
Dia benar-benar menyebalkan!
Dan akhirnya Namia menjauhkan dirinya dari Gaga. Ia menyuruh Gaga pulang. Namia kesal bukan kepalang.
"Sudah sana pulang! Jangan lama-lama di sini!" Namia melampiaskan kekesalannya. Ia pun membalikkan badannya dari Gaga.
Aku salah lagi? "Em, Namia. Aku tidak ada maksud--"
"Jangan banyak bicara. Sudah sana pulang!" Namia berkata lagi.
Gaga menghela napasnya. Ia tahu jika Namia marah padanya. Ia pun akhirnya mengalah. "Namia ...," Gaga memeluk Namia dari belakang. "Aku menyayangimu," katanya yang membuat kobaran amarah di hati Namia meredup seketika.
Kak Gaga ....
Kedua tangan Gaga melingkar di perut Namia. Saat itu juga roman wajah Namia berubah seketika. Ia tidak marah lagi. Ucapan dan pelukan Gaga mampu membuat hatinya meleleh bak lilin yang dipanaskan. Gaga mampu mendamaikan hatinya yang sedang kesal.
Kakak, memeluk saja harus bertengkar seperti ini?
__ADS_1
Dan akhirnya Namia pun menyadari jika Gaga benar-benar menyayanginya. Ia menikmati setiap hangat dipeluk kekasihnya. Hingga akhirnya waktu harus mengakhiri pertemuan mereka.
"Sudah, jangan ngambek lagi. Aku pulang, ya. Muach!"
Gaga pun mencium pipi Namia. Ia kesulitan menemukan jalan keluar agar Namia tidak ngambek lagi. Pada akhirnya ia pun mencium pipi Namia. Saat itu juga Namia berbalik ke arahnya. Ia tak percaya jika Gaga akan menciumnya.
"Satu sama," kata Namia yang membuat Gaga terpaku di tempatnya.
Gaga mengangguk. Ia tersenyum lalu mengusap kepala Namia. Suasana syahdu terasa menyelimuti mereka. Gaga pun berpamitan kembali kepada Namia. Dan akhirnya Namia mengizinkannya. Keduanya berjalan bersama ke depan rumah. Gaga segera masuk ke dalam mobilnya. Namia pun mengantarkannya sampai hilang dari pandangan mata.
Saat ini pukul tiga sore waktu sekitarnya. Saat ini juga Gaga sedang menghadap pimpinan DDE. Gaga memasuki ruangan bos seorang diri. Ia ingin membicarakan sesuatu di sana. Tampak sang bos yang menanggapi.
"Jadi begitu." Sang bos tampak mengerti maksud-tujuan Gaga datang ke ruangannya sore ini.
Gaga mengangguk.
"Ya, Namia memang terikat satu tahun kontrak dengan DDE." Ia mengakuinya. "Tadinya aku ingin memberinya dua tahun. Tapi kulihat kau tertarik padanya. Dan mungkin saja kalian akan berniat menikah. Sehingga aku mempersingkat waktu kontraknya." Sang bos menjelaskan.
__ADS_1
Gaga merasa senang dengan pengertian bosnya. Tapi kedatangannya kali ini ingin meminta lebih. Gaga ingin bernegosiasi.
"Sebenarnya aku ingin segera menikahinya, Pak. Tapi kurasa satu tahun itu begitu lama bagi kami." Gaga mengutarakan.
Sang bos mengerutkan dahinya. "Jadi maksudmu ingin kontrak Namia dipercepat lagi?" tanya pria berkemeja putih bergaris abu-abu itu.
Gaga mengiyakan. Ia mengangguk kembali. Saat itu juga Feng mengembuskan napasnya.
"Aku tahu akan sulit jika jatuh cinta di lokasi yang sama. Tapi kontrak telah disepakati. Sekalipun dilanggar, Namia akan terkena pinalti." Sang bos menerangkan.
"Aku rasa mampu untuk membayar pinaltinya, Pak." Gaga menyanggupi.
Sang bos menyilangkan kedua tangannya di dada. "Lalu bagaimana dengan publik? Apa mereka tidak akan berpikiran yang macam-macam tentang kalian?" tanya sang bos lagi.
Gaga berpikir. Ia mengerti kerisauan yang melanda bosnya. Ia kemudian mencari jalan tengah dari hal ini. Sementara sang bos tampak menunggu jawaban dari Gaga. Ia akhirnya mengambil keputusan sendiri.
"Jika kau mau, kau bisa menikahinya setelah enam atau sembilan bulan menjalani kontrak dengan DDE. Tapi itu juga tidak boleh dipublikasikan demi menjaga nama baik agensi. Sisa waktunya, aku akan berpura-pura tidak tahu saja. Agar yang lain tidak iri dengan kebijakan yang diberikan ke Namia. Dan agar yang lain tidak menuntut hal yang sama," terang bosnya.
__ADS_1