
Thella siuman dari pingsannya. Ia mendapati Naufal tengah tertidur di sampingnya.Wanita itu teringat detik-detik dimana ada seseorang dari belakang yang menceburkan dan menenggelamkannya ke dalam kolam. Ia tidak dapat melihat siapa orang itu, yang dia ingat hanya, suara seorang wanita yang mengatakan bahwa dia harus mati.
Untung saja ada yang menyelamatkan dia, dan saat ini ia masih di beri keaempatan untuk bernafas dan melihat suaminya tercinta masih ada di sampingnya.
Thella mengelus rambut Naufal yang lembut. Ia melakukannya sangat pelan karena takut membangunkan lelaki itu. Hari sudah gelap, Thella tidak tahu sejak kapan ia berada di tempat ini.
Thella tau, Naufal pasti sangat mengkhawatirkannya. Meskipun galak dan dingin, Naufal juga berhati hello kitty. Thella merasa sudah sangat benar menemukan suami Fall. Hal yang membuatnya sedih adalah tidak bisa memberikan apa yang menjadi keinginannya.
"Thella.. kamu baru siuman? Apa kamu sudah dari tadi sadar dan aku...maaf, aku seharusnya tidak meninggalkanmu tidur,kamu mau sesuatu? Ingin makan? Minum? Kamu..."
Fall sangat heboh, sementara Thella hanya menatap Naufal sambil tersenyum tipis.
"Fall... sudah, kamu jangan heboh dong. Aku nggak butuh apapun. Aku sudah bahagia, saat aku bangun aku bisa melihat kamu. Apa yang terjadi padaku?"
Thella ingin tahu, apa yang terjadi padanya, hingga ia harus di rawat. Meskipun sekilas ia masih ingat awal krjadian itu, tapi Thella ingin tahu kondisi terakhirnya saat itu.
"Hipotermia kamu kambuh karena terlalu lama kontak air dan kedinginan. Apa yang terjadi Thella? Ceritakan padaku, siapa yang membuat kamu sampai seperti ini."
Setidaknya, Naufal punya gambaran, siapa pelaku penyerangan terhadap istrinya. Siapapun itu, ia pasti tidak akan tinggal diam, nasib pelaku yang kali ini juga akan sama dengan David.
"Aku nggak tahu, orang itu dari belakang menyerangku, dia menceburkanku ke dalam kolam, lalu menenggelamkan aku berulang kali. Dia hanya berkata, kamu harus mati dan suaranya adalah suara wanita, muda, mungkin seumuranku."
Naufal menganalisa, siapa kira-kira pelakunya. Ada tiga orang yang ia curigai. Mamanya, Vania, dan Fee. Hanya ada tiga wanita itu yang menentang hubungannya dengan Thella. Beberapa jam lalu, Naufal sudah menyuruh seseorang untuk melihat rekaman CCTV di kolam renang.
"Maafkan aku, Thella. Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi tanpa aku ada di samping kamu. Harusnya aku mementingkan kamu, bukan pekerjaan. Aku sangat menyesal.atas kejadian ini,"
Hal yang paling di sesali Naufal adalah, meninggalnya janin mereka. Seandainya ia ikut, kejadian itu tidak akan terjadi.Pasti saat ini ia dan Thella sedang bahagia karena ada calon anak mereka di dalam rahim Thella. Tapi apa gunanya sebuah penyesalan, tidak dapat mengembalikan semuanya pada semula.
"Fall, kamu tidak perlu minta maaf. Semua yang terjadi adalah takdir. Kalau ada yang harus menyesal, itu harusnya aku. Aku yang mau pergi, bukan kamu yang salah. Senyum untukku,"
Thella menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata Fall. Ia tidak mengerti, mengapa Naufal menangis. Itu bukan dia, ini baru pwrtama.kalinya Thella melihat suaminya menangis. Ia sepertinya sangat sedih.
Jika hanya karena dirinya, menurutnya Fall terlalu berlebihan. Apa karena dia terlalu mencintai? Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang mampir di dalam pikirannya.
