My Workaholic Husband

My Workaholic Husband
Episode 79


__ADS_3

Ting...tong...


Bel berbunyi suatu pagi, saat


Thella baru saja selesai  menyiapkan


segala keperluan yang akan di bawa pergi ke kantor oleh Naufal. Mulai hari itu,


Thella tidak berangkat kerja lagi ke kantor. Lagi pula hari itu   ia sedang tidak ingat badan. Ia tidak


memasak, sehingga Fall hanya sarapan roti dan susu hangat.


“Bentar, Fall. Aku lihat dulu


siapa yang datang.” Thella bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Fall


yang sedang menikmati makanannya untuk melihat siapa yang bertamu di pagi hari.


“Bibi...”


“Non...”


Mereka berpelukan, untuk melepas


rindu. Meskipun baru beberapa hari tidak bertemu, mereka berdua saling


merindukan satu sama lain. Tentu saja, Bini adalah pengganti dari mamanya. Saat


Mama Thella meninggal, Bibi lah yang memberinya kasih sayang layaknya mamanya.


Thella bahkan setuju kalau


misalnya Sang Ayah mau menikahi Bibinya dan menjadikan dia sebagai mamanya.


Tapi papanya justru jatuh hati pada rekan kerjanya.  Mau apalagi, Thella tentu saja menerima


keputusan papanya meskipun sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan keputusan


orangtua lelakinya itu.


“Masuk, Bi. “ Thella


mempersilahkan pembantunya itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Ini pertama


kalinya Bibi menginjakkan kaki di rumah Thella. Bibi ikut senang karena rumah


Thella ternyata lebih besar dari rumah papanya.


“Sayang, ada Bibi datang,”


panggilan Thella membuat Fall menghentikan acara makannya dan menemui asisten


rumah tangganya itu, lalu memberikan hormat dengan mencium tangan wanita paruh


baya itu.


“Selamat datang di rumah kami,


Bi. Silahkan duduk.” Naufal  mempersilahkan Bibi duduk, wanita itu duduk perlahan di sofa, dengan


memangku tas kecil yang berisi pakaian miliknya.


“Sebentar, Bi. Aku bikin minum


dulu.”  Thella berjalan menuju dapur


untuk membuat segrlas teh hangat.


“Bi, selama saya kerja, saya


titip Thella. Dia hari ini sedang tidak enak badan. Dia belum masak, nanti


tolong Bibi masakkan Thella bubur,” pesan Naufal pada Bibi. Ia bersyukur karena


hari itu asisten rumah tangga mereka datang. Jadi, Naufal bisa meninggaalkan


Thella dengan tenang.


“Tenang saja, Den. Saya akan


merawat Non Thella dengan baik. Den Naufal ke kantor saja dengan tenang. Urusan


Non Thella sudah menjadi tanggung jawab saya.” Bibi meyakinkan Fall jika

__ADS_1


dirinya akan menjaga Thella dengan baik.


“Baiklah, saya yakin Bibi tidak


akan mengecewakan saya, kalau begitu, saya akan pergi ke kantor dulu,” Fall


mengambil jasnya ke kamar dan apa-apa yang ia akan bawa.


“Bi, ini minumannya, silahkan.”


Thella menyuguhkan segelas teh hangat dan juga roti tawar yang telah ia isi


dengan selai nanas.


“Terima kasih, Non.”


“Sayang, aku pergi ke kantor


dulu, kamu baik-baik di rumah,”  Naufal


berjalan ke luar rumah di ikuti oleh Thella. Fall meletakkan tasnya ke dalam


mobil.


“Hati-hati, Fall. Kalau tidak ada


lemburan, segera pulang,” pesan Thella sebelum prianya itu masuk ke dalam


mobil. Fall mengurungkan niatnya untuk masuk, ia lalu memandangi Thella sambil


mengulaskan senyuman manisnya.


“Kemarilah, kesayanganku,” Fall


meminta Thella mendekat padanya. Thella mengikuti permintaan suaminya, setelah


mereka dekat, Naufal segera menarik Thella ke dalam pelukannya. Ia mengeratkan


pelukannya dan menciumi rambut Thella berulang.


“Kamu jaga diri baik-baik, kalau


kamu merasakan apapun, katakan pada Bibi, biar dia bisa melakukan sesuatu


untukmu, kalau aku mengabaikan panggilanmu, berarti aku sedang sibuk, Cepat


kabar dariku lagi. Aku hari ini cukup sibuk karena banyak pekerjaan yang harus


ku selesaikan,”  Naufal berkata dengan


sangat lembut. Ia sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Thella, tapi karena


agendanya yang sangat sibuk, Naufal di haruskan mendahulukan pekerjaannya di


bandingkan urusan yang lainnya.


