NIKAHI AKU, MAS

NIKAHI AKU, MAS
Rapat Mendadak


__ADS_3

"Mohon maaf, Namia. Kamu harus pulang malam ini."


Dua kalimat itu diucapkan sang presenter acara. Mengabarkan jika Namia tidak bisa ikut ke babak enam besar. Air mata pun keluar dari persembunyiannya. Tapi Namia berusaha tegar. Kenyataan pahit itu harus diterimanya. Yang mana ia harus tereliminasi. Semua juri pun ikut menyayangkan hal ini. Tapi lagi-lagi voting yang menentukan hasil akhir.


Sorak sorai terdengar menggema, menyemangati Namia. Gaga pun maju ke panggung pementasan untuk memberikan semangatnya kepada Namia. Ia mencoba bicara agar gadis itu terus bersemangat dalam meraih impiannya. Namia pun tampak mengangguk saat tersorot kamera. Gaga kemudian mengusap kepala Namia agar merasa tenang. Saat itu juga Namia merasa disayang.


Tangis kesedihan melanda malam eliminasi ke empat. Di mana Namia harus tersingkirkan. Tapi tak ada musibah tanpa hikmah. Walaupun awal-awalnya sangat menyakitkan. Gaga sudah mempersiapkan sesuatu untuk Namia selepas tersisih dari babak eliminasi. Yang mana pihak DDE mendukungnya. Lantas apakah mereka akan benar-benar dekat seperti kepura-puraan selama ini?


Esok harinya di DD Entertainment...


DD Entertainment segera mengadakan rapat begitu Namia tereliminasi. Padahal Gaga dan teman-teman kantornya sangat berharap Namia bisa lolos ke babak tiga besar. Tapi apalah daya, kebanyakan realita memang tidak sesuai dengan harapan yang ada. Namia pun harus menerima kegagalannya. Dan kini Gaga bersama teman kantor lain sedang merapatkannya.


"Aku tak menyangka. Sungguh dia bernyanyi dengan selalu sempurna. Tapi hanya karena tadi malam ada beberapa nada yang tidak pas, dia harus tereliminasi seperti ini." Doni meneguk kopinya di ruang rapat. Ia tak menyangka Namia gagal melaju ke babak selanjutnya.


"Bos lagi ada acara sama manager hotel bintang lima, Don. Dia nggak bisa hadir." Tomi datang ke ruangan sambil mengabarkan.


Doni menghela napasnya. Sedang Gaga tampak diam saja. Ketiganya mendiskusikan Namia karena tereliminasinya semalam. Tak lama sebuah dering telepon pun diterima Gaga.

__ADS_1


Gaga melihat ponselnya. "Halo?" Ia segera mengangkat teleponnya.


"Ga. Diskusikan kesepakatan kita yang kemarin. Aku menunggu kabarnya," kata seseorang dari seberang.


"Yakin, Bos?" Dan ternyata yang menelepon Gaga adalah bosnya.


"Ya. Sudah dibicarakan dengan Tuan Kim. Dia bersedia memberi job Namia lewat DDE. Urus saja persyaratan seperti biasanya. Nanti kabari aku." Sang bos menerangkan.


"Baik." Gaga pun mengiyakan. Dan tak lama sambungan telepon mereka juga terputus.


Wajah Gaga pun berubah semringah kala mendengar kabar dari bosnya. Karena ternyata sudah ada yang ingin memberi pekerjaan kepada Namia. Dan tentu saja kabar ini bagus untuk kantornya.


"Siapa, Ga?" tanya Doni.


"Pak Feng," jawab Gaga.


"Apa katanya?" Tomi ikut bertanya.

__ADS_1


"Masalah Namia. Relasinya ada yang mau mempekerjakan Namia. Mungkin akan ada acara di sana. Jadi kita diminta untuk mengurus persyaratan seperti biasanya," terang Gaga.


"Wah! Bagus, dong!" Tomi tesenyum senang.


Gaga mengangguk.


"Hah, syukurlah. Aku pikir Namia akan berhenti di tujuh besar saja. Tapi ternyata sudah ada yang ingin mempekerjakannya." Doni ikut senang.


"Kalian tolong bantu buatkan administrasinya. Nanti gue yang nemuin Namia untuk ngomong langsung ke orang tuanya." Gaga memutuskan.


"Sekalian ngelamar, kan?" tanya Tomi.


Gaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga memijat pelipis matanya. "Butuh proses, Tom. Nanti dia kaget kalau gue terus terang." Gaga terlalu jujur.


"Hahahaha."


Saat itu juga Tomi dan Doni tertawa. Ternyata Gaga tidak bisa diajak bercanda. Dan akhirnya mereka menyetujui pembagian tugas itu tanpa banyak bicara. Mereka memberikan kesempatan kepada Gaga untuk maju mendekati Namia. Tapi akankah semudah harapannya?

__ADS_1


__ADS_2