
"Ayah meninggal saat aku sedang berjuang keras di industri musik, Namia." Gaga menjelaskan.
Namia pun tampak berempati mendengar hal ini. "Maaf, aku tidak tahu, Kak." Namia tidak enak hati sendiri.
"Tak apa. Lagipula sekarang atau nanti itu sama saja. Yang membedakan hanya waktunya. Jadi lebih baik Namia mengetahuinya sekarang," kata ibu Gaga lagi. Ia mengambil nasi untuk disantap malam ini.
Jadi begitu. Ternyata kak Gaga sama sepertiku.
Namia pun sekarang tahu jika Gaga sudah tidak mempunyai ayah sepertinya. Ternyata nasibnya dan Gaga hampir sama.
"Baik, Bu." Namia pun mengangguk.
Ibu Gaga kemudian masuk ke inti pembicaraan. "Kami bukanlah keluarga yang bisa banyak berbasa-basi. Kami selalu bicara apa adanya saja. Lagipula bukanlah hal itu lebih menghemat waktu dan tenaga? Maka dari itu ibu meminta Gaga membawamu kemari," terang ibu Gaga lagi.
Seorang pria tidak akan memperkenalkan seorang wanita ke keluarganya jika tidak ada tujuan yang serius di dalamnya. Begitu juga dengan hal yang dilakukan Gaga. Walaupun belum mengungkapkan rasa cinta ke Namia, tapi bahasa tubuhnya mengartikan jika ia mempunyai niatan yang serius ke depannya. Dan sebagai seorang wanita yang beranjak dewasa, Namia pun mengerti akan hal itu. Ia menerima hal ini dengan senang hati.
Gaga sendiri masih tidak percaya jika akan mengajak seorang wanita ke rumahnya. Ia pun bertekad untuk bicara lebih lanjut kepada Namia. Ia beranggapan ini adalah perkenalan pertama Namia ke ibunya. Yang mana ke depannya akan lebih serius lagi. Gaga akan menikmati proses ini.
"Namia sangat senang diajak kemari, Bu. Namia juga berharap bisa sering ke sini." Namia tersenyum menanggapi.
__ADS_1
Ibu Gaga terlihat senang. "Kalau begitu yakinkan dirimu. Setelah yakin bilang pada ibu. Agar kami bisa segera melamarmu." Ibu Gaga mengatakan terus terang.
Sontak Gaga tersedak air minumnya sendiri. Ia terbatuk-batuk di samping Namia.
"Kakak?"
"Aku tak apa-apa."
Gaga pun segera mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Tapi sang ibu sangat membuatnya kaget bukan kepalang. Ibu Gaga jor-joran kepada Namia. Yang mana membuat Gaga tersedak air minumnya.
Ibu memang sepertiku. Tidak ingin banyak berbasa-basi dan langsung ke intinya saja.
Sepulangnya dari rumah Gaga...
Gaga menepikan mobilnya di pinggir jalan sebelum masuk ke perumahan Namia. Ia pun mematikan mesin mobilnya lalu menarik napas panjang-panjang. Jam di mobil telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Gaga tahu jika Namia harus segera pulang. Tapi sepertinya ada yang ingin Gaga bicarakan.
"Namia."
"Ya, Kak?"
__ADS_1
"Maaf telah membuatmu kaget. Sifatku dan ibu memang tidak terlalu beda jauh." Gaga mengungkapkan.
Namia mengangguk seraya tersenyum. "Wajah kalian juga sangat mirip. Aku harap ibu Kakak juga menyukaiku," kata Namia.
Gaga tersenyum. Ia memalingkan pandangannya sejenak dari Namia. Ia seperti orang yang kebingungan. Ia ingin melakukan sesuatu malam ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara memulainya. Sedang jika nyosor saja, ia gengsi untuk melakukannya.
"Em, Namia. Jadi bagaimana?" Gaga pun mencoba memastikannya.
"Maksudnya?" Saat itu juga Namia segera menanyakannya. Ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Gaga.
Gaga bingung mengatakannya. Jantungnya berdetak hebat. Seperti ingin lompat karena akan mengungkapkan sesuatu kepada Namia.
"Maukah ... maukah ...." Gaga tersendat-sendat.
Namia menantikannya.
"Maukah ... kau menjadi pasanganku?" tanya Gaga yang membuat Namia terkejut seketika.
Ternyata Gaga menyatakan perasaannya malam ini kepada Namia. Namia pun seperti tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih tidak percaya jika akan mendengarnya.
__ADS_1
Kakak, apakah ini mimpi? Namia pun bertanya-tanya sendiri.