
Ting...tong...
Bel berbunyi suatu pagi, saat
Thella baru saja selesai menyiapkan
segala keperluan yang akan di bawa pergi ke kantor oleh Naufal. Mulai hari itu,
Thella tidak berangkat kerja lagi ke kantor. Lagi pula hari itu ia sedang tidak ingat badan. Ia tidak
memasak, sehingga Fall hanya sarapan roti dan susu hangat.
“Bentar, Fall. Aku lihat dulu
siapa yang datang.” Thella bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Fall
yang sedang menikmati makanannya untuk melihat siapa yang bertamu di pagi hari.
“Bibi...”
“Non...”
Mereka berpelukan, untuk melepas
rindu. Meskipun baru beberapa hari tidak bertemu, mereka berdua saling
merindukan satu sama lain. Tentu saja, Bini adalah pengganti dari mamanya. Saat
Mama Thella meninggal, Bibi lah yang memberinya kasih sayang layaknya mamanya.
Thella bahkan setuju kalau
misalnya Sang Ayah mau menikahi Bibinya dan menjadikan dia sebagai mamanya.
Tapi papanya justru jatuh hati pada rekan kerjanya. Mau apalagi, Thella tentu saja menerima
keputusan papanya meskipun sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan keputusan
orangtua lelakinya itu.
“Masuk, Bi. “ Thella
mempersilahkan pembantunya itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Ini pertama
kalinya Bibi menginjakkan kaki di rumah Thella. Bibi ikut senang karena rumah
Thella ternyata lebih besar dari rumah papanya.
“Sayang, ada Bibi datang,”
panggilan Thella membuat Fall menghentikan acara makannya dan menemui asisten
rumah tangganya itu, lalu memberikan hormat dengan mencium tangan wanita paruh
baya itu.
“Selamat datang di rumah kami,
Bi. Silahkan duduk.” Naufal mempersilahkan Bibi duduk, wanita itu duduk perlahan di sofa, dengan
memangku tas kecil yang berisi pakaian miliknya.
“Sebentar, Bi. Aku bikin minum
dulu.” Thella berjalan menuju dapur
untuk membuat segrlas teh hangat.
“Bi, selama saya kerja, saya
titip Thella. Dia hari ini sedang tidak enak badan. Dia belum masak, nanti
tolong Bibi masakkan Thella bubur,” pesan Naufal pada Bibi. Ia bersyukur karena
hari itu asisten rumah tangga mereka datang. Jadi, Naufal bisa meninggaalkan
Thella dengan tenang.
“Tenang saja, Den. Saya akan
merawat Non Thella dengan baik. Den Naufal ke kantor saja dengan tenang. Urusan
Non Thella sudah menjadi tanggung jawab saya.” Bibi meyakinkan Fall jika
__ADS_1
dirinya akan menjaga Thella dengan baik.
“Baiklah, saya yakin Bibi tidak
akan mengecewakan saya, kalau begitu, saya akan pergi ke kantor dulu,” Fall
mengambil jasnya ke kamar dan apa-apa yang ia akan bawa.
“Bi, ini minumannya, silahkan.”
Thella menyuguhkan segelas teh hangat dan juga roti tawar yang telah ia isi
dengan selai nanas.
“Terima kasih, Non.”
“Sayang, aku pergi ke kantor
dulu, kamu baik-baik di rumah,” Naufal
berjalan ke luar rumah di ikuti oleh Thella. Fall meletakkan tasnya ke dalam
mobil.
“Hati-hati, Fall. Kalau tidak ada
lemburan, segera pulang,” pesan Thella sebelum prianya itu masuk ke dalam
mobil. Fall mengurungkan niatnya untuk masuk, ia lalu memandangi Thella sambil
mengulaskan senyuman manisnya.
“Kemarilah, kesayanganku,” Fall
meminta Thella mendekat padanya. Thella mengikuti permintaan suaminya, setelah
mereka dekat, Naufal segera menarik Thella ke dalam pelukannya. Ia mengeratkan
pelukannya dan menciumi rambut Thella berulang.
“Kamu jaga diri baik-baik, kalau
kamu merasakan apapun, katakan pada Bibi, biar dia bisa melakukan sesuatu
untukmu, kalau aku mengabaikan panggilanmu, berarti aku sedang sibuk, Cepat
kabar dariku lagi. Aku hari ini cukup sibuk karena banyak pekerjaan yang harus
ku selesaikan,” Naufal berkata dengan
sangat lembut. Ia sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Thella, tapi karena
agendanya yang sangat sibuk, Naufal di haruskan mendahulukan pekerjaannya di
bandingkan urusan yang lainnya.
