
Menciptakan suatu lagu tidaklah semudah yang dibayangkan. Apalagi membuat aransemen dari lagu itu sendiri. Segala sesuatu harus dipertimbangkan. Dan itulah yang kini Gaga lakukan.
Gaga pun melihat kembali naskah film yang akan dibuatkan lagu olehnya. Ia membayangkan sesuatu di sana.
"Kapan ya aku bisa membuat aransemen lagu untuk film fantasi? Aku rasa lebih berenerjik dibanding tema rumah tangga dengan perselingkuhan." Gaga berbicara sendiri.
Beberapa hari ini Gaga sibuk melakukan rapat dengan pihak rumah produksi mengenai original soundtrack film mereka. Dan sebagai pihak penyedia jasa, Gaga bersama DDE harus memenuhi pesanan yang diterima. Namun, jauh di dalam hati Gaga kurang berselera membuatkan lagu untuk tema perselingkuhan. Ia tidak ada niat di tema itu. Atau mungkin ia khawatir diselingkuhi seperti lagu yang diciptakannya?
"Kak Gaga! Apakah Kakak di dalam?"
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan studionya. Gaga pun tersadar jika ada yang datang. Tanpa menunggu lama, ia pun beranjak bangun untuk membukakan pintunya. Dan ternyata, sang gadis lah yang mengunjunginya. Seorang gadis yang beranjak dewasa dan masih butuh bimbingan ekstra dari Gaga, Namia.
"Namia?" Gaga pun terkejut melihat Namia datang.
__ADS_1
Studio rekaman Gaga berada di sudut gedung DDE. Sehingga jauh dari hiruk-pikuk orang yang lalu-lalang di sana. Ruangan studio juga kedap dari suara. Tetapi tetap bisa mendengar suara dari luar. Gaga sendiri yang mendesainnya. Sedang dari luar tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam.
"Kakak, kau susah sekali untuk kutemui. Pesanku juga jarang dibalas." Namia memasang wajah ngambeknya.
Keduanya berdiri di depan pintu. Gaga pun menyadari kesalahannya kepada Namia. Beberapa hari ini ia memang sibuk sekali. Sampai-sampai Namia hampir tidak diperhatikan olehnya. Pada akhirnya Namia sendiri yang menghampiri Gaga di studio rekamannya.
"Em ... kita bicara di dalam saja. Ayo!" Gaga pun mengajak Namia masuk ke studionya.
Namia berjalan masuk sambil membawa bag belanjaannya. Dan untuk yang pertama kalinya ia melihat bagaimana keadaan studio Gaga seorang diri. Tempat di mana prianya bekerja dan mengaransemen lagu.
Namia pun melihat-lihat keadaan sekitarnya. Ia juga membuka pintu rekaman. Dan ternyata hanya ada peralatan rekaman di sana. Selain itu tidak ada apa-apa.
"Kau merasa asing datang sendirian ke sini?" tanya Gaga lalu duduk di sofa panjang yang ada di sana.
__ADS_1
Namia menoleh ke Gaga. Ia mengangguk. "Ternyata ruang kerja Kak Gaga sangat luas, ya. Kemarin begitu ramai jadi tidak terlihat luas." Namia mengingat kembali masa-masa rekaman bersama para finalis ajang pencarian bakat penyanyi TVR.
Gaga tertawa. Tawa kecil karena mendengar perkataan polos Namia. Ia kemudian melihat tas belanja milik Namia. Ia pun penasaran dengan apa isinya.
"Apa itu?" tanya Gaga ke Namia.
"Oh, ini?" Namia melihat tas belanjanya. "Aku bawakan roti sobek dan juga minuman isotonik. Mungkin Kakak memerlukannya." Namia memberikan tas belanja itu kepada Gaga. Gaga pun menerimanya.
Dia pengertian sekali.
Gaga pun merasa senang hati. Gadisnya itu ternyata tidak perlu diminta sudah pengertian sendiri. Gaga pun tersenyum senang kepada Namia.
"Terima kasih, ya." Ia berucap terima kasih kepada Namia yang masih berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih saja? Tidak mau!" Namia pun menyilangkan kedua tangannya. Ia mengalihkan pandangannya dari Gaga.