itu, tenggelam karena dia sendiri, atau tenggelam karena orsng lain?"


"Kemarin dia sempet ngabarin kalau dia di ceburkan oleh seseorang, lalu di tenggelamkan beberapa kali sampai ia pingsan.Pelakunya sudah ketemu."


Thella memang sempat mengirim pesan tentang siapa yang telah mencelakainya juga tentang keadaannya yang sebenarnya tengah hamil dan janinnya tidak terselamatkan.


"Jadi siapa dalang dati semua itu? Tega sekali dia. Itu termasuk tindak pidana percobaan pembunuhan kan ya?"


Ardian jadi semakin penasanan, siapa yang ada di balik kejadian itu. Dia tidak menyangka ada orang setega itu di dunia nyata.


"Pelakunya mertua dan wanita yang menginginkan suaminya. Wanita itu menginginkan dia mati. Lebih parahnya lagi, Thella sedang hamil. Janinnya meninggal karena ibunya yang terlalu lama dalam keadaan kritis,"


Ardian iba mendengar penjelasan Vanya. Padahal banyak lelaki lajang di bumi ini, mengapa harus berbuat di luar jalur sehat hanya untuk merebut pria milik orang lain.


"Kasihan sekali mereka. semoga bayi mereka tenang di alam sana. Aku tidak bisa menyalahkan, memang Naufal itu sangat tampan, ia juga kaya, wajar klo ada wanita yang terga-gila padanya sampai seperti itu, meskipun menurutku itu tindak kejahatan yang sangat tidak bisa di toleransi lagi,"


"Amin. Kasihan, mereka udah berharap banget punya momongan, belum juga tahu kapan ada janinnya, udah meninggal aja, karena kejadian itu. Aku harap setelah ini, mereka bisa bahagia, tanpa ada yang mengganggu lagi."


Sebagai sahabat, Vanya tahu sekali bagaimana perasaan Thella. Harapannya untuk memiliki bayi, sangat besar, sehingga ia ikut merasakan apa yang di rasakan oleh sahabatnya itu.


Apalagi, saat kejadian, Vanya yang ada di samping Thella, merasa gagal menjaga sahabat baiknya, sampai dia menjadi celaka.Thella bahkan saat itu seperti tidak bisa tertolong lagi, hingga membuat Vanya ketakutan.


"Kita do'akan saja, mereka bisa mendapatkan momongan lagi secepatnya, supaya kesedihan yang mereka rasakan cepat berlalu. Nanti, setelah kita menikah, aku tidak terburu-buru ingin di beri momongan, kuta jalani saja, jika sudah waktunya, kita juga akan di beri kepercayaan untuk memiliki seorang anak,"


Ardian memberikan gambaran sejak awal kalau ia tidak terburu-buru dalam hal memiliki anak. Bukan bermaksud untuk menilai pasangan Naufal-Thella. Hanya saja ia ingin Vanya lebih rileks suatu saat ketika ia menjadi istrinya.


"Aku juga begitu. Tapi memang Thella dan Naufal kesepian, berdua saja tinggal di rumah yang besar, jadi, mungkin menurut mereka, cepat memiliki momongan akan membuat rumah mereka lebih ramai." Jelas memang tidak sama. Vanya masih memiliki orang tua, sedangkan Thella, ia hanya punya ayah, itu pun tidak ada di sampingnya.


"Aku tidak sedang membahas mereka, aku membahas kita. Karena setiap orang memiliki kriteria masing-masing dan tidak bisa di samakan antara orang satu dengan yang lainnya,"


"Baik, maaf kalau aku salah tanggap. Bagaimanapun aku merasa sangat prihatin pada kejadian yang menimpa sahabatku itu. Rasanya aku merasa sangat iba. Membuat aku sedikit sensitif."


"Tidak apa-apa, itu adalah hal yang wajar dalam sebuah persahabatan yang sudah terjalin sangat lama. Aku juga merasa prihatin dengan apa yang menimpa Thella. Dia kan sahabatku juga,"


"Ah, iya ya. Aku sampai lupa kalau Mas Ardian juga sahabat Thella. Maaf lagi, deh. Aku sedang sedikit sensi. Bawaannya mau marah saja. Mas jangan salah paham, ya."


"Sejak tadi aku juga biasa saja. Semua itu hanya perasaanmu Vanya. Aku bangga, kamu punya perasaan yang sangat lembut seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2