NIKAHI AKU, MAS

NIKAHI AKU, MAS
Mengajak Ke Rumah


__ADS_3

"Dan Tom, tolong bantu Gaga menghadapi semua masalah di luar sana. Dampingi Gaga jika perlu. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mengsomasi lagu ciptaannya." Bos berpesan kepada Tomi.


"Laksanakan." Tomi pun menyanggupinya.


Pada akhirnya Gaga dan Lina berserta Namia mengadakan rapat bersama di ruangan. Gaga menuturkan apa saja yang perlu Lina lakukan. Dan sebagai manajer baru, Lina harus lebih banyak berkoordinasi dengan artisnya sendiri. Tidak boleh menentukan keputusan sendiri. Karena bagaimanapun DDE menjunjung tinggi kenyamanan bagi artisnya. Mereka memanusiakan manusia. Sehingga sebisa mungkin memenuhi permintaan artisnya. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang ada.


Jam makan siang...


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Baru saja masuk ruangan rapat, tapi kini sudah selesai. Seperti yang dialami Gaga dan Namia. Keduanya keluar ruang rapat untuk makan siang bersama. Gaga pun segera bicara kepada Namia.


"Kau ada waktu hari ini, Namia?"


Gaga dan Namia keluar rapat bersama. Sedang yang lainnya masih menyelesaikan proses administrasi. Begitu juga dengan manajer Namia yang baru, ia harus mengisi data diri bersama staf sebagai tanda mulainya bekerja. Dan kini tampak Gaga dan Namia yang sedang bercakap-cakap sambil berjalan bersama.


"Tidak ada, Kak. Memangnya ada apa?" tanya Namia ke Gaga.


Gaga tampak ragu mengatakannya. Ia pun terus berjalan menuju lift gedung. "Aku ... ingin mengajakmu ke rumah," kata Gaga kemudian.


"Hah? Yang benar?!" Namia pun tak percaya.

__ADS_1


Gaga mengangguk. Saat itu juga Namia merasa senang mendengar kabar ini. "Kira-kira proses pemindahan pekerjaan sampai kapan, Kak?" tanya Namia lagi.


"Em, biasanya satu hari. Sepertinya Lina juga sudah pernah tahu pekerjaan manajer sebelumnya," duga Gaga.


"Oh, begitu." Namia pun mengangguk-angguk.


"Kalau begitu nanti sore ke rumahku ya?" Gaga memastikan kesediaan Namia.


"Baiklah. Kalau begitu aku menunggu Kak Gaga di studio rekaman saja." Namia mengambil keputusan.


"Hei, kau mau terus di sini? Tidak ingin istirahat di rumah?" tanya Gaga lagi. Ia berhenti di depan lift gedung bersama Namia.


"Aku menunggu Kakak saja. Boleh, kan? Anggap saja kita sedang bekerja sama. Suka duka bersama," kata Namia lagi yang membuat Gaga terdiam di tempatnya.


Pintu lift pun terbuka. Orang-orang yang berada di lift segera keluar dari dalam. Sedang Gaga masih terdiam di tempatnya karena speechless dengan perkataan Namia. Namia pun segera memegang tangan Gaga. Menariknya agar masuk ke lift bersama.


"Kita makan siang."


Dan akhirnya pria dingin itu luluh juga. Semua berkat kesabaran Namia. Gaga mulai membuka dirinya kepada Namia. Namia pun merasa senang karenanya. Walau nyatanya Gaga masih menjaga jarak darinya. Tapi Namia akan terus bersabar sampai Gaga siap memperlakukan dirinya sebagaimana mestinya. Karena nyatanya Namia jatuh cinta. Ia tertarik dengan kepribadian Gaga.

__ADS_1


Sore harinya...


Semburat merah mulai menghiasi angkasa megah. Pukul setengah enam Gaga baru saja sampai di rumahnya. Tentunya dengan Namia yang berada di sisinya. Gaga pun membukakan pintu mobilnya untuk Namia. Saat itu juga Namia terkejut dengan rumah megah yang ada di hadapan matanya.


"Ini rumahmu, Kak?" Namia tak percaya.


"He-em." Gaga mengangguk. "Ini hasil kerja kerasku selama ini. Aku harap kau menyukainya," kata Gaga.


Namia speechless dan juga bingung harus berkata apa. Rumah Gaga begitu megah dan mewah di hadapannya. Ia jadi minder kala membandingkan dengan rumahnya sendiri.


Ibu kak Gaga pasti seorang sosialita. Apa mau punya menantu sepertiku?


Nyali Namia ciut sendiri. Ia khawatir ibu Gaga tidak menyukainya. Seperti yang terjadi di film-film yang sering ditontonnya. Yang mana ibu sang pria tidak menyukai kekasih putranya. Tapi Namia berharap itu hanya ada di sinetron saja. Tidak di dunia nyata. Ia berharap dapat diterima oleh ibu Gaga.


...... ...


...Namia...


__ADS_1


...Gaga...



__ADS_2