
Gaga terdiam. Ia memikirkan hal ini. Tentu saja ia berterima kasih atas pengertian yang diberikan oleh bosnya. Tapi Gaga ingin segera menikah. Terlebih Namia selalu menyinggungnya. Gaga ingin membuktikan keseriusannya pada Namia.
"Em, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggunya, Pak." Gaga pun akhirnya setuju.
Sang bos mengangguk. Ia kemudian menyandarkan punggung di kursi. "Pesanan besar akan segera tiba. Rumah produksi terbesar di negeri ini akan membuat film di luar negeri. Mereka memercayakan komposer lagu kepada kita. Mungkin kau berminat untuk membuatkannya." Sang bos memberi kabar.
"Tentang apa?" tanya Gaga segera.
"Tentang film rumah tangga. Tapi lebih ke pengkhianatan," terang bos lagi.
Saat itu juga Gaga menepuk dahinya. "Kenapa harus film seperti itu? Bukankah masih banyak tema yang bisa difilmkan? Kenapa tidak mencoba seperti rumah produksi Eropa atau Amerika yang memproduksi film-film fantasi?" Gaga merasa heran sendiri.
Sang bos tertawa. "Rumah produksi juga ingin meraup untung tinggi. Film dengan genre rumah tangga paling banyak diminati. Apalagi tema perselingkuhan, itu yang dicari," kata sang bos.
Gaga mengembuskan napasnya. "Hah, baiklah. Kalau begitu kabari saja aku, Pak. Permisi." Gaga pun berpamitan.
Sang bos mengangguk. Gaga pun segera keluar dari ruangan bosnya. Saat itu juga Gaga melihat Namia yang baru datang bersama Lina. Wanitanya itu terlihat sangat cantik dengan penampilan yang berbeda dari hari-hari biasanya.
__ADS_1
Sepertinya dia baru saja selesai melakukan pemotretan.
Gaga pun tersenyum melihat Namia. Ia segera menghampiri keduanya. Dengan santai Gaga menyapa Namia dan Lina. Tentunya dengan cinta di dalam hatinya. Hanya untuk Namia seorang.
Sepulang kantor...
Petang tak lama lagi akan datang. Hiruk pikuk ibu kota bertambah padat saat jam pulang kantor tiba. Tampak Namia dan Gaga yang bersiap-siap untuk pulang. Keduanya berjalan menuju parkiran bersama karyawan DDE lainnya. Lina juga ada di sana.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Gaga mengawali pembicaraannya.
"Tentang apa?" tanya Namia seraya menoleh ke Gaga.
"Em, Pak." Lina tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. "Maaf, apakah Namia pulang bersama Bapak?" tanya wanita bertubuh tambun itu.
Gaga mengangguk. "Biar aku saja yang mengantarnya," jawab Gaga.
"Baik, Pak." Lina pun mengiyakannya. "Namia, aku duluan." Ia lalu berpamitan kepada Namia.
__ADS_1
Lina pergi dari hadapan keduanya. Ia segera masuk ke dalam mobilnya. Sedang Namia memerhatikan manajernya yang melaju pergi. Ia masih berdiri di samping Gaga, di depan pintu keluar DDE. Gaga pun beralih kembali kepada Namia.
"Kau menyukai kerjanya?" tanya Gaga yang mengganti topik pembicaraan.
Namia tersenyum. "Manajer Lina lebih luwes sekarang dibanding saat awal kami bekerja sama," tutur Namia.
"Dia bisa mengayomimu?" tanya Gaga lagi.
Namia menoleh ke Gaga. "Tidak ada yang sehebat dirimu," kata Namia yang membuat Gaga terpaku seketika.
Namia ....
Saat itu juga Gaga merasa senang bukan kepalang. Hatinya berbunga-bunga bak taman seribu bunga. Namia terlalu memujinya. Pipi Gaga pun mulai merona merah.
"Ayo, Kak, kita pulang. Nanti terburu malam."
Namia pun mengajak Gaga segera pulang. Dengan pembicaraan inti yang akan didiskusikan bersama.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Namia...
Saat ini pukul tujuh malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Langit sudah gelap, bintang pun bersinar dengan terang. Cuaca malam ini tampak cerah berbintang. Secerah hati Gaga yang telah mendapatkan kepastian atas negosiasinya. Di mana sang bos berniat membantu percepatan pernikahannya.