Sementara di hati Fall, ia hanya bisa minta maaf. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Naufal yakin, istrinya itu akan merasa sangat terluka saat mendapati kenyataan bayi mereka hilang.
Ia berusaha tersenyum untuk Thella. Ia tidak ingin.istrimya merasa dirinya aneh. Ini memang sebuah kesalahan, tapi sementara waktu.Fall harus melakukan ini untuk keselamatan Thella.
Ia bangkit dan memeluk Thella. Ingin rasanya memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya, tapi Fall tidak sanggup untuk mengucapkannya.Ia sangat takut reaksi Thella akan di luar ekspetasinya.
"Aku tidak apa-apa Fall. Terima kasih, kamu sudah sangat perhatian padaku. Kamu sampai seperti ini menangisiku. Aku baik-baik aja kan? Kamu bisa lihat aku sehat,"
"Ada hal yang tidak kamu tahu, Thella. Sebenarnya aku tidak ingin memberimu tahu sekarang, tapi aku pikir, kamu harus tahu semuanya. Cepat atau lambat, kamu juga akan tahu, jadi apa bedanya," Naufal berubah pikiran. Ia ingin Thella juga tahu, kalau mereka baru saja kehilangan anak mereka.
"Apa yang aku tidak tahu Fall? Cepat beritahu aku," Thella sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa sangat penasaran.
"Anak kita, dia baru saja tidak bisa di selamatkan, dia meninggal, Thella."
Seketika Thella mematung.Air matanya jatuh, menyusuri kedua pipinya. Ia tidak tahu harus bicara apa. Seperti gelas yang jatuh ke lantai, itulah perasaannya sekarang.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya aku sudah..."
"Iya, kamu sudah hamil. Di rahim kamu sudah pernah ada janin kita, buah cinta kita," Naufal semakin terisak. Dia tidak perduli apa kata Thella tentangnya. Ia sangat berduka karena hilangnya calon anak yang ada di perut Thella.
"Harusnya, aku tidak pergi sembarangan. Aku ibu yang ceroboh. Maafkan aku Fall. Aku tidak bisa menjaga calon anak kita dengan baik. Aku ibu yang tidak berguna..." Thella menangis tersedu. Hatinya sangat sakit. Bayi yang ia inginkan telah tiada karena kecerobohannya yang mementingkan kesenangannya sendiri.
"Tidak. Ini bukan salahmu, Sayang. Salahkan orang yang sudah mencelakaimu. Dia yang membunuh anak kita. Tunggu saja, sampai kita punya bukti siapa dia,"
Mereka telah kehilangan hal terbesar, sebuah mimpi yang sangat mereka inginkan. Jika boleh memutar waktu, mungkin mereka berdua menolak berada di posisi sekarang.
"Kenapa, harus ada orang yang selalu ingin menghancurkan hubungan kita, apa salahku Fall? Aku hanya ingin bahagia bersamamu, kenapa itu sulit? Apa aku tidak boleh bahagia?" Thella kesal terhadap orang-orang yang telah mengganggu hubungannya dengan Naufal. Tanpa terkecuali mama mertuanya. Ia juga kesal karena penolakan wanita itu menyakitkan hatinya.
"Untuk mencapai hubungan yang indah, mungkin kita harus melewati ranjau terlebih dahulu. Kita harus berjuang untuk sebuah hubungan yang indah. Kamu harus sabar, Thella," Naufal menenangkan Thella yang histeris.
"Aku tidak merebutmu dari siapapun. Kamu datang sendiri dalam kehidupanku, hingga kita berdua saling jatuh cinta. Tapi kenapa, di saat seperti ini, mereka datang silih berganti untuk menolak dan menentang keberadaanku di sampingmu. Apa aku ini terlalu buruk untuk menjadi pendampingmu?"
Thella sedang meluapkan emosinya pada semua orang yang sudah menolaknya dan menganggap ia tidak cukup baik untuk suaminya. Padahal Thella sudah berusaha untuk menjadi pantas sebagai pendamping Naufal, tapi mereka sama sekali tidak melihat kebaikan yang ada di hatinya.