“Fall, sudahlah.  Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.


Pekerjaanmu banyak, kamu harus konsentrasi, aku sudah besar, bisa jaga diri.


Lagipula ada bibi yang menemaniku , kan? Jadi apa yang membuatmu sampai


ketakutan seperti itu. Kamu kerja baik-baik. Jangan lupakan  makan siangmu, aku mencintaimu, sayang.”


Perlahan Thella melepaakan diri dari Fall. Ia menatap lembut lelaki itu,


kemudian memberikannya hadiah sebuah senyuman yang sangat manis.


Cup...


Thella mendaratkan kecupan


singkat di pipi Fall, ia memegang pipi suaminya lembut dengan kedua telapak


tangannya. Entah mengapa menurut Thella, pagi itu suaminya tampak sangat manis.


Setelah beberapa minggu pulang-pergi kantor bersama, kali ini mereka harus


kembali berpisah. Kembali menjalani kehidupan seperti awal-awal menikah. Hanya


saja bedanya sekarang, dia di rumah dengan Bibi.


“Semangat kerjanya,

__ADS_1


kesayangan.  Jaga diri baik-baik, jangan


lupa makan siangnya. Tadi juga belum sarapan kan, batal sarapannya, nanti


sarapan ke kantin dulu,” omel Thella dengan sedikit cerewet. Ia khawatir Naufal


sampai sakit karena terlalu sibuk bekerja.


“Siap, sayang. Aku berangkat


dulu, baik-baik di rumah...” Fall mengacak rambut istrinya sebelum ia masuk ke


dalam mobil. Thella mengiringi kepergian suaminya dengan lambaian tangan dan


senyuman manisnya. Lalu wanita itu masuk kembali ke dalam rumahnya.


“Non Thella dan Den Naufal


romantis, ya. Bibi ikut senang melihatnya,” ujar bibi saat Thella kembali


menghampirinya ke ruang tamu.


“Kadang ada berantemnya juga, Bi.


Biasanya pergi ke kantor bersama,  sekarang malah nggak bisa lagi,” keluh Thella dengan raut wajah sedikit


muram.  Jujur saja, kebiasaannya yang


sering di lakukan bersama oleh mereka berdua, membuat Thella merasa kesepian.


“Sabar, Sayang. Suamimu kan tidak


pergi karena apapun, dia hanya bekerja untuk menafkahimu. Lagipula, kalian kan


memang sedang program untuk memiliki  bayi, jadi beristirahat dan mengurangi kerja adalah hal yang paling


tepat di lakukan. Jangan sedih,” Bibi mencoba untuk menghibur Thella.  Ia tidak ingin anak majikannya itu sedih.


“Iya juga, bibi benar. Aku dan


Naufal memang sedang program kehamilan. Namanya sudah sering melakukan


kebiasaan bersama, pasti akan terasa aneh, Bi. Kepalaku sedikit berat, aku mau


istirahat dulu. Kamar bibi ada di atas, pilih saja mau tidur dimana,” Thella


memegangi kepalanya yang sedikit pusing dan berat, wajahnya juga sedikit pucat.


“Kalau begitu, biarkan bibi


pijitin di kamar, Non. Mungkin non kecapean atau kurang tidur.” Bibi memapah


Thella yang sedikit sempoyongan ke dalam kamarnya.  Ia merebahkan wanita itu di kasir dan


menyelimutinya.


“BI, perutku sedikit mual. Rasanya


aku ingin memuntahkan isi perutku sekarang,” keluh Thella, ia merasakan kondisi


tubuhnya semakin memburuk. Ia takut akan segera tumbang saat itu juga.


“Atau saya telepon Den Naufal


saja, sepertinya dia masih dekat dari rumah, biar dia putar balik lagi,”


usul  Bibi.


“Jangan, nanti kita berangkat ke


dokter berdua saja, Bi. Tadi Fall sudah bilang kalau hari ini dia cukup sibuk,”Thella


menahan Bibi untuk tiodak menelepon suaminya.


“Kalau terjadi apa-apa dengan


Non, nanti Bibi bisa di salahkan, Non.” Sahut Bibi takut-takut.


“Tenang saja,  kita berdua saja, saya tidak akan apa-apa.


Aku pesan Grab dulu,” Thella segera menghubungi  salah satu grab langganannya


Kira-kira, Thella sakit apa ya?

__ADS_1


Apa hasil pemeriksaannya nanti?  Kalian


penasaran?


__ADS_2