
Gaga pun berbicara kepada dirinya sendiri. Ia merasa kesal karena belum memastikan hubungannya dengan Namia. Sedang Gaga sudah serius, sampai ingin membelikan cincin untuk Namia.
Sesampainya di kafe ibu kota...
Lampu-lampu bohlam besar berwarna kuning keemasan menyambut kedatangan Gaga dan Namia di sebuah kafe yang ada di ibu kota. Kafe bernuansa klasik-modern itu mampu memanjakan mata bagi siapa saja yang datang melihatnya. Kehadiran Gaga pun disambut oleh pemilik kafe tersebut. Tampak keadaan kafe yang mulai dipadati pengunjung. Maklum malam ini adalah malam minggu. Muda-mudi ikut meramaikan suasana malam berakhir pekan.
"Ini bukannya ...?" Pemilik kafe yang bernama Tomas itu melihat Namia yang datang bersama Gaga.
"Dia Namia. Dia mantan finalis penyanyi TVR." Gaga menjelaskan.
Pria berapron hitam itu mengangguk. "Oh, ya. Yang tereliminasi di babak enam besar itu, bukan?" tanya Tomas lagi.
Sontak Namia mengalihkan pandangannya. Ia merasa tersinggung dengan ucapan tersebut. Gaga pun menyadarinya.
"Dia tetap juara di hatiku," sanjung Gaga. Saat itu juga Namia menoleh cepat ke arahnya.
__ADS_1
Tomas mengerti. "Tentu saja. Silakan duduk di kursi yang masih kosong, Tuan Gaga. Sebentar lagi Marvel akan datang dan naik ke atas panggung." Tomas tersenyum kepada keduanya.
"Terima kasih." Gaga pun membalas senyuman seadanya. Ia lalu beralih ke Namia. "Mari kita duduk di sana." Ia pun memilih tempat paling pojok, dekat dengan dinding kafe. Gaga dan Namia akan bersantai di sana.
Beberapa menit kemudian...
Namia tampak diam sedari tadi. Gaga pun memerhatikan sekeliling kafe yang mulai ramai. Saat ini pukul delapan lewat sepuluh malam. Pesanan makanan dan minuman mereka juga sudah datang. Gaga lalu mengajak Namia untuk makan bersama. Sekaligus memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Namia, makanlah. Steak sapi ini enak dimakan saat panas." Gaga membuka pembicaraan. Ia mulai menyantap kentang goreng yang disajikan bersama sapi panggang.
Dia diam saja. Dia juga bersikap seadanya. Apakah ada yang salah dari ucapanku? tanya Gaga sendiri.
"Em, Namia." Ia kemudian ingin menanyakan alasan Namia diam. "Apakah kau marah padaku?" Gaga pun terus terang menanyakannya, langsung ke inti.
Namia menoleh ke Gaga. "Tidak." Namia pun hanya menjawab singkat sambil terus mengalihkan pandangannya dari Gaga.
__ADS_1
Gaga memerhatikan Namia. Ia berpikir tentang wanitanya. Sedang Namia tampak malas-malasan menyantap hidangan yang telah tersaji di atas meja.
Mungkin aku harus lebih banyak belajar tentang bagaimana cara menghadapi perempuan. Sungguh aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia bersikap seperti ini padaku. Apakah karena perkataan pemilik kafe itu?
Gaga bertanya-tanya sendiri.
Gaga masih belum bisa menebak atau menerka hal apa yang membuat Namia bersikap dingin tiba-tiba. Ia masih perlu banyak belajar tentang cara mengerti wanita. Karena Namia adalah wanita pertama baginya. Sebelum-sebelumnya Gaga hanya sebatas menghabiskan waktu dengan bekerja. Pikiran tentang wanita pun tidak pernah terlintas di benaknya.
"Selamat malam pengunjung Kafe Diggers!"
Dan akhirnya sang komika ternama, Marvel hadir di atas panggung. Ia menyapa para pengunjung yang datang malam ini. Gaga pun mulai fokus ke komika tersebut. Ia menantikan komika itu melakukan stand up comedy-nya. Sedang Namia tidak dihiraukannya.
Sebal! Sebal! Sebal! Seharusnya dia membujukku jika sedang kesal seperti ini. Bukannya malah mendiamkan!
Namia tampak kesal sendiri.
__ADS_1