"Yang berhak menilai kamu baik atau tidak di sisiku hanya aku sendiri, Thella. Aku mohon, jangan perdulikan apa kata orang lain selain aku tentang statusmu di sampingku. Aku tidak pernah menganggap ada orang lain yang lebih baik dari kamu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hatiku, tidak ada yang lain lagi,"
Bagi Naufal, Tidak ada wanita yang cocok ia bandingkan dengan Thella. Baginya wanita itu tidak ada duanya. Dia yang paling bisa menerimanya apa adanya. Bahkan hanya Thella yang mencintai kekurangannya.
Banyak wanita yang pernah hadir di dalam kehidupan Naufal, tapi tidak ada satupun yang bisa setulus Thella. Hanya dia yang bisa.
"Kenapa, setiap orang selalu menganggap harta adalah patokan pantas dan tidaknya seseorang menjadi seorang pendamping, padahal harta tidak bisa membeli kebahagiaan.Harta hanya bisa membeli kebutuhan, tapi tidak dengan bahagia. Harusnya mereka bisa membuka mata untuk melihat kebenaran," Thella juga mau menjadi yang setara dengan Fall. Tapi ia dan keluarganya sudah di takdirkan tidak sekaya Fall. Ia tidak bisa memaksa diri untuk setara dengan suaminya.
"Kamu lihat aku, Thella. Aku tidak memandangmu begitu, Kan? Aku menganggapmu sebagai wanita yang sangat aku cintai, tanpa perduli darimana kamu berasal. Aku menerima kamu apa adanya, jadi kamu tidak perlu merasa di kucilkan. Percayalah, aku mencintaimu dengan tulus dan tidak ada yang bisa menggantikanmu di hidupku,"
Thella sedikit tenang. Meskipun air matanya masih menggenang. Naufal paham, semua yang Thella alami akhir-akhir ini menguras emosi dan pikirannya. Di posisi ini, mungkin Naufal akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik lagi untuk Thella.
"Terima kasih, Fall. Kamu telah berusaha menjadi yang terbaik. Kita do'akan saja, semoga anak kita bahagia di pangkuan Tuhan. Mungkin suatu saat, kita akan mendapatkannya lagi, kita harus bersabar," Kemarahan Thella mereda. Mungkin belum semua, tapi Thella sedikit lega karena sudah bisa mengeluarkan sedikit uneg-uneg yang ada di hatinya.
Thella berharap, semoga ke depan tidak ada lagi orang yang mengganggu hubungannya dengan suaminya.
Tanda pesan masuk berbunyi dari ponsel Naufal. Ia segera membuka pesan yang ternyata dari orang suruhannya, dan mendapatkan video rekaman CCTV tempat Thella berenang.
Naufal sangat kesal, mendapati siapa orang yang ada di dalam rekaman itu.
"Brengsek! Ternyata ulah wanita itu! " Naufal mengumpat kesal. Kalau saja pelakunya lelaki, tentu saja Naufal bisa baku hantam dengan dia, jika.wanita seperti inu, mana mungkin Fall akan mengajaknya jambak-jambakan.
"Siapa yang melakukannya, Fall? Katakan... Siapa yang telah membunuh anakku!" Thella histeris. Dia juga merasa berhak tahu, siapa yang telah membuat ia dan calon bayinya celaka.
"Vania, dia pelakunya. Dia yang sudah menceburkan dan menenggelamkan kamu ke dalam kolam renang." Muka Fall memerah saat mengatakan itu. Ia tidak habis pikir, kenapa orang lain seperti Vania bisa berbuat sejahat itu pada istrinya.
"Ini pasti ide mama kam, Fall.Dia mau aku mati, lalu menjodohkan kamu dengan Vania. Aku nggak nyangka mama kamu sejahat itu sama aku. Padahal aku nggak pernah jahat sama mama kamu."
Thella merasa sangat kesal kepada mama Naufal dan juga Vania yang menurutnya bersekongkol untuk melenyapkan Thella hanya untuk menjodohkan Fall dengan Vania.
"Aku harus bikin perhitungan dengan mereka. Kamu tunggu di sini saja,Sayang."
