
Gaga mengangguk. Ia duduk di kursi sambil menunggu bos datang. Tak lama bos berkemeja putih itu pun memasuki ruangan. Ia terlihat memegang satu map di tangannya.
"Pagi." Ia menyapa timnya pagi ini.
"Pagi, Pak!" Semua timnya pun menyahut dengan semangat.
"Terima kasih. Aku ingin laporan kinerja kalian selama seminggu ini. Setelah itu kita akan bahas projek luar negeri. Ada pesanan mahal di bulan depan." Feng menerangkan.
Satu per satu karyawan DDE pun menyerahkan laporannya ke bos. Begitu juga dengan Gaga dan Doni. Mereka akan segera melaksanakan rapat pagi ini. Tentunya dengan profesionalitas kerja yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Dua jam kemudian, selepas rapat...
Saat ini pukul sebelas siang lewat sepuluh menit. Matahari pun menyorot ibu kota dengan terik. Rapat juga baru selesai dilaksanakan. Tampak sang bos berbicara kepada Gaga tentang kinerja Lina. Sedang Doni mendengarkannya. Hingga akhirnya sang bos menitipkan Lina ke Gaga. Ia meminta bantuan Gaga untuk mengarahkannya.
"Aku siap, Pak. Aku juga mengerti jika dia belum terbiasa meng-handle pekerjaan sampai dini hari. Sebisa mungkin aku akan mengarahkannya dengan baik." Gaga menerima perintah dari bos DDE.
__ADS_1
"Ya. Dia memang saudaraku. Tapi kalau salah, jangan dibiarkan saja. Jangan sampai artis DDE komplain karena manajemennya sendiri. Berikan yang terbaik untuk artis agar dia tidak berpindah agensi. Karena kesetiaan itu mahal, bukan?" Sang bos meminta kerja sama dari timnya.
"Benar, Pak. Kami siap menerima perintah. Dan kami akan menjunjung tinggi visi dan misi perusahaan." Doni menambahkan.
Feng mengangguk. Pria berkaca mata itu tampak senang. "Kalau begitu, lanjutkan pekerjaan kalian." Ia pun berpamitan.
Rapat hari ini akhirnya selesai. Bos DDE pun keluar ruangan untuk melanjutkan aktivitas hariannya. Sedang Gaga dan Doni tampak mematikan layar laptop mereka.
"Kebijakan perusahaan berubah sejak banyak karyawan yang silih berganti. Kontrak awal meminta karyawan baru atau artis tidak menikah selama dua tahun pertama. Berbeda saat kita dulu." Doni menceritakan.
"Apa?!" Saat itu juga Gaga terkejut mendengarnya.
Gaga terlihat menelan ludahnya. Ia jadi berpikiran yang tidak-tidak dengan kontrak Namia.
Jangan-jangan Namia juga menandatangani perubahan kontrak itu. Atau dia masih memakai kontrak yang lama?
__ADS_1
Gaga tampak cemas memikirkannya.
"Ga? Lo baik-baik aja?" Doni pun melambai-lambaikan tangannya ke Gaga. Ia melihat raut wajah Gaga yang berubah.
"Em, ya." Gaga pun tersadar. "Hari ini jadwal gue ke studio. Kalau ada info atau tamu yang datang, lo langsung ke studio aja ya." Gaga berpesan.
Doni mengangguk-angguk.
"Gue duluan," kata Gaga lagi sambil membawa laptopnya keluar ruangan rapat. Sementara Doni tampak memerhatikan perubahan raut wajah Gaga.
"Dia mikirin apa ya? Wajahnya kok berubah pucat? Jangan-jangan ...."
Doni pun mulai menduga-duga dengan apa yang terjadi pada temannya. Tapi ia tidak ingin mempermasalahkannya.
"Biarlah. Nanti juga cerita sendiri." Ia ikut berdiri lalu keluar ruangan. Doni akan melanjutkan pekerjaannya hari ini.
__ADS_1
Di studio rekaman DDE...
Gaga memasuki ruangan rekaman milik DDE. Tampak di sana berbagai alat musik dan peralatan merekam lagu. Mulai dari keyboard equalizer, monitor suara dan juga komputer khusus rekaman. Semua itu Gaga yang memegangnya. Ia sudah lama dipercaya bertugas di sana.