
Esok harinya...
Mentari terbit malu-malu pagi ini. Semilir angin pun menerpa tirai jendela kamar dengan pelannya. Sepertinya hari akan dilanda hujan. Atau mungkin salju akan segera turun di kota ini. Kota di mana pusat fashion dan perbelanjaan berada. Sekaligus kota cinta yang romantis, Paris.
"Aduh, badanku pegal-pegal semua."
Seorang gadis yang beranjak dewasa itu baru saja terbangun dari tidurnya. Ia terlihat mengenakan sweater lengan panjang yang berwarna biru. Cukup tipis untuk seukuran kota ini. Ia pun melihat sekeliling kamarnya. Namun, tiba-tiba ia terkejut sendiri kala melihat seorang pria berkaus oblong putih tengah tertidur di sampingnya.
"Astaga!!!" Ialah Namia yang kaget melihat Gaga tidur di sampingnya.
Gadis itu lekas-lekas melihat baju dan juga celananya. Dan ternyata pakaian yang ia kenakan masih lengkap tanpa sobekan ataupun bongkar paksa. Hatinya pun jadi tenang seketika kala melihat tidak terjadi apa-apa. Tetapi tetap saja ia harus mengingat apa yang terjadi semalam sebelum tidur bersama. Di mana Gaga akhirnya menggendongnya.
Dia itu, sekarang sudah mulai nakal. Dia sudah berani menggendongku ke kasur. Kalau dibiarakan, Lama-lama bisa kecolongan. Mungkin ada baiknya kami segera menikah saja. Toh, dia juga sudah siap dengan semuanya. Tapi bagaimana jika pernikahan kami tidak bisa dipublikasikan? Bagaimana tanggapan keluarga di desa?
Sejujurnya hati Namia ingin segera melangsungkan pernikahan bersama Gaga. Tetapi syarat pernikahan yang diberikan harus sembunyi-sembunyi dan tidak boleh diketahui awak media. Sehingga karena hal itulah ia masih berpikir dan terus berpikir. Namia ingin memproklamirkan pernikahannya. Setidaknya orang-orang tahu jika ia sudah menyandang status istri dari seorang komposer ternama.
__ADS_1
"Namia ...." Pria di sampingnya pun terbangun dengan mata yang masih mengantuk.
Namia menoleh ke Gaga. Duduk di kepala kasur sambil menekuk kedua lututnya. "Apa yang kita lakukan semalam?" tanyanya kepada Gaga.
"Eh???"
Sontak Gaga bertanya-tanya. Ia tak mengerti mengapa gadisnya bertanya demikian. Karena seingatnya, mereka tidak melakukan apa-apa. Apalagi sampai melakukan hal yang terlarang.
Namia mengusap wajahnya. "Kita sudah satu kasur begini, Kak. Kau harus menikahiku," katanya dengan nada yang galau.
Namia cemberut di samping Gaga. "Tapi harus sembunyi-sembunyi. Memangnya tidak bisa dipublikasikan saja?!" tanya Namia setengah kesal.
Gaga menghela napasnya. Ia menoleh ke Namia. "Aku juga maunya begitu, Sayang. Tapi peraturan perusahaan tidak bisa dilanggar." Gaga menjelaskannya.
Namia diam. Ia tertunduk dalam kebimbangan. "Nanti aku pikir lagi," kata Namia kepada Gaga.
__ADS_1
Gaga menarik Namia agar merebahkan kepala di bahunya. "Mau sampai kapan?" tanya Gaga lalu merangkul Namia mesra.
Namia mendongakkan kepala melihat Gaga. "Sampai bisa dipublikasikan," kata Namia lagi.
"Hahh ...." Gaga pun mengusap wajahnya. Tak mengerti mengapa Namia begitu bersikeras menolak syarat pernikahan yang diberikan perusahaan. "Semakin lama kau menahannya, semakin ada yang resah di bawah sana." Gaga pun mengatakannya.
"Apa?!" Sontak Namia menjauhkan dirinya.
Gaga memasang wajah frustrasi. "Namia, ayolah. Kita sudah dewasa. Tidak perlu kukatakan dalam arti yang sebenarnya, bukan?" Gaga mulai blak-blakan kepada kekasihnya.
"Dasar mesum!" Namia pun beranjak pergi.
"Namia!" Gaga berusaha menahannya.
"Sudah sana mandi! Dan jangan bicarakan apa-apa lagi!" Namia tampak kesal. Ia tidak ingin bicara lagi.
__ADS_1