__ADS_1
"Tidak, Fall. Aku harus bertemu dengan orang yang sudah membunuh anakku. Aku tidak apa-apa, tapi aku tidak terima, Vania dan mama sudah membunuh anak kita, Fall. Aku mohon, izinkan aku..."
"Baiklah, aku akan menemui dokternya, apa kamu sudah boleh kekuar dari rumah sakit atau belum. Kalau misalnya belum, kita tunda kesananya. Kesehatan kamu lebih penting,"
Dua hari kemudian, Thella baru di izinkan pulang dari rumah sakit. Mereka berdua langsung berniat untuk menemui mama Naufal dan juga Vania di rumah Fall.
"Sayang, aku akan memenjarakan Vania dan mama. Bagaimana menurutmu? Mereka sudah berencana untuk membunuh kamu," Naufal memulai pembicaraan mereka. Thella sering murung beberapa hari ini karena berkabung.
"Aku terserah kamu, Fall. Aku tidak akan rela kalau mereka bebas begitu saja. Mereka harus menuai hasil perbuatan mereka,"
"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Meskipun dia mamaku sendiri, aku tidak bisa membenarkan tindakannya. Dia sudah membuatku kecewa,"
Naufal tidak pernah berpikir kalau mamanya akan menjadi seorang penjahat. Dia mengira masih ada kebaikan di dalam hati mamanya untuk menerima Thella, tapi ternyata apa yang ada di pikirannya tidak sama dengan kenyataan yang ada.
"Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi Fall. Apa yang di lakukan oleh mamamu sidah sangat menyakiti hatiku. Awalnya aku masih berharap dia mau menerimaku. Tapi kali ini, maaf. Aku tidak bisa menghargai mamamu sebagai mertuaku. Aku sudah sangat kecewa sama dia,"
Thella benci, bukan tanpa alasan. Dia benci karena harus menerima kenyataan bahwa mertuanya ikut andil dalam terbunuhnya janin yang ada di perutnya. Bahkan, nyawanya juga hampir selesai karena ulah wanita itu.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Wajar kalau kamu membenci mamaku, karena dia memang keterlaluan.Dia sudah jahat padamu bahkan sampai melakukan tindakan kriminal. Aku sebagai anaknya juga merasa kecewa karena mamaku seperti itu, kejam dan jahat,"
Naufal sebenarnya tidak ingin mengumpat mamanya. Tapi kali ini wanita itu dan juga Vania telah membangunkan jiwa singanya untuk melibas siapapun yang mengganggu Thella.
"Terima kasih, Fall. Kamu sudah berusaha untuk jadi yang terbaik untukku.Aku sayang sekali padamu,"
Thella mendekati Naufal dan...
Cup..
Thella mengecup pipi suaminya, membuat Fall yang tegang menjadi sedikit santai bahkan bahagia. Lelaki itu tersenyum karena Thella mampu mencairkan Suasana.
"Bisa juga kamu, romantisan dalam suasana tegang begini," Fall Tertawa kecil.
"Kamu tahu, kalau terlalu serius seperti itu kadar ketampananmu menurun, jadi butuh asupan cinta dariku, supaya kamu bisa tersenyum lagi," Thella memang sengaja membuat suaminya tersenyum. Dia tidak ingin Fall terlalu terbebani dengan masalah ini.
Pekerjaan Naufal di kantor sangat banyak dan menumpuk. Thella takut suaminya itu stress apabila terlalu serius menghadapi masalah yang tengah menimpa keluarga kecil mereka.
"Kamu memang istriku yang menggemaskan. Sayang sekali, aku tidak bisa menghukummu sekarang. Aku akan mengingat kenakalanmu, dan akan menghukummu setelah ada kesempatan,"
"Uuuuh, seyeeeem... aku takut Tuan Singa. Ayo hukum aku... Aku sudah siap menerima hukuman darimu.."
"Thella... jangan nakal.."
"Biar, aku mau nakalin kamu..."
"Stop, jangan raba-raba..."
"Maaf, permintaan anda di tolak.."
"Aiiisssh..."
__ADS_1