“Fall, sudahlah. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.
Pekerjaanmu banyak, kamu harus konsentrasi, aku sudah besar, bisa jaga diri.
Lagipula ada bibi yang menemaniku , kan? Jadi apa yang membuatmu sampai
ketakutan seperti itu. Kamu kerja baik-baik. Jangan lupakan makan siangmu, aku mencintaimu, sayang.”
Perlahan Thella melepaakan diri dari Fall. Ia menatap lembut lelaki itu,
kemudian memberikannya hadiah sebuah senyuman yang sangat manis.
Cup...
Thella mendaratkan kecupan
singkat di pipi Fall, ia memegang pipi suaminya lembut dengan kedua telapak
tangannya. Entah mengapa menurut Thella, pagi itu suaminya tampak sangat manis.
Setelah beberapa minggu pulang-pergi kantor bersama, kali ini mereka harus
kembali berpisah. Kembali menjalani kehidupan seperti awal-awal menikah. Hanya
saja bedanya sekarang, dia di rumah dengan Bibi.
“Semangat kerjanya,
__ADS_1
kesayangan. Jaga diri baik-baik, jangan
lupa makan siangnya. Tadi juga belum sarapan kan, batal sarapannya, nanti
sarapan ke kantin dulu,” omel Thella dengan sedikit cerewet. Ia khawatir Naufal
sampai sakit karena terlalu sibuk bekerja.
“Siap, sayang. Aku berangkat
dulu, baik-baik di rumah...” Fall mengacak rambut istrinya sebelum ia masuk ke
dalam mobil. Thella mengiringi kepergian suaminya dengan lambaian tangan dan
senyuman manisnya. Lalu wanita itu masuk kembali ke dalam rumahnya.
“Non Thella dan Den Naufal
romantis, ya. Bibi ikut senang melihatnya,” ujar bibi saat Thella kembali
menghampirinya ke ruang tamu.
“Kadang ada berantemnya juga, Bi.
Biasanya pergi ke kantor bersama, sekarang malah nggak bisa lagi,” keluh Thella dengan raut wajah sedikit
muram. Jujur saja, kebiasaannya yang
sering di lakukan bersama oleh mereka berdua, membuat Thella merasa kesepian.
“Sabar, Sayang. Suamimu kan tidak
pergi karena apapun, dia hanya bekerja untuk menafkahimu. Lagipula, kalian kan
memang sedang program untuk memiliki bayi, jadi beristirahat dan mengurangi kerja adalah hal yang paling
tepat di lakukan. Jangan sedih,” Bibi mencoba untuk menghibur Thella. Ia tidak ingin anak majikannya itu sedih.
“Iya juga, bibi benar. Aku dan
Naufal memang sedang program kehamilan. Namanya sudah sering melakukan
kebiasaan bersama, pasti akan terasa aneh, Bi. Kepalaku sedikit berat, aku mau
istirahat dulu. Kamar bibi ada di atas, pilih saja mau tidur dimana,” Thella
memegangi kepalanya yang sedikit pusing dan berat, wajahnya juga sedikit pucat.
“Kalau begitu, biarkan bibi
pijitin di kamar, Non. Mungkin non kecapean atau kurang tidur.” Bibi memapah
Thella yang sedikit sempoyongan ke dalam kamarnya. Ia merebahkan wanita itu di kasir dan
menyelimutinya.
“BI, perutku sedikit mual. Rasanya
aku ingin memuntahkan isi perutku sekarang,” keluh Thella, ia merasakan kondisi
tubuhnya semakin memburuk. Ia takut akan segera tumbang saat itu juga.
“Atau saya telepon Den Naufal
saja, sepertinya dia masih dekat dari rumah, biar dia putar balik lagi,”
usul Bibi.
“Jangan, nanti kita berangkat ke
dokter berdua saja, Bi. Tadi Fall sudah bilang kalau hari ini dia cukup sibuk,”Thella
menahan Bibi untuk tiodak menelepon suaminya.
“Kalau terjadi apa-apa dengan
Non, nanti Bibi bisa di salahkan, Non.” Sahut Bibi takut-takut.
“Tenang saja, kita berdua saja, saya tidak akan apa-apa.
Aku pesan Grab dulu,” Thella segera menghubungi salah satu grab langganannya
Kira-kira, Thella sakit apa ya?
__ADS_1
Apa hasil pemeriksaannya nanti? Kalian
penasaran?