
"Bentar ya, Kak. Aku telepon ibuku dulu." Namia pun meminta izin menelepon ibunya. Tak lama sang ibu juga mengangkat teleponnya. "Bu, Ibu di mana? Namia sudah pulang," kata Namia kepada ibunya.
"Ibu sedang di rumah sakit, bibimu melahirkan. Kemungkinan besok pagi-pagi baru bisa pulang," kata ibunya dari seberang telepon.
Melahirkan???
Namia pun bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya. "Kunci rumah Ibu taruh mana? Namia tidak mempunyai kunci cadangan," kata Namia lagi.
Sang ibu kemudian mengarahkan di mana Namia bisa mendapatkan kuncinya. Gaga pun memerhatikan Namia yang berjalan ke belakang rumah. Mengangkat sepatu di samping pintu lalu merogoh dalamnya. Dan ternyata kunci itu Namia temukan di sana.
"Sudah, Bu. Namia sudah menemukannya." Dan tak lama sambungan telepon mereka pun berakhir. Gaga sendiri memerhatikan Namia yang memegang kuncinya.
Cara mereka unik sekali dalam menyembunyikan kunci.
Namia pun segera membuka pintu rumahnya. "Kakak mau masuk? Ibu sedang tidak ada di rumah," kata Namia, memberi tahu Gaga.
"Apa tak apa aku masuk?" Gaga pun merasa ragu.
"Em ...," Namia berpikir cepat. "Ingin duduk di teras atau di ruang tamu? Sepertinya tak apa jika sebentar." Namia pun menawarkan.
__ADS_1
Gaga melihat sekeliling. Komplek perumahan yang Namia tinggali terlihat sepi. "Baiklah, di ruang tamu saja." Dan akhirnya Gaga setuju untuk duduk di ruang tamu.
Namia mengangguk. Ia kemudian mempersilahkan Gaga untuk masuk. "Sebentar, ya. Aku buatkan teh dulu."
Namia pun meletakkan tasnya lalu beralih ke dapur. Ia akan membuatkan teh untuk Gaga. Kesempatan ini pun Gaga pergunakan untuk mengecek ponsel Namia.
Dia sudah menjadi pacarku sekarang. Sepertinya tak apa melihat isi ponselnya.
Gaga pun mulai mengambil ponsel Namia dari dalam tas. Ia membuka sandi ponsel Namia dengan tanggal lahirnya. Dan ternyata berhasil terbuka.
Dia memang wanita idaman.
Gaga pun tersenyum-senyum sendiri. Ia kemudian ke galeri foto ponsel Namia. Ia ingin melihat ada foto-foto apa saja di sana. Namun, semakin lama melihat, semakin banyak Gaga menelan ludah. Entah mengapa ada sesuatu yang bereaksi karenanya.
"Na-namia?!"
"Apa yang Kakak lakukan?!"
Namia pun meletakkan nampan berisi dua cangkir teh yang ia bawa lalu mengambil ponselnya dari Gaga. Ia pun melihat apa yang Gaga lihat di sana. Saat itu juga keringat dingin muncul di dahinya.
__ADS_1
Astaga ... dia?!
Pipi Namia merona merah sendiri. Detak jantungnya tak beraturan karena Gaga telah melihat sesuatu di ponselnya. Namia pun menoleh cepat ke arah Gaga. Tapi saat itu juga Gaga mengalihkan pandangannya. Namia merasa malu foto seksinya dilihat oleh Gaga. Gaga pun menyadari apa yang dirasakan Namia.
"Ak-aku ... tidak melihatnya." Gaga mengatakan pada Namia.
"Hah?!!" Namia pun tak percaya.
"Su-sungguh, aku tidak melihatnya," kata Gaga lagi, mencoba meyakinkan Namia.
Namia duduk di kursi. Ia memijat kepalanya sendiri. Ia merasa malu kepada pria di sampingnya ini. Ia pun menarik napas dalam-dalam agar bisa bersikap biasa kembali.
"Salahku juga belum menghapusnya." Namia jujur kepada Gaga.
Gaga menoleh cepat ke arah Namia. Ia perhatikan wanita yang tampak frustrasi itu.
"Aku hapus saja," kata Namia lagi.
"Eh??? Ti-tidak perlu." Gaga pun menahannya.
__ADS_1
"Tidak perlu?" tanya Namia.
"Ya. Tidak perlu. Buat aku saja," kata Gaga yang membuat pipi Namia memerah kembali.